Cahaya Cinta Salma

Cahaya Cinta Salma
Kafa Keceplosan


__ADS_3

Salma tak lagi menghiraulan Kafa, dia membuat camilan yang sama seperti yang dia buat untuk Alif kemarin. tapi kali ini Salma membuatnya dengan porsi yang cukup banyak sesuai dengan permintaan Kafa.


"Camilannya sudah siap, silahkan di cicipi!" ujar Salma sambil memberikan satu mangkok berukuran cukup besar ke arah Kafa yang masih asyik menatap ponselnya dan duduk di tempat yang sama.


"Bagus," ucap Kafa yang kini berdiri menuju rak penyimpanan piring. Dia mengambil satu piring berukuran tidak terlalu besar dan membawanya ke arah meja.


Tanpa Salma duga ternyata Kafa mengambil sebagian dari camilan yang di buat oleh Salma dan menaruhnya di atas piring yang tadi di ambil oleh Kafa.


"Ini untukmu!" ucap Kafa seraya memberikan sat piring camilan lengkap deng caosnya.


Salma terdiam menatap lurus ke arah Kafa. Sungguh saat ini dirinya merasa begitu heran dengan sikap Kafa yang terlihat begitu baik padanya.


"Aku tahu jika aku tampan, kamu tidak perlu menatapku seperti itu!" ujar Kafa saat melihat Salma hanya terdiam menatap ke arahnya.


"Astaghfirullah, jika aku bisa menggetok kepalamu maka akan aku gethok biar kamu sadar Mas Kafa, aku tidak sedang terpesona," ujar Salma penh penekanan seraya mengambil alih camilan yang ada di piringnya kemudian pergi meninggalkan Kafa yang masih berdiri dengan senyum yang mengembang di wajahnya.


Kafa yang melihat ekspresi lucu dari wajah Salma hanya bisa menahandiri untuk tidak tersenyum ataupun tertawa, entah mengapa Salma justru terlihat lucu saat marah dari pada menakutkan.


"Dasar gadis aneh," lirih Kafa setelah Salma pergi meninggalkan dapur, sedang Kafa kembali duduk menikmati cemilan yang sebenarnya sangat enak dan dia menyukainya, hanya saja rasa gengsi waktu itu menghalangi Kafa untuk berkata jujur, kini Kafa bisa menikmati sepiring camilan buatan Salma sendiri tanpa ada yang mengganggu, sungguh Kafa merasa sangat puas bisa menikmatinya sendirian.


"Kamu sedang makan apa Kafa?" tanya Ummi yang baru saja datang dari dalam rumah.


"Eh Ummi," ujar Kafa.


"Iya, kamu sedang makan apa?" Ummi kembali bertanya karena Kafa tak mau menjawab pertanyaannya.


"Ini Ummi, Kafa lagi makan camilan." Jawab Kafa seraya menunjukkan camilan yang ada di hadapannya.

__ADS_1


"Dapat dari mana kamu camilan model seperti itu?" tanya Ummi menatap heran ke arah camilan yang sebelumnya tak pernah dia lihat.


"Tadi Salma yang ku suruh buat Ummi." Jawab Salma jujur.


Tanpa berkata lagi Ummi langsung berjalan mendekat setelah mendengar jika Salma yang membuat camilan itu, Ummi sangat tahu jika Salma memang sangat pandai memasak, jadi Ummi tak pernah ragu untuk mencoba masakan Salma yang pasti terasa enak.


"Ummi mau ngapain?" cegah Kafa saat melihat tangan Ummi sudah siap mengambil camilan yang ada di hadapan Kafa.


"Ummi mau nyoba masakan calon menantu Ummi. Enak atau tidak?" jawab Ummi.


"Enak kok Ummi," sahut Kafa dengan wajah tidak rela dia membiarkan Ummi mengambil camilan yang sejak awal dia harap bisa menghabiskan semuanya sendiri.


"Kalau belum makan mana bisa Ummi tahu Kafa," ujar Ummi.


"Baiklah, silahkan di coba Ummi!" Kafa hanya bisa mempersilahkan Ummi untuk makan tanpa bisa mencegahnya.


