Cahaya Cinta Salma

Cahaya Cinta Salma
Rasa Syukur Kafa


__ADS_3

Sejenak Kafa terdiam menatap lekat ke arah Salma yang terlihat semakin lelap dalam mimpi yang entah itu indah atau malah sebaliknya.


'Aku bersyukur memilikinya Salma, dan aku berharap kamu adalah takdirku, kita bisa bersama selamanya hingga ajal memisahkan kita,' batin Kafa seraya mengulurkan tangan kanannya mengusap lembut pipi Salma yang terlihat menggemaskan.


Kafa tersenyum senang mendapat istri seperti Salma yang hampir mendekati sempurna bagi Kafa yang merasa jika dirinya memiliki sejuta kekurangan di banding Salma.


Dengan langkah ringan Kafa berjalan meninggalkan kamar. Melangkah perlahan menuju dapur berniat membuatkan susu hangat untuk Salma, harapan Kafa Salma bisa merasa jauh lebih baik jika nanti minum susu setelah bangun tidur, mungkin saat ini Kafa sedang merasa sangat lelah karena perjalanan yang memang jauh.


"Kafa!" lirih Ummi saat melihat sang putera tengah bergelut dengan peralatan dapur.


Hari ini Ummi memesan makanan dari luar untuk sarapan pagi, beliau sengaja melakukannya karena mengerti dengan keadaan Salma dan Tari yang pasti merasa lelah setelah perjalanan panjang kemarin, Ummi sendiri juga merasakan hal yang sama.


"Kamu sedang apa di sini, Nak?" tanya Ummi berjalan mendekat ke arah Kafa yang kini menoleh ke arahnya dengan senyum ramah tanpa beban.


"Aku sedang Membuatkan minum untuk Salma, Ummi" jawaban yang cukup membuat Ummi melebarkan mata mendengar ucapan Kafa yang justru terlihat Santai.


"Sejak kapan putera Ummi semanis ini?" Ummi yang merasa aneh kembali bertanya.


"Apa Ummi juga mau Kafa buatkan minum?" bukannya menjawab Kafa kembali bertanya pada sang Ummi.


"Aku sedang bertanya padamu, Kafa," sahut Ummi yang merasa enggan untuk menjawab pertanyaan Kafa karena pertanyaan dirinya tak segera di jawab.


"Sejak aku menikah dengan Salma, Ummi," Kafa kembali menjawab pertanyaan Ummi dengan begitu santainya tanpa beban.


"Ummi mau minum apa? teh, kopi atau susu?" Kafa yang sejak tadi belum mendapatkan jawaban kini kembali bertanya pada Ummi.


"Ummi juga mau di buatkan susu sama seperti milik Salma," jawab Ummi yang kini malah penasaran dengan Susu buatan Kafa.


"Segelas susu hangat akan aku buatkan khusus untuk Ummi dan Salma," ujar Kafa penuh semangat.


"Tapi Ummi mau ke kamar. Karena ada beberapa lembar soal yang belum Ummi kerjakan, apa Kafa mau mengantar susunya ke kamar?" Ummi yang memang masih punya banyak pekerjaan mengatakan apa yang sebenarnya terjadi dan meminta Kafa untuk mengantar susunya ke kamar.

__ADS_1


"Tentu saja, Kafa akan mengantarkan susunya Sampai di kamar setelah selesai nanti," jawab Salma dengan senyum yang mengembang di wajahnya.


"Baik sekali putera Ummi," ujar Ummi yang terlihat begitu senang dengan perubahan sikap Kafa yang saat ini terlihat jauh lebih perhatian pada orang lain, termasuk istrinya.


Ummi berjalan kembali ke kamar sedang Kafa melanjutkan membuat susu untuk kedua perempuan paling berarti dalam hidupnya.


Tok ... tok ... tok ....


"Ummi!" panggil Kafa sambil mengetuk pintu, dia tampak sangat kerepotan saat ini, pasalnya di tangan kiri Kafa sedang membawa nampan berisi dua gelas Susu yang tadi sudah dia buat.


'Ceklek'


Suara pintu perlahan terbuka, terlihat Ummi sedang berdiri dengan senyum yang cukup lebar terlihat jelas di depan wajah Kafa.


"Ini susu untuk Ummi," ucap Kafa seraya memberikan satu gelas susu hangat yang tadi ada di nampan.


"Terima kasih, Nak," jawab Ummi.


