
"apa itu artinya aku harus membuatkan bubur beras dan telur setengah matang setiap hari umi?" tanya Kafa.
"Tentu saja, dulu ama aku juga melakukan hal yang sama," jawab Ummi.
"Apa tidak bisa orang lain yang memasakkannya?" Kafa kembali bertanya.
"Kamu coba saja! Kalau Ummi dulu tidak akan bisa masuk ke perut Ummi jika makanan itu bukan Abah yang memasaknya," jawab Ummi.
"Kenapa bisa jadi seribet itu ya ummi?" Kafa terus saja bertanya, dia tidak pernah tahu bagaimana menghadapi orang yang sedang hamil.
"Entahlah, tapi bagaimanapun perubahan sikap Salma, kamu harus tetap bersabar menghadapinya, karena apa yang dilakukan Salma saat ini bukanlah keinginan dia sendiri, semua itu juga karena bayi yang ada di dalam kandungannya yang itu artinya anakmu juga Kafa," tutur umi.
"Baik, umi, aku akan selalu mengingat apa yang umi katakan barusan," sanggup Kafa.
"Baiklah, semangat calon ayah! Ummi akan mendukungmu dari belakang, yang penting tetap semangat apapun yang terjadi," ujar Ummi.
"Terima kasih dukungannya, umi," sahut Kafa.
Mendengar ucapan terima kasih dari Kafa, umi melenggang pergi meninggalkan dapur sedang Kaffa melanjutkan memasak steak dan membuat wajah jahe yang diminta oleh Salma.
Sungguh malam yang merepotkan, bukannya istirahat Java malah sibuk memasak dan membuat wedang untuk Salma yang tengah merasa lapar tapi tengah malam, sedang malam semakin larut rembulannya sejak tadi menyinari bumi kini mulai menghilang berganti mentari pagi yang cerah yang memberi tanda jika pagi hari telah datang.
"Tari!" Panggil Ghozi.
"Ghozi, ada apa? kenapa pagi-pagi kamu ke sini?" Sahutarik ketika melihat Fauzi yang berjalan dengan langkah cepat menghampirinya yang sedang menjemur baju di halaman belakang.
__ADS_1
"Tari, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan padamu kau buat "ujar Ghozi.
"Katakan saja! Apa yang ingin kamu katakan, aku sedang sibuk, semua jemuran ini harus segera aku jemur, jika tidak aku tidak akan bisa masuk ke kelas dengan tepat waktu" sahut Tari.
"Aku hanya butuh waktu lima menit, tidak lebih dan tidak kurang, aku mohon padamu berikan aku waktu lima menit itu tari," pinta Ghozi.
"Tunggu sebentar!" Tari mempercepat gerakannya menjemur semua pakaian yang ada di tangannya.
"Iya, ada apa?" tanya Tari setelah dia menjemur seluruh baju yang tadi dia bawa, tari berjalan mendekat ke arah Ghozi. Ghozi yang sedang duduk di kursi yang ada di teras belakang sambil memperhatikan apa yang dilakukan oleh Tari tersenyum melihat tari di jalan mendekat ke arahnya.
"Sekarang katakan! Kamu ingin mengatakan apa?" titah Tari.
"Duduklah dulu!" pinta Ghozi.
Tari yang tak ingin berdebat ataupun banyak bicara langsung mengikuti apa yang diminta oleh Ghozi tanpa banyak bertanya.
"Salma, bukankah aku pernah bilang padamu untuk menungguku dulu," ujar Ghozi sambil mengeluarkan sekotak kalung yang dulu pernah ditolak oleh Tari.
"Iya, aku harus menunggumu tanpa kepastian memangnya ada apa?" Sahut Tari dengan ekspresi wajah sedikit kurang bersahabat.
"Bagaimana jika sekarang aku ingin meminangmu dan meminta jawaban darimu, apa kamu menerima atau menolakku Tari?" Ungkap Ghozi yang sejak tadi sudah mengumpulkan semua keberanian yang ada dalam dirinya untuk mengatakan semuanya.
Mendengar ungkapan Ghozi membuat tari tercengang karena kaget, sungguh dia tidak pernah menyangka jika Ghozi benar-benar akan melamarnya, dan hal itu dilakukan di pagi hari, sungguh mimpi apa semalam? sampai-sampai Tari mendapat lamaran dari Ghozi di pagi hari ini.
"Aku sedang melamarmu tari, kenapa kamu hanya diam dan terus bengong seperti itu?" Tanya Ghozi yang merasa heran dengan tanggapan Tari yang tak sesuai dengan ekspektasinya.
