Cahaya Cinta Salma

Cahaya Cinta Salma
Ulang Tahun Sasa


__ADS_3

Satu persatu pelayan yang di Bawa oleh Ayah Sasa berjalan dengan setumpuk makanan yang di kemas rapi dalam kotak dan juga beberapa makanan ringan yang terbungkus rapi dalam sebuah plastik dengan gambar kartun kesukaan Sasa yaitu putri salju.


Sasa tersenyum lebar sambil sedikit melompat melihat sang Daddy datang dengan kado yang cukup besar di tangannya, sedang dua pelayan di belakangnya membawakan satu kue ultah bertingkat dengan gambar putri salju di atasnya,


Semua terlihat begitu istimewa dan megah, hal itu tidak luput dari perhatian para santri lainnya, mereka tidak pernah menyangka jika Sasa yang polos dan periang itu sekaya saat ini, awalnya mereka hanya mengira jika Sasa seorang putri dari orang biasa yang cukup terpandang, tapi tak di sangka ternyata Sasa takut melintir.


"Selamat ulang tahun putri Daddy," ujar Daddy Sasa dengan senyum yang merekah di wajahnya menghampiri sang putri yang tengah berdiri menunggunya.


"Terima kasih Daddy," sahut Sasa berlari ke arah sang Daddy kemudian memeluknya erat penuh cinta.


"Sama-sama my princes, apapun yang kamu mau, Daddy pasti akan kabulkan," ujar Daddy Sasa sambil mencium pipi Sasa yang terlihat sedikit berisi dari pada biasanya.


"Kalau Sasa minta Mami baru, apa Daddy akan mengabulkannya?" tanya Sasa dengan wajah penuh harap yang terlihat jelas di wajahnya.


"Tentu saja, apapun yang kamu minta akan Daddy kabulkan," jawab Daddy Sasa dengan senyum yang terlihat meyakinkan jika dia benar-benar akan mengabulkan permintaan Sasa.


"Kalau Sasa minta Mbak Tari jadi Mami Sasa, apa Daddy setuju?" tanya Sasa yang cukup membuat Tari dan Ummi terkejut setelah mendengarnya.


Sedang Daddy Sasa hanya diam tanpa bisa berkomentar, dia tidak bisa mengiyakan apa yang putrinya mau, karena Daddy Sasa tidak bisa memaksa Tari untuk mencintai, apa lagi menyayangi dirinya.


"Khem," suara Ghozi terdengar mengganggu telinga mengalihkan pandangan Sasa dan yang lainnya.


"Ghozi, ada apa?" tanya Ummi yang merasa aneh dengan kedatangan Ghozi yang tiba-tiba.


"Ummi, ada banyak orang di dalam pesantren, mereka membawa kotak makanan katanya mau di taruh di depan kantor, apa Ummi yang menyuruh mereka?" Ghozi mengatakan apa yang ingin dia katakan.


"Oh, iya, hari ini ulang tahun Sasa dan dia ingin merayakan ulang tahunnya di depan kantor," jawab Ummi.

__ADS_1


"Baiklah, kalau begitu Ghozi permisi." Pamit Ghozi dengan ekspresi wajah melas dan setumpuk kertas ujian yang belum selesai di koreksi berada di tangannya.


"Kamu mau ke mana, Ghozi?" tanya Ummi mencegah langkah Ghozi yang ingin segera pergi meninggalkan Daddy dan Sasa yang tengah berdiri tak jauh dari tempatnya berdiri.


"Aku mau ke kamar, Ummi." Jawab Ghozi santai.


"Apa tidak sebaiknya kamu juga ikut menemani Sasa merayakan ulang tahunnya?" Ummi kembali bertanya.


"Pekerjaanku masih banyak Ummi, dan aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja," jawaban yang cukup membuat Tari tersindir karenanya.


"Nanti kita koreksi bareng-bareng lagi Mas Ghozi, lebih baik sekarang Mas Ghozi juga ikut menemani Sasa merayakan ulang tahunnya." Sahut Tari yang sejak tadi diam membisu.


Ghozi sejenak berfikir, jika dirinya tidak ikut merayakan ulang tahun Sasa maka Daddy Sasa bisa leluasa mendekati Tari dan Ghozi pasti akan menyesal jika Keduanya semakin dekat atau bahkan menikah.


"Baiklah, aku ikut, tapi aku akan menyimpan lembar ujian ini dahulu." Pamit Ghozi berjalan cepat menuju kamarnya, fikiran Ghozi kembali bekerja memikirkan apa yang bisa dia lakukan agar Daddy Sasa bisa menjauh dari Tari.


