
"Kamu harus mau Sayang, karena jika kamu tidak mau, maka aku tidak akan mau mengantarkanmu pergi," ujar Kafa yang terdengar memaksa Salma untuk setuju dan menuruti apa yang Kafa minta.
Sedang Salma malah diam seribu bahasa, dia berfikir jika saat ini dirinya memang harus selalu patuh pada Kafa selana itu tidak merugikannya, karena percuma saja Salma melawan ataupun menolak, ujung-ujungnya dia sendiri yang kesulitan, apa lagi sekarang Ghozi tidak ada di sana yang berarti Salma tidak punya teman yang bisa membantunya melawan Kafa, mengingat Mbok Sumik yang selalu patuh pada perintah Kafa sangat tidak mungkin Mbok Sumik mau membantunya seperti Ghozi.
"Terserah kamu saja Mas, aku ikut apapun yang kamu katakan," pasrah sudah, Salma tidak punya pilihan lain selsin mengikuti apapun yang Kafa perintah dan apapun yang dia mau.
Kafa tersenyum lebar merasa menang karena Salma mau mengikuti apapun yang di inginkan Kafa.
'Asyik, malam ini aku menang banyak,' batin Kafa bersorak membayangkan apa yang akan terjadi malam nanti.
Kafa berdiri dan melangkah keluar dari ruangan dengan Salma yang kini berjalan tepat di sampingnya, tadi saat masuk suasana tokih memang sedang sepi, tidak ada orang yang melihat Salma datang bersama dengan Kafa, tapi saat keluar dari ruangan milik Kafa, kini banyak karyawan dan costumer yang sedang berbelanja di sana, semua mata tertuju pada sepasang sejoli yang sedang berjalan santai melewati mereka tanpa hambatan.
Ada beberapa orang yang saling berbisik memuji ada pula yang mencela, tak jarang juga ada yang mengungkapkannya secara langsung.
"Mas, kenapa mereka semua melihat kita seperti itu?" tanya Salma yang merasa risih di lihat seperti saat ini.
"Kamu jangan kaget! mereka melihat kita karena mereka tidak pernah tahu siapa istriku, karena itulah mereka menatapmu seperti itu," jawab Kafa yang justru bersikap santai, dia terlihat tidak punya beban ataupun merasa terganggu dengan apa yang sedang terjadi.
"Oh," Salma hanya membulatkan mulut mendengar penjelasan Kafa, dia tidak lagi membahas apapun karena melihat Kafa yang terlihat biasa saja.
Keduanya berjalan masuk ke dalam mobil meninggalkan tokoh yang lebih mirip sebuah supermarket di mana semua kebutuhan rumah tangga ada di sana.
"Mas," lirih Salma.
"Hm," sahut Kafa singkat, saat ini dia sedang menyetir, karena itulah Kafa menyahuti panggilan Salma dengan sangat singkat.
"Apa tempat makannya masih jauh, Mas?" tanya Kafa.
"Sebentar lagi juga sampai Sayang, kenapa? apa kamu ingin sesuatu? atau kamu berubah fikiran?" tanya Kafa dengan wajah yang terlihat masih serius menatap jalan di depannya.
"Tidak Mas, aku hanya ingin bertanya saja," jawab Salma yang kini memalingkan wajah menoleh ke arah luar jendela.
Perjalanan menuju restaurant yang kafa maksud cukup jauh, hingga keduanya sampai waktu menunjukkan pukul setengah enam yang berarti sudah waktunya menghadap sang pencipta mengucap rasa syukur atas segala nikmat yang telah di berikan pada diri kita yang terkadang lupa akan nikmat yang telah kita rasakan.
"Kita sholat dulu ya, Mas," ajak Salma saat melihat ada mushollah yang di sediakan di pojok restaurant, sungguh sangat jarang ada restaurant seperti yang Salma datangi saat ini.
"Iya," sahut Kafa yang langsung berjalan menuju tempat wudhu' yang di sediakan tidak jauh dari mushollah.
Usai sholat keduanya berjalan mencari tempat duduk yang menurut mereka paling nyaman untuk di duduki.
