
"Mbok, perkenalkan ini Tari dan ini Salma, mereka berdua yang akan membantu Mbok mulai besok," Ummi memperkenalkan Tari dan Salma pada Mbok Yem yang bertugas dan bertanggung jawab di kantin.
"Sore Mbok, perkenalkan namaku Tari, semoga kita bisa bekerja sama ya Mbok," ucap Tari memperkenalkan diri sambil mencium tangan Mbok Yem.
"Saya Salma Mbok, mohon bimbingannya," kali ini giliran Salma yang memperkenalkan diri.
"Wah, Mbok bakalan seneng dapat dua teman masak yang cantik-cantik seperti ini," ujar Mbok Yem dengan senyum meneduhkan yang terpancar di wajahnya yang mulai keriput di makan usia.
"Pastilah Mbok, kita ini orang yang penuh semangat dalam bekerja, jadi Mbok Yem jangan khawatir! selama ada Aku dan Salma semua pasti terselesaikan dengan baik," sahut Tari dengan penuh semangat.
"Semangatmu bagus cah ayu, pertahankan!" ujar Mbok Yem yang terlihat akrab dengan Tari melupakan Ummi yang masih berdiri di antara mereka.
"Khem, kalau begitu biar Ummi tunjukkan di bagian-bagian di rumah Ummi, siapa tahu Ummi butuh bantuan kalian atau kalian berminat untuk tinggal di sana," ajak Ummi yang langsung di turuti oleh Salma dan Tari.
Ummi mengajak Tari dan Salma berkeliling melihat beberapa sudut rumah Ummi, mulai dari dapur, ruang keluarga kamar tamu dan halaman samping rumah yang biasa di gunakan Ummi dan Abah untuk bersantai, tempatnya cukup tertutup karena di kelilingi tembok dengan satu gerbang kecil mirip pintu yang ada di depan sisi kiri halaman, meski tak terlalu luas tapi cukup untuk bersantai atau menaruh beberapa sepeda motor.
"Maaf, Ummi, sejak kami datang ke sini kami tidak melihat Putera atau Putri Ummi, apa Ummi punya seorang anak?" Tari tak lagi bisa menahan rasa penasarannya, sejak datang dia sama sekali tak melihat anak Ummi, bahkan Tari sempat berfikir jika Ummi dan Abah tak memiliki seorang anak.
Ummi yang mendengar pertanyaan Tari langsung tersenyum, dia kembali melangkah masuk ke dalam rumah, tepatnya ke dalam ruang keluarga, Ummi melangkah mendekat ke arah lemari membuka lemari cukup besar bukan lemari penyimpanan baju, tapi lebih tepatnya bupet tempat menaruh televisi dan terdapat almari kecil di sisi kanan dan kiri tempat penyimpanan barang.
"Dia puteraku satu-satunya, tapi Allah menguji kami dengan kehadirannya, putera yang seharusnya bisa kami andalkan dan harapkan untuk meneruskan pesantren ini, tapi malah lebih memilih pergi dan tinggal di tempat lain yang menurutnya cocok dan sesuai dengannya, tapi kami tak pernah berhenti berdo'a agar suatu saat dia mendapat hidayah dan kembali ke sini menjadi putera kami yang seperti dulu." Ummi memeluk erat bingkai foto yang tak terlihat oleh Salma dan Tari, karena posisi bingkai itu kini menghadap ke arah Ummi.
__ADS_1
"Maaf, Ummi," lirih Tari dengan ekspresi rasa bersalah karena telah salah bertanya.
"Maaf untuk apa?" sahut Ummi.
"Maaf karena aku telah menanyakan sesuatu yang tak seharusnya aku tanyakan dan Ummi hadi sedih karenanya," jawab Tari.
"Sudahlah, Ummi tidak masalah, mungkin kita di takdirkan untuk bertemu karena ini, sekarang Ummi tak lagi kesepian karena ada kalian di sisi Ummi," ujar Ummi dengan senyum tang merekah kemudian menyimpan kembali bingkai foto yang tadi di peluk.
