
"Mas Kafa semakin pandai merangkai kata dan membuat hati seorang wanita berbunga, Mas belajar dari mana kata-kata itu?" bukannya merasa berkesan dan senang, kali ini Salma justru merasa heran dan terkesan biasa saja, mungkin semua yang dia rasakan karena Kafa terlalu sering menggombal, atau bawaan tamu bulanan yang tak kunjung pergi.
"Belajar dari kamu," jawab Kafa santai dan singkat.
"Kok dari aku Mas?" tanya Salma merasa aneh dengan jawaban yang di berikan oleh Salma.
"Tentu saja, aku jadi penyair cinta karena terlena oleh pesonamu," lagi-lagi Kafa menjawab pertanyaan Salma dengan gombalan yang seharusnya bisa membuat Salma senang.
Tapi Salma yang mendengar gombalan Kafa sama sekali tidak merasa senang, entah mengapa dia merasa biasa saja kali ini.
"Mas Kafa, Neng Salma, teh dan camilannya mau di taruh di mana?" kedatangan Mbok Sumik mengalihkan pembicaraan kedua sejoli yang sejak tadi asyik berduaan di tepi kolam.
"Taruh di meja saja Mbok, biar nanti aku ke sana untuk meminumnya." Jawab Kafa tanpa mengubah ataupun menoleh ke arah Mbok Sumik yang langsung menjalankan perintah Kafa tanpa menjawabnya.
"Terima kasih ya Mbok," ucap Salma saat melihat Mbok Sumik sudah meletakkan camilan dan minuman yang dia bawa di atas meja.
"Iya, sama-sama Neng, Mbok permisi dulu." Pamit Mbok Sumik berjalan menjauh meninggalkan Salma dan Kafa yang masih berada di posisi yang sama seperti sebelum Mbok Sumik datang.
"Sayang," panggil Kafa dengan penuh rasa cinta.
"Iya, ada apa, Mas?" sahut Salma.
"Pijitin kepalaku!" pinta Kafa.
"Mas kenapa? sakit kepala?" sahut Salma sambil memijit pelan kepala Kaa yang masih berada di atas pa** Salma.
"Lumayan sakit, ini gara-gara tamu bulananmu kepala Mas jadi pusing," ujar Kafa.
"Apa hubungannya tamu bulanan sama kepala, Mas? perasaan aku yang kedatangan tamu kenapa jafi Mas yang pusing?" tanya Salma merasa aneh dengan apa yang di katakan oleh Kafa.
"Mas pusing seprti ini juga gara-gara mikirin kamu," Kafa kembali mengatakan apa yang membuat Salma merasa semakin aneh.
"Kok aku lagi sih, Mas?" keluh Salma, dia merasa tidak suka jika terus-terusan di salahkan.
"Aku pengen kita menikmati malam indah berdua seperti kemarin, tapi gara-gara tamu bulananmu yang gak pulang-pulang itu, aku tidak bisa mengulanginya," Kafa menjelaskan apa yang membuat dirinya pusing.
"Astaghfirullah, jika hanya itu kenapa Mas sampai menyalahkanku? nanti kalau tamunya sudah pulang, Mas bisa menikmatinya sampai puas," ucap Salma mencoba memberi pengertian agar Kafa lebih bersabar menunggunya.
__ADS_1
Kafa hanya diam tak lagi menjawab ucapan Salma, kini konsentrasinya tertuju pada tangan Salma yang menari indah di atas kepalanya.
"Pijatanmu enak juga, belajar dari mana?" tanya Kafa mengganti topik pembicaraan, Kafa mengerti seperti apapun dia memaksa akan percuma karena tamu yang datang bukan Salma yang mengundang dan Salma tidak bisa mengusirnya.
"Aku tidak pernah belajar memijat Mas, kalau memang menurut Mas Kafa pijatan tanganku ini enak, Alhamdulillah, berarti aku dapat anugerah yang tidak semua orang punya," jawab Salma.
"Dan aku juga bersyukur karena yang mendapatkan anugerah itu istriku, jadi aku bisa menikmati anugerah itu kapanpun aku mau," ujar Kafa yang cukup membuat Salma jengah mendengarnya.
