
Apa yang terjadi membuat jiwa kepo Ummi meronta, apa lagi setelah melihat reaksi Ghozi dan Tari yang menunjukkan sesuatu yang ganjal semakin meyakinkan Ummi jika di antara keduanya pasti ada sesuatu yang belum Ummi tahu.
Tapi Ghozi menunjukkan hal yang berbeda dengan apa yang di tunjukkan Sasa, meskipun dalam hatinya terselip rasa penasaran yang belum juga bisa di jawab.
"Ummi, aku pergi ke kamar dulu mau istirahat." Pamit Ghozi setelah menghabiskan sepiring makanan yang dia ambil tadi.
"Ya sudah, istirahatlah! kamu pasti lelah setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh," jawab Ummi dengan senyum yang terlihat di wajahnya.
Sedang hal lain di tunjukkan oleh Sasa, dia masih waspada menjaga Tari agar tudak terlalu dekat dengan Ghozi.
"Apa Sasa masih mau nambah?" tanya Tari pada Sasa yang terlihat masih enggan beranjak meski sudah menghabiskan seporsi makanan yang di ambilkan oleh Tari.
"Apa Mbak Tari tidak makan dulu?" tanya Sasa dengan penuh perhatian dia bertanya pada Tari.
"Mbak Tari sudah makan tadi, lebih baik sekarang kita kembali ke ruang keluarga untuk tidur." Jawab Tari, tapi Sasa masih terlihat enggan untuk pergi.
"Apa yang di katakan Mbak Tari benar Sasa, lebih baik sekarang kamu istirahat lagi! bukankah besok Sasa harus bangun subuh untuk sholat dan sekolah," sahut Ummi yang mengerti jika sebenarnya Tari sudah lelah dan ingin segera kembali tidur, merebahkan diri di atas kasur tipis yang sudah menjadi temannya setiap hari.
"Tuh, dengerin apa kata Ummi!" Tari mendukung ucapan Ummi dan meyakinkan Sasa agar dia juga mengikuti kata-katanya.
"Iya, aku tahu," Sasa langsung berdiri dan turun dari kursi meja makan. Meraih tangan Tari bermaksud mengajaknya tidur bersama.
"Mbak Tari masih mau membersihkan bekas makan ini Sasa, bisakah Sasa tidur sendiri dulu? nanti kalau semua pekerjaan Mbak Tari di sini selesai, Mbak pasti bakal nyusul Sasa," ujar Tari yang tak bisa langsung pergi begitu saja, meninggalkan piring sisa makanan dan membereskan sisa lauk yang belum habis.
"Sudah, jangan hiraukan semua pekerjaan ini! besok pagi kamu masih bisa melanjutkan membersihkannya, biar Ummi yang menyimpan sisa lauknya. Lebih baik kamu temani Sasa tidur," sela Ummi yang sangat mengerti dengan keadaan Sasa yang tidak mungkin tidur sendiri di ruang keluarga.
"Tapi Ummi juga harus istirahat, aku masih kefikiran kalau Ummi tidak ikut bergabung," Tari mencoba menolak dengan halus perintah Ummi, apa lagi sekarang masih ada banyak pekerjaan yang menumpuk di dapur.
__ADS_1
"Tunggu sebentar! biar Ummi meletakkan ini dulu." Ummi meraih dua piring berisi lauk dan menyimpannya ke dalam lemari es kemudian kembali bergabung dengan Tari dan Sasa.
"Ayo istirahat!" ajak Ummi merangkul Tari yang berdiri di sampingnya dengan Sasa yang memegang jari Tari seolah tak ingin lepas darinya.
Malam yang sungguh indah dan penuh drama terlewati juga, ada rasa bahagia yang terselip dalam hati Tari, setelah cukup lama Tari menanti kehadiran Ghozi yang kini sudah ada di depan mata, akhirnya penantiannya tidak sia-sia, meski Ghozi baru datang dan tak menunjukkan apapun tetap saja hati Tari merasa bahagia karenanya.
Pagi yang cerah memberi semangat baru bagi setiap insan yang hidup di bumi, tak terkecuali Tari, pagi ini semangat nya seolah bertambah empat kali lipat dari biasanya, sejak bangun tidur tadi hingga waktu masak usai senyum Tari tak pernah luntur, dan apa yang terjadi pada Tari tak luput dari perhatian Ummi.
'Kenapa Tari begitu bersemangat hari ini?' batin Ummi menatap heran ke arah Tari yang baru saja selesai membersihkan seluruh peralatan masak yang sudah dia gunakan tadi.