Sebenarnya Tari masih penasaran dengan sosok yang di ceritakan oleh Ummi, bagaimana tidak penasaran Tari merasa jika putera Ummi itu benar-benar bodoh, dia sudah memiliki keluarga lengkap dan kehidupan mewah, tapi malah memilih pergi meninggalkam semua yang seharusnya bisa dia nikmati. Tapi Tari cukup tahu diri untuk tidak mengorek lebih dalam tentang Putera satu-satunya Ummi itu, dia lebih memilih diam seperti yang di katakan oleh Salma.
"Diamlah Tari! jangan tanya hal yang tak seharusnya kamu tanyakan," bisik Salma pada Tari yang mendapat anggukan sebagai jawaban.
"Kalian bisa kembali ke kamar dan berkenalan dengan anggota kamar yang lain, ba'da maghrib kembalilah ke sini! bantu Ummi menyiapkan barang yang akan di berikan waktu tahlil nanti," titah Ummi yang langsung di turuti oleh keduanya.
Tari dan Salma melangkah beriringan menuju kamar yang telah Ummi pilihkan untuk mereka. Di dalam kamar sudah ada beberapa anggota kamar yang tengah sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing.
"Mbak Salma dan Mbak Tari ya?" sambut seorang santri saat melihat Salma dan Tari masuk ke dalam rumah.
"Iya, Mbak siapa ya?" sahut Tari dengan tatapan aneh, pasalnya dia sama sekali belum berkenalan dengan santri tmyang ada di kamar itu tapi sudah ada yang mengenalinya.
"Kenalkan Mbak, nama Saya Ratna, saya ketua kamar di sini, dan Ummi sudah menitipkan kalian pada Saya di sini, masuklah!" jawab Santri itu yang ternyata bernama Ratna.
__ADS_1
"Ratna, aku ngantuk, apa kamu bisa tunjukkan tempat untuk istirahat?" celetuk Tari.
"Maaf Mbak Tari, di pesantren itu dilarang tidur di sore hari, bagaimana kalau saya antar ke kamar mandi? sudah sore dan waktu mandinya keburu habis," usul Ratna.
"Habis bagaimana maksudnya Mbak Ratna?" tanya Salma yang kini bingung dengan ucapan Ratna.
"Di sini kita tidak bisa langsung mandi dan berlama-lama di kamar mandi, begitu pula waktu kita di kamar mandi itu di batasi sampai jam lima sore, selebihnya kita tidak boleh mandi lagi," Ratna menjelaskan apa yang telah tercatat sebagai aturan yang harus di patuhi.
"Kenapa bisa begitu?" sahut Tari yang memiliki kebiasaan mandi setelah maghrib tiba.
"Karena setelah ba'da maghrib kita punya kegiatan yaitu mengaji al-qur'an sesuai kemampuan masing-masing," Ratna menjelaskan alasan larangan mandi di atas jam lima sore.
"Kalau kita lagi datang bulan bagaimana? kan kita gak bisa mengaji," Tari masih saja membantah ucapan Ratna.
"Jika datang bulan, biasanya kita akan mengaji diba' atau manakib, jadi tetap saja mengaji ba'da maghrib itu wajib hukumnya bagi para santri di sini," Ratna kembali menjelaskan apa yang menjadi pertanyaan Tari.
"Sudah tidak usah debat lagi, lebih baik kita segera mandi." Salma yang sejak tadi diam memperhatikan keduanya kini mulai menengahi agar Tari tidak terus bertanya.
"Ini gayung untuk kalian, Ummi tadi sempat nitip ini padaku agar kalian busa menggunakannya." Ratna memberikan gayung dengan nama yang di tulis di masing-masing gayung.
"Eh, lucu ya, gayung aja ada namanya," celetuk Tari saat melihat nama dirinya tertulis di sana.
__ADS_1
"Iya, setiap benda sebenarnya harus di beri nama biar tidak hilang ataupun tertukar," sahut Ratna dan Tari hanya mengangguk sebagai tanggapan.