
Kafa terdiam setelah mendengar ucapan Salma, tentu dia tidak akan mengizinkan Salma pergi jika tempat yang dia tuju sama seperti tempat di mana Kafa akan pergi, cukup lama Kafa terdiam menatap kosong ke arah depan setelah melepas pelukannya pada Salma dan duduk di sofa yang tadi dia tempati.
"Fikirkan apa yang aku katakan tadi! aku mau istirahat, persiapan nanti kalau Mas Kafa berubah fikiran," ujar Salma melenggang pergi meninggal Kafa menuju kasur empuk yang sejak tadi memanggilnya untuk ikut menikmati siang hari hampir sore yang terasa begitu terik.
Kada hanya bisa menatap sendu ke arah Salma yang berjalan melewatinya kemudian tidur dengan nyamannya di atas kasur.
"Huftt, kenapa jadi rumit seperti ini?" keluh Kafa membuang nafas kasar.
Kafa kini berada dilema yang teramat berat, antara Salma dan janji yang harus dia penuhi, Kafa benar -benar bingung, jika dia menepati janji maka Salma akan ikut bersamanya ke tempat yang menurutnya bukanlah tempat yang baik untuk Salma, Kafa khawatir ada mata jahat yang akan menatapnya liar dan Kafa juga tidak ingin jika Salma melihat apa yang sedang di kerjakan oleh dirinya.
"Ahhh, kenapa aku harus terjebak seperti ini sih?" Kafa kembali mengeluh, mengusap kasar kepalanya kemudian ikut merebahkan diri di atas sofa dengan satu lengan yang menutupi wajahnya.
Sungguh hari yang berat bagi Kafa yang sedang bingung, rasa cinta yang baru dia rasakan malah menjadi bumerang bagi dirinya sendiri, perasaan yang baru tumbuh dan sedang membara itu kini menghambat langkahnya untuk menyelesaikan apa yang harusnya sudah dia selesaikan, Kafa terus berfikir hingga dia terlelap dalam tidur dan bermimpi tentanf apa yang baru saja dia fikirkan.
"Salma!!" teriak Kafa langsung duduk di sofa yang tadi dia gunakan untuk tidur.
Sungguh mimpi yang cukup membuat Kafa bercucuran keringat, Kafa bermimpi jika saat ini dirinya sedang berada di sebuah pusat perbelanjaan awalnya baik-baik saja hingga dia melihat Salma tengah terluka karena di tusuk oleh orang yang sama sekali tidak Kafa kenal, betapa terkejutnya Kafa melihat darah bercucuran dari perut Salma.
"Mas Ka~" seketika mata Salma tertutup seiring dengan suaranya yang menghilang tanpa jejak.
Seketika Kafa menoleh ke arah kasur di mana Salma beristirahat, sungguh Kafa tak bisa membayangkan bagaimana jadinya dirinya jika melihat Salma terluka seperti yang dia lihat dalam mimpinya tadi.
Kafa berjalan pelan mendekat ke arah Salm dan duduk tepat di samping kepala Salma yang tengah terlelap.
"Maaf, aku tidak akan membiarkanmu ikut nanti malam, aku tidak akan pernah bisa memaafkan diriku sendiri jika terjadi sesuatu padamu karena mengikuti Salma," gumam Kafa seraya mengusap pelan kepala Salma.
"Aku akan mencari cara dan alasan agar aku bisa tetap di rumah untukmu," ucap Kafa seraya mencium pucuk kepala Salma mencoba menyalurkan segala rasa yang ada di hatinya.
__ADS_1
Perlahan Kafa yang awalnya merasa khawatir kini mulai merasa nyaman setelah berada di sisi Salma, jantung yang awalnya berdebar kencang seperti genderang yang mau perang karena mimpi penuh ketegangan yang di rasakan Kafa kini perlahan mulai tenang, perlahan tapi pasti Kafa mulai masuk ke alam mimpi, kali ini mimpinya begitu indah, semua itu terjadi karena Kafa tidur sambil memeluk Salma dengan penuh cinta.
Waktu terasa begitu singkat saat cinta menemui cinta, dunia ini terasa begitu indah meski mendung tak kunjung pergi, meski matahari tak bersinar dengan sempurna.
"Ya allah ini sudah jam berapa?" lirih Salma saat matanya mulai terbuka dan kesadarannya mulai terkumpul sempurna.
'Mas Kafa,' batimn Salma yang terkejut saat melihat Kafa terlelap di sampingnya dengan jarak yang begitu dekat.
