Cahaya Cinta Salma

Cahaya Cinta Salma
Minum Obat


__ADS_3

"Siapa juga yang nyuruh kamu makan semua ini sendirian? aku juga lapar Salma," sahut Kafa.


"Aku kira Mas Kafa sudah makan duluan tadi," jujur Salma yang memang mengira Kafa sudah makan lebih dulu.


"Aku tidak akan bisa makan kalau kamu belum makan Salma," ucap Kafa santai, tapi berbeda dengan Salma yang mendengarkan ucapan Kafa, meski hanya sebuah kata sederhana tapi kata itu mampu membuat Salma tersenyum bahagia karenanya, Kafa yang tidak bisa romantis mengatakan kata-kata penuh perhatuan yang terselip rasa cinta di dalamnya sungguh membuat Salma merasa sangat bahagia karenanya.


"Mas Kafa mau makan yang mana? biar Salma ambilkan." Tawar Salma yang tiba-tiba merasa semakin sehat.


"Harusnya aku yang berbicara seperti itu," jawab Kafa.


Kafa mengambil alih piring milik Salma dan mulai mengambilkan sop ayam beserta isinya dan beberapa potong ayam dan juga tempe bacem yang tadi di siapkan oleh Kafa.


"Mas, ini banyak sekali, bagaimana aku bisa memakannya Mas?" Salma tertegun melihat betapa banyak makanan yang di letakkan di piring miliknya.


"Habiskan saja makanan itu biar kamu bisa cepat sembuh," sahut Kafa yang kini sedang mengambil lauk untuk dirinya sendiri.


"Tapi gak sebanyak ini juga Mas," ujar Salma.


"Sudah, syukuri dan nikmati yang ada!" tegas Kafa tak terbantahkan.


Salma hanya bisa mengikuti apa yang Kafa perintahkan, dia memang laki-laki yang penuh perhatian, meskipun terkadang caranya salah.


"Alhamdulillah," ucap Salma setelah menghabiskan satu piring penuh makanan miliknya.


Kafa yang mengerti jika Salma sangat sulit jika disuruh minum obat kini memilih cara seperti memberi bayi obat, Jafa sengaja menghancurkan obat dan mencampurkannya dengan gula yang sudah di cairkan, sungguh proses yang panjang hanya demi sebuah obat agar bisa masuk ke dalam tubuh istri tercintanya itu.


"Minumlah!" titah Kafa menyodorkan satu sendok obat yang sudah di campur dengan gula cair.


"Apa ini Mas?" tanya Salma mengerutkan dahi merasa aneh dengan apa yang di berikan oleh Kafa.


"Minum dulu baru aku jelaskan, yang jelas ini bukan racun," tegas Kafa.


Salma membuka mulut tanda jika dirinya mau memakan apa yang di sodorkan oleh Kafa.


"Issshhh, pahit," keluh Salma pangsung meminum teh hangat yang ada di depan Salma.


"Mas Kafa, ini obat," sambung Salma.


"Memang obat, kamu kira apa," sahut Kafa tanpa rasa bersalah.

__ADS_1


"Ishhh, ini namanya pemaksaan," Salma kembali mengeluh.


"Dar pada kamu gak minum obat terus-terusan sakit, lebih baik aku memaksamu," ucap Kafa yang kini membersihkan sisa makanan yang cukup berantakan di meja.


"Kamu mau ngapain?" tanya Kafa saat melihat Salma hendak mengambil piring kotor.


"Aku mau bantuin Mas bersih-bersih," jawab Salma.


"Siapa yang menyuruhmu bersih-bersih?" tanya Kafa sambil memegang erat tangan Salma.


"Tidak ada, aku hanya ingin membantu atas keinginanku sendiri," jawab Salma.


"Lebih baik kaku istirahat saja! biar aku yang membersihkan semua ini," ucap Kafa memegang erang jemari Salma sambil menuntunnya ke atas kasur agar Salma kembali tidur.


"Tapi aku sudah tidak apa-apa Mas, rasa sakitnya juga sudah pergi," ujar Salma yang merasa tak enak hati jikaa harus diam tanpa membantu Kafa.


"Kalau aku bilang masih sakit itu artinya kamu masih sakit, jangan membantah! ikuti saja apa yang aku katakan!" tegas Kafa tak terbantahkan lagi.