"Tapi aku bukan tukang pijat Mas Kafa, jadi jangan pijat terus-terusan!" sahut Salma.
"Aku tidak setiap hari memintamu memijat kepalaku Sayang, tapi kalau kamu suka maka dengan senang hati aku menerimanya," ucap Kafa.
'Kenapa jadi bahas pijat sih? mana Mas Kafa ngomongnya gak nyambung lagi,' batin Salma seraya mengerutkan dahi bingung dengan apa yang di ucapkan Kafa.
"Mas, aku haus dan cukup lapar, bagaimana kalau kita minum dan makan dulu? kasihan Mbok Sumik sudah membawakan minuman dan makanan yang baru saja di bawakan oleh Mbok Sumik," ajak Salma.
"Ayo!" sahut Kafa seraya mengangkat tubuhnya meninggalkan tempat ternyaman untuknya beristirahat.
Kafa dan Salma menikmati pagi indah dengan secangkir teh hangat dan setoples biskuit yang di siapkan oleh Mbok Sumik.
Di Pesantren ....
"Sial, aku bahkan tidak bisa mengoreksi lembar ujian ini dengan benar," keluh Ghozi sambil melempar kasar lembar ujian yang ada di hadapannya ke atas meja.
"Aku harus membicarakan semuanya dengan Umik, apapun hasilnya nanti aku tetap harus mencobanya, aku tidak ingin terus-terusan membuatnya menunggu dan pada akhirnya dia menyerah karena aku tidak pernah memberi kepastian, sebelum si Tua Daddy nya Sasa itu datang meminangnya, aku harus lebih dulu mendapatkan Tari, percuma aku dapatkan hatinya jika aku sendiri tidak pernah bisa tegas padanya," gumam Kafa yang terus saja memikirkan Tari dalam benaknya, saat ini Tari menjadi penguasa nomor satu dalam diri Ghozi yabg sedang di landa rasa bingung.
Tanpa fikir panjang lagi, Ghozi langsung berdiri berjalan kembali menuju rumah Ummi dan meminta izin untuk pulang, Ghozi harus membicarakannya sekarang sebelum terlambat.
"Assalamualaikum, Ummi," ucap Ghozi sesaat setelah masuk ke dalam rumah Ummi.
"Waalaikum salam, ada apa Ghozi?" tanya Ummi yang terlihat baru saja keluar dari dapur, sepertinya Ummi baru selesai mengambil air wudhu', terlihat dari tetesan air yang menghiasi wajahnya.
"Ummi, setelah menjemput Abah nanti, apa Ghozi boleh izin pulang untuk semalam, besok pagi Ghozi akan kembali ke sini lagi," jawab Ghozi dengan ekspresi. penuh harap yang terlihat jelas di wajahnya.
"Memangnya ada apa? apa ada yang mengkhawatirkan? atau ada kejadian gawat darurat sampai kamu izin mendadak seperti sekarang?" tanya Ummi yang begitu memahami Ghozi, dia tidak akan pulang jika tidak ada alasan yang begitu mendesak.
"Ada sesuatu yang harus aku bicarakan dengan Umik, Ummi. Dan sesuatu ini tidak busa di bicarakan hanua lewat telfon saja, Ghozi harus menemui Umik," Ghozi mencoba menjelaskan alasan apa yang mendasarinya untuk izin pulang, tapi Ghozi masih belum bisa mengatakan dengan jelas pada Ummi tentang apa yang ingin dia bicarakan bersama Umik.
__ADS_1
"Baiklah, kamu boleh pulang, tapi nanti sore setelah menjemput Abah," jawab Ummi yang sangat mengerti jika dirinya tidak bisa memaksa Ghozi untuk menceritakan segalanya, meski Ummi sudah menganggap Ghozi seperti puteranya sendiri, tapi Ummi tetap tidak bisa memaksakan kehendaknya pada Ghozi.
"Terima kasih, Ghozi akan memanasi mesin mobil dan membersihkannya dulu ya Ummi." Pamit Ghozi yang mendapat anggukan dari Ummi yang itu artinya Ghozi sudah mendapat izin dari Ummi.