'Sejak kapan dia tidur di sini? kenapa aku tidak tahu?' Salma kembali membatin saat melihat Kafa begitu lelap.
"Mas! bangun!" Salma mencoba membangunkan Kafa yang tak kunjung bangun meski Salma sudah menggoyangkan tubuh Kafa berkali-kali.
"Mas Kafa!" Salma kembali berusaha membangunkan Kafa yang masih saja terlelap.
"Eummmm," Kafa menggeliat pelan merasakan sesuatu yang mengganggu tidur nyenyaknya, samar-samar Kafa juga mendengar namanya di panggil dengan suara lembut penuh kasih sayang.
"Kenapa bangunin Mas?" suara serak khas orang bangun tidur terdengar tepat di telinga Salma, suara penuh gelora asmara pembangkit gairah itu terdengar begitu sexy dan menggoda.
"Sudah sore, Mas tidak ingin bangun?" tanya Salma, emosi yang tadi berkumpul dalam diri Salma sebelum dia tidur seolah pergi entah ke mana, emosi. itu memudar menghilang hingga tak berbekas saat Salma melihat Kafa tidur di sampingnya seperti bayi yang terlihat lucu.
"Tidak," jawab Kafa singkat, bukannya bangun Kafa malah memper erat pelukannya dan semakin menelusupkan wajah di cecuruk leher Salma, menikmati aroma khas yang keluar daro tubuh Salma.
"Ini sudah sore, apa Mas Kafa tidak ingin bangun dan sholat?" Salma mencoba, mengingatkan Kafa agar dia segera bangun dan segera sholat.
"Apa kamu sudah siap jika nanti malam aku meminta hakku?" tanya Salma seraya menatap lekat ke arah Salma yang langsung menyembunyikan wajahnya di dada Kafa karena merasa malu dengan pertanyaan yang di ajukan oleh Kafa.
"Kenapa malah bersembunyi?" Kafa kembalibertanya karena bingung dengan apa yang Salma lakukan, bukannya menjawab Salma malah bersembunyi di dada Kafa.
__ADS_1
"Apa kamu siap?" sambung Kafa yang tak sabar mendengarjawaban Salma.
Salma tak menjawab pertanyaan Kafa, dia hanya mengangguk memberi isyarat bahwa dia sudah siap memberikan apa yang seharusnya sudah dia berikan saat mereka baru menjadi suami istri.
"Alhamdulillah, baiklah aku akan bersiap, setelah aku bersiap kamu juga bersiaplah! aku tunggu kamu di mushollah! kita sholat jamaah bersama." Kafa langsung bangun dan berdiri masuk ke dalam kamar mandi setelah memberitahukan Salma agar dia mau menyusul Kafa di mushollah.
'Dasar laki-laki, kalau udah denger jawaban yangdi harapkan langsung pergi gitu aja,' batin Salma yang kini sedang merapikan tempat tidur yang sempat berantakan karena telah di pakai tidur.
Salma berjalan menuju kamar mandi setelah melihat Kafa sudah selesai, dia bersiap menyusul Kafa ke mushollah yang ada di rumah Kafa untuk melaksanakan sholat bersama.
"Ghozi!"panggil Salma saat melihat Ghozi sedang duduk santai di ruang keluarga.
"Apa?" sahut Ghozi tanpa menolehke arah Salma.
"Apa kamu marah padaku?" tanya Salma dengan wajah sendu penuh belas kasihan.
Ghozi yang merasa punya kewajiban atas kebahagiaan Salma selama di kota karena tugas dari Ummi akhirnya tidak tega.
"Untuk apa aku marah Salma?" jawabGhozi menjawab pertanyaan Salma dengan pertanyaan baru yang cukup membuat Salma bingung.
"Tadi kamu langsung pergi dan tidak menanggapi ucapanku, apa aku melakukan kesalahan?" Salma mencoba mengingatkan Ghozi dengan kejadian yang membuat Salma bingung.
"Kapan?" Ghozi terlihat enggan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
"Tadi waktu di meja makan," Salma masih belum menyerah meski Ghozi terlihat enggan menjelaskan apa yang Salma tanyakan.
"Bukankah kamu mau sholat, kenapa masih di sini? lebih baik kaku sholat dulu swbelum waktunya habis!" Ghozi malah mengalihkan pembicaraan mencari alasan agar Salma tak bertanya lagi.
__ADS_1
Salma menghembuskan nafas kasar, melampiaskan rasa kesalnya pada Ghozi yang tak mau menjawab pertanyaannya dengan benar.