
"Intan, tunggu!!" Salma yang menyadari jika Intan terlihat seperti seseorang yang mengetahui rahasia besar langsung berjalan cepat menyusulnya dan memegang tangan Intan setelah Salma sampai di dekatnya.
"Tunggu! kamu mau ke mana?" Salma kembali bertanya setelah Intan berhenti dan menoleh ke arahnya.
"Kamu siapa? kenapa kamu mencegahku menemui Kafa? apa hakmu?" tanya Intan dengan nada tinggi yang cukup menggema di ruangan itu.
Ghozi yang sejak tadi tertidur pulas mulai terusik dengan suara keras yang berasal dari ruang keluarga, kamar yang di tempati Ghozi memang dekat dengan ruang keluarga dan kebetulan pintu kamar Ghozi tidak tertutup rapat, dia yang kelelahan setelah bermain di pantai langsung terjun ke atas kasur sesaat setelah sampai di rumah, bahkan Ghozi tak sempat mengunci ataupun menutup rapat pintu kamarnya saking lelahnya.
"Aku hanya tidak ingin ada keributan di rumah ini, jika kamu punya masalah dengan pemilik rumah ini aku minta padamu untuk tidak melakukan sesuatu yang merugikan dirimu sendiri, bertamulah seperti seorang tamu yang baik, jangan berteriak ataupun masuk ke dalam kamar seenaknya karena setiap tamu punya batasan yang harus selalu di jaga," Salma mencoba memberi pengertian pada Intan yang terlihat begitu emosi dan brutal.
"Jangan sok mengguruiku, aku hanya butuh penjelasan dari kekasihku!" Intan tak lagi punya rasa simpati pada Salma, setiap kali dia melihat Salma entah mengapa emosinya selalu menjadi-jadi.
"Ini bukan urusanmu, jadi menyingkirlah! sebelum aku semakin marah padamu," Intan mencoba mengingatkan Salma agar dia tak lagi menghalangi jalannya, tapi Salma yang merasa punya kewajiban untuk melindungi suaminya dari gadis seperti Intan, dia tetap bersikeras menghalangi Intan agar tak lagi bisa masuk ke dalam kamar.
"Apapun yang terjadi di rumah ini sudah jadi urusanku Intan, karena aku juga tinggal di sini," ujar Salma yang masih berusaha mempertahankan diri agar Intan tak masuk ke dalam kamar yang menurutnya wilayah pribadi miliknya dan Kafa.
"Aku bilang menyingkirlah!" Salma langsung mendorong kuat tubuh Salma hingga dia mundur beberapa langkah dan hampir terjatuh jika saja Ghozi tak menangkapnya tepat waktu.
"Astaghfirullah, Intan! apa yang kamu lakukan?" ujar Salma.
Salma sebenarnya jagi dalam hal berantem, karena sebelum menjadi istri Kafa dia pernah ikut Ibunya berjualan dan setiap kali berjualan ada saja yang mengganggunya, tapi Salma masih diam seolah dia gadis yang lemah dan tak bisa berantem.
Salma terdorong hingga hampir jatuh ke lantai, tapi untungnya Ghozi uang,sejak tadi memperhatikan keduanya langsung sigap berlari ke arah Salma saat dia melihat Intan mendorong Salma.
"Apa yang kalian lakukan?" suara cetar milik Kafa terdengar begitu nyaring di telinga semua orang yang sedang berada di ruangan itu.
"Maaf Mas Kafa, tadi Neng Salma hampir jatuh karena di dorong oleh dia," jawab Ghozi sambil menunjuk ke arah Intan yang berdiri tak terlalu jauh darinya.
"Intan! kamu ngapain di sini?" kini Kafa bertanya pada Intan, meski sebenarnya Kafa masih merasa jengkel karena melihat Ghozi dan Salma yang berada dalam keadaan yang kurang baik, Kafa mencoba menahan diri karena ada Intan di sana.
__ADS_1
"Aku hanya ingin bertanya, apa hubunganmu dengan dia?" tanya Intan dengan tangan yang menunjuk ke arah Salma yang berdiri tepat di samping Ghozi.
