
"Tentu saja aku gak bakal marah, tapi khusus dirimu kalau orang lain yang melakukannya udah aku tendang duluan tu orang," jawab Kafa seraya mencubit pucuk hidung Salma gemas.
'Mas Kafa terlihat cute kalau bersikap seperti sekarang, jadi pengen aku bungkus terus ku bawa pulang, aku jadiib guling paling nyaman di rumah,' batin Salma menatap gemas ke arah Kafa yang justru berfikir lain melihat Salma yang terdiam menatapnya.
"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Kafa dengan senyum manis yang terlihat di wajahnya, hatinya semakin berbunga-bunga mendapat tatapan lekat dari Salma.
"Tidak ada apa-apa," jawab Salma.
"Apa kamu terpesona melihatku? atau kamu sudah mulai jatuh hati padaku?" Kafa kembali bertanya dengan nada penuh bangga dan pede di hadapan Salma.
"Aku sedang lapar Mas Kafabihi," bukannya menjawab pertanyaan Kafa, Salma lebih memilih mengatakan apa yang dia rasakan, sejak tadi Salma memang sedang menahan rasa lapar yang sebenarnya sudah sejak tadi dia rasakan, perutnya sudahberkali-kali meraung minta di isi.
"Maaf, Sayang, aku lupa," ucap Kafa berdiri dari tempatnya duduk.
"Belum apa-apa Mas Kafa udah lupa, bagaimana nanti?" sahut Salma dengan bibir manyun yang terlihat menggemaskan bagi Kafa, entah mengapa pandangan Kafa pada Salma kini berbeda seratus delapan puluh derajat, bahkan jika Salma marah dia masih terlihat begitu cantik dan seksi.
"Aky lupa karena melihatmu Salma, aku bisa melupakan segalanya jika berada di dekatmu, kamu itu seperti magnet yang selalu menarikku untuk selalu dekat denganmu," Kafa mulai menggombal lagi.
"Mas, aku lapar, dan rasa lapar ini tidak akan hilang hanya dengan gombalan Mas saja," ujar Salma menatap sendu ke arah Kafa.
Tanpa membalas ucapan Salma lagi, Kafa meraih jemari Salma berjalan menuju sebuah restaurant yang berada tak jauh dari tempat keduanya duduk.
"Mas, bukankah itu Ghozi?" tanya Salma saat dia melihat Ghozi sedang duduk menikmati makanan yang ada di depannya.
__ADS_1
"Iya, dia Ghozi, memangnya kenapa kalau dia Ghozi?" tanya Kafa menoleh ke arah Salma dan menatapnya dengan tatapan mengintimidasi.
"Kita bisa makan bersama Mas, bukankah semakin banyak teman akan semakin seru?" jawab Salma dengan ekspresi wajah polos.
"Berdua jauh lebuh baik," ujar Kafa.
"Ayolah Mas! kita bisa makan berdua kapanpun, tapi sekarang aku ingin makan bareng-bareng, kalau perlu makan bareng Mbok Sumik dan puteranya sekalian," usul Salma.
Kafa tak menjawab ucapan Salma, dia langsung berjalan menuju meja di mana Ghozi sedang asyik menikmati makanannya.
"Khem," Kafa berdehem memberi isyarat jika dia ada di sampingnya.
"Eh Mas Kafa sama Neng Salma, silahkan duduk! kita makan bareng-bareng," ucap Ghozi setelah melihat Salma dan Kafa berdiri di hadapannya.
"Entahlah, aku tadi hanya penasaran dengan rasa makanan yang di sediakan di sini," jawab Ghozi enteng tanpa beban dia malah terlihat acuh dengan banyaknya makanan yang ada di meja yang bisa di pastikan membutuhkan banyak uang untuk membayarnya.
Kafa hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan santri dari Ummi sekaligus sahabatnya sendiri itu, Ghozi memang selalu saja menyukai hal baru yang dia temui, apa lagi jika hal itu berhubungan dengan makanan, tempat baru berarti makanan baru dalam artian Ghozi suka eksplor makanan yang menurutnya menarik untuk di makan.
