
Pagi ini di pesantren terlihat begitu sibuk, bahkan bisa di katakan sangat sibuk, acara bahtsul masail yang akan di selenggarakan menjadi penyebab kesibukan yang terjadi, begitu juga dengan Salma dan Tari yang kini sedang sibuk memasak untuk para tamu yang akan datang, bukan hanya makan Ummi juga meminta bantuan Salma dan Tari untuk membuat camilan. Meski sudah di bantu beberapa santri tetap saja kesibukan masih sangat terasa, pasalnya jumlah makanan yang di masak kali ini cukup banyak dan berfariasi.
Bahtsul masail adalah acara yang membahas suatu masalah dalam satu tempat dengan beberapa santri yang datang dari berbagai pesantren dan berkumpul jadi satu, karena itulah Salma dan Tari telihat begotu sibuk menyiapkan makan untuk semua orang.
"Ummi!" panggil Kafa sambil berjalan masuk ke dalam dapur di mana semua orang terlihat begitu sibuk dan serius.
"Iya, Kafa, ada apa?" sahut Ummi.
"Aku lapar, tolong suruh Salma bawakan makanan ke kamar ya Ummi!" pinta Kafa.
Mendengar permintaan Kafa membuat Ummi begitu bahagia karenanya, jika Kafa sudah meminta Salma untuk mengantar makanan ke kamarnya seperti saat ini, itu artinya Kafa tidak menolak perjodohan dan perlahan mulai menerima Salma dalam hidupnya.
"Kamu tunggu saja di kamar, bentar lagi Salma akan ke sana mengantarkannya." Ujar Ummi pada Kafa.
"Baiklah, terima kasih Ummi, maaf merepotkan," ujar Kafa.
"Iya, tidak apa-apa, kamu tunggu saja di kamar!" sahut Ummi.
Kafa berjalan meninggalkan dapur menuju kamar menunggu makanan yang katanya akan di antar oleh Salma, entah mengapa Kafa mulai menyukai makanan yang di buat oleh Salma, apa lagi jika yang mengantarnya Salma sendiri.
"Salma!" panggil ummi sesaat setelah Kafa pergi dan tak terlihat lagi di balik tembok.
"Iya, Ummi," sahut Salma berjalan mendekat ke arah Ummi yang berdiri di samping meja makan.
__ADS_1
"Tolong siapkan makanan untuk Kafa! dan antarkan ke kamarnya!" pinta Ummi.
"Ke kamarnya? maaf Ummi, Salma tidak enak kalau mau mengantar ke kamarnya. Apa tidak sebaiknya Mbak Mila saja yang mengantar?" tawar Salma yang sebenarnya merasa sangat malas untuk pergi dan bertemu dengan Kafa.
"Kamu tidak perlu masuk ke kamarnya Salma, kamu hanya perlu mengetuk pintu kamarnya dan memberikan makanannya pada Kafa kemudian kamu bisa pergi meninggalkan kamar serta Kafa dan kembali ke sini." Ujar Ummi yang begitu memahami apa yang ada di dalam fikiran Salma.
"Baik, Ummi," pasrah Salma, sebenarnya Salma mengerti dengan apa yang di jelaskan oleh Ummi, hanya saja dia tidak ingin bertemu ataupun melihat wajah Kafa di pagi harinya yang cerah dan otomatis akan berubah menjadi suram ketika bertemu dengan Kafa, mendengar nada bicaranya yang cukup menyakitkan hayi dan melihat tatapan matanya yang tajam cukup membuat hari Salma yang indah berubah menjadi sendu karenanya.
Tapi Salma tak lagi bisa menolak ataupun menawar apa yang telah di pinta oleh Ummi, jadi Salma memilih untuk mengikuti permintaan Ummi, kini Salma berjalan menuju kamar Kafa setelah mengambilkan makanan untuknya.
'Tok ... tok ... tok ....'
Suara ketukan pintu terdengar begitu nyaring di telinga, mengusik sang pemilik kamar yang tengah bersantai di atas kasur nyaman miliknya.
