
"Kamu benar, percuma juga menghindar ataupun mencoba memaksakan kehendak karena apa yang sudah di takdirkan akan tetap terjadi sesuai takdir yang telah tertulis," sahut Tari.
Keduanya larut dalam fikiran mereka masing-masing, menikmati setiap rasa sakit yang di rasakan, ini pertama kalinya Tari mencintai seseorang yang ternyata sudah pernah meminang sahabatnya.
Waktu terus berjalan meninggalkan setiap kejadian dan kenangan yang akan terus terngiang di memory setiap manusia yang melewatinya. Setelah pembahasan yang membuat sakit hati itu, kini Salma dan Tari kembali menuju asrama.
"Balik ke asrama yuk!" ajak Salma.
"Kamu balik aja dulu! aku masih ingin menikmati suasana di sini." Tolak Tari dengan nada halus.
"Baiklah, aku balik dulu. Kamu hati-hati di sini sendirian!" ujar Salma mengingatkan Tari yang pasti akan sendirian di halaman belakang jika Salma pergi dan kembali ke kamar.
"Kamu tenang saja! aku tidak pernah takut dengan siapapun, paling-paling mereka yang takut padaku," sahut Tari mencoba meyakinkan Salma agar dia pergi tanpa menghawatirkan dirinya.
"Baiklah kalau begitu aku pergi dulu." Pamit Salma melenggang pergi meninggalkan Tari yang masih setia merebahkan diri di tempatnya.
Cukup lama Tari menikmati hangatnya sang surya yang mulai menerpa tubuhnya melewati sela-sela dedaunan, hingga rasa bosan mulai menguasai dirinya, tanpa banyak berfikir Tari bangun dan beranjak pergi mencari tempat yang mungkin bisa membuat hatinya merasa jauh lebih tenang dan bisa membantu dirinya melupakan rasa yang terbukti bertepuk sebelah tangan, sungguh kehidupan yang mengenaskan bagi dirinya.
Tari berjalan keluar dari area pesantren melewati gerbang belakan yang ada di halaman belakang pesantren, gerbang itu akses untuk para santri membuang sampah yang tempatnya memang ada di luar pesantren. Tari terus berjalan hingga dia sampai di gubuk kecil tepi sawah, memandang indahnya hamparan padi yang menghijau dengan tiupan angin sepoy-sepoy menambah keindahan dan kenyamanan bagi siapapun yang ada di sana.
Tari duduk di gubuk itu sambil menikmati setiap rasa sakit yang masih terasa di hatinya, luka tak berdarah jauh lebih sulit untuk menyembuhkannya dari pada luka yang terlihat dan berdarah.
__ADS_1
"Kamu sedang apa di sini?" suara yang sangat dia kenal dan sang di harapkan akan menemani sisa hidupnya kini terdengar menyapa.
'Apa aku berhalusinasi? atau perasaanku padanya benar-benar terlalu dalam sampai aku bisa mendengar suaranya di sini,' batin Tari yang mendengar suara Ghozi.
"Aku bertanya padamu Tari?" suara itu kembali terdengar saat Tari tak merespon bahkan dia tetap terdiam mematung tanpa bergerak sedikitpun.
Suara Ghozi yang kembali terdengar membuat Tari sadar jika apa yang dia dengar sama sekali bukanlah sebuah halusinasi tapi nyata, Ghozi ada di dekatnya, tanpa banyak berfikir lagi Tari langsung menoleh ke belakang memastikan apa yang dia dengar, dan benar saja Ghozi sedang duduk santai di belakangnya dengan satu kitab yang entah kitab apa di tangannya.
"Maaf, aku tidak tahu kalau di sini ada orang," ujar Tari merasa malu pada Ghozi karena dia tak melihat Ghozi yang sejak tadi duduk di belakangnya, untung saja Tari belum mengeluarkan unek-uneknya, jika tidak Ghozi akan tahu segalanya, Tari biasanya akan mencari tempat sepi dan mengeluarkan segala kesedihan yang dia rasakan sambil menangis sepuasnya seorang diri saat dia merasa bersedih.
