Cahaya Cinta Salma

Cahaya Cinta Salma
Restu Umik


__ADS_3

"kenapa kamu terus saja menempel pada Tari?" tanya Kafa saat melihat Sasa benar-benar tidak bisa lepas dari tari hingga Tari selesai mengatasi semua belanjaan yang telah dibeli oleh Salma sebelumnya.


"Aku suka berada di dekat mbak Tari, dan aku juga merasa sangat bahagia bila melakukan sesuatu bersama Mbak Tari!" Jawab sasa dengan ekspresi polos yang terlihat menggemaskan sekaligus menjengkelkan bagi siapapun yang ingin dekat dengan Tari, tak akan pernah ada kesempatan untuk orang lain mendekati Tari jika Sasa tetap saja menempel pada Tari.


"Terserah padamu saja ," ujar Kafa seraya melanggar pergi meninggalkan Tari dan Sasha yang masih membersihkan sisa bungkusan makanan yang tadi dibeli oleh Salma.


"Ummi, bawa apa?" tanya Abah saat Abah melihat satu kantong plastik berukuran besar di samping sang Ummi.


"Ini hanya oleh-oleh untuk orang tua Ghozi," jawab umi santai saya tersenyum ke arah Abah, Abah sangat beruntung memiliki istri seperti umi yang berhati malaikat, kemanapun dia akan pergi dia tidak pernah lupa membawakan sesuatu untuk pemilik rumah.


Mobil terus melaju dengan kecepatan sedang membelah jalan raya yang terlihat masih lenggang, hingga sampailah mereka di pelataran pesantren yang tak terlalu besar tapi memiliki cukup banyak santri di dalamnya.


Santri Ghozi memang terhitung cukup banyak, kebanyakan santri di sana berasal dari keluarga tak mampu, Ghozi dan keluarganya tidak memungut biaya apapun di pesantren, mereka hanya dibebani biaya sekolah formal tapi tak semahal di sekolah lain, karena itulah meski Ghozi memiliki banyak restoran dan hotel dia terlihat sederhana dan biasa saja karena sebagian penghasilan yang dihasilkannya disumbangkan untuk kemaslahatan pesantren.


"Assalamualaikum," Ummi sesaat setelah mereka sampai di depan pintu rumah Ghozi.


"Waalaikum salam," suara seorang wanita terdengar dari dalam rumah dan perlahan pintu rumah terbuka, nampaklah umik Ghozi berdiri tepat di belakangnya dengan ekspresi wajah terkejut menatap kehadiran Ummi dan Abah juga Ghozi yang berdiri di hadapannya.


"Ada apa ini?" tanya Umik Ghozi saat melihat kedatangan ketiganya yang begitu tiba-tiba tanpa diduga.


"Bisakah kita masuk dulu, umi?" sahut Ghozi saat merasa sang umik sedang terkejut dan berpikir buruk tentang kehadiran dirinya.


"Masuklah!" Tinta umik, Seraya yang membuka lebar pintu rumahnya memberi tanda jika dia mempersilakan sang tamu untuk masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


"Ada apa ini, Ghozi?" Umik kembali bertanya, terlihat jelas di wajahnya jika saat ini Umik sedang bingung dan terkejut melihat kedatangan Ummi, Abah dan Ghozi yang memang tidak memberi kabar terlebih dahulu.


"Umik, kalau ada tamu itu disuruh makan atau minum dulu, bukan malah diberondongin pertanyaan seperti saat ini," sahut Ghozi yang cukup membuat Umik sadar jika datang saat ini bukan orang biasa, dan mereka pasti memiliki tujuan untuk datang ke rumah ini.


"Astagfirullah, Umik sampai lupa," ujar Umik.


"Sudah, tidak perlu repot, kami tidak apa-apa kok ini untuk umik." Ujar Ummi sambil memberi kantong plastik yang dia bawa tadi.


"Masya Allah, kamu kenapa jadi umi yang repot, seharusnya tidak perlu membawa seperti ini umi," ujar umik Seraya mengambil kandang plastik yang tadi dibawa oleh Ummi.