"Ummi, setelah ini Tari mau lihat Sasa sambil membantunya bersiap ke sekolah," ucap Tari setelah menaruh piring kotor terakhir yang ada di tempat cuci piring.
"Baiklah, setelah itu kembali ke sini! kita sarapan bersama," jawab Ummi yang tampak masih memperhatikan Tari.
"Baik, Ummi," jawab Tari, dia tidak sadar jika saar ini Ummi sedang memperhatikannya.
Tari berjalan keluar dari rumah Ummi dengan hati berbunga-bunga, pertemuannya semalam dengan Ghozi membuatnya tak bisa berhenti tersenyum.
"Mbak Tari!" panggil Sasa yang terlihat duduk di teras kamar dwngan handuk dan baju ganti yang masih menempel di pundaknya.
Inilah keseharian Tari setelah Salma dan Ghozi pergi, Tari memang sudah menjadi ustadzah, tapi dia mengajar TPQ di sore hari, sedang di pagi hari dia belajar pelajaran umum, hanya saja Tari tidak bersekolah seperti murid yang lain, dia hanya datang seminggu sekali saat semua santri libur sekolah.
"Masya allah ada Sasa, apa kamu sudah lama menunggu di sini Mbak?" tanya Tari.
"Tidak juga, ayo mandi!" ajak Sasa, dia lebih suka mandi bersama dengan Tari dari pada harus mandi sendirian, Sasa bisa langsung mandi karena kebanyakan santri yang ada di sana menghormati Tari sebagai ustadzah, sangat berbeda jika Sasa mandi sendirian, dia akan mengantri seperti para santri lainnya, tak jarang Sasa harus menunggu lama hanya untuk mandi.
"Mandilah! aku akan menunggumu di sini." Ujar Tari setelah sampai di depan kamar mandi.
__ADS_1
Sasa tersenyum manis sambil mengangguk, dia selalu merasa istimewa dan senang tiap kali mandi bersama Tari.
Sedang Tari selalu ikhlas merawat Sasa yang dia tahu pasti masih membutuhkan sosok Ibu dalam hidupnya.
"Ayo Mbak!" Sasa langsung menggandeng lengan Tari berjalan melewati para santri yang sudah sejak tadi mengantri di depan pintu kamar mandi.
"Ayo!" sahut Tari yang kini membalas genggaman tangan mungil milik Sasa.
Dengan penuh kasih sayang Tari merawat Sasa di pesantren, menemani dia belajar, menyiapkan keperluan sekolah hingga makan, semua Tari yang melakukannya, mereka memang terlihat seperti Ibu dan anak jika ada orang lain yang melihat kedekatan mereka.
Jika Tari di sibukkan dengan urusan memasak dan membantu menyiapkan Sasa, maka berbeda dengan Ghozi yang baru saja bangun, tadi usai sholat subuh Ghozi kembali tidur karena merasa masih lelah Ghozi sholat di kamae dan kini baru keluar dengan wajah yang segar dan baju yang baru, tidak seperti baju yang dia gunakan semalam.
"Kamu sudah bangun Ghozi?" sapa Ummi yang baru keluar dari kamar dan berjalan hendak ke dapur yang arahnya melewati kamar Kafa yang di tempati oleh Ghozi.
"Iya, Ummi, maaf Ghozi baru bangun, semalam Ghozi merasa sangat lelah makanya baru bangun," ujar Ghozi yang tak ingin Ummi merasa kecewa dengan sikapnya, Ghozi menjelaskan alasan dirinya terlambat bangun.
"Sudah tidak apa-apa, Ummi mengerti, tapi tadi Ghozi sudah sholat subuh Kan?" Ummi tak ingin Ghozi meninggalkan sholat sekalipun dia merasa lelah.
"Alhamdulillah, sudah Ummi," jawab Ghozi.
"Baguslah kalau begitu lebih baik kita sarapan dulu sebelum beraktifitas," ucap Ummi.
"Baik, Ummi," jawab Ghozi dengan senyum yang kini mulai terlihat di wajahnya.
Ghozi berjalan menuju dapur di mana mereka biasa makan, berjalan di belakang Ummi mengikuti langkahnya.
Tari dan Sasa juga melakukan hal yang sama, keduanya berjalan menuju dapur di mana mereka biasa sarapan bersama Ummi.
__ADS_1
'Kenala bocil ini masih saja ngintilin Tari sih?' batin Ghozi menatap sebal ke arah Sasa yang berdiri tegak di samping Tari sambil menggenggam jemari Tari.