"Tidak apa-apa, lagi pula ini tempat umum, jadi siapapun boleh berada di sini," jawab Ghozi.
"Kamu sedang apa di sini?" Ghozi kembali bertanya karena Tari tak menjawabnya sejak tadi.
"Kenapa kita sama ya?" sahut Ghozi yang sudah bisa di duga oleh Tari, dia sangat tahu siapa yang ingin di lupakan oleh Ghozi saat ini.
"Tempat ini memang sangat cocok untuk meluapkan segala perasaan yang tak terbalaskan, meninggalkan semua rasa yang bertepuk sebelah tangan dan mulai menata hati juga kehidupan yang baru, huft, mencintai tanpa di cintai itu memang berat, seberat tanggungan dosa kita di akhirat nanti," ujar Tari yang kini menatap lurus ke depan menikmati angin yang terus berhembus sambil sesekali memejamkan mata menikmatinya.
"Apa yang kamu katakan memang sangat benar, kita senasib," ujar Ghozi.
"Bukan hanya senasib tapi juga seperjuangan," sahut Tari.
__ADS_1
"Seperjuangan bagaimana maksud kamu?" tanya Ghozi dengan tatapan penuh heran menatap ke arah Tari.
"Kita sama-sama berjuang melupakan dia yang bukan untuk kita dan menghilangkan rasa cinta yang tak terbalaskan," jelas Tari.
"Kamu benar," Ghozi tersenyum mendengar penuturan Tari yang memang benar adanya.
"Mau bagaimana lagi, hati bukan manusia yang punya dan mengatur, hanya Tuhan yang bisa membolak balikkannya saja, kita hanua perlu berusaha memupuk agar terus subur saat cinta itu bisa bersatu dan mencoba melupakannya sekuat tenaga saat cinta itu bertepuk sebelah tangan," Tari terus saja mengungkapkan apa yang dia rasakan berharap dia bisa segera melupakan Ghozi dan memulai hidup yang baru juga mencari cinta yang baru.
'Dan aku mencintaimu Ghzoi!!!' teriak Tari dalam hati, ingin sekali rasanya saat ini Tari mengatakannya langsung di hadapan Ghpzi agar tak ada lagi beban di hatinya, tapi gengsi dan etika sebagai seorang gadis sekaligus santri menahan mulutnya untuk tak berkata.
"Semua yang kamu katakan sama seperti apa yang aku rasakan saat ini Tari, aku hanya bisa berharap bisa segera melupakannya dan ku harap kamu juga bisa melupakan dirinya yang kamu bilang tak mencintaimu, mencintai tanpa di cintai itu menyakitkan Tari," Ghozi terdengar juga mengungkapkan segala perasaan yang ada di hatinya.
'Harusnya kau tahu Ghozi orang yang ingin aku lupakan itu dirimu,' batin Tari kembali menyahuti ucapan Ghozi.
keduanya terdiam sama-sama menatap lurus ke depan, menikmati rasa sakit yang keduanya rasakan, sungguh perasaan yang rumit untuk di jelaskan apalagi di perjuangkan.
"Tapi kalau di fikir-fikir kuta ini lucu ya Tari," ucap Ghozi saat keduanya asyik melamun.
"Lucu bagaimana maksudmu?" tanya Tari heran.
"Kita sama-sama mencintai orang yang tidak mencintai kita, dan bodohnya kita malah berjuang melupakan dia yang sedang berbahagia dengan yang lain," jawab Ghozi.
__ADS_1
'Kita tidak sama Ghozi, karena orang yang membuatku seperti ini juga sedang merasakan hal yang sama, kenapa kamu tidak mencintaiku saja? kenapa harus Salma?' batin Tari terus saja menjawab tanpa suara.
"Namanya juga takdir, siapa yang bisa melawan, rasa cinta ini juga termasuk takdir yang harus kita terima, karena rasa ini tumbuh tanpa kuta suruh," sahut Tari yang membuat Ghozi merasa jika Tari cukup bijak dalam menyikapi sebuah masalah.