"Tidak apa-apa, lagi pula aku tidak merasa direpotkan," ujar ummi.


"Mbak Rani!" Panggil umik.


"Iya, umik, "sahut Rani.


"Tolong buatkan secangkir kopi dan satu gelas teh hangat, juga ambilkan beberapa camilan di dapur!" pinta Umik.


"Baik, umik," sahut Rani.


Rani berjalan melenggang pergi meninggalkan umik dan yang lain menuju dapur melaksanakan apa yang diperintahkan untuknya membuatkan minum dan mengambil beberapa camilan sesuai dengan apa yang diminta oleh umik.


"Umik, ada yang ingin Ghozi bicarakan," ujar Ghozi saat suasana ruang tamu menjadi hening tanpa ada yang mulai pembicaraan.

__ADS_1


"Kamu yang dibicarakan apa? Katakan, Nak!" Sahut umik Seraya mengalihkan pandangannya memperhatikan Ghozi yang tengah mempersiapkan diri mengatakan semua yang ada dalam hatinya.


"Aku pulang bersama Abah dan Ummi dengan niat ingin menyampaikan padamu umik, kalau aku ingin meminang seorang gadis yang saat ini sedang ada dalam hatiku," jawab Ghozi.


Mendengar pernyataan Ghozi membuat Umik terkejut, dia tercengang terdiam menatap Ghozi tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar, akhirnya keinginan umik yang terpendam sejak dulu akan segera terwujud, dia akan segera melihat Ghozi bersanding dengan seorang gadis di atas pelaminan.


"Benarkah? apa Umik tidak bermimpi?" sahut Umik dengan ekspresi terkejut yang tak pernah luntur dari wajahnya.


"Tentu saja, saya ke sini ingin menyampaikan hal tersebut, sekaligus ingin mengenalkan gadis yang ingin di pinang oleh Ghozi," sahut Ummi yang merasa jika saat ini sudah waktunya dia berbicara.


"Seperti apa gadis itu, Nak? apa dia baik? agamanya bagaimana? dan keturunannya seperti apa?" Umik langsung membrondongi pertanyaan pada Ghozi dan Ummi yang kini duduk di hadapannya.


"Dia bukan dari keluarga Kiyai seperti kita Umik, tapi anaknya baik dan Ummi tahu sendiri anaknya," jawab Ghozi berusaha meyakinkan sang Umik agar dia mau menerima Tari apa adanya.


Sedang Umik terdiam menatap lurus ke depan merasa terkejut dengan apa yang baru saja di dengar oleh Umik.


"Umum tenang saja, gadis yang ingin di nikahi Ghozi memang berasal dari keluarga biasa yang cenderung tidak berpunya, Ayah dan Ibunya juga bercerai karena suatu hal, sejak kecil Tari di asuh oleh sang Nenek dan sekarang sudah aku angkat sebagai puteriku, karena Nenek yang merawatnya sudah meninggal," Ummi mencoba membantu Ghozi agar sang Umik mau menerima Tari apa adanya.


"Umik tenang saja, aku sebagai Ayah angkatnya bisa menjamin jika gadis yang ingin di nikahi Ghozi memang gadis yang baik dan insya Allah bisa di jadikan istri dunia akhirat," Abah yang sejak tadi terdiam memperhatikan apa yang sedang terjadi kini mulai angkat bicara mengatakan apa yang menurutnya bisa membantu Ghozi karena niat baik tidak perlu di tunda.


Sejenak suasana hening, tak ada satu orangpun yang mengeluarkan suara, hingga sang Umik yang sejak tadi berfikir keras kini mulai menemukan jawaban.


"Baiklah, aku akan menerima gadis biasa pilihanmu," akhirnya, Umik memberi jawaban yang sesuai dengan harapan Ghozi.

__ADS_1


Seutas senyum terbit di wajah Ghozi dan yang lain, akhirnya Umik mau menerima dan merestui Ghozi, sungguh saat ini Ghozi merasa begitu bahagia mendengar jawaban Umik yang sesuai dengan harapannya.


__ADS_2