Cahaya Cinta Salma

Cahaya Cinta Salma
Rasa Jengkel Salma


__ADS_3

Kafa tak menjawab pertanyaan Salma dia berjalan menuju sebuah ruangan yang terkesan tersembunyi, ruangan yang ada di belakang tembok yang terdapat televisi di sana.


"Di tanya koper kok gak jawab? malah pergi," gumam Salma menatap aneh ke arah Kafa yang berjalan menjauh dan menghilang di balik tembok.


Sebenarnya Kafa ingin Salma mengikuti langkahnya dari belakang, tapi Salma malah diam mematung di tempat tidak kunjung pergi menyusulnya.


"Salma mana? kenapa dia tidak ikut ke sini?" lirih Kafa setelah menoleh ke belakang tapi Salma tak ada di belakangnya, dengan sedikit jengkel Kafa kembali berjalan menemui Salma yang dia yakini masih berada di tempat yang sama.


"Salma!" panggil Kafa setelah sampai di tempat Salma berdiri.


"Iya, kenapa? apa koperku tidak ketemu?" sahut Salma.


"Kenapa kamu malah diam di situ? kenapa tidak ikut masuk?" bukannya menjawab pertanyaan Salma, Kafa justru melempar pertanyaan dengan nada sedikit meninggi.


"Mas Kafa gak bilang kalau aku harus ikut, jadi aku tunggu Mas Kafa di sini," jawab Salma, apa yang di katakan Salma memang seharusnya benar, tapi berbeda dengan Kafa yang memiliki rasa gengsi tingkat dewa, dia tidak mau kalah berargumen dengan Salma


"Harusnya kamu mengerti tanpa harus di jelaskan, ayo ikut aku!" bukannya mengakui kesalahan Kafa malah menyalahkan Salma.


'Dasar aneh,' batin Salma.


Sungguh Kafa yang pernah tersakiti hatinya kini berubah tidak seperti dulu saat bersama Bella, Kafa tidak lagi bisa mengungkapkan apa yang dia rasakan seperti dulu, Kafa yang pernah terluka kini lebih menjaga diri dan hati agar tidak lagi merasakan hal yang sama.

__ADS_1


Salma langsung berjalan mengikuti langkah Kafa masuk ke dalam ruangan di mana ada begitu banyak lemari di sana, sepertinya ruangan itu di khususkan untuk menyimpan baju dan perlengkapan lainnya.


"Aku sudah mengosongkan satu lemari yang sebelah kanan itu. Nanti kamu bisa minta tolong Mbok Sumik untuk menatanya," tutur Kafa melenggang pergi meninggalkan Salma setelah menhelaskan tempat menyimpan pakaian Salma dia langsung melangkah pergi keluar dari ruangan itu, sedang Salma kini memilih baju yang akan dia gunakan.


Kafa kembali berbaring menikmati waktu santainya, mengingat akan ada banyak masalah yang pasti akan datang karena ulah Intan, kini Kafa menikmati ketenangan hidupnya sebelum badai datang.


Siang yang terik kini perlahan berubah menjadi sore yang di penuhi kesejukan, matahari yanh tadi bersinar begitu terangnya perlahan tertutup oleh awan hitam, perlahan Kafa bangun dari tidurnya, entah sejak kapan dia tertidur? sedang Salma tak lagi terlihat di sampingnya, rasa khawatir mulai merasuki diri Kafa, tanpa banyak berfikir dia langsung turun dari kasur mencari keberadaan Salma di dalam kamar.


Tapi Kafa tak kunjung menemukannya hingga, kafa duduk di kasur berfikir di mana Salma berada karena tidak mungkin dia akan keluar dari kamar sendirian mengingat Salma tidaklah seberani itu untuk pergi sendiri di tempat yang asing.


Kafa terus mengedarkan pandangannya sambil mengira-ngira di mana Salma berada? hingga pandangan Kafa tertuju pada pintu kaca yang menghubungkan kamar dan balkon kamar.


