Cahaya Cinta Salma

Cahaya Cinta Salma
Masalah Kafa


__ADS_3

"Aku tidak memiliki masalah apapun dengan hukum, hanya saja aku memiliki masalah dengan satu wanita," ujar Kafa sambil menatap lekat ke arah Salma melihat bagaimana ekspresi Salma saat mendengar Kafa memiliki masalah dengan seorang wanita.


"Apa? wanita?" sahut Salma dengan ekspresi wajah terkejut mendengar pengakuan Kafa.


"Iya," jawab Kafa singkat.


"Jangan bilang kamu sudah menghamili wanita itu dan terpaksa menikah denganku, kamu juga berencana menikahinya setelah menikah denganku," Salma mengatakan apa yang terfikirkan dalam benaknya.


"Picik sekali pemikiranmu, aku tidak sebej*t yang kamu katakan, dan aku adalah laki-laki yang sangat menghormati wanita," elak Kafa yang merasa jika dirinya memang tidak melakukan apa yang di katakan oleh Salma.


"Jika bukan menghamili wanita, terus apa masalahmu?" kini Salma mulai penasaran dengan masalah yang sedang di hadapi oleh Kafa.


"Intinya, kamu cukup diam dan jangan banyak komentar! ikuti saja apa yang aku katakan, kamu hanya perlu diam jika aku tidak mengatakan apapun," tutur Kafa.


"Bagaimana aku bisa diam kalau aku melihat sesuatu yang tidak baik ataupun melanggar kode etik tentu saja aku akan langsung protes dan membenarkan apa yang seharusnya di benarkan, aku tidak mungkin hanya diam saat ada seseorang melakukan kesalahan yang seharusnya tidak dia lakukan," Salma mulai berdebat, dia terlihat begitu keras kepala dan teguh pada pendirian, bahkan sikap lembut yang di milikinya seolah tertutupi oleh ketegasan yang saat ini lebih dominan.


"Begini, setelah kita menikah aku akan membawamu ke kota dan di sana ada sesuatu yang harus aku selesaikan, selama itu juga aku minta kamu untuk diam tanpa banyak bertanya maupun membantah, cukup diam dan dengarkan apa yang aku katakan, sudah cukup itu saja," Kafa mencoba menjelaskan maksud dari ucapannya tanpa ada niat mengatakan dengan jelas masalah seperti apa yang harus Salma dan dia hadapi.


"Memangnya Mas Kafa sudah melakukan apa sampai-sampai Mas Kafa harus kembali ke kota dan memintaku untuk diam tanpa banyak bertanya," Salma masih saja penasaran dengan masalah yang sedang di hadapi oleh Kafa.

__ADS_1


"Aku tak melakukan apa-apa, sudah jangan banyak tanya! lebih baik sekarang kamu persiapkan diri untuk menghadapi hari esok dan aku akan bicara pada dokter apa kamu sudah boleh pulang atau belum," Kafa yang tak ingin Salma terus bertanya memilih untuk mengakhiri obrolan dan peegi meninggalkan kamar Salma meski sebenarnya masih ada banyak hal yang ingin ri bicarakan oleh Salma tapi Kafa tampak tidak peduli.


"Dasar Mas Kafa yang selalu saja seenaknya sendiri, oh tuhan benarkah dia jodohku? jodoh yang selama ini aku tunggu dan aku harapkan bisa merubah hidupku," lirih Salma yang tampak lelah memikirkan segalanya, setelah itu Salma merebahkan diri menikmati setiap denyutan rasa lelah yang mulai menyebar ke seluruh tubuhnya, apa yanh di lakukan oleh Salma sangat jauh berbeda dengan apa yang terjadi di luar kamar.


"Aku sudah selesai berbicara dengan sahabatmu, kamu bisa masuk dan mengecek apa ada yang kurang atau ada yang lecet dalam diri sahabatmu itu!" ujar Kafa engan nada sinis.


"Tunggu!" cegah Tari sebelum Kafa melangkah lebih jauh dari tempatnya duduk.


