Cahaya Cinta Salma

Cahaya Cinta Salma
Kesempatan Balas Dendam


__ADS_3

Ummi yang mendengar permintaan Kafa hanya bisa terdiam tanpa bisa menjawabnya dengan langsung, sejenak Ummi memikirkan segala konsekuensi yang akan terjadi jika gadis kota yang ada di hadapannya itu menginap.


"Ummi, bagaimana? apa Ummi memberi izin?" Kafa kembali bertanya.


"Baiklah, tapi ubtuk semalam saja, dan temanmu harus mengikuti peraturan yang ada di sini, termasuk tata cara berpakaian," Ummi yang masih memiliki rasa belas kasih merasa tak tega jika harus menyuruh Intan langsung pulang.


"Alhamdulillah, terima kasih Ummi," ucap Intan dengan wajah berbinar penuh kebahagiaan mendengar Ummi memberinya izin untuk menginap meski hanya semalam, setidaknya dia tak harus pulang sekarang.


"Tapi kamu harus mengikuti peraturan yang ada di sini, apa kamu tidak keberatan?" tanya Ummi yang terlihat tidak yakin dengan dengan Intan.


"Siap Ummi, aku akan mengikuti semua peraturan yang ada di pesantren ini," jawab Intan penuh semangat.


'Demi dapat restu dan bisa jadi menantu di rumah ini, aku akan melakukan apapun untuk itu.' Batin Intan dengan penuh semangat.


"Baiklah, sekarang kamu ikut Ummi!" titah Ummi sambil memberi isyarat agar Intan mengikuti langkah Ummi.


Dengan penuh semangat Intan mengikuti langkah Ummi masuk ke dalam rumah menuju ruang keluarga.


"Kamu tunggu di sini dulu!" Ummi kembali memberi perintah yang langsung di angguki oleh Intan, sedang Kafa pergi keluar rumah untuk meredam emosi yang masih saja dia rasakan mengingat betapa nekatnya Intan.


Ummi mengambilkan tiga abaya miliknya agar di pakai Intan, "Ini untukmu, kamu bisa memakainya selama ada di sini." Ujar Ummi sambil memberikan abaya yang tadi dia bawa.


"Terima kasih Tante," sahut Intan seraya mengambil abaya yang di sodorkan di hadapannya.


"Ummi, panggil saya Ummi bukan Tante!" Ummi yang kurang menyukai panggilan gadis di hadapannya kembali memerintahkan Intan untuk mengubah panggilannya.


"Baiklah, Ummi," jawab Intan dengan senyum yang terlihat begitu manis.

__ADS_1


"Mila!" panggil Ummi.


"Iya, Ummi," sahut Mila berjalan mendekat ke arah Ummi dengan sikap yang terlihat begitu sopan.


"Tolong antar Intan ke kamar depan halaman, sebelah kamar yang di tempati Ghozi," pinta Ummi.


"Baik, Ummi," sahut Mila.


"Mari saya antar!" ajak Mila pada Intan yang langsung berdiri mengikuti langkah Mila.


Ummi hanya bisa menggelengkan kepala melihat Intan yang berjalan semakin menjauh, sebenarnya Intan terlihat baik dan cantik, hanya saja cara dia berpakaian menunjukkan jika dirinya sama sekali belum pernah tahu apa itu pesantren, dan Ummi masih penasaran dengan siapa sebenarnya Intan, apa hubungan dia dengan Kafa sang putera, tapi rasa penasaran itu masih dia pendam rapat-rapat karena Kafa yanh saat ini tiba-tiba pergi entah ke mana.


Ummi memiliki sebuah sawah yang cukup besar berada di belakang pesantren, biasanya para santri datang ke sana untukmembuang sampah di lahan yang cukup luas yang berada tak jauh dari sawah.


Sejak kecil Kafa memang sangat suka duduk di gubuk kecil yang ada di bawah pohon mangga di tepi sawah, tempat ternyaman untuk menikmati ciptaan tuhan yang maha agung, juga tempat yang paling tepat untuk menikmati semilir angin yang terus berhembus sambil memandang rumput yang terlihat bergoyang.


