Cahaya Cinta Salma

Cahaya Cinta Salma
Berkeliling Rumah


__ADS_3

"Aku akan mengajakmu berkeliling supaya kamu tahu letak setiap ruangan yang ada di rumah ini," jawab Kafa.


"Ooh," Salma hanya ber 'O' riya menanggapi jawaban Kafa.


Kafa berjalan dengan Salma yang mengekor di belakangnya, keduanya berjalan melihat setiap ruangan yang ada di sana.


"Ini ruang keluarga, kamu bisa bersantai menonton TV atau berenang di sana," Kafa menunjuk ke arah kolam renang yang ada di samping ruang keluarga yang di batasi dengan pintu kaca besar.


"Masya Allah, indah sekali," lirih Salma saat melihat kolam renang dengan ukuran sedang membentang di kelilingi beberapa tanaman hias memanjakan mata.


"Apa kamu mau ke sana?" tanya Kafa dan Salma hanya mengangguk sebagai jawabannya.


Kolam dengan air jernih yang tak terlalu dalam dengan taman hias di sekelilingnya, di lengkapi tempat duduk untuk bersantai seperti di pantai dan tempat duduk untuk menikmati makanan lengkap dengan payung penghalang panas ada di sana, ada juga sebuah lemari dan mushollah kecil yang terlihat cukup untuk dua orang berada di ujung ruangan, sungguh penataan yang sangat bagus.


"Apa kamu suka tempat ini?" Kafa kembali bertanya setelah melihat ekspresi wajah Salma yang berbinar menatap setiap sudut ruangan.


"Sangat, di sini suasananya tenang, mungkin akan jauh lebih nyaman jika di ujung sana di beri kursi gantung dari bambu," Salma malah memberi saran untuk memperlengkap barang di kolam renang itu.


"Aku akan membelikannya untukmu," jawab Kafa enteng.


Jawaban Kafa sukses membuat Salma penasaran dengan penghasilan yang di miliki Kafa, berapa besar penghasilannya hingga Kafa langsung mengiyakan apa yang Salma bilang tanpa berfikir dahulu, padahal Salma tahu dengan pasti berapa harga kursi yang Salma maksud.


"Jangan bengong! ayo jalan!" tegur Kafa saat melihat Salma diam mematung menatap kosong ke arah di mana dia menyarankan Kafa untuk membeli sebuah kursi.


Salma hanya bisa tersenyum mendengar teguran dari Kafa kemudian berjalan mengikuti langkah Kafa menuju ruangan lain, hingga sampailah mereka di dapur, ruangan terakhir yang harus di ketahui oleh Salma.

__ADS_1


"Ini dapur dan perkenalkan ini namanya Mbok Sumik, dia asisten rumah tangga di sini, tapi dua seminggu lagi Mbok akan kembali ke pesantren untuk menemani Mbok Bat di sana, dan kamu bisa menggantikan pekerjaannya memasak untukku," ucap Kafa sambil memperkenalkan Mbok Sumik pada Salma.


"Saya Salma Mbok," Salma mengulurkan tangan dan di sambut oleh Mbok Sumik, tapi ada hal yang cukup membuat Mbok Sumik tercengang, bukannya bersikap sombong dan sok ngatur setelah tahu kalau Mbok Sumik itu asisten rumah tangga, Salma justru bersikap sebaliknya, dia mencium punggung tangan Mbok Sumik dengan senyum yang terlihat menyenangkan hati.


Sikap yang di tunjukkan oleh Salna sungguh membuat Mbok Sumik begitu senang dan bersyukur karena Kafa yang dia rawat sejak kecil mendapat jodoh yang baik seperti Salma, tidak seperti Intan yang selalu sombong dan sok ngatur di tambah sikapnya yang seenaknya sendiri sampai terkesan tudak memiliki sopan santun, Salma dan Intan bagai bumi dan langit, keduanya sangat jauh berbeda satu sama lain.