"Sunggub restaurant ini terasa sangat nyaman, apa lagi di tambah dengan mushollah yang ada di sudut ruangan ya Mas, yanug punya pasti seseorang yang rajin beribadah," ucap Salma setelah memesan makanan dan memperhatikan keadaan di sekeliling restaurant.
"Restaurant ini milik Ghozi, dia yang membuka dan mengelolanya sendiri sampai sebesar ini," jawaban yang cukup membuat Salma terkejut, dia tidak menyangka jika Ghozi sekaya itu, sampai punya restauran sebesar ini.
Dulu jauh sebelum Kafa memutuskan untuk tinggal di kota untuk melupakan Bella, Ghozi lebih dulu merantau di kota itu, meskipun dia hanya menghabiskan waktu dua tahun tapi usaha yang dia kembangkan di sana cukup berkembang pesat, meski awalnya sulit tapi hasilnya tidak main-main, Ghozi memang pintar memanfaatkan keadaan yang ada, tempat yang strategis dan peluang yang besar dia miliki, restaurant miliknya saat ini berada tepat di tepi jalan raya, jalan utama penghubung antar provinsi, dan kebetulan di daerah itu tidak ada penjual nasi rawon seperti yang dia jual, meskipun saat ini sudah ada beberapa yang menjual di tempat yang tak jauh dari restaurant milik Ghozi, semua itu tidak mempengaruhi pamor restaurant milik Ghozi yang lebih dulu berdiri.
"Wah ternyata dia kaya juga," seloroh Salma yang cukup membuat Kafa gemas karenanya, Kafa tidak pernah suka mendengar ataupun melihat Salma memuji Ghozi, ataupun berada terlalu lama di dekat Ghozi, meskipun terkadang Salma hanya berbincang ringan tanpa ada niat ataupun indikasi untuk menjalin hubungan lebih dari sekedar teman yang saling melindungi.
"Kenapa? kamu menyesal karena tidak menerima cinta nya dan lebih memilih di jodohkan denganku?" tanya Kafa dengan tatapan cukup menyeramkan yang terlihat jelas di wajahnya.
__ADS_1
"Kalau iya, kenapa? Mas tidak suka, hm?" jawab Salma seolah menantang Kafa untuk beradu mulut.
Sedang Kafa sudah menajamkan mata mendengar jawaban Salma yang sebenarnya hanya bermaksud ingin bercanda saja.
" Ishh, tatapanmu membuatku takut Mas," ujar Salma yang langsung menunduk melihat Kafa yang menatapnya tajam, Kafa terlihat seperti harimau lapar yang ingin menelan Salma bulat-bulat.
"Katakan sekali lagi!" titah Kafa dengan tatapan yang masih tajam, setajam silet.
"Mana berani aku mengatakannya lagi, melihat tatapanmu saja sudah menciutkan nyaliku," jawab Salma yang masih menunduk takut dan tak lagi punya keberanian untuk mendongakkan kepala.
"Kalau kamu menyesal kenapa kamu masih ada di sini? kenapa tidak ikut saja pergi kembali ke pesantren tadi?" Kafa terlihat begitu serius menanggapi ucapan Salma yang sebenarnya hanya bercanda.
"Astaghfirullah Mas, aku hanya bercanda kali, kenapa di anggap serius seperti itu?" sahut Salma yang mulai merasa keadaan di sana tidak terkendali.
"Bercandamu tidak asyik Salma," ujar Kafa yang kini memalingkan wajah, mood yang awalnya bagus kini mulai hancur berantakan.
"Ya maaf, aku tidak tahu kalau Mas Kafa akan semarah ini," ujar Salma dengan ekspresi wajah menelas yang membuat Kafa tak tahan untuk terus marah padanya, tapi kali ini Kafa ingin melihat sejauh mana Salma bisa membujuknya.
Kafa diam seribu bahasa, sikapnya mulai dingin dan tidak seperti biasanya, membuat Salma kelimpungan karenanya, Kafa tetap diam hingga makanan yang dia pesan sidah ada di depan mata.
