
"Wah kamu cepet amat ada di sini Ghozi?" tegur Kafa yang baru saja sampai di meja makan.
"Aku mencium aroma soto dari ruang keluarga, jadi tanpa banyak berfikir aku datang aja ke sini. Tapi pas udah di sini yang punya rumah malah belum nongol," jawab Kafa santai.
"Dasar kau ini, tetap aja sama seperti dulu," cicit Kafa seraya menggelengkan kepala mengingat setiap hal yang dulu pernah mereka lewati.
Ghozi adalah orang pertama yang akan datang jika ada makanan yang dia suka atau makanan yang sedang ingin dia makan, bagi Ghozi sepiring makanan kesukaannya dapat menambah tenaga untuk menghadapi kenyataan hidup yang terkadang tak sesuai dengan apa yang di harapkan.
"Intan mana?" tanya Kafa menoleh ke kiri dan kanan mencari keberadaan makhluk jadi-jadian yang tak ingin lepas darinya.
"Ayangmi sedang ganti baju dan di rubah jadi bu hajjah oleh istrimu sendiri," jawab Ghozi santai.
"Di rubah menjadi Ibu Hajjah bagaimana maksudnya Ghozi?" tanya Kafa yang sama sekali tidak mengerti dengan apa yang di ucapkan oleh Ghozi.
"Kamu akan tahu sendiri nanti, sekarang kamu tunggu saja! apa yang sudah di lakukan Salma pada Intan yang selalu berpakaian kurang bahan, terkadang aku kasihan melihat anak itu," ujar Ghozi membuat Kafa penasaran.
"Kasihan kenapa kamu? dia itu licik dan kamu harus berhati-hati padanya!" Kafa mencoba mengingatkan Ghozi agar tidak ikut terjebak seperti dirinya yang tak bisa lepas sampai saat ini, meskipun Kafa sudah memutuskan hubungan tapi Intan tetap bersi keras tak ingin mengakhiri semuanya.
"Sebenarnya Intan itu gadis yang baik, tapi dia tidak ada yang membimbing, dan satu lagi, Intan itu kurang perhatian dan kasih sayang, makanya dia selalu bersikap kurang baik, karena aku yakin dia bersikap seperti itu karena ingin mencari perhatian orang-orang di sekitarnya," jelas Ghozi.
"Semua itu mungkin memang benar Ghozi, tapi apa yang di alami Intan tidak ada apa-apanya di banding pengalaman hidup yang sudah di lalui oleh Salma, dia bisa melewati semua hal buruk dan menyedihkan dalam hidupnya dengan kesabaran dan ketabahan yang belum tentu di miliki oleh orang lain," puji Kafa pada Salma.
__ADS_1
Sejak Ummi menceritakan segalanya tentang Salma pada Kafa, terselip rasa kagum dan sayang juga kasihan bercampur jadi satu di hati Kafa, baginya Salma itu gadis kuat yang tak mudah menyerah meski rintangan dan cobaan besar sedang menghadang dirinya.
"Aku tahu itu, Salma memang gadis yang nyaris sempurna selain berbudi luhur dan bersifat lembut, parasnya juga sangat cantik nan imut membuat siapapun yang melihatnya akan terpana dan hanyut dalam ketenangan yang dia miliki," Ghozi juga ikut memuji Salma.
Tapi pujian yang di lontarkan oleh Ghozi membuat Kafa sedikit merasa risih, pasalnya gadis yang sedang di puji oleh Ghozi istrinya sendiri.
"Khem, dan kau puji itu istriku Ghozi, ingat itu!" sahut Kafa dengan tatapan tajam mengintimidasi Kafa yang kini tersenyum melihat Kafa yang sudah bisa di pastikan sedang cemburu padanya.
"Mas Kafa tenang saja! aku hanya mengatakan apa yang aku lihat, tak ada niat untuk mencintai ataupin merebut dia, mana berani aku merebut istri dari putera guruku sendir, mau di kutuk jadi batu akik apa?" ujar Ghozi mencoba meluruhkan rasa cemburu Kafa yang terlihat jelas di wajah Kafa saat ini.