"Biar tidak mubazir lebih baik kita makan bersama, bagaimana? apa Mas Kafa mau? kalau mau pesan lagi lama Mas Kafa," ujar Ghozi.
"Apa boleh kalau kita ikut makan makannamu?" tanya Salma yang terlihat ragu menatap ke arah Ghozi yang justru tersenyum.
"Sudah jangan tanya apapun lagi, ini Kan yang kamu mau, makan bersama-sama dan ini alasanku yang sebenarnya ingin menolak tapi tidak bisa," Kafa menjelaskan sikap keberatan yang sempat di tunjukkan tadi, sejak dulu Ghozi memang seperti saat ini, dia suka memesan banyak makanan untuk di makan bareng teman atau siapapun yang dia kenal, tapi kalu tidak ada yang di kenal Ghozi akan membungkus makanan yang tidak di makan untuk di bagikan pada orang yang membutuhkan yang dia temui di jalan.
__ADS_1
"Maksud Mas Kafa bagaimana? aku kok gak ngerti," tanya Salma yang terlihat bingung dengan penjelasan Kafa.
"Kita pasti akan makan gratis jika bersama dengan Ghozi, karena Ghozi memiliki kelainan, dia itu suka banget beli makanan dengan jumlah yang banyak dan akan membagikannya pada siapapun yang dia kenal atau membagikannya ke orang-orang kalau di tempat itu tidak ada yang dia kenal," Kafa kembali bercerita alasan dia yang tadi ingin memilih tempat lain.
"Itu bukan kelainan Mas Kafa, tapi dermawan, bener Kan Neng Salam?" sahut Ghozi yang tak ingin di bilang kelainan oleh Kafa.
"Aku tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah, yang aku tahu saat ini aku lapar, apa aku boleh langsung makan?" jawaban yang cukup membuat Kafa dan Ghozi saling pandang heran mendengar jawaban Salma.
"Atau aku harus mendengar kalian berdebat dulu baru bisa makan?" sambung Salma saat melihat Ghozi dan Kafa hanya diam menatapnya dengan tatapan penuh keheranan.
"Makanlah! Neng Salma bebas memakan apapun yang Neng Salma mau, bahkan Neng Salma bisa memakan makananku ini," ujar Ghozi seraya menyodorkan makanan yang ada di hadapannya.
"Enak saja istriku di beri makanan sisa, apa lagi makanan itu bekas kamu makan, tidak boleh!" Kafa langsung mendorong makanan yang tadi di sodorkan Ghozi agar kembali ke tempat semula.
"Kalau pun Salma harus makan makanan sisa itu harus sisaku, karena aku suaminya," sambung Kafa yang terlihat masih jengkel dengan apa yang di lakukan oleh Ghozi.
"Aku tidak mau makan makanan sisa siapapun, sudahlah, kalian lanjutkan saja dehatnya! aku akan makan apa yang ingin aku makan, perutku sudah tidak bisa menahan lapar, melihat kalian berdebat membuat perutku semakin keroncongan dan terasa lapar," sela Salma yang sudah tidak tahan lagi melihat perdebatan tanpa ujung antara Ghozi dan Kafa.
"Kamu mau makan yang mana? biar aku ambilkan untukmu," Kafa menawarkan diri untuk melayani Salma.
"Seharusnya aku yang bertanya seperti itu Mas Kafa, kenapa jadi terbalik?" jawab Salma yang merasa tak enak hati jika Kafa melayani dirinya, apa lagi saat ini Kafa melakukannya di depan orang.
"Sekali-sekali tidak apa-apa, biar aku yang menyiapkan makanan untukmu," Kafa terlihat masih berusaha memaksa Salma agar mau di layani olehnya.
__ADS_1
"Khem, khem, aku bukan patung yang fungsinya cuma diam tanpa ada yang menghiraukannya," sela Ghozi.