Cahaya Cinta Salma

Cahaya Cinta Salma
Kesiangan


__ADS_3

Kafa mengajarkan semua yang perlu di ketahui oleh Salma.


"Apa kamu sudah mengerti?" tanya Kafa setelah mengajarkan segalanya pada Salma yang sejak tadi hanya diam meperhatikan.


"Sudah Mas Kafa," jawab Salma.


"Coba kamu ambil uang di ATM ini!" titah Kafa.


Salma sangat mengeryi cara melihat saldo dan mengambil sejumlah uang, tapi dia masih bingung jika di suruh mentransfer atau melakukan hal lainnya.


"Ini seperti ini, apa aku bener?" tanya Salma saat mencoba memencet beberapa tombol di mesin ATM itu.


"Iya, lanjutkan!" titah Kafa.


Salma yang iseng ingin tahu berapa saldo dari ATM tersebut akhirnya memencet cek saldo, tadi Kafa hanya mencontohkan tanpa memencet tombol itu, dan betapa terkejutnya dia melihat isi dari ATM yang di pegang olehnya dua ratus juta lima ratus ribu adalah saldo yang tertera di ATM tersebut.


'Masya allah, aku bisa beli mobil baru plus rumah baru kalau punya uang segini dan di bawa pulang ke kampung,' batin Salma.


"Salma! kenapa kamu diam? lanjutkan!" tegur Kafa saat melihat Salma hanya diam menatap layar ATM yang menampakkan berapa isi ATM yang di gunakan oleh Salma.


"Eh, iya Mas Kafa," jawab Salma gugup, dia melanjutkan tujuannya tadi dan mempraktikkan apa yang Kafa ajarkan tadi.


Dan salma berhasil mengambil beberapa lembar uang seratusan ribu dari mesin ATM tersebut.


"Yeahh, aku berhasil Mas Kafa," ujar Salma girang.


"Sudah diam! jangan malu-maluin!" bisik Kafa yang merasa sedikit malu karena menjadi pusat perhatian beberapa orang yang ada di sana.


Salma langsung terdiam mematung memperhatikan sekelilingnya.


'Astaga malunya aku,' batin Salma langsung berjalan keluar dari mesin ATM sambil menggandeng tangan Kafa.


"Maaf," bisik Kafa setelah mereka sudah berada di luar ruangan.


"Sudah tidak apa-apa! lain kali jangan di ulangi lagi!" ucap Kafa yang cukup membuat Salma tersenyum dan bersyukur karena memiliki suami seperti Kafa.

__ADS_1


"Iya," jawab Salma.


Kafa mengajak Salma berkeliling menyusuri taman kota di mana ada begitu banyak penjual makanan yang terlihat di sana.


"Mas aku ingin makan bakso," ujar Salma.


Kafa tak lagi menjawab keinginan Salma, dia langsung berjalan menggandeng tangan Salma menuju stand bakso yang terkenal paling enak di sana.


"Aku mau bakso yang besar itu." Pinta Salma menunjuk ke arah Bakso yang di inginkan.


"Tunggu di sini! aku akan pesankan untukmu," jawab Kafa berdiri berjalan mendekat ke arah penjual memesan bakso yang sesuai dengan keinginan Salma, saat ini mereka memang sedang makan di warung bakso pinggir jalan, karena itulah Kafa harus mendekat ke arah sang penjual agar bisa mendapatkan makanan yang di inginkan.


Salma memakan bakso dengan lahapnya, semua terasa begitu indah sejak Lafa berubah dan menyatakan cinta, semua yang terjadi tak luput dari pantauan Ghozi yang secara tidak langsung menjadi mata-mata atas kebahagiaan Salma.


"Setelah ini kita mau ke mana lagi Mas?" tanya Salma yang sudah menghabiskan satu porsi penuh Bakso urat dan satu gelas es jeruk malam hari ini.


"Ikuti aku saja! kita akan berkencan malam ini," jawab Kafa.


"Wah kencan setelah menikah, apa tidak terlambat untuk itu?" tanya Salma yang merasa terlambat jika harus berkencan sekarang, setelah semua yang terjadi.


Salma hanya tersenyum bahagia menanggapi ucapan Kafa.


