Cahaya Cinta Salma

Cahaya Cinta Salma
Doaku Selalu Bersamamu


__ADS_3

"Doaku selalu bersamamu Ghozi, tapi satu saranku, jangan memaksa sesuatu yang memang bukan takdirmu!" Tari mencoba mengingatkan Ghozi tentang takdir yang memang tak bisa di ubah.


"Meski begitu aku akan tetap memintamu agar menjadi teman hidupku," sahut Ghozi yang tak mau kalah dengan Tari.


Tari kembali melangkah meninggalkan Ghozi tanpa membawa kalung yang sudah di berikan oleh Ghozi.


Di sudut kolam ada sepasang mata tengah menatap tajam dan telinga yang sedang menajamkan pendengarannya, seutas senyum muncul meski tak dapat di lihat karena dia berada di sisi kolam yang gelap.


'Aku mendukungmu, dan aku akan membantu kesulitanmu jika kamu sudah berani jujur dan menceritakan segalanya padaku,' batinnya yang kini masih betah berdiam di tempatnya, sedang Ghozi ikut melangkah tapi ke arah yang berbeda karena kamar keduanya memang berbeda.


"Mas," keluh Salma saat merasakan sebuah tangan melingkar indah di perutnya, saat ini Salma sedang menikmati pemandangan dari jendela balkon yang ada di kamarnya.


"Semoga Kafa junior bisa tumbuh di sini, rasanya sudah tidak sabar untuk menimang dan mendengar celotehan mereka," ujar Kafa dengan penuh harapan dia mengungkapkan apa dia rasakan.


"Semoga saja, tapi ngomong-ngomong, Mas Kafa memang sudah siap punya anak?" tanya Salma yang merasa sedikit aneh dengan ucapan Kafa yang tiba-tiba membahas seorang anak di antara mereka sedangkan sebelumnya Kafa tidak pernah mengatakan apapun tentang anak.


"Aku sangat siap Sayang, dan aku selalu berharap bisa segera mendapatkan anugerah terindah itu," jawab Kafa penuh dengan keyakinan dan ketegasan.


"Bagaimana denganmu?" sambung Kafa yang kini berbisik tepat di telinga Salma yang masih berdiri di hadapannya dan berada di dalam pelukan Kafa.


"Aku seorang wanita Mas, memiliki anak adalah hal yang paling di dambakan oleh setiap wanita, termasuk aku," sahut Salma.


Kafa terus saja menjelajah, menikmati setiap inci kulit Salma, awalnya Salma tak merasakan apapun, hingga gigitan dan hisapan penuh cinta di berikan Kafa, suara indah tanpa di sengaja terdengar menggentarkan gelora jiwa, hasrat yang terpendam perlahan terbuka, ada rasa nikmat bercampur rasa ingin lebih timbul begitu saja.

__ADS_1


Kafa yang merasa mendapat lampu hijau dari Salma meneruskan aksinya, mengabsen setiap lekuk tubuh Salma yang kini tak berbalut busana, entah sejak kapan Salma berpindah, dia sudah berada di atas kasur dengan Kafa yang mengungkung di atasnya.


"Apa kita bisa mulai menabung Sayang?" pertanyaan aneh yang terdengar dari bibir Kafa sukses membuat Salma terdiam sambil mengerutkan dahi bingung.


"Menabung bagaimana maksudnya Mas?" spontan Salma bertanya.


"Menabung bagian tubuh agar segera terisi sempurna di dalam perutmu," jawaban aneh yang membuat Salma menggelengkan kepala mendengar apa yang di katakan oleh Kafa.


Kafa tersenyum manis ke arah Salma sambil melanjutkan misinya, menabung anggota tubuh agar segera lengkap di dalam rahim sang istri, ciu***n, lum****n, hingga hisapan telah Kafa berikan, lantunan merdu suara Salma yang melangit penuh nikmat semakin membuat Kada bersemangat untuk menuntaskan apa yang telah dia mulai, di temani dengan hujan rintik-rintik yang sedang turun di luar rumah memperlengkap suasana syahdu dan hawa dingin yang kini berubah jadi hangat karena aktifitas keduanya, Kafa terus menyalurkan setiap rasa cinta yang ada di dalam hatinya, hingga satu hentakan cukup keras menjadi pertanda jika Kafa sudah sampai di puncak kenikmatan.


