
Mood Kafa benar-benar hancur setelah kejadian tadi, tanpa ada kata lagi Kafa berusaha memendam amarah yang sebenarnya masih tersisa dalam hatinya.
"Maaf Mas Kafa, ini murni kesalahanku, jadi jangan salahkan Neng Salma, aku yang salah," Kafa mencoba menolong Salma, dia khawatir Salma di marahi oleh Kafa.
"Sudahlah, jangan di bahas! lebih baik kamu pergi saja!" titah Kafa.
Kafa tak ingin melihat Ghozi terlalu lama saat ini, bagaimanapun di permainkan seperti tadi benar-benar menjengkelkan.
"Baiklah aku pergi, maafin aku Mas Kafa," sekali lagi Ghozi meminta maaf yang hanya mendapat angguk'an dari Salma yang kini hanya diam tanpa kata.
"Kamu mau minum yang mana?" tawar Kafa menunjukkan dua bungkus es berbeda rasa dan tentunya beda kedai.
Salma hanya diam tidak menjawab, dia mengambil es Boba yang belum pernah tahu rasannya.
"Setelah ini kita langsung pulang." Tutur Kafa yang membuat Salma terkejut, dia langsung menoleh ke arah Kafa sambil menikmati es Boba yang terasa begitu segar di tenggorok'an.
"Kenapa langsung pulang? aku masih ingin di sini Mas Kafa," sahut Salma yang tak rela jika Kafa mengajaknya pulang.
"Aku lelah dan ingin beristirahat, jadi lebih baik kita pulang," jawab Kafa.
'Dasar Mas Kafa, sifat seenaknya sendiri kambuh lagi,' batin Salma sambil memanyunkan bibirnya.
Kafa hanya bisa diam melihat sikap Salma, dia kembali duduk menikmati es degan yang sudah dia beli sebelumnya.
"Terus saja memanyunkan bibir seperti itu! aku akan memberimu pelajaran jika itu terus terjadi," ujar Kafa yang semakin lama merasa gemas dengan apa yang di lakukan oleh Salma.
"Aku mau ke toilet." Sahut Salma seolah tak perduli dengan peringatan yang di berikan oleh Kafa.
__ADS_1
"Kamu ingin aku mengentarmu atau berangkat sendiri?" tanya Kafa.
"Kalau Mas Kafa mau ikut ke toilet wanita, aku tidak keberatan," ujar Salma.
"Pergilah! aku tunggu kamu di sini, tapi jangan lama-lama!" sahut Kafa yang tidak mungkin mengantar Salma sampai ke toilet wanita yang ada nanti Kafa di serang oleh penghuni toilet lainnya.
"Tenang gak akan lama, paling cuma satu jam," ucap Salma seraya mempercepat jalannya menghidari Kafa yang pasti akan mengomel karena jawaban yang di berikan oleh Salma.
Salma melangkah menuju kamar mandi menunaikan apa yang mendesaknya datang ke tempat pembuangan tersebut.
"Neng Salma!" panggil Mbok Sumik yang kebetulan baru saja selesai dari kamar mandi.
" Loh, Mbok di sini juga?" sahut Salma.
"Iya, Mbok baru saja selesai, Neng Salma sedang apa di sinj?" tanya Mbok Sumik.
"Aku habis buang air Mbok," jawab Salma.
"Tidak Neng, Mbok sudah selesai, kenapa Mas Kafa tiba-tiba ngajak pulang? apa ada sesuatu yang buruk terjadi Neng?" tanya Mbok Sumik yang terlihat mengerti dengan apa yang sedang terjadi.
"Biasa Mbok, Bos besar kalau sudah bad mood anak buahnya kena damprat seperti sekarang ini." ujar Salma yang cukup membuat Mbok Sumik tertawa kecil mendengarnya.
"Neng Salma bisa saja," ujar Mbok Sumik.
"Sudahlah, lebih baik sekarang kita susulin Mas Kafa dari pada nanti dia marah lagi," ajak Salma meraih lengan Mbok Sumik kemudian berjalan kembali menemui Kafa yang masih anteng duduk di tempat duduk yang tadi di tempati Salma.
