
"Sudahlah, aku percaya kok sama kamu, lagi pula aku tak punya hak untuk memaksa orang lain menceritakan semua hal padaku," ujar Tari.
"Maaf Tari, maaf jika aku telah menyinggung perasaan mu, aku benar-benar tak bermaksud merahasiakan ataupun menyinggung perasaanmu, kamu sudah aku anggap seperti saudaraku sendiri bukan cuma sekedar sahabat," Salma masih mencoba meluluhkan hati Tari.
"Hey, Salma, kenapa jadi mellow seperti ini? sungguh aku tak masalah, meskipun awalnya aku kecewa, tapu saat ini aku sudah baik-baik saja," Tari yang melihat Salma sedih dan menunduk langsung tak tega dan semua rasa jengkel dan kecewa yang tadi dia rasakan seketika sirnah entah ke mana.
"Alhamdulillah, jika kamu mau mengerti," ungkap Salma dengan ekspresi penuh kelegaan melihat Tari tersenyum manis ke arahnya.
"Kamu pasti seneng ya mau jadi menantu pemilik pesantren ini, ahh aku jadi pengen punya calon suami juga," ujar Tari membuat Salma mengerutkan dahi bingung bercampur aneh mendengar ucapan Tari.
"Sejak kapan kamu pengen nikah?" tanya Salma, selama ini Tari paling anti berhubungan dengan laki-laki, sekalipun dia menyukai seseorang, Tari hanya akan menyukainya tak pernah sedikitpun terlintas di benaknya untuk berkomitmen atau bahkan menikah.
Perceraian kedua orang tuanya membuat Tari trauma tentang pernikahan, hal itu jauh berbeda dengan Salma yang tumbuh dengan kasih sayang kedua orang tuanya, kesetiaan sang Ayah dan Ibu yang terus di jaga dan di bawa hingga akhir hayat keduanya membuat Salma bertekad, jika nanti dia menikah maka dia ingin menikah sekali seumur hidup dan akan setia juga mempertahankan pernikahannya apapun yang terjadi.
"Entahlah, aku gak tahu," jawab Tari yang terlihat enggan untuk membahas pernikahan lagi, dia melenggang pergi meninggalkan Salma yang masih terlihat heran diam di tempatnya.
"Semoga kamu bisa melupakan segalanya dan memiliki kehidupan yang jauh lebih baik Tari, dan semoga kamu bisa menghilangkan trauma yang saat ini membelenggumu, percayalah tak semua laki-laki sama seperti Ayahmu," lirih Salma menatap punggung Tari yang berjalan semakin menjauh darinya.
Jika Salma telah bersedia menerima perjodohan yang di minta oleh Ummi, maka berbeda dengan Kafa yang kini sedang asyik berkumpul dengan teman-temannya di rumah Salman setelah kemenangan yang di raih Kafa semalam, kali ini mereka semua berpesta.
"Honey," suara manja Intan dengan nada mendayu-dayu terdengar di samping Kafa yang sedang fokus menatap monitor.
"Hm," sahut Kafa tanpa mengubah pandangan ataupun posisinya.
__ADS_1
"Honey, kemarilah! ayo! temani aku." Intan berjalan sempoyongan mendekat ke arah Kafa dan ....
'Grep'
Sebuah pelukan hangat mendarat di punggung Kafa yang langsung diam mematung merasakan sesuatu yang belum pernah dia rasakan apalagi dia sentuh sedang menempel di punggungnya, Kafa memang selalu menjaga diri dari hal-hal yang berbau Zina, bukan karena dia sok suci, tapi ajaran yang Ummi dan Abahnya berikan masih melekat di dalam hati meski dia telah pergi menjauh dari keduanya.
Intan yang melihat Kafa diam tanpa pergerakan ataupun penolakan seperti biasanya kembali melancarkan aksinya. Perlahan tapi pasti Intan semakin mempererat pelukannya dan sedikit menggesek-gesekkan gunung kembar dengan ukuran cukup besar miliknya, sedang Kafa masih saja terdiam, tak bisa di pungkiri jika Kafa juga manusia biasa, dia memiliki hasrat yang sama seperti laki-laki normal lainnya, mendapat perlakuan seperti saat ini juga membangkitkan gairah yang selama ini dia tahan.
