
Salma berjalan kembali menuju asrama untuk sejenak beristirahat sebelum waktu sholat dzuhur tiba.
"Astaghfirullah, kamu masih betah aja baca tu buku," tegur Salma saat dia melihat Tari masih setia di tempat sambil membaca komik yang dia tutupi dengan buku tulis biasa.
"Ini komik Salma, bukan buku, lagi pula tanggung kalau mau di simpen lagi. Jam pulang sekolah yang lain juga masih satu jam lagi, jadi aku masih bisa santai di sini," jawab Tari dengan ekspresi santai yang tergambar jelas di wajahnya.
"Emang kamu gak capek baca berlembar-lemnar seperti itu?" tanya Salma penasaran.
"Rasa capek itu bisa tertutup dengan rasa senang dan terhibur yang bisa aku dapatkan dari komik ini, makanya aku ajak kamu baca komik biar kamu tahu rasanya," ujar Tari dengan semangat yang terlihat jelas di wajahnya.
"Ogah, aku males lihat gambar gak jelas," tolak Salma yang kini mulai merebahkan diri di lantai beralaskan karpet dan menikmati waktu santainya.
"Jangan suka tidur pagi-pagi! gak baik Salma," kali ini Tari yang menegur Salma.
"Kamu gak lihat udah jam setengah sebelas, udah siang kali Tari," sahut Salma.
Tari terdiam seribu bahasa setelah mendengar jawaban Salma, di pesantren keduanya tak bisa melakukan banyak hal karena mereka memang tidak tahu harus berbuat apa selain bersantai setelah semua pekerjaan mereka selesai.
"Assalamualaikum, maaf apa Mbak Salma nya ada?" seorang santri datang dan menanyakan Salma.
"Iya, ada apa Mbak?" sahut Tari yang masih setia dengan komik favoritnya.
"Mbak Salma di panggil Ummi!" jawab Sang santri.
"Oh, iya terima kasih sudah di kasih tahu Mbak," jawab Tari.
"Sama-sama," jawab Santri itu sambil berlalu meninggalkan kamar.
__ADS_1
"Salma! bangun!" Tari mencoba membangunkan Salma.
"Ada apa sih Tari? ganggu orang tidur aja," keluh Salma dengan mata yang masih tertutup.
"Kamu di panggil Ummi, cepat bangun dan temui beliau!" Tari masih mencoba membangunkan Salma yang terlihat nyenyak dan enggan bangun.
Tak ada respon dari Salma, rupanya dia kembali tertidur, Tari yang melihat Salma kembali tidur langsung menegurnya.
"Woii!!! astaga molor mulu, bangun!!" kali ini suara Tari sudah naik satu oktaf mengejutkan siapapun yang mendengar termasuk Salma.
"Astaghfirullah, Tari! kenapa kamu teriak-teriak?" Salma yang tadinya mulai terlelap langsung terbangun mendengar teriakan Tari yang cukup membuat telinga Salma pengang, pasalnya Tari berteriak tepat di dekat telinga Salma.
"Habis dari tadi aku bangunin kamu gak bangun-bangun, cepetan bangun di tungguin Ummi di ndalem." Tutur Tari dengan ekspresi gemas melihat Salma yang masih santai dengan posisinya.
"Ummi manggil, kenapa gak dari tadi bilangnya?" Salma yangs udah sadar sepenuhnya malah menyalahkan Tari.
"Jangan suka marah-marah! entar cepet tua nyesel loh," ujar Salma sambil tersenyum menggoda ke arah Tari kemudian berjalan meraih kerudung dan pergi menemui Ummi.
"Dasar kau, untung sahabat kalau enggak udah ku jitak kepalanya," lirih Tari menatap kepergian Salma yang menghilang di balik tembok.
Sebenarnya Salma merasa kurang enak hati untuk menemui Ummi sekarang, semua yang dia rasakan karena permintaan Ummi yang masih belum bisa dia jawab tadi pagi, Salma terus berjalan menuju rumah Ummi sambil berharap jika Ummi tak lagi membahas masalah perjodohan.
