
"Jangan mencari alasan kamu! kalau ngelanggar peraturan ya melanggar aja, kalian akan tetap di hukum," ujar Kafa.
"Apa? di hukum? kami memang salah apa?" kini Salma mulai mengeluarkan suara setelah mendengar sebuah hukuman yang di ucapkan oleh Kafa.
"Iya, di sini bukanlah wilayah yang di perbolehkan untuk santriwati, dan kalian hrus tahu jika ada santriwati yang bermain ataupun berada di sini tanpa kepentingan, ataupun sengaja berlama-lama di sini setelah tugasnya selesai, maka akan ada hukuman yang harus kalian tanggung!" Kafa membeberkan apa yang harus di ketahui oleh kedua gadis yang ada di hadapannya.
"Kenapa kita harus di hukum? kita itu tadi buang sampah! apa salahnya buang sampah?" Tari masih tidak terima jika mendapat hukman dari Kafa.
"Tari benar, kita tadi buang sampah." Imbuh Salma.
"Niat kalian buang sampah memang tidak salah, tapi dengan kalian duduk dan tidak langsung kembali ke dalam pesantren merupakan sebuah kesalahan yang harus mendapat hukuman," Kafa menjelaskan letak kesalahan yng di lakukan Salma dan Tari.
Mendengar keputusan bulat dari Kafa yang merupakan putera dari pemilik pesantren dan itu artinya Kafa memiliki hak untuk menegakkan peraturan yang berlaku di pesantren tanpa bisa di lawan oleh Salma dan Tari. Keduanya menghembuskan kasar mencoba menahan emosi yang kini menguasai keduanya.
"Baiklah, apa yang harus kita lakukan?" ucap Salma dengan nada kurang enak di dengar.
Tari yang mendengar ucapan Salma langsung menoleh ke arahnya sambil melotot, Tari begitu terkejut dengan apa yang baru saja di katakan oleh Salma, bagaimana bisa Salma langsung menerima hukuman begitu saja, sedang dia merasa jika dirinya dan Salma tak melanggar apapun.
"Kalian harus membersihkan kamar mandi khusus tamu yang ada di samping kamar Ghozi!" titah Kafa.
Di halaman depan rumah Ummi memang ada dua ruang kamar yang satu di tempati Ghozi dan yang satu khusus untuk tamu atau wali santri yang rumahnya jauh untuk menginap. Di sebelah kedua kmar itu juga ada satu kamar mandi yang di khusus kan untuk para tamu.
"Hanya itu?" tanya Salma dengan nada dan tatapan mengejek.
Kafa seketika terdiam setelah mendengar pertanyaan mengejek yang keluar daei bibir Salma.
__ADS_1
"Mas Kafa yang terhormat, kamu tenang saja kami akan menyelesaikan hukuman kecil itu, ayo Tari!" Salma langsung menarik tangan Tari setelah mengambil tong sampah yang berada tepat di belakang Kafa.
Kafa semakin tercengang melihat sikap Salma yang jauh berbeda dari biasanya, dia hanya bisa diam menatap kepergian Salma tanpa bisa melawannya lagi hingga keduanya menghilang di balik gerbang kecil menuju pesantren.
"Wah kamu keren Salma, aku salut denganmu," puji Tari saat mereka sudah berada di dalam pesantren.
"Keren bagaimana maksudmu Tari?" tanya Salma dengan ekspresi penasaran yang terlihat di wajahnya.
"Kamu berbicara dengan nada sangat lembut, tapi sungguh menusuk hati, mantap!" Tari menunjukkan dua jari jempolnya ke arah Salma sebagai tanda jika dia benar-benar memuji apa yang baru saja di lakukan oleh Salma.
"Sudahlah, apa yang aku katakan tadi bukan apa-apa, aku hanya sedikit geram saja melihat Mas Kafa, karena aku yakin dia hanya mencari alasan agar kita di hukum," sahut Salma seolah mengerti dengan maksud terselubung dalam diri Kafa.
