Cahaya Cinta Salma

Cahaya Cinta Salma
Permintaan Umik


__ADS_3

"Ummi justru merasa lebih khawatir karena Salma pergi bersamamu," sahut Ummi yang cukup membuat Kafa dan Salma terkejut, keduanya memandang heran ke arah Ummi dengan dahi yang mengkerut.


"Kenapa Ummi bilang begitu? memangnya Kafa orang yang tidak bisa di percaya apa? lagi pula mana berani Kafa mencelakai Salma yang sudah sah menjadi istri sekaligus putri kesayangan Ummi," bela Kafa yang merasa tidak mendapatkan kepercayaan dari sang Ummi.


"Bukan Ummi tidak percaya atau berfikiran kamu akan mencelakai Salma, hanya saja Ummi khawatir jika Salma pergi bersamamu, orang lain yang akan mencelakainya," jelas Ummi.


Kafa langsung terdiam setelah mendengar ucapan sang Ummi karena apa yang di ucapkannya memang sama seperti apa yang ada di fikiran Kafa sejak kemarin.


"Ummi hanya bisa memintamu menjaganya tanpa bisa membantumu menjaga, ingatlah Kafa! tugasmu bukan cuma menyayangi dan membahagiakan Salma! kamu juga harus menjaganya!" Ummi kembali mengingatkan Kafa akan tugas yang harus dia penuhi selama dia pergi.


"Ummi tidak perlu khawatir! Kafa bisa menjaga Salma," sanggup Kafa.


"Kalian berdua adalah harta yang tak pernah ternilai bagi Ummi, jadi jaga diri baik-baik!" Ummi tak pernah berhenti mengingatkan, entah mengapa mulutnya selalu mengingatkan Salma dan Kafa untuk berhati-hati, entah sebuah pertanda atau hanya perasaan saja, yang Ummi tahu saat ini dia tidak ingin terjadi hal buruk pada Kafa dan Salma.


Jika di rumah Ummi sedang bersedih ria karena Salma dan Kafa akan pergi kembali ke kota, maka berbeda dengan apa yang terjadi di rumah Ghozi.


"Umik tidak bisa menunggumu lebih lama Ghozi," seru Umik yang tak lain Ibu kandung Ghozi.


"Ghozi tidak mau di jodohkan Ummi, apalagi jika Ummi menjodohkan Ghozi dengan Aisyah, dia sudah Ghozi anggap seperti adik kandung Ghozi sendiri, mana mungkin Ghozi menikahinya," jelas Ghozi, dia terlihat kekeh untuk menolak perjodohan yang di rencanakan kedua orang tuanya.


"Jika kamu tidak mau, terus maumu bagaimana Ghozi? ingatlah Umik dan Abi sudah tua! pesantren ini juga butuh penerus dan saat ini sudah waktunya kamu pulang menggantikan posisi Abi dan menikahlah agar ada yang menggantikan posisi Ummi juga!" ucap Umik Ghozi dengan wajah memelas beliau terlihat memohon.

__ADS_1


"Maafkan Ghozi Umik, beri Ghozi sedikit waktu lebih banyak! Ghozi janji akan membaca calon istri dan kembali ke sini untuk menggantikan tugas Ummi dan Abi, tapi sebelum itu Ghozi minta pada Ummi untuk tidak memaksa Ghozi menikah dengan Aisyah," Ghozi berkata dengan mimik wajah yangtidak kala memelas dari sang Umik.


Aisyah adalah putri dari seorang kiyai besar yang memiliki pesantren cukup besar di kota sebrang, sejak kecil Aisyah sering di titipkan di pesantren Ghozi karena kedua orang tuanya harus pergi berdakwah ke berbagai tempat, dan saat itu Ghozi belum pergi ke pesantren dan dia menginginkan adik perempuan untuk di ajak bermain, kebetulan Aisyah datang, keduanya sering sekali bermain bersama, Ghozi sangat menyayangi Aisyah dia begitu menjaga Aisyah yang sudah dia anggap seperti adik kandungnya sendiri.


Bahkan Ghozi akan sangat marah jika dia melihat Aisyah menangis atau terluka, meski tangisan yang keluar dari bibir mungil Aisyah hanya tangisan biasa, tangisan seorang anak yang mencari perhatian.


