
"Jika Ummi sudah memilih kalian, itu artinya kalian pantas untuk apa yang telah Ummi pilihkan," jawab Ummi.
"Assalamualaikum, Ummi memanggil saya?" suara Ghozi terdengar dari pintu ruang keluarga yang terhubung dengan halaman kecil tak jauh dari tempat ketiganya duduk.
"Waalaikum salam," sahut ketiganya hampir bersamaan.
"Masuklah! ada sesuatu yang ingin Ummi obrolkan denganmu." Sahut Ummi sambil tersenyum manis melihat kedatangan Ghozi.
"Iya, Ummi, ada apa?" sahut Ghozi sambil berjalan mendekat ke arah Ummi dan ikut bergabung dengan duduk tak jauh dari tempat Salma dan Tari duduk.
"Ghozi, aku berencana menjadikan Tari dan Salma sebagai guru TPQ, apa kamu bisa mengajari dan membimbing mereka?" tanya Ummi dengan ekspresi wajah serius yang kini terlihat di wajahnya.
"Bisa, Ummi," jawab Ghozi menyanggupi apa yang di minta oleh Ummi.
"Alhamdulillah, kalau begitu mulai hari ini setiap jam delapan kamu bisa mengajari mereka dan kalian juga harus datang menemui Ghozi setiap jam delapan, soal tempat kalian bisa belajar di teras depan ruang keluarga ini." Titah Ummi yang di jawab iya oleh ketiga nya tanpa banyak bertanya ataupun protes.
Hari ini pertama kalinya Salma dan Tari belajar bersama. Mempelajari apa yang akan di ajarkan Salma dan Tari saat menjadi guru TPQ nanti. Jika Salma dan Tari begitu memperhatikan setiap hal yang di ajarkan oleh Ghozi dan mengerjakan tugas yang di berikannya, maka berbeda dengan Ghozi yang justru memperhatikan setiap gerakan yang di lakukan oleh Salma saat mengerjakan tugas darinya, tanpa di sadari oleh Salma.
"Bagaimana? apa ada kesulitan? atau ada sesuatu yang kalian tidak mengerti?" tanya Ghozi saat melihat Salma dan Tari sedang menatap serius buku yang ada di hadapan mereka.
"Kalau kayak gini, aku berasa balik lagi jadi anak SMP," celetuk Tari.
"Kamu terlalu tua kalau hanya jadi siswa SMP Tari," sahut Salma sambil geleng kepala mendengar celotehan Tari yang terdengar nyeleneh.
"Umur itu hanya angka Salma, biarpun setiap tahun bertambah yang penting semangat kita jangan sampai berkurang!" ucap Tari.
"Terserah dirimulah Tari, aku ikut aja," ujar Salma yang kembali fokus menatap deretan soal yang ada di dalam bukunya.
Belajar pagi ini terasa begitu menyenangkan, Ghozi begitu santai dan memberi materi yang begitu mudah di pahami.
__ADS_1
"Terima kasih untuk hari ini Ghozi, semoga apa yang kamu ajarkan hari ini bisa kita amalkan dan ajarkan pada orang lain," ucap Salma setelah mengerjakan soal yang di berikan oleh Ghozi.
"Santai aja, bukankah kita teman, jadi hal seperti ini bukan apa-apa," sahut Ghozi.
"Sejak kapan kalian jadi teman? aku kok gak tahu sih?" sela Tari sambil menompang dagu menatap Ghozi dan Salma secara bergantian.
"Sejak kemarin, memangnya kenapa?" jawab Salma santai.
"Ishh, kenapa aku gak di ajak temenan juga?" tanya Tari.
"Teman Salma juga temanku, jadi kamu juga temanku Tari," ujar Ghozi.
"Astaghfirullah, Tari, kita udah gedhe kali, gak perlu pengakuan kayak sekarang, kalau temenan ya temenan aja, kau ini," Salma tersenyum melihat tingkah Tari yang terlihat kekanak-kanakan.
"Bener juga sih," gumam Tari.
Ketiganya tertawa pelan merasa lucu dengan apa yang terjadi saat ini.
