
"Sendirian saja?" tanya seorang pria yang tiba-tiba berjalan mendekat ke arah Salma yang terlihat duduk sendiri di tepi kolam, pria yang Salma belum tahu namanya itu baru saja keluar dari dalam hotel.
Salma mendongak melihat ke arah pria yang bertanya padanya.
"Tidak, aku bersama suamiku," jawab Salma tegas.
"Benarkah? mana suamimu? aku tidak melihatnya," ujar Pria tersebut, seolah meragukan Salma.
"Dia sedang menesan makanan," jawab Salma cuek.
Salma tak terlalu menggubris pria di hadapannya karena dia tidak ingin Kafa salah faham, tapi pria di hadapannya itu terlihat seolah tak percaya dengan apa yang di katakan oleh Salma, dia tetap saja mencoba mendekat.
"Aku akan menemanimu sampai suamimu itu datang." Ujarnya seraya duduk tepat di depan Salma duduk.
"Mohon jangan duduk di situ, aku tidak ingin suamiku salah faham karenanya," pinta Salma dengan ekspresi wajah menelas dia berkata, tapi pria di hadapan Salma benar-benar keras kepala, dia tidak mau pergi dan kekeh untuk tetap duduk di sana.
"Perkenalkan, namaku Riki," ucap pria yang sejak tadi berusaha mendekat ke arah Salma yang kini justru terlihat semakin enggan untuk menanggapinya.
"Aku tidak tanya namamu, dan aku juga tidak ingin tahu," jawab Salma dengan ekspresi enggan yang terlihat jelas di wajahnya.
" Kamu memang tidak mau tahu tentang namaku, tapi aku sangat ingin tahu siapa namamu?" Riki terus saja mencoba mendekati Salma, meskipun Salma tak meresponnya.
Salma terus saja berpaling ke arah yang lain sedang Kafa yang baru saja keluar dari restaurant langsung mempercepat langkahnya setelah melihat Salma duduk ditemani seorang pria yang terlihat tampan di hadapannya.
"Khem," Kafa berdehem mencoba mengalihkan perhatian Salma dan Riki yang tidak menyadari kehadirannya.
"Sayang," sambut Salma dengan mata yang berbinar melihat Kafa sang suami datang, sebenarnya Salma merasa sangat tidak nyaman dengan kehadiran Riki saat ini.
"Dia siapa Sayang?" tanya Kafa yang sedikit meleleh karena Salma tadi tidak hanya memanggilnya dengan sebutan Sayang, Salma langsung berdiri berjalan mendekat ke arah Kafa dan langsung memeluknya dengan erat.
__ADS_1
"Selamat siang pak Kafa," bukannya pergi dan takut dengan kehadiran Kafa, Riki malah menyapanya dengan senyum indah yang mengembang di hatinya.
"Siang, perkenalkan nama saya Riki, putera pemilik hotel ini, selamat menikmati liburannya," Riki memberi sambutan pada Kafa yang kini malah terlihat sedang memeluk sang istri dengan erat.
"Hm, bisakah anda pergi? saya merasa terganggu dengan kehadiran anda di sini," pinta Kafa.
"Tentu saja aku akan pergi, selamat berlibur," sekali Riki tersenyum sambil mempersilahkan Kafa untuk melanjutkan aktifitasnya.
Salma tersenyum melihat betapa mudahnya Kafa mengusir pria yang sejak tadi mengganggu waktu santai miliknya.
"Kenapa kamu tersenyum sekarang Sayang?" tanya Kafa yang justru curiga melihat senyum aneh milik Salma.
"Entahlah Mas, melihat Mas Kafa mengusir dia dengan begitu mudahnya membuat hatiku senang," jawab Salma yang kini sudah melepaskan pelukannya, kembali duduk di mana tadi dia duduk.
"Memangnya apa yang dia lakukan tadi?" tanya Kafa yang kini malah penasaran dengan apa yang terjadi sebenarnya tadi.
"Dia hanya terus mengoceh memperkenalkan diri meski aku tidak merespon," jelas Salma.
"Kok bisa hebat Mas?" Salma yang heran langsung bertanya.