"Masuk!" titah Kafa yang kini mengubah posisinya. Tadi Kafa sedang berbaring dengan kedua telapak tangan bertumpu di kepala menikmati semilir angin yang berhembus melewati cela jendela yang biasanya selalu tertutup, entah mengapa saat ini Kafa ingin membukanya dan membiarkan selambu yang ada di belakangnya melandai-landai tertiup angin.
"Makanan yang kamu bawa itu, siapa yang masak?" tanya Kafa.
"Ini tadi Mbok Bat yang masak Mas Kafa." Jawab Salma jujur, tadi pagi memang MbokBat yang memasak untuk makan para santri dan yang lain saat membantu memasak, sedang makanan yang akan di hidangkan ke para tamu adalah tugas Salma dan Tari sedang yang lain hanya membantunya saja.
"Aku ingin kamu yang menasak, jadi masakkan aku sesuatu yang bisa aku makan sekarang!" titah Kafa.
"Astaghfirullah, Mas Kafa ini juga makanan kenapa harus masak lagi? terus ini siapa yang makan?" seru Salma, benar saja seperti yang sudah dia duga, hari Salma yang indah pasti akan berubah menjadi suram ketika bertemu dengan Kafa.
__ADS_1
"Makanan yang kamu bawa kamu makan saja sendiri! aku ingin kamu masak nasi goreng tanpa udang untukku!" titah Kafa yang cukup membuat Salma benar-benar kesal dan jengkel.
"Baiklah, aku akan memasakkannya untukmu." Salma hanya bisa pasrah menerima semua yang Kafa minta tanpa bisa menolak untuk saat ini, bagaimanapun juga, tadi dirinya di suruh Ummi untuk datang membawakan makanan yang akan di makan oleh Kafa.
"Tapi Mas Kafa harus tunggu aku selesai makan makanan ini, apa Mas Kafa mau menunggunya?" Salma yang tadi berjalan menjauh kini kembali ke depan pintu kamar Kafa yang belum dia tutup.
"Kalau nunggu kamu kelamaan, masuk dan taruh makanan itu di meja ujung sana! setelah itu kamu masak untukku!" titah Kafa yang membuat Salma bingung, saat ini Kafa terlihat seperti seorang laki-laki yang tengah sakit, dia memberi perintah tanpa mengubah posisinya.
"Kalau Mas Kafa minta aku masakin kenapa makanan ini harus di taruh di meja? memangnya Mas Kafa mau makan semuanya," Salma yang heran tak bisa menahan diri untuk tidak bertanya.
"Jangan banyak tanya! kerjakan saja apa yang ku minta!" jawaban yang benar-benar membuat ubun-ubun terasa panas, seandainya saat ini Salma tidak berada di pesantren dan Kafa bukanlah putera Ummi yang sudah begitu baik padanya, bisa di pastikan Salma akan melempar makanan yang dia bawa ke depan laki-laki yang saat ini masih saja duduk santai di tempat itu, kemudian pergi tanpa memperdulikannya lagi.
"Ngapain bengong di situ? cepat taruh dan masak nasi gorengnya! aku sudah lapar!" Kafa kembali bersuara setelah melihat Salma tak kunjung menaruh makanan yang ada di tangannya, tapi malah berdiri mematung di depan pintu.
Tanpa menjawab ucapan Kafa lagi Salma langsung berjalan masuk dan secepat mungkin menaruh makanan yang tadi dia bawa di atas meja sesuai dengan permintaan Kafa kemudian melenggang pergi meninggalkannya.
"Salma!" suara Kafa kembali terdengar menghentikan langkah Salma yang sudah berada di luar kamar.
"Apa Mas Kafa?" nada suara Salma terdengar begitu menahan amarah, hal itu justru membuat sebuah senyum tipis muncul di bibir Kafa.
'Hiburan gratis,' batin Kafa.
"Kenapa manggil lagi?" Salna kembali bertanya ketika Kafa hanya diam tak menjawab pertanyaannya.
__ADS_1
"Tutup pintunya!" titah Kafa.
Salma langsung menutup pintu tanpa banyak bicara sungguh setiap dia bertemu Kafa dan mendengar suaranya, selalu saja kata perintah yang terdengar, sangat menjengkelkan.