
"Mas," rengek Salma seraya mengusap perutnya yang terasa gatal.
"Iya, kenapa, Sayang?" sahut Kafa yang baru saja sampai di dalam kamar.
"Aku mau tidur," jawab Salma.
"Terus?" sahut Kafa sambil mengerutkan dahi bingung mendengar rengekan yang keluar dari mulut Salma.
"Temenin," Salma kembali merengek.
Sejak hamil Salma berubah seratus delapan puluh derajat, bahkan Salma lebih suka makan dari piring Kafa sambil di suapi dari pada harus makan sendiri. Tapi Kafa yang kini semakin mencintai dan menyayangi Salma hanya menuruti apa yang di minta oleh Salma tanpa ad protes sedikitpun.
__ADS_1
"Mas," Salma kembali merengek, Kafa langsung berjalan mendekat ke arah Salma kemudian merebahkan diri tepat di samping Salma sambil terus mengusap lembut perutnya.
Usapan lembut dari tangan Kafa memberikan sensasi tersendiri bagi Salma, dia bisa merasa jauh lebih tenang dan tentram ketika merasakan usapan tangan Kafa.
Kafa terus memeluk Salma hingga suara dengkuran halus terdengar di telinga, memberi tanda jika sang empu sudah tertidur pulas.
"Berasa punya bayi besar," gumam Kafa dengan suara samar yang hanya mampu di dengar oleh telinganya sendiri.
"Tidur yang nyenyak Sayang," lirih Kafa setelah mengecup manis dahi Salma kemudian melenggang pergi keluar dari kamar setelah mengambil beberapa kitab yang akan dia ajarkan.
"Kenapa Ghozi dan Tari pergi tidak pamitan dulu, Ummi juga ikut-ikutan pergi," gerutu Ghozi sambil terus berjalan menuju pondok putera setelah mencari guru pengganti untuk Tari yang entah pergi ke mana.
__ADS_1
Jika Ghozi, Tari dan Ummi pulang dengan hati yang di penuhi rasa lega, maka sangat berbeda dengan Kafa yang kini kelimpungan mencari guru pengganti karena jam masuk sekolah sudah tiba.
"Alhamdulillah, semua sudah selesai, meski Ibu kandungnya terlihat kurang tertarik dengan apa yang kita sampaikan, setidaknya kita sudah mengatakan apa yang seharusnya kita katakan," ucap Ummi setelah ketiganya sudah berada di dalam mobil dan dalam perjalanan pulang.
"Seperti itulah Ibuku, dan karena itulah aku selalu menganggap Ibu Salma seperti Ibuku sendiri, Ibu Salma jauh lebih perhatian dari pada Ibu kandungku sendiri," Tari mencoba mengungkapkan apa yang selama ini terpendam dalam hatinya, mungkin ini saatnya dia berbagi pada seseorang yang sudah perhatian dan mau menerimanya sebagai seoranģ anak seperti Ummi.
"Bersabarlah, Nak! semua pasti indah pada akhirnya dan Ummi akan selalu menjadi Ibumu, jadi jangan bersedih maupun berkecil hati, besok biar Ummi dan Abah yang menjadi walimu," Ummi mencoba menghibur Tari yang terlihat begitu bersedih dengan apa yang telah terjadi.
"Aku kuat Ummi, dan aku sudah terbiasa dengan semua ini, karena itulah Aku harus terus kuat sampai kapanpun, Aku bisa meski tanpa mereka," sekali lagi Tari mencoba menguatkan diri setelah merasa lega karena sudah membagikan semua keluh kesannya pada Ummi yang menurutnya sangat tepat untuk di ajak curhat.
"Bagus, Puteriku, teruslah menjadi gadis kuat hingga kamu mendapatkan kebahagiaanmu," sahut Ummi.
__ADS_1
Jika kedua wanita yang kini saling menguatkan berada di jok belakang, maka sangat berbeda dengan Ghozi yang kini semakin yakin ingin mempersunting Tari dan berniat untuk kebahagiakannya.