Cahaya Cinta Salma

Cahaya Cinta Salma
Memasak Untuk Salma


__ADS_3

"Tentu saja kamu boleh melihat keadaan Salma jika aku sudah mengizinkan," ujar Kafa.


Ghozi hanya bisa memutar bola mata jengah melihat keposesifan Kafa, entah bagaimana caranya Ghozi bisa merubah sifat buruk Kafa yang berpotensi membuat Salma pergi suatu saat nanti.


"Mau lihat apa masih mau bengong di situ?" tegur Lafa yang melihat Ghozi masih diam tanpa bergerak.


Ghozi yang mendengar suara Kafa langsung mengikuti langkah Kafa berjalan menuju kamarnya.


"Assalamualaikum," ucap Kafa dan Ghozi hampir bersamaan.


"Waalaikum salam," sahut Mbok Sumik.


"Bagaimana keadaanmu Salma?" tanya Ghozi saat dia baru masuk ke dalam kamar.


"Alhamdulillah keadaanku sudah jauh lebih baik, terima kasih sudah menelfon Dokter untukku," jawab Salma.


"Meskipun dia yang menelfon, tetap aku yang membayar biayanya Salma," sahut Kafa seolah tak ingin kalah dengan Ghozi di mata Salma.


"Terima kasih, Mas Kafa," ucap Salma dengan senyum manis menyejukkan hati.


"Hm," sahut Kafa singkat.


"Mbok, tolong buatkan makanan untuk Salma!" sambung Kafa yang baru ingat pesan sang dokter yang menyarankan agar Salma segera makan.


"Baik, Mas Kafa," sahut Mbok Sumik yang langsung berdiri berjalan menuju dapur untuk memasak.


"Bagaimana dengan perutmu? apa masih sakit?" tanya Ghozi.


"Tidak sesakit tadi, sudah jauh lebih baik," jawab Salma.


"Syukurlah, semoga cepat sembuh, aku pergi dulu." Pamit Ghozi yang merasa kurang nyaman berada di dalam kamar Kafa dan Salma.


"Kamu mau ke mana?" cegah Kafa sebelum Ghozi benar-benar pergi.


"Aku mau buat pulau di bantalku yang paling empuk." Jawab Ghozi santai.


"Jangan buat pulau dulu! tolong belikan obat ini!" pinta Kafa seraya mengulurkan tangan memberikan satu kertas berisi resep ke arah Ghozi.


"Kenaoa kamu tidak berangkat sendiri saja?" tanya Ghozi yang tidak langsung menyetujui apa yang Kafa pinta.

__ADS_1


"Aku harus menjaga Salma di sini, jadi pergilah! belikan aku obat yang tertulis di situ," jawab Kafa seraya menunjuk ke arah kertas yang Kafa berikan tadi.


Ghozi menatap lekat ke arah kertas yang dia pegang, tulisan yang di penuhi misteri tanpa ada yang mengerti maksudnya.


"Baiklah, aku akan membelikannya." Ujar Ghozi berjalan keluar dari dalam kamar.


"Ghozi!" cegah Salma sebelum Ghozi benar-benar pergi meninggalkan kamar


"Iya," sahut Ghozi menoleh ke arah Salma.


"Terima kasih," ucap Salma dengan senyum manis yang terlihat di wajahnya.


"Sama-sama," jawab Ghozi yang ikut tersenyum, sungguh senyuman Salma menambah semangat Ghozi untuk membeli obat.


"Orangnya sudah pergi, ngapain terus senyum kayak gitu?" ujar Kafa.


"Terima kasih Mas Kafa," ucap Salma dengan senyum yang merekah di bibirnya.


"Kenapa kamu tidak bilang sejak awal kalau sedang haid?" tanya Kafa seraya mengerutkan kening bingung dengan apa yang terjadi, padahal semalam mereka baru melakukannya tapi hari ini Salma datang bulan.


"Untuk apa aku kasih tahu Mas Kafa kalau aku lagi dapet?" sahut Salma yang justru merasa aneh jika harus laporan hanya karena sedang datang bulan.


"Yang terjadi sudah terjadi Mas, lain kali aku akan menceritakan apapun yang terjadi, agar Mas Kafa tidak bingung seperti tadi," Salma mencoba mengambil hati Kafa agar tak menyalahkan dia lagi.