Di belahan dunia yang lain terlihat seorang pria tampan yang baru saja bangun dari tidurnya, padahal matahari sudah menyingsing tinggi menyinari dunia, tapi dia justru baru bangun. Selepas sholat subuh tadi dia kembali tidur karena baru pulang jam tiga dini hari.
"Pagi, Bik," sapa Kafa yang baru saja keluar dari kamar dan berjalan menuju dapur di mana sang Bibik sedang menyiapkan makan.
Sudah menjadi kebiasaan bagi Kafa bangun siang dan langsung menyantap makanan yang masih hangat, sang Bibik yang sudah lama bekerja dengannya begitu mengerti dengan kebiasaan sang majikan, hidup Kafa hanya di gunakan untuk bersenang-senang tiada hari tanpa berfoya-foya, setiap hari pekerjaan Kafa hanya berkumpul dengan teman-teman dan juga pacar tak jelas yang selalu datang tanpa di undang.
"Siang, Den," sahut Bibik, membenarkan jika hari sudah siang tapi Kafa terlihat cuek meski dia salah sebut. seperti biasa Bibik berjalan mendekat ke arah Kafa sambil membawa secangkir kopi yang baru saja selesai dia buat.
"Den, Ummi baru saja telfon menanyakan keadaan Aden, kenapa Den Kafa tidak pulang?" setiap pagi Ummi selalu menelfon dan menanyakan kabar sang Putera, meski sikap Kafa tak pernah baik dan selalu membangkang tapi Ummi tetap saja bersabar untuk tetap memantau apa saja yang di lakukan oleh Kafa.
"Aku akan pulang jika waktunya telah tiba Bik, untuk saat ini biarkan aku sembuhkan hati dulu," jawaban yang sama setiap kali sang Bibik menanyakan kenapa Kafa tidak pulang.
__ADS_1
Hening,
Tak ada lagi percakapan yang terjadi, Bik Sumik adalah orang kepercayaan Ummi untuk menjaga dan memastikan Kafa makan dengan benar, Kafa berubah menjadi sosok yang brutal, temannya bukanlah orang-orang baik, Kafa selalu berkumpul dengan para pembalap liar di mana selalu ada gadis cantik nan sexsi yang memakai baju kurang bahan, begitu pula dengan Intan, gadis yang kini jadi pacarnya.
Tapi Kafa selalu mengerti batasan yang harus dia jaga, meski dia sedang berkumpul dengan teman-teman brutalnya.
"Pagi, Honey!" suara yang paling di benci oleh Bibik selalu terdengar tepat waktu setiap hari.
"Hm, pagi," sahut Kafa dingin, begitulah Kafa yang tak begitu merespon Intan, dia terkesan bersikap dingin dan cuek pada pacarnya itu, karena Kafa memang tak mencintai Intan, dia hanya pelampiasan sementara.
Intan langsung duduk tepat di depan Kafa. Dia bersikap seolah rumah Kafa adalah rumahnya sendiri, termasuk bersikap seenaknya pada Bik Sumik.
"Bik, buatin aku susu cokelat seperti biasa" titah Intan dengan gaya sombongnya.
"Baik, Non," jawab Bik Sumik yang langsung membuatkan susu cokelat hangat yang menjadi minuman favorite Intan.
"Bagaimana rencana hari ini Honey? apa kita jadi jalan-jalan?" tanya Intan sambil mengambilkan seporsi makanan untuk Kafa dan dirinya.
"Jika kau ingin, maka kita akan berangkat." Jawab Kafa.
Meski Kafa tak begitu menyukai Intan, tapi dia selalu menuruti apapun yang di minta oleh Intan. Keduanya menikmati sarapan bersama dengan menu yang di sediakan oleh Bik Sumik.
"Honey!" panggil Intan di sela-sela makan.
"Hm," sahut Kafa singkat sambil terus menikmati makanan yang ada di hadapannya.
"Kemarin aku lihat ada baju bagus di mall, aku ingin sekali membelinya, apa kamu mau mengantar dan membelikannya untukku?" ucap Intan.
"Nanti kita beli," jawab Kafa santai.
__ADS_1
"Yes, thanks Honey," Intan terlihat begitu girang mendapat jawaban yang dia inginkan dari Kafa.