Perlahan tapi pasti Intan semakin berani, dia mulai menggerakkan tangan meraba tubuh Kafa yang kini menempel dengannya, bibir Intan juga tak bisa diam, dia terus mengendus dan sesekali menciumi leher putih mulus milik Kafa. Intan merasa begitu senang dan bahagia melihat respon Kafa yang tak menolaknya, dia semakin liar tangannya terus mengelus hingga kini sampai di kedua p*h* Kafa, Sikap Intan saat ini tentu membuat Kafa semakin menegang tak karuan dia masih berusaha menahan diri tapi tak mampu menolak hingga suara dering ponsel yang berada di saku celananya menyadarkan Kafa dengan apa yang terjadi.
"Astaghfirullah," lirih Kafa setelah sadar karena nada dering dan getaran ponsel di sakunya.
'Grep'
"Cukup Intan! sudah aku katakan, jangan pernah sentuh ataupun meminta lebih dariku!" tegas Kafa dengan tatapan tajam menusuk hati, Kafa kini menoleh ke arah Intan dan menatapnya tajam, dengan gerakan kasar dia menghempaskan tangan Intan sebagai peringatan agar Intan tak melakukan hal menjijikkan itu lagi.
Kafa yang sepenuhnya telah sadar kini berdiri berjalan menjauh dari Intan dan teman-temannya yang lain, teman-teman yang sedang terlena oleh minuman penghilang akal yang sedng mereka nikmati, hanya Kafa yang masih sadar.
'Ummi,' batin Kafa.
Ummi sang penelfon sekaligus penolong Kafa dari godaan setan yang terkutuk itu, tengah menghubunginya.
"Syukurlah, Ummi menelfon, jika tidak aku pasti sudah kehilangan akal," lirih Kafa sambil menatap data panggilan tak terjawab karena panggilan Ummi telah berakhir, tanpa banyak berfikir Kafa menelfon Ummi.
__ADS_1
Tut ... tut ... tut ....
Suara nada tersambung masih terdengar namun belum terangkat.
"Assalamualaikum, Nak," suara Ummi langsung terdengar sesaat setelah nada sambung terjawab.
"Waalaikum salam, Ummi," jawab Kafa.
"Kamu sedang apa, Nak?" tanya Ummi.
"Kafa sedang kumpul sama teman-teman, Ummi," meskipun Kafa pergi dari rumah Ummi dan menjalankan kehidupan yang seratus delapan puluh derajat berbeda dengan lingkungan yang ada di pesantren, tapi sekalipun Kafa tak pernah melawan ataupun membentak sang Ummi, sopan santunnya masih dia jaga sampai saat ini
"Kafa, Ummi merindukanmu, Nak," ungkap Ummi dengan nada yang terdengar begitu pilu di telinga.
Kafa hanya diam mendengar ungkapan hati Ummi yang merindukannya, tak bisa di pungkiri jika Kafa juga merindukan sang Ummi yang begitu dia sayangi.
"Kafa juga rindu Ummi," ucap Kafa.
"Nak, pulanglah! Ummi rindu, pulanglah meski hanya sebentar, setidaknya kehadiranmu bisa mengobati rasa rindu yang Ummi rasakan," pinta Ummi dengan lelehan air mata yang mulai mengalir tanpa bisa di hentikan.
"Ummi menangis?" tanya Kafa saat mendengar nada serak dari suara Ummi.
"Kamu putera Ummi satu-satunya, apa salah jika Ummi menangis karena merindukan putera yang cukup lama pergi?" bukannya menjawab Ummi malah kembali bertanya.
__ADS_1
Kafa kembali terdiam, dia memang sudah lama meninggalkan pesantren dan Ummi tanpa menjenguknya, mungkin apa yang di lakukan Kafa terlihat begitu kejam, tapi bagi Kafa apa yang di lakukannya itu semata-mata hanya ingin melupakan semua yang terjadi dan menyembuhkan hati yang telah terluka.