'Ceklek'


Kafa membuka lebar pintu penghubung anatara kamar dan balkon. Dan benar saja, Salma sedang asyik duduk di sana dengan musik yang berdendang dari dalam ponsel yang di taruh di atas meja.


"Kamu ngapain di sini?" tanya Kafa mengejutkan Salma yang sejak tadi fokus menikmati musik dan suasana perkotaan yang ada di depan matanya, biasanya Salma hanya bisa melihat sawah yang membentang dengan tanaman padi yang meliuk-liuk indah di temani angin sepoi penghilang rasa panas yang menerpa, kini Salma menikmati pemandangan indah yang berbeda dari biasanya, gedung-gedung tinggi dengan berbagai macam mobil berlalu lalang di hadapannya, sungguh hampir semua orang kota terlihat begitu sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing.


"Eh Mas Kafa, sudah lama di situ? maaf ya aku gak tahu kalau Mas Kafa ada di situ," jawab Salma.


"Kamu ngapain di sini?" Kafa kembali mengulangi pertanyaannya yang belum mendapatkan jawaban dari Salma.

__ADS_1


"Aku hanya menikmati suasana di kota, tadi aku bingung mau ngapain? keluar kamar juga takut, Mas Kafa tahu kan kalau aku tidak tahu seluk beluk rumah ini, apa lagi rumah ini snagat besar, jadi aku takut untuk pergi sendiri. Jadi aku putuskan untuk menunggu Mas Kafa bangun di sini sambil nikmati ciptaan tuhan yang begitu indah ini," kini Salma menjawab pertanyaan Kafa dengan tepat dan benar.


"Itu ponsel siapa?" tanya Kafa yang baru melihat ponsel di atas meja.


"Ponselku," jawab Salma singkat.


"Kamu dapat dari mana ponsel itu?" tanya Kafa.


"Dari Ummi ," Salma menjawab pertanyaan Kafa dengan ekspresi wajah polos tanpa di buat-buat dan hal itu sukses membuat rasa gemas dalam diri Kafa muncul, seandainya saja jika Salma menikah dengan rasa cinta dan Kafa bisa mengungkapkan semua rasa cinta yang kini dia rasakan sudah bisa di pastikan Kafa akan mencubit gemas kedua pipi mulus yang ada di hadapannya itu.


"Kenapa aku tidak tahu? dan kenapa kamu tidak bilang padaku kalau Ummi memberimu ponsel baru?" tanya Kafa dengan rasa penasaran yang tinggi.


"Aku sendiri juga baru tahu kemarin sebelum kita berangkat ke sini, dan Mas Kafa juga tidak tanya, bukankah Mas Kafa sengaja ninggalin aku tadi pagi di restauran? jadi Mas Kafa gak tahu kalau aku punya ponsel baru, untung ada Ghozi yang mau nganterin aku, kalau enggak mungkin aku masih ada di sana sekarang," ucap Salma dengan ekspresi wajah kecewa yang terlihat jelas di wajahnya.


"Ghozi juga aku yang nyuruh nganter kamu ke sini, mana mau dia nganter istri orang tanpa di minta," bela Kafa.


"Tetap saja Ghozi sudah jadi penolong dan laki-laki yang baik juga bertanggung jawab mengantarkan aku sampai di tujuan dengan selamat, gak seperti Mas. Kafa yang meninggalkan aku di tengah jalan tanpa alasan yang pasti," Salma kini mulai jengkelengingat Kafa yang langsung pergi tanpa pamit dan meninggalkan dirinya di restauran sendirian.


"Sudahlah, nanti kamu akan mengerti apa yang terjadi, sekarang ikut aku!" bukannya memberi penjelasan Kafa malah mengajak Salma.


"Ke mana?" Salma yang kembali jengkel tak langsung ikut, dia memilih bertanya lebih dulu dari pada langsung mengikuti langkah Kafa.

__ADS_1


__ADS_2