
"Neng Salma!" panggil Mbok Sumik saat melihat Salma sedang duduk bersantai di ruang keluarga sambil menikmati acara talk show yang di siarkan secara live.
"Iya, ada apa Mbok?" sahut Salma seraya mengalihkan pandangan menoleh ke arah Mbok Sumik yang sedang berjalan mendekat ke arahnya.
"Katanya Neng Salma mau pijat?" tanya Mbok Sumik.
"Iya, Mbok, bagaimana kalau pijatnya nanti malam saja? habis isya'," usul Salma.
"Apa Mas Kafa mengizinkan kalau Neng Salma pijatnya nanti malam?" Mbok Sumik mengingatkan Salma, jika saat ini Salma sudah punya Kafa yang tidak akan pernah melepaskannya di malam hari.
"Mbok Sumik benar juga, baiklah Mbok bisa pijat sekarang Kan?" tanya Salma.
"Tentu saja Neng," jawab Mbok Sumik.
"Kita enaknya pijat di mana ya Mbok?" Salma menoleh ke sekeliling rumah mencari tempat paling nyaman untuk menikmati pijatan Mbok Sumik yang entah enak atau tidak.
"Bagaimana kalau pijatnya di tepi kolam Neng?" usul Mbok Sumik.
"Apa tidak akan panas kalau pijat di sana Mbok?" Salma yang merasa jika di tepi kolam akan terasa panas karena tidak ada pelindung dari sinar matahari.
"Kita pijatnya di tepi kolam yang ada di ujung sana Neng, Mbok rasa tidak akan panas," Mbok Sumik kembali memberi usulan seraya menunjuk ke sudut tempat kolam renang.
Salma tak menyahuti ucapan Mnok Sumik, dia terdiam menatap ke arah kolam renang yang tadi di tunjuk oleh Mbok Sumik.
"Nanti biar Mbok Sumik pasangkan kasur angin untuk tempat pijat," ucap Mbok Sumik seolah mengerti dengan apa yang ada di fikiran Salma saat ini.
"Boleh juga, kita pijat di sana saja Mbok." Salma langsung setuju setelah mendengar Mbok Sumik kembali memberi usulan.
"Neng Salma tunghu sebentar! Mbok siapkan dulu tempatnya." Pesan Mbok Sumik berjalan menjauh menuju kolam di mana tadi Mbok Sumik tunjuk.
Di sisi kolam terdapat satu tempat yang cukup lapang, biasanya di gunakan untuk yoga, tapi sekarang tempat itu kosong karena Kafa sudah lama tidak olahraga yoga lagi.
"Wah kalau seperti ini tempatnya benar-benar nyaman ya Mbok," ucap Salma dengan senyum yang terlihat lepas, Salma merasa Mbok Sumik memang selalu mengerti dengan apa yang dia butuhkan.
"Silahkan Neng!" Mbok Sumik mempersilahkan Salma untuk berbaring di kasur angin yang tadi sudah di siapkan oleh Mbok Sumik.
"Mbok, nanti pijatnya pelan-pelan saja ya," pesan Salma yang sebenarnya tidak terlalu kuat menahan sakit saat di pijat.
"Tenang saja Neng, Mbok tidak akan memijat terlalu keras," sahut Mbok Sumik.
__ADS_1
Salma mengikuti apa yang Mbok Sumik katakan, dia merebahkan diri di atas kasur menikmati setiap gerakan tangan Mbok Sumik yang terasa begitu nyaman, pijatan Mbok Sumik di luar dugaan Salma, rasanya sudah seperti tukang pijat profesional, tanpa terasa Salma mulai terlena dan tertidur menikmati pijatan Mbok Sumik hingga dia tidak tahu jika Kafa yang tadinya berpamitan pergi mengecek tokoh sudah kembali.
Kafa tersenyum melihat Mbok Sumik yang sedang memijat Salma, jika saat ini Salma di pijat maka itu artinya tamu bulanan yang menghalanginya selama ini sudah pergi dan Kafa bisa meminta Salma untuk berolahraga ranjang nanti malam.