"Duduklah dulu! akan aku jelaskan segalanya," titah Kafa, saat ini dia tak peduli dengan apapun, Kafa benar-benar lelah harus terus menerus berbohong dan berpura-pura seperti biasanya, Kafa ingin hidup tenang bersama Salma tanpa ada gangguan Intan di dalamnya, Kafa tak lagi peduli dengan rencana yang sudah di susun oleh Salma.
"Jelaskan saja sekarang!" sahut Intan tak terbantahkan.
"Jika kamu tidak mau duduk sekarang aku tidak akan pernah menemuimu ataupun menjelaskan segalanya padamu," ancam Kafa yang sudah jengah dengan sikap Intan.
Mendengar ancaman yang di ungkapkan Kafa membuat Salma diam dan langsung menurut, Intan sangat memahami sifat Kafa yang jauh lebih keras kepala dari dirinya pasti tidak akan mengalah dan dia pasti tidak akam menjelaskan apapun padanya.
"Kalian juga duduk dan dengarkan apa yang akan aku katakan!" kali ini Kafa memberi perintah pada Salma dan Ghozi.
Mendengar perintah Kafa membuat Salma khawatir, Salma yang khawatir langsung menarik tangan Kafa menuju susut yang lain untuk mengajaknya berbicara empat mata.
"Apa yang Mas Kafa lakukan?" tanya Salma yang masih ragu jika Kafa mengatakan segalanya.
"Aku akan menceritakan segalanya Salma." Jawab Kafa.
"Tenanglah! aku akan mengatasi semuanya dan Kamu akan tetap aman di sisiku, ku tidak akan membiarkan intan menyakitimu, sekeras apapun dia tetap saja dia seorang wanita, aku yakin dalam lubuk hatinya ada sudut hati yang lembut dan aku akan memperluas sudut hati itu nanti." Kafa mencoba meyakinkan Salma agar dirinya tak perlu khawtir karena Kafa sudah memikirkan segalanya secara matang-matang.
"Tapi Más, aku masih ragu," Salma kembali mengungkapkan rasa ragu yang terselip dalam dirinya.
""Sudah, jangan terlalu di fikirkan! lebih baik sekarang ikut aku!" Kafa menggenggam tangan Salma kemudian mengajaknya mendekat ke arah Intan dan Ghozi yang sedang duduk manis di ruang keluarga.
Mata Intan langsung melebar melihat Kafa dan Salma berpegangan tangan, sungguh Intan tak menyangka jika semuanya menjadi buruk seperti sekarang, bagi Intan Kafa adalah laki-laki terbaik yang pernah dia temui, bukan hanya soal materi tapo juga wajah dan kepribadiannya.
"Duduklah!" Kafa kembali memberi perintah pada Salma agar duduk di sampingnya.
Di dalam ruang keluarga hanya ada satu sofa panjang tepat di depan televisi, Ghozi duduk sedikit lebih jauh di karpet bulu yang ada di sana sedang Kafa duduk di tengah antara Intan dan Salma, hanya saja jarak antara tempat duduk Intan dan Salma, Kafa duduk lebih dekat ke arah Salma.
__ADS_1
"Sekarang dengarkan aku baik-baik Intan!" ucap Kafa.
Jantung Intan sudah tidak karuan melihat Salma dan Kafa duduk sedekat itu, apa lagi saat ini Kafa menggenggam tangan Salma dengan begitu erat dan posesif, Intan tak pernah melihat Kafa menggenggam tangan seorang gadis bahkan saat dia masih berhubungan dengan Kafa pun tak pernah menggenggam tangan miliknya seperti Kafa menggenggam tangan Salma saat ini.
"Katakan saja!" sahut Intan tegas, dia berusaha terlihat tegar di hadapan Kafa, sangat tidak mungkin Intan menangis di hadapan Kafa dan Salma juga Ghozi saat ini.
"Sebenarnya, aku san Salma sudah menikah," jujur Kafa.
