
Adzan subuh telah berkumandang, dua sejoli yang kini sudah siap ikut berjama'ah berdiri di tengah-tengah santri yang lain, setelah malam panjang penuh drama yang di alami Tari dan Salma, kini tibalah saatnya kedua gadis itu bekerja membantu Mbok Yem di dapur.
"Astaga Salma, badanku terasa remuk gara-gara semalam," keluh Tari.
Semalam Tari tak bisa tidur nyenyak, selain karena dingin Tati juga merasa tak nyaman gara-gara harus berdesakan dengan anggota kamar yang lain.
"Memangnya semalam kamu kenapa?" sahut Salma enteng dengan ekspresi polosnya.
"Jangan sok gak tahu gitu ya! aku tahu jika kamu juga ngerasain hal yang sama sepertiku." Jawab Tari sedikit jengkel dengan sahutan Salma.
"Mau bagaimana lagi Tari? di pesantren keadaannya memang seperti ini, jadi kita gak bisa nuntut banyak ataupun berharap lebih baik dari pada di rumah," tutur Salma.
"Huft, udah terlanjur masuk ke dalam air berendam aja sekalian, kayaknya menikmati setiap kesusahan di sini akan jauh lebih baik dari pada mengeluh," ujar Tari terus melangkah di samping Salma menuju kantin di mana mereka akan mulai bekerja.
"Assalamualaikum, Mbok Yem," sapa Salma.
"Pagi, Mbok," kali ini Tari yang menyapa.
"Waalaikum salam, Salma, pagi juga Tari," Mbok Yem tersenyum sumringah melihat kedatangan Tari dan Salma yang akan meringankan pekerjaannya.
"Pagi ini kita mau masak apa Mbok?" tanya Salma.
"Menu hari ini, oseng kangkung, Tempe, tahu sama telor dadar," jawab Mbok Yem.
"Kalau gitu Tari bantu bersihin sayur kangkungnya ya Mbok," cicit Tari.
"Salma bantu masak tempe sama tahunya," sahut Salma mengambil alih tempe dan tahu yang masih tergeletak di atas meja.
'Ummi memang tidak pernah salah pilih, mereka begitu rajin dan mengerti tugas mereka tanpa aku harus repot-repot menjelaskannya,' batin Mbok Yem merasa senang mendapat bantuan dari Tari dan Salma.
Meski matahari belum nampak karena adzab subuh baru saja selesai berkumandang dan jamaah baru saja turun, tapi Tari dan Salma terlihat begitu sibuk membantu Mbok Yem di dapur, memasak di kantin memang harus subuh-subuh, karena jam enam nanti sebagian besar santri mulai sarapan untuk menghindari antri yang terlalu panjang dan menghemat waktu agar tidak telat saat berangkat sekolah.
__ADS_1
"Alhamdulillah, selesai juga, setelah ini kita harus ngapain Mbok?" ucap Salma setelah memasak semua tahu dan tempe yang tadi di goreng.
"Salma nanti yang memberikan ikan saat ada santri yang makan, Mbok yang ambilkan nasi dan Tari kamu nanti bagian goreng telur jika ada yang meminta ikan telor goreng," Mbok Yem menjelaskan tugas Salma dan Tari.
"Siap, Mbok," sahut Tari dan Salma hampir bersamaan.
Pagi semakin menyingsing semakin banyak pula santri yang berdatangan untuk memulai sarapan, ada yang makan seadanya ada pula yang meminta telor goreng sebagai lauk tambahan, di pesantren memang di sediakan telo ceplok ataupun telor dadar yang akan langsung di goreng saat itu juga dengan syarat harus membayar uang tambahan untuk telor yang mereka pesan.
"Alhamdulillah," untaian rasa syukur terdengar dari bibir Salma dan Tari saat melihat para santri semakin sedikit dan jam dinding sudah menunjukkan setengah tujuh yang itu artinya sebagian besar santri telah berangkat ke sekolah masing-masing.
"Bagaimana hari pertama membantu Mbok? pasti capek ya?" ucap Mbok Yem sembari berjalan mendekat ke arah Tari dan Salma yang duduk di lantai tempat mereka tadi memotong sayur.
