
Jalan-jalan yang tak di rencanakan berjalan dengan penuh kegembiraan, Tari dan Salma menikmati suasana mall yang begitu ramai hari ini meski bukan hari minggu.
Melihat-lihat deretan baju dan pernak pernik wanita membuat keduanya senang meski mereka tak membeli apapun tapi mereka tetap bahagia setelah berbulan-bulan berada di pesantren dan terkurung di sana.
"Salma!" suara yang tak asing bagi Salma terdengar mengusik tawa yang sedang bergema, suara yang dulu pernah sangat di rindukan yang pada akhirnya menjadi sebuah luka sulit untuk di sembuhkan.
"Yuman," gumam Salma yang kini diam mematung tanpa mampu menoleh ke arah belakang di mana Yuman berada, iya orang yang memanggil nama Salma adalah Yuman.
"Sudah jangan di hiraukan! lebih baik kita pergi saja." Ujar Tari berniat melangkah maju untuk meninggalkan Yuman yang masih berdiri di belakang keduanya.
"Tunggu!" cegah Yuman membuat Tari dan Salma terpaksa menghentikan langkahnya.
"Ada apa?" sarkas Tari menoleh ke arah belakang dengan tatapan sinisnya, sedang Salma masih setia diam tak bergerak sejengkalpun.
"Bagaimana kabarmu Salma?" bukannya menjawab pertanyaan Tari, Yuman malah melempar pertanyaan Salma, mendengar Yuman bertanya padanya dan tak menjawab pertanyaan Tari, Salma terpaksa menoleh ke belakang meski hatinya berat.
"Aku baik," jawab Salma singkat tanpa melihat wajah Yuman yang kini menatap lekat ke arah Salma.
Suasana mendadak hening, tak ada yang berbicara semua diam dengan fikiran masing-masing hingga Yuman buka suara.
"Aku sempat dengar kabar Ibumu sudah berpulang, apa kabar itu benar?" tanya Yuman dengan tatapan masih tertuju ke arah Salma, sedang Tari terus saja memasang wajah tak suka ke arah Yuman.
"Iya, kabar itu benar," jawab Salma.
"Aku turut beduka atas apa yang terjadi pada Ibumu," ujar Yuman dengan ekspresi sedih yang terlihat di wajahnya.
__ADS_1
"Sudahlah, jangan pasang wajah sedih yang semakin membuat orang baik selalu tertipu karenanya," sela Tari, jujur saja sebagai sahabat yang sudah di anggap saudara, Tari masih merasa sangat sakit hati atas apa yang pernah terjadi.
"Aku minta maaf jika apa yang pernah ku lakukan pernah melukai hatimu dan maaf jika luka itu masih terasa," ucap Yuman setelah mendengar ucapan Tari yang terdengar pedas.
"Yang lalu biar berlalu, aku tak ingin membahasnya lagi, kalau tidak ada yang mau di bicarakan lagi aku permisi." Pamit Salma menggandeng tangan Tari untuk pergi mencari tempat lain dan meninggalkan Yuman yang masih setia berdiri seperti patung.
"Tunggu Salma!" Yuman kembali mencegah langkah Salma yang baru saja melangkah dua langkah dari tempat dia berdiri tadi.
Mendengar Yuman kembali memanggilnya membuat Salma kembali menghentikan langkahnya, tapi kali ini Salma tak menoleh ataupun bersuara, sedang Yuman yang melihat Salma berhenti langsung berjalan mendekat dengan tujuan agar Salma bisa mendengar apa yang ingin dia katakan.
"Apa kamu benar-benar sudah melupakan aku sepenuhnya? apa tidak ada sedikitpun rasa yang tersisa untukku di hatimu?" pertanyaan yang membuat Salma jengah dan Tari jengkel, pasalnya dulu Yuman yang telah berselingkuh dan pergi meninggalkan Salma, tapi sekarang dia malah bertanya tentang perasaan Salma pada dirinya, sedang apa yang pernah terjadi di antara keduanya sudah berlalu setahun yang lalu.