"Apa?? menikah? kamu gila ya Kafa, bagaimana mungkin kamu menikah di saat kita masih menjadi sepasang kekasih?" Intan langsung mengeluarkan kata-kata yang menandakan jika hatinya tengah terluka.
Sedangkan Ghozi yang mendengar pengakuan Kafa langsung berdiri, dia pasang badan khawatir Intan langsung menyerang Salma setelah mendengar kebenaran yang di katakan oleh Kafa, dan Salma yang juga ikut khawatir merapatkan diri duduk lebih dekat dengan Kafa sambil memper erat pegangan tangannya yang menandakan jika dirinya begitu khawatir dengan apa yang di ucapkan oleh Kafa.
"Tenanglah!" bisik Kafa sambil mengusap lembut punggung tangan Salma yang kini ada di pangkuannya.
"Dengarkan dulu penjelasanku! setelah itu terserah kamu mau bagaimana!" Kafa masih berusaha tetap tenang agar Intan tak melakukan hal yang buruk saat Kafa mengatakan segalanya.
"Aku dan Salma di jodohkan oleh Ummi, awalnya kami terpaksa untuk menikah karena paksaan dari Ummi, bukan hanya aku, Salma pun terpaksa melakukannya, tapi seiring berjalannya waktu kami mulai menerima takdir yang sudah di tentukan untuk kami, saat itu aku menghubungimu dan memutuskan hubungan ini, tapi kamu masih tidak rela dan tidak setuju dengan keputusanku itu, aku tetap berusaha mencari waktu yang tepat untuk menjelaskannya, meski kamu terus mengancamku dan akan menyerang pesantren jika aku tidak kembali ke sini," jelas Kafa, dia berhenti sejenak mengambil nafas dan bersiap menjelaskan lagi apa yangs sebenarnya terjadi.
"Sebenarnya aku tidak takut dengan ancamanmu, toh jumlah santriku lebih banyak dari anggota genk motor sepupumu itu, tapi aku tidak ingin santriku berkelahi hanya demi diriku, meski aku tahu kebanyakan dari mereka sudah mendapatkan sabuk hitam dari ilmu bela diri yang di ajarkan di pesantren, tapi bagiku keamanan dan kenyamanan mereka hal utama yang harus aku jaga, karena itulah Aku tetap datang ke sini seusai keinginanmu, jika kamu masih tidak terima dengan apa yang terjadi kamu bebas melakukan apapun bahkan menyerang pesantren milikku, sekarang aku tidak peduli dengan apapun, aku hanya ingin hidup tenang dan berumah tangga dengan tenang bersama Salma yang saat ini sudah sah jadi istriku," sambung Kafa.
"Ceraikan dia Kafa!" ujar Intan yang terlihat tidak terima dengan penjelasan kafa.
Ghozi dan Salma langsung melotot setelah mendengar ucapan Intan, sedang Kafa terlihat biasa saja, dia sudah mengertijika Intan pasti mengatakan apa yang dia katakan saat ini.
"Aku hanya ingin menikah sekali seumur hidup Intan, jadi mustahil bagiku untuk menceraikan istriku," jawab Kafa tegas tak terbantahkan lagi.
"Kalau begitu jadikan aku yang kedua!" Intan kembali mengatakan hal konyol dan mustahil di lakukan Kafa.
"Jangan gila kamu Intan, jika kamu jadi yang kedua maka selamanya kamu akan hidup menjadi bayangan dalam hubungan ini, kamu tidak akan pernh bahagia jika itu terjadi," Kafa yang memang enggan dan tidak mungkin mendua menolak dengan kata-kata yang halus.
__ADS_1
Intan terdiam tanpa kata mendengar penjelasan Kafa yang memang benar adanya, Intan akan terus jadi bayangan dan tidak akan pernah bisa menjadi nyata.
"Kalau begitu, aku menantang Salma untuk balapan bersamaku, jika dia menang maka aku akan mengalah dan pergi dari hidupmu, dan jika Salma yang kalah maka dia yang harus pergi dari hidupmu." Tantang Intan.