"Ada apa?" sahut Kafa dingin, tapi dia menghentikan langkahnya dan berbalik menoleh ke arah Tari.


"Maaf sebelumnya, tapi apa aku boleh bertanya sesuatu sama Mas Kafa?" tanya Tari yang tampak ragu-ragu untuk mengutarakan apa yang ingin dia katakan.


"Emm, maaf sebelumnya, tanpa sengaja aku melihat walpaper dalam ponsel yang Mas Kafa titipkan, aku melihat di sana ada foto Mas Kafa bersama seorang gadis, jika boleh tahu siapa gadis itu?" ucap Tari yang tampak sedikit ragu, tapi Tari tetap mengatakan apa yang ingin dia katakan. Meskipun dia harus sedikit berbohong agar Kafa tidak marah padanya.


'Astagghfirullah, aku lupa jika dalam ponsel itu masih ada banyak fotoku bersama Bella, semoga saja Tafi tak membuka dalamnya,' batin Kafa yang batu sadar jika dirinya telah melakukan sebuah kesalahan.


"Mas Kafa! kenapa diam?" tegur Tari yang melihat Kafa nampak termenung dan berfikir dan tidak menjawab pertanyaannya.


"Khem," Kafa berdehem mencoba menetralkan segala perasaan yang bergejolak dalam dirinya.

__ADS_1


"Semua yang kau lihat adalah masa lalu yang masih belum sempat aku hapus, dan kamu jangan berfikir yang macam-macam karena sekarang aku sudah tidak memikirkan ataupun memiliki rasa padanya, jadi kamu jangan pernah berfikir jika aku akan menyakiti ataupun menghianati sahabatmu itu," Kafa mencoba menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.


"Bagaimana aku bisa percaya pada Mas Kafa jika bukti yang aku lihat berbeda dengan apa yang Mas Kafa ucapkan," Tari masih tidak percaya dengan apa yang di jelaskan oleh Kafa.


"Percaya atau tidak itu bukan urusanku, yang penting aku sudah menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, biar tuhan yang membalikkan hatimu agar kembali percaya nanti, yang terpenting saat ini aku sudah menjelaskannya padamu, kamu juga bisa menghapus semua foto atau segala kenanganku di sana bersama Bella dan aku tidak akan marah ataupun protes karena itu, bagiku semuanya sudah tidak berarti," ujar Kafa yang cukup membuat Tari sedikit terkejut karenanya, dia tidak menyangka jika Kafa akan berbicara seperti itu.


"Baiklah, aku akan coba untuk percaya, jadi aku minta tolong jangan permainkan sahabatku! jaga dia dan sayangi dia sepenuh hati! cukup kehidupan ini saja yang suka membuatnya sakit dan sedih Mas Kafa jangan!" pesan Tari.


"Aku tidak bisa menjanjikan sesuatu, tapi satu hal yang bisa aku katakan dan pastikan, sahabatmu aman bersamaku dan aku akan bertanggung jawab sebagai suami, jadi kamu tidak perlu khawatir karenanya!" Kafa berusaha membuat Tari mengerti jika dirinya bukan laki-laki berengsek.


"Syukurlah jika seperti itu, maaf aku sempat menuduhmu yang tidak-tidak," Tari yang melihat kejujuran di sorot mata Kafa kini tak lagi bisamenuduhnya, dia hanya bisa berdo'a yang terbaik untuk Salma agar dia benar-benar bisa bahagia.


Melihat Tari yang terdiam dengan posisi duduk membuat Kafa pergi, menurutnya Tari sudah cukup mendapat penjelasan darinya.


"Kenapa mereka begitu menyayangi Salma? padahal aku tahu dengan pasti jika Tari bukanlah saudara sedarah dengan Salma, tapi sikapnya mengalahkan saudara kandung," lirih Kafa sambil terus melangkah meninggalkan rumah sakit menuju mobil yang kemarin dia bawa.


"Salma!" lirih Tari saat dia masuk ke dalam kamar dan melihat Salma sedang duduk termenung sendirian.


"Tari," sahut Salma menyahuti panggilan Tari.

__ADS_1


__ADS_2