Ummi hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Ghozi yang terkadang terlihat seperti anak kecil, sahabat dari puteranya yang sudah dia anggap seperti puteranya sendiri itu terlihat lebih dewasa, dulu dia masih remaja dengan gaya sok cool selalu tebar pesona di hadapan santri putri yang ada di pesantrennya.
"Tak terasa waktu berlalu begitu cepat, Ghozi dan Kafa kini sudah dewasa dan umurku pun semakin menua, semoga aku masih punya kesempatan untuk melihat dan merawat cucuku nanti," untaian harapan terucap dari bibir Ummi.
"Mbak Tari!!" teriak Sasa dari kejauhan dia berlari mendekat ke arah Tari yang sedang duduk seraya menulis soal untuk anak didiknya nanti sore.
"Loh, Sasa kok sudah pulang?" tanya Tari, menatap heran ke arah Sasa yang baru saja datang.
"Sasa malas di sekolah ada Kefin," keluh Sasa.
"Kenapa dengan Kefin? bukankah dia baik dan tampan?" tanya Tari bingung mendengar keluhan Sasa.
"Kefin memang baik Mbak, tapi dia selalu beliin Sasa cokelat, Kan Sasa jadi sebel," jawab Sasa dengan ekspresi wajah yang pasti akan membuat gemas siapapun yang melihatnya.
"Loh, kenapa jadi sebel? bukannya seneng dapat cokelat? apa lagi kalau cokelatnya gratis," ujar Tari mencoba mencari tahu alasan Sasa menjadi sebel terhadap Kefin yang biasanya selalu dia puja-puja.
"Sasa tidak suka cokelat Mbak, cokelat itu bisa membuat badan gemuk dan Tari tidak mau jadi gemuk gara-gara kebanyakan cokelat," Sasa menceritakan alasan dirinya yang tidak menyukai cokelat.
"Sasa tahu dari mana kalau cokelat bisa membuat orang gendut?" tanya Tari dengan ekspresi wajah di penuhi rasa penasaran, bagaimana mungkin gadis sekecil Tari sudah bisa tahu kalau cokelat bisa membuat orang gendut.
"Dulu aku sering mendengar Mami berkata kalau cokelat bisa membuat orang gendut, dan aku tidak boleh makan terlalu banyak cokelat biar tidak gendut," Sasa menjelaskan dari mana dirunya tahu kalau coklat bisa membuat orang gendut.
"Kalau Sasa tidak mau, Sasa bisa memberikan coklatnya pada orang lain, misalnya teman Sasa atau berikan saja sama Mbak Tari, tapi Sasa tidak boleh marah ataupun sebel sama Kefin, dia sudah baik mau membelikan coklat untuk Sasa, coklat itu biasanya di sukai kebanyakan anak perempuan mungkin Kefin berfikir kalau Sasa pasti menyukai coklat, sama seperti anak perempuan lainnya," Tari mencoba memberitahu Sasa agar dia mau kembali ke sekolah dan tidak bertengkar lagi dengan temannya.
"Apa benar kebanyakan anak perempuan suka sama coklat Mbak? apa mereka tidak takut gendut?" tanya Sasa.
"Tentu saja mereka suka, siapa yang bisa menolak coklat, Mbak Tari saja suka sama coklat, jika makan satu atau dua bungkus tidak akan membuatmu gendut Sasa," jawab Tari.
"Kalau begitu Sasa mau makan coklat dan Sasa akan minta maaf sama Kefin, karena tadi Sasa sempat marah sama dia," ujar Sasa dengan polosnya.
"Bagus, sesama teman tidak boleh marah-marah Sasa! ingatlah hadist! lataghdob walakal jannah, janganlah marah surga itu bagimu," Tari kembali memberi nasihat yang bisa di terapkan oleh Sasa.
"Baik, Mbak Tari, Sasa akan mengingatnya," ujar Sasa yang terlihat lebih ceria dan bersemangat, dia berjalan kembali meninggalkan Tari menuju sekolahnya karena jam pulang masih belum tiba.
__ADS_1
Tari hanya tersenyum melihat apa yang di lakukan oleh Sasa, sungguh dia terlihat lucu saat ini.