Umik hanya bisa menghembuskan nafas kasar setiap kali dia mendengar jawaban Ghozi, entah mengapa Ghozi selalu saja menolak dan beralasan jika dirinya menganggap Aisyah hanya sebatas adik tidak lebih, padahal saat ini Umik sangat berharap Ghozi mau menikah mengingat umurnya sudah cukup untuk menikah, berada di pesantren tanpa seorang anak dengan waktu yang cukup lama membuat Umik merasa begitu kesepian, dia ingin Ghozi menikah dan segera pulang berkumpul kembali seperti dulu.


"Sampai kapan Umik harus menunggu dan terus memberimu waktu? apa sekarang kamu punya tambatan hati atau gadis yangs edang kamu sukai Ghozi?" Umik yang selalu mendapat penolakan atas perjodohan yang dia tawarkan kini mulai berfikir jika Ghozi sudah memiliki gadis pilihannya sendiri.


"Iya, Ghozi memiliki gadis yang sedang Ghozi sukai, dan saat ini Ghozi sedang berusaha mendapatkan hatinya, jadi Ghozi minta Umik untuk bersabar," jawab Ghozi.


'Maaf Umik, Ghozi memang sedang mencintai seorang gadis, tapi gadis itu sudah menikah dengan Kafa dan Ghozi tidak tahu harus bagaiman? Ghozi terpaksa berbohong padamu karena saat ini Ghozi benar-benar belum siap untuk menikah dan Ghozi tidak akan pernah bisa mencintai Aisyah sebagai istri karena Aisyah sudah Ghozi anggap seperti adik kandung Ghozi sendiri,' batin Ghozi bermonolog.


"Jangan dulu Umik! Ghozi ingin mendapatkan hatinya dengan dengan cara Ghozi sendiri, dan Ghozi pasti akan menikahinya jika sudah mendapatkan hatinya," cegah Ghozi yang tidak ingin Umik memaksa menghitbah gadis yang sebenarnya sudah menjadi milik orang itu.


"Kalau begitu kamu ajak saja ke sini, kenalkan pada Umik!" mendengar larangan Ghozi tidak membuat Umik menyerah, dia terus berusaha membujuk Ghozi agar segera di pertemukan dengan gadis yang puteranya suka.


"Bagaimana mau di ajak ke rumah Umik? iya kalau dia juga menyukai Ghozi akan baik akhirnya tapi kalau tidak? Ghozi khawatir dia malah semakin menjauh Umik," Ghozi terus mencari alasan untuk menolak permintaan yang tidak mungkin dia kabulkan.


Mendengar penjelasan Ghozi membuat Umik tidak lagi punya kata-kata untuk meminta sang putera membawa gadis pujaan hatinya bertemu dengannya. Umik hanya bisa menghembuskan nafas kasar mendengar semua penolakan Ghpzi.

__ADS_1


"Baiklah, terserah kamu, toh yang jalaninya nanti juga bukan Umik," ujar Umik.


Kata-kata Umik sungguh membuat Ghozi bingung harus melakukan apa?


"Maafkan aku Umik, sungguh aku tak ada niat untuk menyakitimu, maaf Umik," Ghozi yang melihat raut wajah kecewa dan mendengar kata-kata kurang menyenangkan langsung meminta maaf dan meraih tangan Umik menciumnya meminta ampun atas penolakan yang pasti menyakiti hatinya.


"Sudahlah,Umik tidak marah padamu dan kamu tidak perlu meminta maaf, mungkin memang takdir Umik belum bisa melihatmu menikah," sahut Umik sambil mengusap lembut kepala sang putera.


"Terima kasih Umik sudah mengerti, maafkan Ghozi belum bisa mewujudkan apa yang Umik inginkan," ujar Ghozi.


"Sudah, jangan di fikirkan lagi! lebih baik kamu makan dulu! Umik sudah menyiapkan makanan kesukaanmu di meja makan," ajak Umik.


"Abi ke mana Umik?" tanya Ghozi yang tak melihat sang Abi sejak pertama kali dia datang.


"Abimu sedang ada undangan dakwah, mungkin nanti sore akan pulang," jawab Umik.


"Keadaan restauran kita bagaimana Umik?" tanya Ghozi.


Keluarga Ghozi memang seorang pengusaha dan Kiyai yang juga memiliki pesantren meski pesantren milik Ghozi tak sebesar pesantren Abah dan Ummi, tapi santrinya cukup banyak.


"Alhamdulillah semuanya baik-baik saja, restauran kita masih ramai seperti dulu, kamu tenang saja, sekarang lebih baik kamu fokus belajar mengelola pesantren dan mendalami ilmu saja!" jawab Umik.

__ADS_1


"Alhamdulillah kalau begitu," ucap Ghozi.


__ADS_2