"Mas Ka~"
"ssttt ...." Kafa memberi isyarat agar Mbok Sumik tak meneruskan ucapannya, dia meletakkan jari telunjuknya di atas bibirnya.
"Biarkan dia tertidur! dan teruskan saja memijatnya!" ucap Kafa dengan sangat lirih sampai terdengar seperti berbisik.
Kafa memilih mengambil kursi yang berada tidak jauh dari tempat Salma pijat, duduk tepat di samping Salma yang tengah tertidur pulas, rasanya begitu senang dan tenang melihat Salma yang ketiduran menikmati pijatan Mbok Sumim.
"Apa pijatnya sudah selesai Mbok?" tanya Kafa. saat melihat Mbok sumik hendak berdiri setelah tadi duduk bertumpu pada kedua lututnya.
"Sudah Mas Kaa," jaqab Mbok Sumik dengan suara pelan seolah mengerti jika Kafa tidak ingin Salma bangun dari tidurnya.
"Apa Saalma tidur sejak tadi?" Kafa kembali bertanya.
"Iya, Mas Kafa," jawab Mbok Sumik dengan senyum yang mengembang di bibirnya
"Baiklah, lebih baik Mbok Sumik pergi! biar aku yang membangunkannya." Titah Kafa yang langsung di turuti oleh Mbok Sumik.
"Kalau begitu Mbok permisi dulu Mas Kafa." Pamit Mbok Sumik berjalan keluar dari area kolam yang memang teetutup berada di halaman samping yang di batasi tembok yang tinggi dan tidak akan ada orang yang bisa melihat dari luar.
Cukup lama Kafa memandang Salma yang tertidur hingga Kafa merasa Salma sudah lelap dalam tidurnya, dengan gerakan perlahan dan lembut Kafa mulai mengangkat tubuh Salma membawanya berjalan masuk ke dalam kamar.
Kafa menarik kursi setelah merebahkan tubuh Salma yang masih berbalut sarung setelah pijat tadi menaruhnya di samping tempat tidur agar Kafa lebih mudah ketika ingin memandang wajah cantik istrinya itu.
"Hoammmm," Salma merasa ada yang aneh dengan dirinya hingga dia tersadar dari tidur nyenyak yang entah sejak kapan dia rasakan.
Netra mata Salma langsung tertuju pada lampu kamar yang menggantung indah di atas tempat tidur, pandangannya langsung tertuju pada lampu itu karena Salma sedang tidur dengan posisi berbaring, dia masih belum menyadari jika di samping tempat tidur sudah ada Kafa yang masih setia menatapnya lekat tanpa bergerak sedikitpun.
"Kenapa aku bisa ada di sini?" gumam Salma dengan suara sedikit keras dan Kafa mendengar apa yang Salma katakan.
"Bagaimana tidurnya?" sahut Kafa yang sukses membuay Salma terkejut, dia langsung menoleh ke arah Kafa yang tersenyum manis ke arahnya.
"Mas Kafa, kenapa Mas Kafa ada di sini?" tanya Salma menatap bingung ke arah Kafa.
"Harusnya aku yang bertanya Salma, kenapa kamu bisa sampai tidur di sini? coba lihat ke sekeliing! kamu sedang ada di mana?" Kafa tak menjawab pertanyaan Salma, dia malah balik bertanya.
__ADS_1
Salma yang mendengar jawaban Kafa lantas melihat ke sekeliling. Dan benar saja mereka sedang berada di kamar.
"Loh, kok aku bisa ada di kamar?" spontan Salma dengan ekspresi wajah terkejut menyadari jika dirinya sedang ada di kamar.
"Dan lihatlah! kaku sedang memakai baju apa?" Kafa kembali berucap mencoba sedikit menggoda Salma.
"Isssh, aku masih pakai sarung juga, apa Mas Kafa yang memindahkanku ke sini?" tanya Salma menatap tajam ke arah Kafa seolah mencari jawaban yang paling jujur dari suaminya itu.
"Menurutmu siapa lagi yang berani memindahkanmu dari tepi kolam dalam keadaan seperti ini?" Kafa tak langsung menjawab pertanyaan Salma dia lebih memilih menjawabnya dengan sebuah pertanyaan yang bisa di pastikan jika Salma tahu jawabannya.