"Bagus kalau kamu sadar," ujar Kafa merasa lega karena Ghozi bisa berfikir dengan baik.
Keduanya terdiam hingga Salma turun dari lantai atas dan berjalan mendekat ke arah Ghozi dan Kafa yang duduk di meja makan dengan antengnya.
"Mbok Sumik tadi keluar, katanya ada sesuatu yang ingin dia beli, makanya tadi Mbok Sumik berpesan padaku agar kita makan terlebih dahulu tanpa harus menunggu dirinya," jawab Ghozi yang tadi memang sempat bertemu dengan Mbok Sumik saat berada di ruang keluarga sebelum datang ke meja makan.
"Tumben sekali Mbok Sumik pergi saat waktunya makan seperti ini?" lirih Salma merasa aneh dengan sikap Mbok Sumik yang dia tahu akan merasa senang saat bisa makan bersama, karena dengan makan bersama Mbok Sumik bisa merasakan hangatnya sebuah keluarga.
"Entahlah," sahut Ghozi acuh.
Sebenarnya tak ada alasan penting yang mendasari kepergian Mbok Sumik, dia hanya merasa kurang suka jika ada Intan di rumah itu, sejak pertama kali Intan masuk ke dalam rumah, dia sudah melarang Mbok Sumik makan bersamanya dan Kafa di meja makan, Intan sering bilang jika tempat pembantu seperti dirinya bukan di meja makan, tapi nanti makan sendiri di dapue setelah para majikan makan, karena itulah Mbok Sumik memilih pergi dari pada nanti ada perdebatan yang akan terjadi di antara Neng Salma dan Intan.
__ADS_1
Salma sibuk mengambilkan nasi untuk Kafa, sedang Salma di larang mengambilkan nasi untuk Ghozi.
"Hanya aku yang boleh kau layani, biarkan Ghozi mengambil sendiri makanannya!" larang Kafa setiap kali mereka makan bersama di rumah dan Kafa melihat Salma hendak mengambilkan makanan untuk Ghozi.
Intan yang sejak tadi bimbang berada di dalam kamar mandi kini memberanikan diri untuk keluar dari kamar mansi, pasalnya baju yang dia pakai sangat jaub berbeda dengan pakaian yang biasa dia pakai.
"Masya allah cantik nya," puji Salma yang pertama kali melihat Intan keluar dari kamar mandi dengan gamis yang tadi dia pinjamkan.
Kafa dan Ghozi menatap heran campur terkejut ke arah Intan yang kini berdiro dengan canggungnya di hadapan keduanya.
"Khem," Salma mencoba menyadarkan kedua laki-laki yang berada tak jauh darinya sedang terbengong melihat Intan yang kini berubah seperti santri.
" Ini beneran kamu intan?" tanya Kafa.
Kafa tidak terbengong karena kagum, dia hanya merasa terkejut melihat penampilan Intan yang jauh berbeda dari biasanya, Kafa malah merasa bangga dengan istrinya karena dengan waktu sekejap dia bisa membuat Intan mengikuti keinginannya untuk memakai gamis.
"Tentu saja, kamu fikir aku siapa?" sahut Intan penuh rasa bangga, dia beranggapan kalau Kafa sedang mengagumi perubahannya.
"Kita jadi makan atau tidak ini?" celetuk Ghozi yang melihat wajah masam milik Salma, Ghozi tahu pasti saat ini Salma merasa cemburu dengan Intan, karena pertanyaan Kafa barusan.
"Ayo makan!" ajak Salma.
__ADS_1
"Ghozi, kamu mau makan soto? tadi kamu pesan soto, sini biar aku tuangkan kuahnya!" Salma meraih piring milik Ghozi dan menuangkan kuah soto ke dalam piring.
'Ya ampun, kenapa aku yang jadi sasarannya, kalau kayak gini caranya Mas Kafa bisa ngamuk padaku, Salma jangan bawa-bawa aku dalam masalahmu!' batin Ghozi melirik Kafa yang terlihat menatap tajam ke arahnya.