"Kenapa? apa aku benar? atau aku salah?" tanya Kafa dengan senyum indah yang mengembang di bibirnya.


"Mas Kafa selalu benar di mataku, sekarang ayo berkencan!" kali ini Salma yang telihat lebih bersemangat.


"Hm," sahut Kafa meraih jemari Salma melangkah menyusuri setiap sudut di taman kota, menikmati gemerlap lampu di temani satu cup capucinno yang sengaja Kafa beli untuk menghangatkan tubuh yang mulai terasa dingin.


"Malam yang indah bukan?" ujar Kafa yang kini duduk di kursi yang di sediakan di dalam taman, di temani air mancur berwarna warni yang bergantian menyemburkan air ke atas, membeti keindahan tersendiri bagi siapapun yang melihatnya.


"Aku bersyukur di pertemukan dan di satukan denganmu, meskipun awalnya tidak bak tapi kamu tetap baik pada akhirnya," seru Kafa.


"Aku juga bersyukur telah bertemu denganmu Mas Kafa, karenamu aku bisa merasakan kehidupan yang belum pernah aku rasakan sebelumnya, kehidupanku jauh. lebih baik di bandingkan dulu," sahut Salma yang ikut bersyukur.


Keduanya kini sama-sama bersyukur atas apa yang mereka miliki, rasa syukur yang akan memupuk rasa cinta di antara keduanya.

__ADS_1


Malam semakin larut, hawa dingin semakin menusuk ke dalam tubuh, kini Salma. dan Kafa kembali pulang dengan dua mota martabak yang sengaja di beli sebagai oleh-oleh untuk Ghozi dan Mbok Sumik.


"Assalamualaikum," ucap Salma sesaat setelah masuk ke dalam rumah, terlihat Ghozi sedang menonton TV di ruang keluarga sedang Mbok Sumik mungkin sedang beristirahat.


"Ghozi!" panggil Salma.


"Apa Neng Salma?" sahut Ghozi.


"Ini ada martabak untukmu," jawab Salma seraya memberikan satu kotak martabak ke arah Ghozi.


"Mbok Sumik ke mana?" tanya Salma yang tak melihat Mbok Sumik di sana.


"Mungkin di kamarnya lagi istirahat," jelas Ghozi.


Tanpa bertanya lagi Salma berjalan menuju kamar Mbok Sumik yang berada tak jauh dari ruang keluarga.


Tok ... tok ... tok ....


Salma mengetuk pintu kamar Mbok Sumik dengan gerakan pelan hingga Mbok Sumik yangs edang asyik menikmati siaran televisi menghentikan aktifitasnya.


Di dalam kamar Mbok Sumik memang terdapat televisi, meskipun televisi tersebut berukuran kecil tapo tak masalah bagi Mbok Sumik, yang penting dia punya hiburan untuk melepas penat setelah seharian melakukan aktifitasnya.


"Iya, ada apa Neng Salma?" tanya Mbok Sumik setelah membuka pintu kamarnya.


"Ini Mbok, ada martabak untuk Mbok Sumik," Salna memberikan satu kotak martabak yang dia bawa tadi.


"Alhamdulillah, terima kasih Neng," ucap Mbok Sumik.


"Sama-sama Mbok," sahut Salma seraya melenggang pergi meninggalkan Mbok Sumik yang kembali masuk ke dalam kamarnya.


Salma langsung masuk ke dalam kamar mengganti baju dan membersihkan wajah kemudian merebahkan diri di atas kasur empuk yang kini juga menjadi miliknya, sedang Kafa masih mengobrol dengan Ghozi di ruang keluarga, entah apa yang mereka obrolkan.


Malam kini berganti pagi, Salma bangun lebih lambat dari biasanya, Kafa memang sengaja tak membangunkan Salma yang masih kedatangan tamu bulanannya, dan akhirnya sinat mentari yang masuk lewat cela jendela membangunkan Salma.


"Astaghfirullah, aku kesiangan," ucap Salma setelah dia bangun dan sadar jika matahari sudah muncul.

__ADS_1


Salma langsung berdiri berjalan masuk ke kamar mandi tanpa memperdulikan apapun, yang ada di fikirannya saat ini dirinya sudah telat dan Kafa pasti akan marah karenanya.


__ADS_2