"Maaf, hatiku bukan hotel yang bisa kamu masuki atau tinggal sesukamu, bagiku cukup sekali aku sakit hati dan tak akan pernah aku biarkan hatiku kembali sakit karena hal dan orang yang sama," ucap Salma dengan nada ketus yang terdengar menyayat hati siapapun yang mendengar dan merasakannya, sedang Tari tersenyum puas melihat ekspresi wajah Yuman yang terlihat tidak baik-baik saja.
Salma langsung berjalan menjauh menggandeng tangan Tari meninggalkan Yuman yang kini justru diam mematung setelah mendengar ucapan pedas dari Salma, selama Yuman mengenal Salma, saat ini pertama kalinya Salma berkata begitu pedas pada Yuman.
"Tari, kita pindah tempat saja ya." Pinta Salma, saat ini dia merasa begitu malas untuk melanjutkan jalan-jalan di mall itu.
"Terus kita mau ke mana lagi Salma?" tanya Tari yang bingung mendengar permintaan Salma.
"Bagaimana kalau kita ke warung biasanya kita nongkrong?" usul Salma.
Dulu Salma dan Tari juga sering menghabiskan waktu luangnya di sebuah warung milik tetangga mereka, kebetulan warung itu dekat dengan lapak mereka jualan.
"Kamu bener, sekalian kita lihat keadaan lapak lama kita." Jawab Tari dengan senyum yang mengembang.
__ADS_1
Keduanya melangkah pergi dengan langkah lebar penuh kebahagiaan menuju warung di mana dulu mereka sering bercanda bersama menghilangkan penat setelah berjualan.
"Assalamualaikum, Buk Lastri!" suara menggelegar Tari kembali terdengar setelah sekian lama menghilang.
"Waalaikum salam," sahut Bu Lastri yang merasa familiar dengan suara yang baru saja terdengar, dia segera berjalan keluar menemui sang pemilik suara dan memastikan apa dia memang benar orang yang dia kira.
"Masya Allah, Tari, Salma, masuklah!" titah Bu Lastri sambil membuka lebar selambu yang jadi penghalang antara ruang tempat para pelanggan makan dengan ruang khusus Bu Lastri masak dan sejenak beristirahat sebelum menyajikan makanan ke para pelanggan.
"Lama tidak bertemu, kalian ke mana saja?" tanya Bu Lastri.
"Kami sedang berada di penjara suci menyucikan diri dan hati yang kotor agar kembali bersih," jawaban yang mungkin tidak akan di fahami oleh Bu Lastri yang polos.
"Penjara? kalian ngelakuin hal kriminal, atau kamu menggunakan barang haram sampai harus masuk penjara segala?" pertanyaan yang sukses membuat tawa Tari dan Salma terdwngar.
"Lah, kenapa kalian malah tertawa? bu lastri tadi tanya serius loh," ucap Bu Lastri yang kini terlihat bingung dengan sikap keduanya.
"Penjara suci itu hanya istilah Bu, selama ini kami sedang mencari ilmu di pesantren Ummi dan Abah, menjadi santri di sana dengan harapan bisa jadi manusia yang jauh lebih baik dari sebelumnya.
"Apa? jadi santri?" spontan Bu Lastri dengan ekspresi terkejut yang tampak jelas di wajahnya, sedang Tari dan Salma hanya mengangguk mengiyakan ucapan Bu Lastri.
"Astaghfirullah, Ibu baru sadar penampilan Tari berubah, pantas saja sekarang kalian memakai baju yang tertutup seperti para santri kebanyakan," sambung Bu Lastri.
"Bagaimana penampilan baru kami, Bu?" tanya Tari sambil berdiri di hadapan Bu Lastri memperlihatkan gaya pakaian yang di pakai Tari saat ini.
"Cantik sekali, Ibu suka melihatnya," jawab Bu Lastri dengan senyum yang mengembang.
__ADS_1
Keduanya terlihat begitu bahagia berada di warung milik Bu Lastri, bercanda dan berbincang bersama menghabiskan sisa waktu yang mereka miliki sebelum akhirnya kembali ke pesantren.