Sedang di ndalem Ummi sudah menunggu Salma, beliau berencana meminta bantuan Salma untuk membereskan kamar Kafa sambil menceritakan tentang puteranya itu.
"Assalamualaikum, Ummi," ucap Salma setelah sampai di dalam rumah Ummi.
"Waalaikum salam, masuklah, Nak!" sahut Ummi dengan nada lembut selembut sutra.
__ADS_1
"Ummi, manggil Salma?" tanya Salma memastikan ucapan Tari.
"Iya, Ummi mau minta tolong Salma membantu Ummi untuk membersihkan kamar Kafa," jawab Ummi.
"Iya, Ummi, di mana kamarnya?" sahut Salma.
"Ayo ikut Ummi!" mendengar sahutan Salma Ummi langsung menggandeng tangan Salma, menuntunnya masuk ke dalam ruangan yang tak jauh dari ruang keluarga.
Sebuah kamar yang terlihat rapi dan sederhana tapi nyaman dengan beberapa prabotan yang terlihat mahal tertata rapi di dalamnya. Satu spring bad berukuran besar dengan nakas minimalis di sampingnya, terdapat juga lemari baju berukuran besar tertata rapi di samping kiri, ada juga sofa panjang yang menghadap ke jendela semuanya terlihat pas berada di tempatnya.
"Ini kamar Kafa, putera Ummi, dan itu fotonya," ucap Ummi sambil menunjuk ke arah foto berukuran cukup besar yang tergantung rapi di tembok tepat di depan tempat tidur, gambar seorang laki-laki yang terlihat begitu tampan dan berkarisma, memiliki kulit putih dan lesung pipi membuatnya terlihat semakin sempurna, dia terlihat tersenyum bahagia di dalam gambar itu.
"Duduk sini!" pinta Ummi sambil menepuk samping sofa yang dia duduki.
Mendengar permintaan Ummi membuat Salma bingung, bukankah tadi Ummi mengajaknya masuk ke kamar untuk nersih-bersih, kenapa malah di ajak duduk? meski dalam benak Salma ada banyak pertanyaan, dia hanya bisa diam dan menuruti apa yang di perintahkan oleh Ummi.
"Iya, Ummi," sahut Salma sambil duduk di tempat yang tadi di minta oleh Ummi.
Setelah melihat Salma duduk, Ummi langsung berdiri menuju nakas yang tak jauh dari tempat keduanya duduk, Ummi mengambil sebuah album foto yang tersimpan di sana dan kembali berjalan mendekat ke arah Salma.
"Ini album kenangan milik Kafa, mulai dia bayi sampai dewasa," ucap Ummi sambil membuka album yang dia bawa tadi.
Ummi menceritakan banyak hal pada Salma, mulai dari kelucuan dan kenakalan yang pernah di lakukan oleh Kafa saat kecil.
"Kafa termasuk anak yang bisa membuat hidup Ummi begitu berwarna, kepatuhannya juga perhatian yang sering dia berikan membuat Ummi merasa beruntung telah memilikinya, tapi apa yang Ummi rasakan itu seketika sirnah sejak kehadiran Nabila." raut wajah Ummi yang tadinya terlihat begitu bahagia kini menjadi sedih, seperti matahari yang tertutup awan hitam yang siap menumpahkan air dan membanjiri bumi.
"Nabila itu siapa Ummi?" Salma yang melihat ekspresi Ummi tiba-tiba berubah sedih langsung menanyakan nama seorang wanita yang sepertinya pernah menoreh luka si hati Ummi.
__ADS_1
Entah wanita seperti apa yang tega menoreh luka di hati Ummi yang memiliki hati bak malaikat itu, Ummi tak langsung menjawab pertanyaan Salma, dia sejenak terdiam seperti mengumpulkan kekuatan untuk menceritakan segalanya pada Salma yang kini justru menatap Ummi dengan ekspresi wajah penuh penasaran.