Kafa langsung berdiri berjalan menuju mobil di ikuti Salma dan Mbok Sumik, dan terbayar Ghozi juga sudah siap menunggu di samping mobil.
__ADS_1
"Sejak kapan kamu di sini Ghozi?" tanya Salma saat dia melihat Ghozi sudah menunggu ketiganya.
"Sejak tadi," jawab Ghozi singkat, dia sangat faham jika saat ini Kafa masih sangat marah padanya, karena itulah Kafa lebih memiih diam dan mengikuti semua perintah Kafa, dan yang paling penting Ghozi harus menjaga jarak dengan Salma yang menjadi sumber kemarahan Kafa saat ini.
'Kenapa Ghozi jadi aneh seperti itu?' batin Salma menatap heran ke arah Ghozi yang terlihat cuek dan menghindar darinya.
"Ayo Neng Salma!" ajak Mbok Sumik saat melihat Salma hanya diam mematung di tempatnya.
"Eh, iya Mbok, mari!" sahut Salma yang kini ikut berjalan di belakang Mbok Sumik masuk ke dalam mobil.
Suasana mobil sangat berbeda dari tadi sewaktu berangkat dengan sekarang saat pulang kembali ke rumah, tak ada satupun yang berbicara, semua diam, suasana hening seperti tak ada yang menaikinya, hingga mobil sampai di halaman rumah Kafa dan yang lain langsung masuk sedang Kafa memarkirkan mobil ke tempat semula.
Pagi ini memang indah hanya saja jika Kafa tak marah-marah tadi pagi, bisa di pastikan jika saat ini Salma dan yang lain masih berada di tempat acara di langsungkan, tapi Kafa tetap lah Kafa, dia tidak terbantahkan dan bisa di pastikan Kafa akan semakin marah jika Salma dan yang lain tidak segera pergi mengikuti langkahnya.
'Brak'
Kafa menutup kasar pintu kamar di mana Salma yang juga baru masuk terkejut karenanya.
Kafa berjalan dengan langkah acuh masuk ke dalam kamar mandi kemudian menutupnya juga dengan gerakan keras.
"Astaghfirullah, kenapa jadi semarah ini?" gumam Salma merasa heran dengan apa yang di lakukan oleh Kafa.
Salma memilih merebahkan dirinya di atas kasur, menikmati setiap denyut rasa terkejut yang sedang menguasai hatinya, bagaimanapun Salma merasa apa yang di lakukan Kafa saat ini bukanlah hal yang baik, sungguh Salma tak bisa menerima apa yang terjadi, tapi dia juga tidak bisa melawan ataupun menjelaskan apapun karena dia juga telah melakukan kesalahan.
Perlahan tapi pasti Salma mulai tertidur, akhir-akhir ini Salma mudah sekali tertidur mungkin itu terjadi karena suasana kamar yang begitu sejuk di tambah kasur yang terasa begitu nyaman.
Apa yang di rasakan Salma berbanding terbalik dengan apa yang di rasakan oleh Kafa, sungguh hatinya terasa begitu sakit, ingin rasanya saat ini dia pergi memarahi Salma dan Ghozi yang sudah mempermainkannya, tapi Kafa tak bisa melakukan apapun, dia tak bisa sepenuhnya menyalahkan keduanya karena dirinya juga salah, tanpa memeriksa lebih dulu Kafa langsung marah-marah tidak jelas.
__ADS_1
"Seandainya tadi aku memeriksa dulu siapa yang duduk di samping Salma, semua ini pasti tidak akan terjadi," lirih Kafa menyesali apa yang sudah dia lakukan.
Kafa memang menjadi tempramental dan mudah cemburu, dia juga sangat posesif terhadap Salma karena trauma yang dia rasakan, penghianatan yang di lakukan oleh mantannya dulu sangat berdampak pada Kafa sekarang, sungguh apa yang telah terjadi benar-benar mengubah kepribadian Kafa, meskipun dia sudah lebih baik, tapi Kafa tak bisa kembali seratus persen seperti dulu.