Waktu itu Kafa baru saja bergabung dengan Salman dan teman-temannya, semua terasa biasa saja hingga beberapa bulan berlalu dan Intan yang sejak awal selalu mencari perhatian Kafa akhirnya mengungkapkan perasaannya di hadapan Salman sang sepupu, Intan sebenarnya gadis yang baik dan cukup penurut, hanya saja dia matre dan kurang kasih sayang dari orang tua, hal itulah yang menjadikannya gadis seperti sekarang.


Di tempat yang tak terlalu jauh dari tempat Kafa berteduh, Salma juga sedang asyik menikmati pemandangan yang cukup memanjakan mata setelah membuang sampah dia tak langsung kembali, tapi malah duduk di tepi sawah beralaskan daun pisang bersama Tari.


"Kamu tahu Tari, di dunia ini ada banyak sekali teka teki kehidupan yang tak bisa di jawab oleh manusia hanya bisa di terima tanpa bisa di ubah." Ujar Salma.


"Yang kamu maksud teka teki atau takdir Salma?" sahut Tari.


"Teka teki, kapan kita akan kembali kepangkuannya, siapa jodoh kita dan bagaimana jua apa yang akan terjadi esok, semua itu masih menjadi teka teki yang tak bisa kita tebak." Salma menjelaskan maksud dari ucapannya.


"Kamu benar, semua itu seakan menjadi teka teki, bahkan rahasia yang tak bisa kita ungkap," ucap Tari menyetujui apa yang di katakan oleh Salma.

__ADS_1


"Aku rindu Ibu Tari," lirih Salma menunduk sambil meneteskan air mata.


"Bersabarlah Salma, semua yang hidup di dunia pasti akan kembali ke sisinya, ingatlah jika hidup ini hanyalah sebuah perjalanan menuju kehidupan yang kekal, yaitu akhirat," Tari mencoba menenangkan Salma yang terlihat begitu sedih.


Mendengar ucapan Tari membuat Salma terkejut, dia yang selama ini terlihat cuek dan ceplas ceplos ternyata bisa berbicara begitu bijak.


"Kamu belajar dari mana kata-kata bijak seperti itu?" tanya Salma dengan ekspresi heran yang tergambar jelas di wajahnya.


"Kamu tidak perlu tahu aku belajar dari mana, yang harus kamu lakuin saat ini hanya menyerap apa yang aku katakan saja," jawab Tari yang saat ini terlihat begitu bijaksana.


"Kalian sedang apa di sini?" sarkas Kafa.


Kafa yang tadi duduk santai di gubuk tak sengaja melihat Salma dan Tari sedang asyik duduk mengobrol menikmati suasana sawah yang begitu indah.


Sedang Salma dan Tari yang sejak tadi asyik mengobrol sedikit terkejut mendengar suara teguran dari Kafa.


"Kami sedang buang sampah," jawab Salma enteng.


"Benar, kami sedang membuang sampah, memangnya ada apa?" sahut Tari mencium aroma protes yang akan keluar dari bibir indah tapi penuh duri seperti mawar merah milik Kafa.


"Jangan bohong padaku! sejak tadi kalian duduk santai di sini, aku memperhatikan apa yang kalian lakukan." Ujar Kafa dengan nada tegas penuh penekanan.


"Kami tadi buang sampah, kalau gak percaya lihat aja tong sampah yang tergeletak di belakangMas Kafa!" bela Tari sambil menunjuk ke arah tong sampang yang berdiri tegak di belakang Kafa.


"Tetap saja kalian melanggar aturan, harusnya kalian langsung masuk kembali ke dalam pesantren! bukan malah ngobrol di sini," Kafa yang sejak kemarin dongkol karena kejadian di kafe kini merasa memiliki kesempatan untuk membalas dendam.


"Kami hanyaingin menerapkan ilmu yang kami dapat, mengagumi ciptaan tuhan yang paling indah dan sempurna ini, apa tidak boleh?" Tari kembali membela diri mencari alasan agar dirinya dan Salma tidak di salahkan.

__ADS_1


__ADS_2