"Terima kasih, Ummi," jawab Daddy Sasa sopan.


Sebenarnya Daddy Sasa tidak berniat menjadikan Sasa seorang santri di usia dini, tapi keadaan memaksanya untuk melakukan semua itu, Daddy Sasa tidak bisa terima jika puteri kesayangannya itu di ambil oleh orang lain, meskipun orang itu saudara istrinya sendiri, karena hal itulah Daddy Sasa mengambil keputusan untuk menaruh Sasa di pesantren dan akan mengambilnya lagi jika sudah waktunya tiba nanti.


Semua orang bergembira mendapat makanan dan kue gratis dari Sasa, bukan cuma teman sekamar yang mendapat jatah dari Daddy Sasa, seluruh santri di pesantren Ummi juga mendapatkan jatah makanan termasuk Mbok Bat yang hari ini bisa beristirahat dengan sangat tenang dan nyaman, karena dirinya tidak perlu masak sebanyak biasanya.


"Terima kasih Sasa, semoga kamu bisa jadi anak yang soleh dan berbakti ke kedua orang tua ya," untaian dia terdengar dari bibir Mbok Bat.


"Cukup doakan Sasa bisa punya Mami baru saja Mbok, biar Sasa bisa tinggal bersama dengan Daddy lagi, dan Sasa bisa punya keluarga yang lengkap," sahut Sasa yang cukup menghujam hati Daddynya yang kini cuma bisa menatap pilu ke arah puteri kecil kesayangannya itu.


"Amin, Mbok do'a kan semoga Sasa bisa cepet dapat Mami baru," sahut Mbok Bat seraya mengusap lembut kepala Sasa yang tertutup rapi oleh kerudungnya.

__ADS_1


"Aminnn," ujar Sasa polos seraya mengusap wajahnya dengan kedua tangan.


'Jika Mami yang kau maksud bukan Tariku, maka aku juga akan mengamininya, tapi jika Mami itu Tariku, maaf Sasa, aku tidak bisa melepaskannya begitu saja, aku akan tetap terus berusaha agar Tari bisa menjadi pendamping hidupku,' batin Ghozi seraya menatap lekat ke arah Sasa yang kini kembali memotong kue untuk teman-temannya.


"Tari!" panggil Daddy Sasa saat melihat Tari hanya diam memperhatikan Sasa yang sedang menikmati makanan yang Daddynya bawa dengan teman-teman sekamar yang kini duduk bergerombol bersama dirinya.


"Iya, ada apa?" sahut Tari menoleh ke arah Daddy Sasa yang terlihat masih berdiri di tempatnya.


"Apa kita bisa bicara berdua saja?" tanya Daddy Sasa dengan wajah penuh harap yang tampak jelas di wajahnya.


"Bisa, ada apa ya?" Tari berjalan mendekat ke arah Daddy Sasa yang duduk sedikit menjauh dari yang lain tapi masih terlihat.


"Kamu terlihat begitu dekat dengan Sasa," ujar Daddy Sasa.


"Aku memang menyukai anak kecil, apa lagi Sasa satu kamar denganku, karena. itulah kami jadi dekat, lagi pula aku ketua kamar di sana, sudah jadi tanggung jawabku mengontrol dan mengetahui apa yang terjadi pada anggota kamarku," jawab Tari dengan maksud agar Daddy Sasa tidak salah faham dengan kedekatan yang terjalin antara dirinya dan Ada.


"Terima kasih karena kamu sudah bersedia menjaga puteriku," sambung Daddy Sasa dengan senyum yang kini terlihat jelas di wajahnya.


"Sama-sama, aku juga akan melakukan hal yang sama pada santri lain, jadi anda tidak perlu sungkan!" jawaban yang cukup menegaskan jika Tari sama sekali tidak berfikir untuk menjadi Ibu sambung untuk Sasa.


Daddy Sasa terdiam mencerna setiap kata yang keluar dari bibir Tari, dia bukan orang bodoh yang tidak mengerti maksud dari ucapan Tari barusan, tapi Daddy Sasa tidak mau menyerah dan kalah dengan apa yangdi katakan oleh Tari.


"Apa kamu sudah memiliki pasangan, Tari?" tanya Daddy Sasa.


"Pasangan bagaimana maksud anda?" sahut Tari yang sengaja memanggil Daddy Sasa dengan sebutan Anda, dia tidak ingin Daddy Sasa mengira jika dirinya memiliki harapan untuk menjadi istrinya karena dekat dengan putrinya.


"Calon imam atau calon suami misalnya," Daddy Sasa menjelaskan apa yang dia maksud.

__ADS_1


__ADS_2