
"Abah!" panggil Ummi.
Saat ini Abah sedang duduk beristirahat menikmati cuaca cerah di teras samping rumah di mana Ghozi dan yang lain belajar.
"Iya, Ummi, ada apa?" sahut Abah mengalihkan pandangannya ke arah Ummi sambil meminum secangkir kopi yang ada di atas meja di samping tempatnya duduk.
"Ummi punya berita gembira," ujar Ummi dengan wajah penuh kebahagiaan.
"Berita apa Ummi?" Abah yang mendengar berita bahagia mulai bertanya.
"Alhamdulillah, Kafa setuju dengan rencana perjodohan yang kita rencanakan, dan baru saja dia menemui Ummi untuk menanyakan kapan kita bisa meresmikan hubungan mereka," jelas Ummi yang sukses bisa membuat Abah tersedak air minum.
"Alhamdulillah," sahut Abah dengan senyum penuh lega tergambar jelas di wajahnya.
"Alhamdulillah Abah, Ummi benar-benar bahagia karenanya, dan sekarang kita tinggal nentuin kapan kita bisa meresmikannya, menurut Abah bagaimana?" Ummi kembali mengucapkan kata syukur atas apa yang telah terjadi, setelah bertahun-tahun dia menunggu dengan terus berdo'a tanpa henti, berharap Kafa bisa kembali , kini do'a itu telah terkabul dan Ummi sangat bahagia karenanya, kebahagiaan Ummi hanya satu Kafa kembali dan bersìkap baik dan penyayang seperti duli sebelum Kaf mengenal Bella, penyebab kehancuran hati Ummi.
"Bagaimana kalau awal bulan depan?" Abah.
"Boleh Bah, nanti kita tentukan hari yang tepat dan baik untuk mewujudkannya," sahut Ummi yang merasa setuju dengan apa yang di usulkan oleh Abah.
"Biar Abah lihat dulu. Baiknya kita mengadakan acaranya kapan? apa kamu sudah pesan baju untuk Kafa dan Salma?" tanya Ummi.
" Belum Abah, nanti kalau tanggalnya sudah dapat, Ummi akan memesan baju di butik langganan Ummi, akhirnya ya Bah, setelah bertahun-tahun akhirnya Kafa bisa kembali dan semoga dia juga bisa menjadi pribadi yang baik seperti dulu ya Bah," ungkap Ummi dengan binar kebahagiaan yang terpancar jelas di wajahnya.
"Alhamdulillah, akhirnya kita bisa melewati semua ujian yang telah di takdirkan untuk kita, semoga setelah ini hanya akan ada kebahagiaan Ummi, dan semoga tak ada lagi hal buruk yang terjadi pada keluarga kita," Abah mengungkapkan rasa bahagia dan harapannya ke depan.
"Iya, Abah, semoga saja," sahut Ummi.
Jika Abah dan Ummi sedangmenikmati kebahagiaan mereka karena Kafa telah kembali dan terlihat sudah berubah, maka hal lain terjadi pada Kafa, setelah kejadian tadi kini Kafa benar-benar tak bisa menenangkan diri, fikirannya terus tertuju pada Salma, suara Ghozi yang mengatakan akan membantu Salma meninggalkan pasangannya kini terngiang-ngiang di kepalanya.
"Ada yang tidak beres, aku harus melakukan sesuatu." Lirih Kafa dengan ekspresi gusar yang nampak jelas di wajahnya.
Kafa yang sedang gelisah kini berjalan meninggalkan kamar menuju ruang tamu yang biasa Ummi gunakan untuk menerima tamu khusus wali santri putri yang datang.
__ADS_1
"Mbak!!" Kafa sedikut berteriak memanggil seorang santriwati yang kebetulan lewat di sana.
Dengan langkah lebar dan sedikit berlari Sang Santriwati berlari mendekat ke arah Kafa yang sedang bersiri tegak di teras depan ruang tamu.
"Ada apa, Mas Kafa?" tanya sang Santriwati dengan wajah penuh kagum yang terpancar jelas di wajahnya.
"Tolong panggilkan, Salma!" pinta Kafa pada sang santriwati.
"Baik, Mas Kafa ," jawab Sang Santriwati sambil sedikit menunduk sebagai tanda hormatnya pada putera seorang guru.