"Masya allah, kamu cantik dan baik hati, semoga allah mentakdirkan kalian sebagai pasangan kekasih di dunia dan di akhirat," ungkap Mbok Sumik dengan do'a dan harapan yang di amini oleh Salma dan Kafa.


"Mbok sedang masak apa?" tanya Salma saat melihat ada panci yang bertengger indah di atas kompor.


"Mbok sedang masak soto daging dan tempe goreng Neng," jawab Mbok Sumik.


"Mas Kafa, aku sudah tahu letak semua ruangan di sini, apa sekarang aku boleh membantu Mbok Sumik memasak?" tanya Salma dengan nada sopan yang membuat Mbok Sumik semakin terkesima melihatnya.


"Tentu saja, tapi buatkan aku kopi hitam lebih dulu! dan antar ke ruang keluarga!" titah Kafa.


Kafa berjalan menuju ruang keluarga untuk mengecek email yang di kirim para pegawai tokohnya, sedang Salma mulai mengobrol dan membuat kopi untuk Kafa


"Mbok, letak kopi dan gulanya di mana ya?" tanya Salma yang sejak tadi tidak melihat kopi dan gula di sana.


Dapur rumah Kafa di kota sangat jauh berbeda dengan dapur yang ada di rumah Ummi di pesantren, ruangannya begitu rapi hingga tak ada satu barang yang terlihat tercecer.


"Mari ikur Mbok, biar Neng Salma tahu di mana letak setiap barang." Ajak Mbok Sumik.


Mbok Sumik menunjukkan letak setiap barang yang ada di dapur itu, mulai dari hal kecil hingga peralatan yang jarang sekali di pakai seperti presto dan yang lain, sungguh perlengkapan di dapur ini tidak ada yang kurang sedikitpun semua peralatan dapur ada di sini, mulai dari alat untuk memasak makanan seperti lauk hingga barang untuk memasak kue, semuanya ada di sini.

__ADS_1


"Masya Allah lengkap sekali perlengkapannya Mbok," ungkap Salma yang terlihat begitu mengagumi ketelitian seseorang yang menyiapkan semua peralatan di dapur.


"Semua perlengkapan ini Mbok Sumik dan Mbok Bat yang membelinya dulu, sewaktu rumah ini baru jadi," jelas Mbok Sumik.


"Wah kalian berdua hebat dan pasti jago memasak sampai tahu semua barang yang di perlukan," puji Salma.


"Yang paling hebat itu Mas Kafa Neng Salma," ralat Mbok Sumik yang terdengar tidak setuju dengan pujian Salma.


"Kok Mas Kafa yang hebat?" tanya Salma merasa aneh dengan sanggahan yang di ucapkan Mbok Sumik.


"Mas Kafa hebat bisa membeli semua barang ini tanpa menunggu besok dan tanpa banyak berfikir," jawab Mbok Sumik.


"Wahh berarti aku juga termasuk hebat donk Mbok?" ucap Salma yang tak mau kalah dengan apa yang di katakan Mbok Sumik.


"Hebat kenapa Neng Salma?" tanya Mbok Sumik yang bingung dengan ucapan Salma.


"Aku hebat karena bisa menikah dengan laki-laki setajir Mas Kafa, bener kan Mbok?" Salma menaik turunkan alis nya sambil tersenyum ke arah Mbok Sumik yang di tanggapi dengan tawa keduanya.


"Neng Salma bisa bercanda juga ternyata," seru Mbok Sumik di sela-sela tawanya.


Salma hanya mengidikkan bahu menanggapi ucapan Mbok Sumik ke.udian menuangkan air yang tadi sudah di rembus ke dalam cangkir yang sudah di isi kppi dan gula sesuai selera Kafa.


"Salma nganter kopi ini dulu ya Mbok." Pamit Salma.


"Hati-hati Neng, kopinya masih sangat panas!" sahut Mbok Sumik.

__ADS_1


"Tenang saja Mbok, Salma sudah kebal sama yang namanya panas," Salma kembali menyahuti ucapan Mbko sumik sambil tersenyum kemudian berjalan menuju ruang tamu untuk memberikan kopinya pada Kafa.


__ADS_2