'Dasar Mas Kafa aneh, aku yang sakit dia yang n entuin kapan aku sembuhnya,' batib Salma merasa aneh dengan apa yang katakan oleh Kafa,


Lagi-lagi Salma hanya bisa mengikuti apa yang Kafa perintahkan tanpa bisa menolak ataupun membantahnya.


Melihat Salma kembali tidur membuat Kafa ingin ikut bergabung bersamanya, memeluk erat tubuh Salma agar dia tidak lagi merasa sakit, Kafa memutuskan untuk mm enelfon Mbok Sumil agar datang ke kamarnya mengambil cucian piring yang ada di kamarnya.


"Halo, ada apa Mas Kafa?" sahut Mbok Sumik yang langsung bertanya sesaat setelah nada telfon tersambung.


"Mbok, tolong ambil dan bawa piring bekas makan yang ada di kamar di ke dapur!" pinta Kafa.


"Baik Mas Kafa," jawab Mbok sumik.


Mbok Sumik melangkah menuju kamar Kafa setelah menutup sambungan telfonnya.


Tok ... tok ... tok ....


"Mas Kafa!" panggil Mbok Sumik setelah sampai di depan pintu kamar Kafa.


"Iya, tunggu sebentar!" sahut Kafa yang langsung membawa nampan berisi piring serta alat makan kotor yang sudah di pakai oleh Kafa dan Salma.


'Ceklek'

__ADS_1


"Ini Mbok," ucap Kafa memberikan nampannya pada Mbok Sumik.


"Neng Salma bagaimana keadaannya Mas?" tanya Mbok Sumik yang terlihat khawatir dengan keadaan Salma.


"Dia sudah lebih baik Mbok," jawab Kafa.


"Syukurlah kalau begitu, Mbok kembali ke dapur dulu, Permisi." PamitMbok Sumik melangkah manjauh meninggalkan Kafa kembali ke dapur.


Kafa kembali masuk ke dalam kamar dan mulai ikut ke dunia mimpi bersama Salma yang lebih dulu terlelap.


Hari ini terlewati dengan penuh cerita, ada banyak hal yang terjadi, dan Kafa merasa bersyukur karena tak terjadi apa-apa dengan Salma.


"Eummmm," lenguh Salma yang baru saja sadar dari mimpi indahnya.


"Mas, bangun!" lirih Salma saat merasakan sebuah pelukan hangat dari sang suami.


"Mas! sudah sore, bangunlah!" sekali lagi Salma mencoba membangunkan Kafa yang masih terlelap dalam mimpi indahnya.


"Lima menit lagi Salma," sahut Kafa dengan suara serak khas orang bangun tidur.


"Mas lanjutin aja tidurnya! aku mau bangun duluan," pinta Salma yang takut kehabisan waktu sholat ashar jika mengikuti keinginan Kafa.


"Tunggu sebentar lagi! aku masih ingin berada di posisi ini," Kafa kembali bersuara meski dengan mata yang masih tertutup.


Salma hanya bisa diam mengikuti apa ysng di inginkan oleh Kafa hingga suara alarm yang sempat terpasang jam setengah lima berbunyi.


"Astaghfirullah, sudah jam setengah lima," ucap Salma yang spontan langsung menyingkirkan tangan Kafa yang masih melingkar diperutnya


"Ada apa Salma?" tanya Kafa yang terkejut dengan gerakan Salma yang tiba-tiba.


"Sudah jam setengah lima Mas Kafa, waktu sholat ashar akan terlewat jika aku terus berada di sini," jawab Salma berdiri dan sedikit berlari masuk ke ruang penyimpanan baju mengambil sehelai handuk kemudian langsung masuk ke dalam kamar mandi.


"Loh bukannya Salma lagi datang bulan? kenapa dia terburu-buru seperti itu?" lirih Kafa merasa heran dengan sikap Salma.


sepuluh menit berlalu, suara Salma kembali terdengar dari balik pintu kamar mandi.


"Mas Kafa!" panggil Salma.


"Iya," sahut Kafa yang masih setia duduk di atas kasur sambil menunggu Salma keluar dari kamar mandi.

__ADS_1


__ADS_2