'Cup'


"Terima kasih Sayang," ucapan dan kec***n yang selalu di berikan oleh Kafa setia mereka selesai menyatukan dua raga yang bersatu karena cinta.


"Sayang, mandi pakai baju dulu!" titah Kafa saat melihat sang istri malah menggulung dirinya di dalam selimut.


"Mas mandi duluan, aku akan mandi setelahnya," jawab Salma dengan mata yang sudah tertutup.


Kafa hanya bisa menghembuskan nafas pelan melihat tingkah sang istri yang memang selalu seperti itu setiap kali keduanya selesai berolahraga. Sedang Salma memang sengaja menutup dirinya dengan selimut karena Salma tidak ingin kejadian kemarin kembali terulang di mana Kafa kembali meminta jatah saat berada di kamar mandi, dan Salma yang tak berdaya hanya mampu mengikuti apa yang di minta oleh Kafa.


"Baiklah, kalau begitu aku mandi duluan." Pamit Kafa melenggang pergi meninggalkan Salma yang masih saja setia memejamkan mata di balik selimut penyelamat.


"Hm," sahut Salma singkat.

__ADS_1


Kafa hanya menghembuskan nafas kasar melihat tingkah sang istri, dia sudah hafal dengan apa yang di lakukan Salma, dari pada berdebat ataupun berselisih Kafa memilih untuk diam dan membiarkannya.


Malam indah penuh cerita dan cinta telah terlewati, pagi menyongsong menyinari bumi yang gelap gulita karena matahari yang kembali ke peraduan kini mulai merangkak naik menunjukkan diri.


"Sayang bangun!" suara merdu milik Kafa terdengar mengusik telinga Salma yang masih terlelap dalam mimpi indahnya, padahal adzan sudah berkumandang setengah jam yang lalu.


"Hoammm," Salma menguap merasakan rasa ngantuk yang masih menguasai dirinya.


Semalam, Salma tertidur dan tidak bisa melakukan apa yang seharusnya di lakukan setelah berolahraga.


"Lima menit lagi, Mas," Salma mulai melakukan penawaran yang jelas di tolak oleh Kafa, waktu sholat subuh sudah hampir habis dan Salma pasti aka memasarkannya jika dia tidak segera bangun untuk pergi mandi dan melaksanakan sholat saat ini juga.


"Salma!" sekali lagi Kafa mencoba membangunkan Salma karena dia sangat tahu dengan pasti jika Salma di biarkan terus tidur maka dia tidak akan sholat.


"Iya, sebentar," jawab Salma yang langsung berdiri berjalan dengan santai menuju kamar mandi tanpa di sadari jika saat ini tubuhnya hanya berbalut pakaian dalam


"Khem," Kafa berdehem mencoba menyadarkan Salma dengan apa yang terjadi.


Rapi Salma yang kurang peduli langsung masuk ke dalam kamar tanpa memperdulikan Kafa yang justru tersenyum senang karena mendapat pemandangan indah di pagi hari.


"Salma, Salma, aku tidak pernah menyangka jika aku bisa segala ini mencintaimu, kamu memang gadis paling sempurna untuk menjadi istriku, meski aku tahu jika tak ada yang sempurna di dunia ini," gumam Kafa yang terus menatap pintu kamar mandi dengan senyum yang mengembang di bibirnya, sungguh Salma memang paling bisa membuat Kafa mabuk kepayang karenanya.


"Arggghhhhhhh ..." suara jeritan Salma terdengar sangat keras di dalam kamar mandi dan teriakan Salma sukses membuat Kafa melompat terkejut dan langsung berlari mendekat ke arah pintu kamar mandi untuk memastikan apa yang telah terjadi.

__ADS_1


"Sayang, apa kamu baik-baik saja? ada apa?" rentetan pertanyaan keluar dari bibir manis Kafa saat dia sudah berada di depan pintu kamar mandi.


__ADS_2