"Kamu hebat bisa menolak dan mengabaikan seorang Riki, pria tampan yang tajir tujuh turunan," Kafa menjelaskan alasan dirinya memuji Salma.
"Aku hanya melakukan apa yang menurutku benar, Mas, tapi seharusnya aku tadi tidak menolaknya, kan lumayan dapat gebetan tajir," ujar Salma dengan maksud bercanda, sedang Kafa langsung terbakar api cemburu melihat dan mendengarkan Salma.
"Coba saja kalau kamu berani! aku akan tarik kamu masuk ke dalam kamar dan akan ku buat kamu tak bisa berjalan lagi karena kelelahan, kamu akan tidur di atas kasur seharian karena ulahku," ancam Kafa dengan tatapan tajam yang cukup membuat Salma ngeri melihatnya.
"Isshhh ancamanmu mengerikan sekali Mas," ujar Salma dengan ekspresi wajah takut yang terlihat jelas di wajahnya.
"Biarin, siapa suruh kamu coba-coba main api di depanku," ujar Kafa yang terlihat tidak perduli dengan apa yang di katakan oleh Salma
__ADS_1
"Aku bukan gadis gampangan yang mudah berpaling ataupun main hati dengan laki-laki lain, Mas, jadi kamu tenang saja," sahut Salma.
"Sudah jangan bahas sesuatu yang akan membuatku marah, lebih baik sekarang kita makan apa yang telah aku beli untukmu." Kafa yang tidak ingin meneruskan percakapan yang pasti berujung pertengkaran.
Keduanya makan dengan penuh kenikmatan, hingga tak ada satu sisa makanan di atas meja, semuanya tandas tak tersisa.
Kafa mengajak Salma kembali ke kamar hotel setelah menghabiskan makanan yang tadi ada di atas meja, kemudian berniat mengajak Salma kembali jalan-jalan ke mall yang berada di samping hotel tersebut.
"Memangnya kita mau ke mana lagi sih, Mas?" tanya Salma setelah mandi dan bersiap sesuai dengan apa yang di perintahkan oleh Kafa.
"Kita akan jalan-jalan, dan tugasmu hanya diam mengikuti apa yang aku katakan! Jangan banyak protes Sayang!" sahut Kafa sebelum mendapat protes dari sang istri yang sebenarnya terlihat enggan untuk pergi.
"Bisakah kita istirahat di kamar saja?" Salma membuat penawaran yang membuat Kafa tersenyum licik ke arahnya.
"Tentu saja, aku akan sangat senang menghabisakan waktu di kamar, apa lgi berdua denganmu, aku bisa bermain sepuas hatiku dan kita bisa bergulat di sana," ujar Kafa seraya menunjuk ke arah springbad besar yang terletak di pojok ruangan.
"Tidak jadi, ayo jalan-jalan!" Salma yang tadi terlihat enggan untuk pergi mendadak langsung semangat setelah mendengar ucapan Kafa, sungguh dia akan merasa jauh lebih lelah kalau bergulat dengan Salma.
Kafa kembali tersenyum setelah mendengar jawaban Salma yang sesuai dengan apa yang dia harapkan.
"Baguslah, ayo pergi!" ajak Kafa meraih tangan Salma dan membawanya keluar dari kamar menuju halaman hotel di mana mobil Kafa sudah di siapkan oleh petugas hotel sebelumnya.
Kafa dan Salma menempuh perjalanan yang cukup singkat, hanya melewati dua gedung mereka sudah sampai di halaman Mall yang terlihat begitu ramai karena hari ini adalah hari minggu di mana ada banyak pemuda pemudi yang sedang menghabiskan waktu malam minggunya.
"Kita mau ngapain ke sini, Mas?" tanya Salma menatap penuh heran ke arah Mall yang ada di hadapannya.
"Hari ini kita akan belanja baju baru untukmu," jawab Mas Kafa.
"Tapi bajuku masih bagus-bagus Mas, untuk apa beli lagi?" tanya Salma yang merasa tidak perlu beli baju baru.
__ADS_1
"Baju yang lama dan tidak terpakai lebih baik kamu sumbangkan saja!" ujar Kafa santai.