"Bagus, lebih baik kamu istirahat dulu!" biar aku lihat Mbok Sumik, dia sudah selesai atau belum memasaknya." Pamit Kafa berdiri setelah menutup tubuh Salma dengan selimut dan memberikan kecupan ringan di dahinya.


'Kalau Salma sedang kedatangan tamu, itu artinya aku gak bisa main nanti malam,' batin Kafa yang baru menyadari jika dia tidak akan bisa bermain bersama Salma untuk sementara waktu.


"Baru juga ngerasain sekali, udah di suruh puasa lagi, nasib-nasib," kali ini Kafa bergumam merutuki nasibnya yang hanya bisa merasakan malam indah bersama Salma sekali dan harus menunggu beberapa hari lagi jika ingin bermain ke sana.


"Loh, Mas Kafa kok ke sini?" tanya Mbok Sumik merasa heran dengan kedatangan Kafa yang seharusnya berada di kamar menjaga Salma.


"Aku ingin lihat apa Mbok Sumik sudah selesai memasaknya?" bukannya menjawab Kafa malah balik bertanya.


"Belum Mas Kafa, Mbok masih mau buat bumbunya," jelas Mbok Sumik.


"Memangnya Mbok Sumik mau masak apa?" tanya Kafa yang kini justru ingin membantu Mbok Sumik memasak agar cepat selesai.


"Mbok mau masak sayur asem sama ayam bacem," jawab Mbok Sumik menjelaskan apa yang akan dia masak.

__ADS_1


"Sini biar aku yang memasaknya." Pinta Kafa yang cukup membuat Mbok Sumik terheran.


"Mas Kafa serius?" tanya Mbok Sumik menatap ragu ke arah Kafa.


"Tentu saja aku serius," Kafa mencoba. meyakinkan Mbok Sumik jika dia memang akan memasak.


"Baiklah, Mas Kafa lanjutin masaknya, Mbok akan menyelesaikan pekerjaan yang lain." Pamit Mbok Sumik melenggang pergi meninggalkan dapur.


Kafa mulai memakai celemek di tubuhnya agar baju yang dia pakai tidak kotor, dengan penuh keyakinan dan semangat Kafa mulai memasak, dalam fikirannya saat ini hanya satu, Kafa ingin Alma makan dengan lahap dan segera sembuh.


Ting ... Tong ... Ting ... Tong ....


Suara bel rumah terdengar begitu kencang mengusik sang pemilik rumah.


"Mbok! tolong lihat siapa yang datang!" teriak Kafa yang yakin jika Mbok Sumik berada tudak jauh dari tempatnya memasak.


"Iya, Mas Kafa," sahut Mbok Sumik berjalan menuju ruang tamu untuk melihat siapa yang datang.


'Ceklek'


"Hay Mbok, apa kabar?" ucap sang tamu.


'Kenapa ulat bulu ini datang lagi sih?' batin Mbok Sumik menatap malas ke arah tamu yang sedang berdiri di depannya dengan senyum manis yang justru terlihat menjijikkan di mata Mbok Sumik.


"Mbok, apa My Honey ada di rumah?" tanya tamu itu yang ternyata Intan.


"Ada, tapi Mas Kafa sedang sibuk," jawab Mbok Sumik singkat.


"Benarkah? sibuk apa? aku hanyaingin bertemu dengannya sebentar," sahut Intan seolah tak mau mengerti dengan apa yang di katakan oleh Mbok Sumik.


"Intinya Mas Kafa sibuk tidak bisa di ganggu," Mbok Sumik masih bersi keras agar Intan tidak bertemu dengan Kafa.


"Katakan aku ingin bertemu, dia pasti akan menemuiku sesibuk apapun itu," ujar Intan penuh percaya diri.


"Huft," Mbok Sumik membuang nafas kasar menghadapi Intan yang keras kepala.


"Masuklah! biar aku panggilkan Mas Kafa," Mbok Sumik membuka pintu lebar mempersilahkan Intan masuk ke dalam ruang tamu kemudian masuk ke dapur untuk memberitahu Kafa jika Intan sedang menunggunya di ruang tamu.


"Mas Kafa!" panggil Mbok Sumik sesaat setelah dia sampai di dapur.

__ADS_1


"Iya, Mbok, ada apa?" tanya Kafa sambil menaruh satu mangkok berukuran cukup besar di atas meja.


__ADS_2