"Katakan pada Salma jika aku menunggunya di dapur!" Kafa kembali memberi perintah.
"Baiklah mas Kafa , aku akan memanggilnya dan menyampaikan apa yang Mas Kafa katakan," sanggup sang santriwati.
"Hm," sahut Kafa singkat kemudian kembali berjalan masuk ke dalam rumah menuju dapur menunggu Salma yang sedang di panggil.
Sang Santriwati berjalan mencari Salma yang ternyata tak ada di kamarnya, sungguh hal yang paling menyusahkan ketika mendapat perintahdari pengasuh untuk memanggil seseorangsedang yang di panggil justru tidak ada di kamarnya.
"Tidak ada Mbak, memangnya ada apa?" sahut Ratna yang kebetulan sedang duduk santai di dalam kamar.
"Mbak Salma di panggil Mas Kafa, di suruh menemuinya di dapur," jawab sang santriwati.
"Baiklah, nanti kalau Salma sudah balik ke kamar aku beritahu." Sanggup Ratna.
"Maaf Mbak, tadi Mas Kafa bilang suruh cepet, kira-kira Mbak Ratna tahu di mana Mbak Salma?" Sang santriwati kembali bertanya keberadaan salma karena merasa jika pesan yang di berikan oleh Kafa terdengar begitu penting.
"Jam segini biasanya Salma ada di aula belakang bersama Tari," jawab Ratna.
"Terima kasih Mbak, kalau begitu aku permisi dulu." Pamit Sang Santriwati melenggang pergi meninggalkan Ratna menuju Aula untuk mencari Salma.
"Mbak Salma!" panggil Sang Santriwati saat melihat Salma berjalan dengan cucian kering yang menumpuk di tangannya.
"Iya, ada apa?" sahut Salma saat mendengar namanya di panggil.
__ADS_1
"Mbak Salma di panggil Mas Kafa, katanya di tunggu di dapur." Jelas Sang Santriwati.
"Mau apa nyariin aku? apa ada pesan lain?" Salma yang merasa malas untuk bertemu dengan Kafa bertanya tujuan Kafa memanggilnya.
"Aku tidak tahu Mbak, tadi Mas Kafa tidak menjelaskan apapun, beliau hanya berpesan agar Mbak Salma datang ke dapur karena beliau sudah menunggu Mbak Salma di sana," Sang Santriwati menjelaskan apa yang tadi dia dengar.
"Baiklah, terima kasih sudah di kasih tahu," ujar Salma yang tak lagi bisa menolak ataupun bertanya lebih jauh lagi.
"Sama-sama, kalau begitu aku duluan." Pamit Sang Santriwati melenggang pergi meninggalkan Salma yang masih diam berdiri di tempat dengan cucian kering di tangannya.
'Ada apa lagi sih, manggil-manggil segala,' batin Salma.
Meski menggerutu dan di penuhi rasa jengkel karena kurang menyukai setiap kata yang keluar dari bibir Kafa, tapi Salma tetap berjalan menuju dapur sesuai dengan apa yang di perintahkan oleh Kafa.
"Assalamualaikum," ucap Salma sesaat setelah sampai di dapur.
"Waalaikum salam," sahut Kafa tanpa merubah posisiyang kini menyamping dari tempat Salma berdiri, Kafa hanya meliriksekilas kemudian kembali menatap lurus ke depan.
"Mas Kafa manggil Aku?" tanya Salma dengan tatapan heran menatap lurus ke arah depan.
"Iya, buatkan aku kopi!" titah Kafa.
"Baik, Mas Kafa," jawab Salma penuh dengan penekanan.
"Tunggu!" cegah Kafa saat melihat Salma berjalan mendekat ke arah kompor.
"Ada apa? apa ada yang salah?" tanya Salma menoleh ke arah Kafa yang masih saja setia di tempat.
"Tidak, aku hanya mau memberitahu kalau buat kopi jangan terlalu banyak gula! buat kopi dengan satu sendok gula saja!" Kafa kembali memberi perintah.
"Baik, mas Kafa," jawab Salma mulai membuat kopi sesuai dengan apa yang di pinta oleh Kafa.
?
__ADS_1