"Mas Kafa mau nyoba punyaku?" tawar Salma dengan wajah yang di buat seimut mungkin, dan Kafa yang melihat wajah imut milik Salma tidak bisa menolak lagi.
"Boleh, tapi aku mau kaku yang menyuapi makanan itu," jawab Kafa yang terlihat mulai luluh dengan sikap Salma.
"Baiklah, buka mulutnya!" titah Kafa sambil menyodorkan sati sendok nasi rawon dengan ikan sate komo yang sudah dia potong kecil dan menaruhnya di atas nasi yang dia sodorkan.
"Apa kamu tidak ingin mencoba punyaku?" kini giliran Kafa yang menawarkan diri untuk menyuapi Salma, keduanya memang membeli menu kuah yang sama yaitu rawon, tapi dengan lauk yang berbeda, jika Kafa memilih empal goreng, maka berbeda dengan Salma yang justru memilik lauk sate komo sebagai pelengkapnya.
"Enak juga, tapi masih lebih enak sate ini," ujar Salma yang tak mau kalahdengan menu lauk yang di pilih oleh Kafa.
"Menu yang kamu pilih memang jauh lebih enak, apa lagu kalau makannya sambil di suapi seperti tadi, rasanya jauh lebih nikmat," ujar Kafa yang cukup membuat Salma tersenyum senang karenanya.
Sebenarnya kebahagiaan seorang wanita itu sederhana, cukup puji masakan yang dia buat, kecantikan yang dia miliki dan sikap manis yang terkadang dia tunjukkan, jika semua itu di lakukan maka kebahagiaan akan tercipta di dalam rumah, bila seorang istri bahagia maka rumah akan terasa nyaman dan indah.
"Sekarang katakan! bagaimana rasa rawon di tempat ini?" titah Kafa yang ingin mendengar bagaimaba respon Salma setelah menikmati sepiring rawon yang tadi dia pesan.
"Cukup enak, tidak kalah dari rawon yang ada di desaku, rasanya bikin kita ingin terus memakannya lagi," jujur Salma.
Bagi Salma berkata jujyr jauh lebih baik dari pada berbohong, toh menang atau kalah tetap saja mereka akan tidur sambil berpelukan.
"Berarti aku yang menang, nanti malam gantian kamu yang harus memelukku dengan penuh kasih sayang," ujar Kafa.
"Tenang saja, Salma tidak akan pernah mengingkari sebuah kesepakatan ataupun perjanjian," ujar Salma mencoba meyakinkan Kafa agar dia tidak lagi bertanya.
"Bagus, aku tunggu pelukanmu nanti malam," ucap Kafa dengan senyum manis yang justru membuat Salma jengah.
Jika kedua sejoli yang sedang di mabuk asmara itu telah menemukan siapa pemenangnya dan tidur nyenyak dengan pelukan hangat yang di berikan oleh Salma, maka jauh berbeda dengan Ghozi yang baru saja sampai di pesantren setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh.
"Assalamualaikum, Ummi," ucap Ghozi setelah sampai dan berada di depan pintu rumah Ummi.
__ADS_1
Ummi yang sudah mendapat kabar dari Ghozi jima dia akan datang sudah menunggu kedatangannya sejak tadi, Ghozi sudah seperti puteranya sendiri, karena itu Ummi menunggunya dengan untaian do'a yang tak pernah putus untuk keselamatan puteranya itu.
"Alhamdulillah, akhirnya kamu sampai juga, Nak," ucap Ummi dengan mimik wajah penuh kelegaan dia menyambut kedatangan Ghozi.
"Alhamdulillah Ummi," jawab Ghozi yang sudah menduga jika Ummi akan menunggunya sama seperti Umik yang akan menunggu dengan penh kecemasan saat dirinya pulangan dari pesantren.
"Bagaimana perjalananmu tadi? apa lancar? atau ada hambatan?" tanya Ummi seraya mempersilahkan Ghozi masuk ke dalam rumah.