Kafa merasa pagi ini begitu indah dan sempurna, dengan penuh semangat dia berjalan masuk ke dalam kamar, melihat Salma terlelap seperti saat ini membuat jiwa Kafa merasa jauh lebih tenang dan tentram.


"Sayang, bangun!" ucap Kafa mencoba membangunkan Salma dengan sangat lembut.


"Eummm," lenguh Salma merasakan sesuatu mengusik tidur lelapnya.


"Mas," lirih Salma merasakan sesuatu mengusik dirinya.


"Iya, bangunlah! aku sudah membuatkan minum untukmu." Ujar Kafa yang sukses membuat Salma membuka mata karena merasa tak enak hati, sang suami sudah capek-capek membuatkan minum untuknya, tapi Salma masih saja tertidur tanpa peduli padanya.


"Em, astaghfirullah, ini bau apa Mas?" Salma langsung membungkam mulut merasakan bau aneh yang cukup mengocok perutnya.


Dengan langkah secepat kilat Salma berlari menuju kamar mandi memuntahkan seluruh isi perutnya.

__ADS_1


"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Kafa yang langsung ikut berlari menyusul Salma dengan langkah yang tak kalah cepat dengan langkah Salma.


"Sayang, kamu tidak apa-apa?" Kafa kembali bertanya sambil me memijit leher Salma dengan pijitan lembut penuh kasih sayang.


Salma tak menyahuti ucapan Kafa, dia tetap saja memuntahkan semua isi perutnya hingga terlihat wajah pucat dan lemas yang terlihat di hadapan Kafa.


"Mas," lirih Salma menyandarkan tubuhnya di dada Kafa, Salma benar-benar tak mampu melakukan apapun, jangankan berjalan, berdiri pun dia tak lagi mampu.


"Apa yang sebenarnya terjadi, Salma?" Salma terus saja bertanya meski tak mendapat jawaban dari Salma.


Dengan perlahan dan penuh kehati-hatian Kafa menggendong Salma yang benar-benar terlihat lemas tak berdaya, Kafa membawanya ke atas kasur dan menindurkannya dengan perlahan.


"Mas, tolong buang susu itu!" pinta Salma yang saat ini menutup hidung rapat karena tak mampu mencium bau susu yang terasa menyengat.


Meski bingung dan berat hati Kafa berjalan keluar kamar membawa susu spesial yang tadi dia bawa untuk Salma ke dapur di mana Ummi dan Tari sedang menata makanan yang baru saja datang.


"Loh kok di bawa ke dapur lagi, Nak?" tanya Ummi merasa aneh dengan Kafa yang membawa kembali susu spesial yang tadi pagi dia buat dengan penuh semangat dan senyum yang tak pernah luntur dari wajahnya.


"Salma tidak menyukai bau nya, Ummi," jawab Kafa dengan ekspresi wajah penuh kekecewaan dia berucap.


"Tidak suka baunya bagaimana Kafa?" Ummi yang sejak tadi serius mengelap piring kini meletakkan piringnya dan berjalan mendekat ke arah Kafa dengan langkah cepat karena merasa penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi.


"Entahlah aku sendiri juga bingung Ummi, setelah bangun tidur tadi Salma langsung muntah-muntah, katanya bau susu ini tidak enak," jelas Kafa.


"Muntah, apa tadi Salma muntah hanya karena bau susu ini?" Ummi mencoba meyakinkan dirinya jika apa yang di ceritakan Kafa sesuai dengan apa yang dia duga.


"Iya, Salma benar-benar aneh pagi ini Ummi, dia bahkan memuntahkan segala isi perutnya dan terkulai lemas karena bau susu yang tadi Kafa buatkan," Kafa menjelaskan semua yang terjadi.


Bukannya memberi respon Ummi dan Tari yang sejak tadi diam mendengar perbincangan Kafa dan Ummi kini mulai ikut nimbrung, berjalan mendekat ke arah Ummi.


"Apa Salma~" Tari tak menyelesaikan pertanyaannya dia dan Ummi hanya saling pandang kemudian berlari menuju kamar Kafa dan Salma untuk melihat keadaan Salma dengan senyum yang mengembang di wajah keduanya.

__ADS_1


Sedang Kafa yang melihat reaksi Ummi dan Tari yang langsung berlari menuju kamar memberikan efek rasa penasaran yang cukup mendorong Kafa untuk menyusulnya.


__ADS_2