"Lumayan juga Mbok, tapi pekerjaan seperti ini bagi kami sangat ringan kok Mbok, kami biasa melakukan hal seperti ini, iya kan Salma," tutur Tari.
"Iya, kamu bener Tari," sahut Salma.
"Ya sudah, kalau gitu kita sarapan dulu. Ayo makan!" ajak Mbok Yem sambil membawa nasi dan lauknya.
"Sudah waktunya makan, para santri sepertinya juga sudah banyak yang makan, jadi sekarang waktunya kita ngisi tenaga," ujar Mbok Yem.
"Mbok Yem bener, ngisi tenaga untuk menerima kenyataan hidup, he he he," sahut Tari sambil nyengir kuda.
"Hus, kamu ini ada-ada aja Tari," sela Salma sambil mengambil alih piring yang ada di tangan Mbok Yem.
Ketiganya makan dengan penuh hikmad, menikmati menu sederhana yang terasa begitu lezat karena ada rasa syukur di setiap sendok makanan yang mereka makan, Tari dan Salma memang sudah terbiasa makan apa adanya, bagi mereka yang penting bisa kenyang sudah syukur, makanan yang ada di piring telah tandas tak tersisa, kini Salma berjalan kembali menuju kamar bersiap-siap untuk mandi, begitu pula dengan Tari yang selalu mengekor di belakang Salma.
"Di fikir-fikir kita tinggal di sini itu statusnya sebagai apa ya Salma?" tanya Tari saat keduanya sudah mandi dan rapi, kini mereka duduk di kamar.
"Entahlah Tari, aku sendiri juga bingung, mau nganggep jadi santri kuta gak sekolah di sini, mau bilang kerja kita tinggal sama seperti para santri yang lain, aku sendiri juga bingung," sahut Salma.
"Terus rencana kamu ke depannya bagaimana?" Tari kembali bertanya.
__ADS_1
"Aku malah tidak punya rencana apapun ke depan," jawab Salma, saat ini dia hanya hidup mengikuti takdir yang berlaku tanpa memiliki rencana apapun.
"Huft, kenapa nasib kita sama ya?" ujar Tari sambil menompang dagu menerawang jauh mengingat nasibnya saat ini hingga seorang santri mengusik keduanya.
"Mbak Salma dan Mbak Tari di panggil Ummi di ndalem," ucap seorang santri yang kini berdiri di tengah pintu.
"Baiklah, terima kasih ya Mbak," sahut Salma.
"Tari, kita di panggil ke ndalem pergi yuk!" ajak Salma yang kini berdiri hendak pergi meninggalkan kamar.
"Kuy lah!" sahut Tari yang masih sedikit terlihat bar bar.
Keduanya berjalan menuju ndalem dengan hati yang di selimuti rasa penasaran.
"Assalamualaikum Ummi," ucap Salma dan Tari hampir bersamaan.
"Waalaikum salam, masuklah!" sahut Ummi yang terlihat sudah menunggu keduanya di ruang keluarga.
"Ummi manggil kita ada apa ya?" tanya Salma sesaat setelah dia berada di dekat Ummi.
"Iya, duduklah dulu!" sahut Ummi sambil memberi perintah, Salma dan Tari duduk mengikuti perintah Ummi.
"Ada apa Ummi?" tanya Salma.
"Ummi berencana menjadikan kalian Ustadzah untuk mengajar TPQ di pesantren ini, jadi mulai hari ini kalian bisa belajar pada Ghozi, apa kalian bersedia?" tawar Ummi.
Mendengar tawaran Ummi membuat Salma dan Tari bingung, keduanya saling pandang memberi isyarat satu sama lain untuk mencari jawaban yang tepat.
"Apa kami pantas menjadi seorang Ustadzah Ummi?" sahut Salma dengan ekspresi ragu yang tergambar jelas di wajahnya.
"Benar Ummi, apa kami pantas?" Tari yang sejak tadi diam juga ikut bertanya.
__ADS_1