"Alhamdulillah, lancar Ummi," jawab Ghozi dengan senyum penuh kebahagiaan, mendapat kasih sayang dari Ummi merupakan kebahagiaan yang tak bisa di gambarkan oleh Ghozi, Ummi yang memiliki sifat keibuan selalu bisa membuat hati Ghozi tenang setiap kali berada di dekatnya.
"Alhamdulillah, kalau begitu," ujar Ummi yang kini berjalan ke ruang keluarga di mana ada Tari yang sedang tidur di sana.
Malam ini Abah tidak pulang karena harus mengisi acara di luar kota, dan Tari selalu menjadi orang pertama yang Ummi cari untuk menemaninya tidur jika Abah tudak ada, tidak lupa Sasa juga ikut berasamanya.
"Istirahatlah dulu di kamar Kafa! Ummi akan membangunkan Tari untuk membantu Ummi menyiapkan makanan." Titah Ummi yang mengerti jika Ghozi pasti lapar setelah menempuh perjalanan cukup jauh tadi.
"Terima kasih, Ummi," jawab Ghozi dengan. senyum yang terlihat jelas. juga tulus di wajahnya.
Ghozi sempat melirik ke arah ruang keluarga di mana ada seseorang sedang tertidur pulas dengan kerudung yang masih menempel indah di kepalanya dan di peluk erat oleh seorang bocah yang entah siapa.
Dan kini Ghozi yakin jika orang itu adalah Tari, setelah Ummi memberitahunya, cukup lama juga Ghozi pergi ke kota dan tidak melihat wajah Tari yang selalu riang dan penuh nasihat, juga kata-kata bijak yang terkadang membuat Ghozi sadar akan takdir yang sudah di tentukan.
'Tari, bagaimana kabar dia sekarang?' batin Ghozi seraya melangkah masuk ke dalam kamar menaruh tas ransel yang menjadi teman dalam perjalanannya tadi, Ghozi langsung merebahkan badan menikmati rasa ngilu yang dia rasakan, perjalanan yang cukup menguras tenaga.
"Tari! bangun!" Ummi mencoba membangunkan Tari yang tengah terlelap dalam tidurnya.
"Eh, iya Ummi, ada apa?" sahut Tari yang merasakan ada gerakan tangan yang mengusik ketenanngan tidurnya.
"Bangunlah! bantu Ummi menyiapkan makan untuk Ghozi!" jawab Ummi yang langsung di turuti oleh Tari.
Tanpa banyak protes atau berlama-lama, Tari langsung bangun membasuh wajahnya dengan air wudhu' kemudian mulai menghangatkan makanan yang tadi sudah di masak dan sengaja di siapkan untuk Ghozi.
"Apa Ghozi sudah datang sejak tadi Ummi?" tanya Tari yang mulai penasaran dengan kedatangan Ghozi yang dia tidak tahu.
"Dia baru saja datang, apa semua makanannya sudah siap?" Ummi menjawab pertanyaan Tari sambil kembali bertanya.
"Sudah, Ummi," jawab Tari yang masih terlihat manis meski tidak memakai riasan apapun.
"Kalau begitu, panggilkan Ghozi di kamar Kafa!" titah Ummi yang kini berjalan mendekat ke arah almari tempat penyimpanan alat masak dan makan. Mengambil piring untuk Ghozi.
Sedang Tari melangkah dengan langkah pasti meski jantungnya tidak sedang baik-baik saja, tapi Tari tetap berusaha menampakkan wajah biasa saja di hadapan Ghozi yang entah seperti apa wajahnya sekarang.
Tok ... tok ... tok ....
Dengan sedikit pelan Tari mengetuk pintu kamar Kafa yang katanya di tempati oleh Ghozi, jantungnya semakin berdebar membayangkan dirinya akan bertemu dengan Ghozi yang sampai kini masih menjadi raja di dalam hatinya.
'Ceklek'
Suara pintu terbuka, perlahan tapi pasti daun pintu yang tadi tertutup rapat kini perlahan mulai terbuka, menampakkan wajah Ghozi yang masih terlihat tampan meski dalam keadaan lelah yang terlihat jelas di wajahnya.
__ADS_1