"Jadi setelah ini kita akan membersihkan kamar mandi donk," keluh Tari dengan ekspresi wajah yang di buat semelas mungkin.
"Mau bagaimana lagi? kita juga harus menjalankan hukuman yang di berikan, sebelum akhirnya Mas Kafa memiliki alasan untuk menambah hukuman kuta, dia akan semakin senang karenanya," Salma mencoba memberi pengertian pada Tari agar dia mengerti konsekuensi yang akan terjadi jika mereka tidak melaksanakkan hukumannya.
"Kamar mandinya udah bersih Salma, kita harus ngapain?" celetuk Tari sesaat setelah sampai di kamar mandi yang di maksud oleh Kafa.
Bagaimana tidak bersih dan kinclong baru satu hari yang lalu kamar mandi yang mereka datangi sudah di bersihkan oleh para santri.
"Syukurlah, kita cuma perlu suram dan semprot-semprot saja, lumayan buat hiburan, kita bisa main-main di sini," sahut Salma mulai membukan penyumbat air yang ada di tempat air.
"Kamu benar Salma, kenapa kuta meski bingung dan mengeluh, anggap aja kita lagi main air," Tari kini mengambil selang yang berada di luar kamar mandi kemudian mulai menyemprotkannya ke sudut kamar mandi.
"Bagaimana? bukankah perkataanku benar?" tanya Salma.
__ADS_1
"Perkataan yang mana Salma?" Tari kembali bertanya karena dia tak mengerti dengan perkataan yang di maksud oleh Salma.
"Perkataanku yang mengatakan jika hukuman yang di berikan Mas Kafa itu sangat mudah," jelas Salma.
"Kamu benar, tapi ngomong-ngomong kenapa kamu bisa tahu hukuman kita ini begitu ringan?" Tari kembali bertanya.
"Satu hari yang lalu Kan hari jum'at Tari, dan kau tahu bukan jika setiap hari jum'at seluruh santri selalu bersih-bersih pesantren, otomatis seluruh sudut pesantren sudah bersih dan kita tinggal menguras dan mengisi kembali air di tempat air ini tanpa perlu menyikatnya lagi," jawab Salma dengan senyum yang mengembang di bibirnya.
Jika Salma dan Tari sedang asyik membersihkan kamar mandi yang sebenarnya tidak kotor, maka sangat berbeda dengan Intan yang saat ini sedang asyik mengobrol dengan Salman sang sepupu.
"Salman, kau tahu, ternyata Kafa itu anak seorang kiyai besar di sini, pesantrennya luas dan muridnya juga banyak, aku yakin dia pasti sangat tajir," ujar Intan dengan mata yang berbinar.
"Kamu itu cinta sama orangnya apa sama hartanya sih Intan?" sahut Salman menatap aneh ke arah wajah Intan yang terlihat di layar ponselnya.
"Dua-duanya," jawab Intan enteng.
"Dasar kau matre," ejek Salman.
"Sebagai seorang wanita yang akan menjadi seorang Ibu kita wajib memikirkan masa depan anak kita kelak, jadi kita harus pilih pasangan yang mapan agar kelak mereka tidak bingung mencari biaya untuk pendidikan dan kehidupan mereka," Intan menjabarkan alasan yang mendasarinya mencari seorang laki-laki mapan untuk pasangan hidupnya.
"Terserah kami saja, pesanku hanya satu, jaga diri baik-baik!" ujar Salman.
Sejak kecil Salman dan Intan memang sering bersama, keduanya begitu dekat satu sama lain, bahkan mereka saling menyayangi, bagi Salman Intan sudah dia anggap seperti adik kandungnya sendiri bukan sepupu, begitu pula sebaliknya.
"Siap, kamu tenang saja, aku gadis yang tangguh tak akan mudah menyerah," jawab Intan.
__ADS_1
"Aku mau pergi dulu. Videonya di terusinnanti saja." Pamit Salman yang mendapat anggukan dari Intan sebagai tanda jika dia setuju.