__ADS_1
"Apa kamu serius kamu kamu tidak sedang bercanda kan Ghozi?" Tari terlihat tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Ghozi, pasalnya sudah sangat lama Tari menunggu momen seperti ini, Ghozi masih tetap tidak pernah memberi tanda jika dia akan melamarnya, tapi pagi ini Ghozi benar-benar mengejutkan Tari dia melamar Tari tanpa di duga.
"Aku tidak pernah bercanda tentang seni tari lamaran ini bukan hal yang bercanda aku serius ingin melamarmu dan menjadi kamu teman hidupku apa kamu ingin menemaniku dalam suka dan duka bersamaku dalam tangis dan tawa, apa kamu mau menjadi istriku belahan jiwaku dan menemaniku hingga akhir hayat ini?" Ghozi mengatakannya dengan ekspresi wajah penuh harap, sungguh saat ini jantungnya berdebar begitu kencang seperti genderang yang mau perang, tapi dengan sekuat tenaga Ghozi berusaha menyembunyikan debaran jantungnya itu dan bersikap seolah tidak ada yang terjadi padanya.
"Aku butuh jawabanmu tari, bukan tatapan mata yang tak bisa ku artikan itu," Ujar Ghozi.
"Jika kamu memang serius, katakan semua ini pada Ummi! aku menyerahkan semua jawabannya padanya jika memang Ummi menerimamu, maka aku juga akan menerimamu begitupun sebaliknya," Jawab Tari.
Sebuah senyum penuh rasa lega dan bahagia terlihat jelas di wajah Ghozi, jika memang Tari menyerahkan semuanya kepada Ummi maka itu artinya Tari menerima lamarannya, karena Ummi mendukung hubungan Ghozi dengan Tari dan Ummi juga sudah mengatakannya pada Ghozi.
"Baiklah, ambil dan pakailah kalung ini!" pinta Ghozi sambil menggeser kotak yang dia bawa ke arah Tari.
"Apa ini tidak terlalu berlebihan Ghozi?" tanya Tari.
"Ini hanya kalung Tari, bukan hal yang melanggar syariat agama, aku memberikan kalau ini agar kamu selalu mengingatku di hatimu, hanya itu niatku, tidak kurang dan tidak lebih, jadi aku minta padaMu pakai kalung ini selama kita belum resmi menikah, karena aku tidak ingin kamu tergoda atau melirik orang lain saat tidak bersamaku, jadi selalu ingat aku di hatimu dan selalu letakkan aku di hatimu sama seperti kalung ini yang berada dekat di jantung dan hatimu," Ghozi mengatakan apa maksudnya memberikan kalung itu kepada Tari, meski merasa heran dengan ucapan Ghozi yang terlihat sedang menggombal tapi dengan wajah yang serius, Tari tetap menerima kalung pemberian Ghozi, dia tadi tidak bisa mengartikan apa yang sedang di lakukan Ghozi apa dia sedang menggombal atau dia benar-benar serius dengan perkataannya.
Meski bingung Tari tetap mengambil kalung itu dan memakainya di hadapan Ghozi, dan apa yang dilakukan Tari sukses membuat Ghozi tersenyum bahagia.
"Terima kasih karena kamu sudah menerima aku, aku akan mengatakan semua ini pada umiku dan akan kembali nanti untuk meminangmu, Tari," ujar Ghozi.
"Apa umikmu bisa menerima aku, Ghozi?" Tanya Tari dengan ekspresi wajah penuh rasa penasaran, tari sandar jaya dirinya bukanlah putri dari seorang kyai dia hanya orang biasa bahkan berasal dari keluarga broken home yang entah bisa diterima atau tidak oleh ibu Ghozi ataupun keluarganya, cari tahu betul jika Fauzi juga memiliki pesantren sama seperti Kafa meski dia di pesantren ini menjadi seorang khadam tapi tetap saja Ghozi memiliki status yang sama seperti Kafa jika dia berada di luar sana.
"Jangan memikirkan hal itu Tari! Biarkan aku yang mengurus segalanya, kamu hanya perlu mempersiapkan diri jika nanti aku meminangmu secara tiba-tiba," jawaban yang cukup membuat tari merasa tenang.
"Baiklah, kalau begitu aku pamit dulu ini sudah waktunya aku mengisi kelas kasihan muridku menungguku terlalu lama" pamit Tari seraya berdiri hendak meninggalkan Ghozi yang masih betah duduk di kursinya.
__ADS_1
"Semangat Tari! Semoga hari ini pekerjaan lancar dan murid-muridmu tidak melakukan hal yang membuatmu jengkel," sahut Ghozi dengan senyum yang mengembang di pipinya, Ghozi yang tahu betapa nakalnya murid Tari memberi semangat agar calon istrinya itu tidak mudah marah dan lebih bersabar menghadapi murid-muridnya.