"Kafa ikhlas kok Ummi," sahut Kafa.


"Lagi pula, jika nanti Salma sudah jafi istrimu Ummi yakin kamu akan mengembang dengan cepat, dan kamu akan menikmati camilan yang seperti ini atau bahkan jauh lebih enak dari ini setiap hari.


"Mengembang bagaimana maksud Ummi?" tanya Kafa yang tidak mengerti dengan apa yang di ucapkan oleh Ummi.


"Mengembang alias gemuk," jelas Ummi dengan senyum jahilnya.


"Ishh Ummi kira Kafa adonan donat pakai mengembang segala," ujar Kafa dengan ekspresi wajah kurang suka yang terlihat memancar saat menatap lekat ke arah Ummi.


"Sudahlah, jangan menatap Ummi seperti itu! karena Ummi yakin jika apa yang Ummi katakan akan menjadi nyata." Ujar Ummi dengan penuh keyakinan.

__ADS_1


Kafa hanya diam tidak lagi bisa membalas ucapan Ummi, karena apa yang Ummi katakan mungkin ada benarnya, pasalnya masakan Salma memang selalu enak dan Kafa bisa menghabiskan makanan yang di masak oleh Salma dengan porsi banyak.


"Jangan khawatir gitu! kamu tenang saja! sekalipun tubuhmu mengembang Ummi sangat yakin jika Salma tidak akan pernah berpaling apa lagi mendua, dia tipe gadis yang setia dan penurut." Ucap Ummi yang membuat Kafa heran, kenapa sang Ummi sampai berkata seperti itu? padahal Kafa sama sekali tak berfikiran sampai ke sana.


Kafa dan Ummi akhirnya menghabiskan camilan yang ada di atas meja hanya berdua hingga tandas tak tersisa.


"Masakan Salma memang terasa begitu nikmat dan enak," ucap Ummi setelah menghabiskan semua camilan di atas meja.


"Ummi benar," sahut Kafa yang keceplosan memuji langsung masakan Salma.


Ummi hanya tersenyum menatap ke arah Kafa sedangkan Kafa malah berdiri melenggang pergi meninggalkan Ummi karena merasa malu dengan apa yang di ucapkannya tadi.


"Pelan tapi pasti, Ummi yakin kamu akan menyukai Salma dan rasa cinta itu akan tumbuh di antara kalian," lirih Ummi tersenyum senang membayangkan jika Salma dan Kafa jadi menikah dan memiliki anak, sungguh Ummi akan menjadi seorang wanita yang paling bahagia karena telah memiliki keluarga yang lengkap.


"Salma!" panggil Tari yang baru saja datang dari aula depan yang ada di depan asrama sambil menenteng satu kantong plastik kecil di tangannya.


"Apa, Tari?" sahut Salma.


"Kamu bawa apa?" tanya Tari sok tidak mengerti padahal sudah jelas terlihat jika saat ini Salma membawa bola-bola tahu rambutan yang tersusun rapi di atas piring yang sedang dia bawa. Sejak dulu Tari sangat menyukai camilan yang biasa di masak oleh Ibu Salma itu, dulu jika dia menginap di rumah Salma Ibunya sering sekali membuatkannya untuk Tari dan Salma, selain rasanya yang enak bahan untuk membuatnya juga terbilang murah dan mudah di dapat.


"Apa kamu sudah lupa dengan camilan favorite kita?" bukannya menjawab Salma malah balik bertanya.


"Aku tidak lupa, hanya saja aku pura-pura tidak tahu agar kamu menawarkan makanan itu ke aku," jujur Tari yang selalu mengatakan apa yang dia rasakan tanpa menyaringnya.


"Kalau kamu mau ayo kita makan bareng!" ajak Salma yang sangat mengerti jika Tari begitu menyukai camilan yang dia bawa saat ini.


Tari tak lagi menjawab ajakan Salma, dia berjalan mengikuti langkah Salma kemudian duduk di Aula menikmati camilan itu berdua.

__ADS_1


__ADS_2