"Ishhh Mas Kafa selalu saja begitu," keluh Salma.
"Begitu bagaimana maksudmu Salma?" Kafa terus saja menggoda Salma dengan pertanyaan yang cukup membuat Salma jengah.
"Sudahlah, aku mau ganti baju." Pamit Salma hendak turun dari kasur tapi dengan cepat Kafa mencegahnya.
"Ngapain turun? memangnya aku ngizinin kamu ganti baju," cegah Kafa sebelum Salma benar-benar turun dari atas kasur.
"Terus kalau aku tidak boleh pakai baju bagaimana? apa aku harus pakai sarung ini terus Mas?" Salma terlihat sedikit jengah. dengan sikap Kafa yang susah untuk di tebaK.
"Kenapa kamu tidak bilang kalau tamu bulananmu sidah pergi?" Kafa tak memperdulikan pertanyaan Salma, dia malah mengajukan pertanyaan yang cukup membuat Salma sadar jika saaat ini Kafa pasti akan meminta haknya.
"Memangnya aku harus laporan kalau tamu bulananku sudah pergi ya Mas?" Salma kini mengikuti ucapan Kafa yang tidak langsung menjawab pertanyaannya.
"Tentu saja, kamu harus mengatakannya Sayang!" jawab Kafa yang mulai melancarkan aksinya, perlahan tapi pasti Kafa mulai mendekat menghimpit tubuh mungil milik Salma hingga Salma terhimpit di kepala ranjang.
"Mas aku masih bau minyak, apa tidak bisa jika kita melakukannya nanti malam saja? atau paling tidak nanti setelah sholat isya'," Salma yang mengerti dengan apa yang akan di lakukan oleh Kafa mencoba bernegoisasi.
"Aku suka kamu apa adanya Sayang, sekalipun bau minyak aku tidak pernah mempermasalahkannya, aku tetap akan melakukannya sekarang," sahut Kafa.
Kafa yang tak lagi bisa menahan keinginannya lagi memilih terus melakukan apa yang seharusnya dia lakukan, perlahan tapi pasti Kafa mulai menyusuri setiap jengkal kulit yang terlihat seputih susu yang ada di hadapannya, menjelajah di gunung kembar yang terlihat menonjol juga menantang, ukurannya yang tidak terlalu kecil dan juga tidak terlalu besar memberikan sensasi sendiri bagi Kafa saat memegangnya.
Surga yang begitu banyak orang damba kini sudah di depan mata, meski tubuh Salma penuh dengan bekas minyak zaitun tak menyurutkan niat Kafa untuk menyalurkan rasa rindu yang sudah dia pendam beberapa hari ini.
Rindu yang menumpuk kini bisa tersalurkan, nada-nada indah keluar dari bibir mungil Salma yang tadi sempat meminta penawaran, tidak ada lagi hal paling indah dan nikmat yang pernah di rasakan oleh Salma dan Kafa selain menyatukan dua raga yang telah bersatu dalam ikatan suci sebuah pernikahan.
"Aku merindukanmu Sayang, sungguh hanya kamu yang bisa membuatmu melayang," suara Kafa terdengar mendayu dan berat, hingga satu hentakan terakhir menjadi penanda puncak sebuah kenikmatan.
"Love you my wife," bisik Kafa yang terlihat lemas dan kini berbaring tepat di samping Salma sambil memeluknya dari samping. Menikmati aroma tubuhnya yang justru kembali membangkitkan gairah Kafa.
__ADS_1
"Sayang, bagaimana kalau kita melakukannya lagi?" bisik Kafa tepat di telinga Salma yang memejamkan mata.
Apa yanh di bisikan Kafa sontak membuat mata Salma yang terpejam langsung terbuka lebar, sungguh Salma tudak akan pernah sanggup menemani permainan Kafa, yang baru saja terjadi masih membekas dan terasa, jika Kafa memintanya lagi bagaimana dengan keadaan badan Salma yang bisa di pastikan akan terasa remuk setelahnya.