Cahaya Cinta Salma

Cahaya Cinta Salma
Kafa Yang Jahil


__ADS_3

Kafa yang melihat Salma tertunduk malu kini mendapat ide untuk membuatnya salah tingkah, Kafa terus mendekat hingga jarak mereka begitu dekat seolah-olah Kafa hendak menc**m Salma.


Melihat Mas Kafa mendekat Salma hanya diam seribu bahasa, dia hanya bisa diam mematung di tempatnya tanpa ada niat melawan ataupun menghindar.


Kafa yang melihat reaksi diam Salma semakin bersemangat untuk meneruskan niatnya hingga jarak mereka kini benar-benar dekat sekali.


"Ada daun bawang merah di pundakmu, lain kali periksa dulu sebelum pergi dari dapur," bisik Kafa tepat di telinga Salma yang kini sudah menutup mata.


Mendengar bisikan Kafa, Salma langsung berdiri dan pergi meninggalkan Kafa yang masih setia duduk di tempatnya, Salma langsung berlari masuk ke dalam kamar mandi. Sedang Kafa tersenyum lucu melihat tingkah Salma yang kini sudah menghilang di balik pintu kamar mandi.


"Ternyata dia tidak menolak, apw itu artinya dia sudah menerima pernikahan ini?" lirih Kafa sambil menatap lekat ke arah kamar mandi.


Kafa terus tersenyum tanpa berniat menghilangkan senyuman itu dari wajahnya, hingga satu panggilan telfon mampu menghapus senyuman indah milik Kafa.


"Hm," sahut Kafa sesaat setelah nada dering ponselnya mati.


"Iya, nanti malam aku akan ke sana." Jawab Kafa dengan ekspresi wajah jengah.


Tanpa berkata lagi Kafa langsung menutup saluran ponselnya berdiri dan beranjak pergi meninggalkan kamar, moodnya benar-benar hancur setelah mendapat telfon dari seseorang barusan.


"Kamu kenapa Mas Kafa?" tanya Ghozi yang melihat Kafa berjalan menuju ruang keluarga dengan wajah masamnya.


"Kamu kenapa masih di sini?" tanya Kafa dengan nada ketus.

__ADS_1


"Aku bakal di sibi selama seminggu dan akan balik bareng Mbok Sumik, itupun kalau keadaan di sini benar-benar aman untuk Salma," jawab Ghozi enteng tanpa beban, padahal dia tahu dengan pasti jika apa yang dia katakan pasti akan berefek buruk pada ketenangan hidup Kafa.


"Siapa juga yang ngizinin kamu tinggal di sini satu minggu lagi? mending sekarang kamu pulang dan bantu Abah jaga pesantren!" titah Kafa


"Maaf Mas Kafa, ini perintah langsung dari Ummi, perintah yang di sampaikan secara langsung tanpa perantara," sahut Ghozi tanpa ragu.


"Mana buktinya? jangan-jangan kamu hanya beralasan supaya kamu bisa punya banyak waktu bersama Salma," ungkap Kafa yang mulao curiga terhadap Ghozi.


"Maaf ya Mas Kafa, secinta-cintanya aku sana seseorang, pantang bagiku untuk merebut wanita yang sudah bersuami, lagi pula ngapain ambil yang second kalau yang new masih bertebaran di mana-mana," ucap Ghozi penuh percaya diri.


Ghozi berucap seolah dia sang cassanova yang banyak di idolai para wanita, padahal dia hanyalah seorang pemuda yang baru saja putus cinta.


"Sudah jangan banyak alasan! sekarang mana buktinya!" tagih Kafa yang ingin tahu kebenaran dari apa yang di katakan oleh Ghozi.


"Bagaimana? apa Mas Kafa sekarang sudah percaya? atau perlu aku hubungi Ummi agar Mas Kafa lebih percaya lagi?" ujar Ghozi dengan ekspresi wajah penuh percaya diri menatap ke arah Kafa yang kini diam tanpa ekspresi.


"Kenapa Ummi menyuruh Ghozi tinggal di sini? apa Ummi tidak percaya sepenuhnya padaku? padahal jika hanya menjaga Salma bukan hal sulit untukku," gumam Kafa yang hanya mampu di dengar olehnya sendiri.


"Bagaimana? sudah percaya belum?" Ghpzi yang merasa belum menemukan jawabannya kini kembali bertanya.


"Iya, aku percaya, tapi aku juga peraturan di sini dan kamu harus mentaatinya," Kafa yang tidak ingin Ghozi terlalu dalam mengurusi masalah rumah tangganya memiliki ide untuk memberikan peraturan pada Ghozi.


"Sejak kapan di sini ada peraturan, bukankah di sini sangat bebas? Mas Kafa atau siapapun bisa melakukan semua yangdi inginkan tanpa harus ada yang menahannya?" tanya Ghozi merasa aneh saat Kafa mengatakan jika di sini ada peraturan yang harus di tepati.

__ADS_1


"Sejak saat ini dan kamu harus patuh tanpa ada protes!" tegas Kafa.


"Baiklah, katakan apa peraturannya?" Ghozi memilih mengalah dari pada terus berdebat tanpa ujung dengan Kafa yang pasti tidak akan mengalah.


"Yang pertama, kamu tidak boleh mencampuri urusanku dan Salma apapun yang terjadi kewajibanmu hanya memastikan keamanan Salma tanpa harus tahu apa yang terjadi dan apa yang aku lakukan nanti, yang kedua, kamu hanya menjaga Salma bukan mengawasiku jadi jangan coba-coba mengikutiku kemanapun aku pergi! intinya jaga Salma saja jangan campuri urusanku," Kafa mengatakan apa yang harus dan tidak boleh di lakukan Ghozi.


"Baiklah, aku setuju, tapi aku tidak akan diam saja jika Salma dalam kesulitan sekalipun kesulitan itu kamu yang menjadi penyebabnya," Ghozi tak ingin diam dia kembali mengancam Kafa yang menurutnya terlalu berlebihan.


"Kamu bisa membantu ataupun melakukan apapun asal itu demi keamanan Salma di mana Ummi yang memintamu menjaganya, bukan karena raa cinta dan ingin memiliki yang masih tersisa dalam hatimu," ujar Kafa.


Pembicaraan keduanya terdengar semakin sengit dan saling mengancam membuat Salma yang tadinya hanya lewat tertarik untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.


"Kalian sedang meributkan apa?" tanya Salma saat melihat Ghozi dan Kafa terlihat bersi tegang di kursi ruang keluarga.


"Tidak ada, aku pergi dulu." Jawab Kafa melangkah pergi meninggalkan ruang tamu menuju kamar untuk bersiap-siap menjadi imam sholat maghrib setelah ini.


"Sebenarnya ada apa Ghozi?" Salma yang merasa belum puas dengan jawaban Kafa kembali bertanya pada Ghozi yang justru mengedikkan bahu tanda jika dirinya tidak tahu apa-apa dan tidak mau tahu dengan apa yang di tanyakan Salma.


"Ya sudah kalau tidak ada yang mau cerita tidak apa-apa, nanti aku juga bakal tahu sendiri," lirih Salma tapi masih bisa di dengar oleh Ghozi.


Mendengar ucapan Salma yang lirih membuat Ghozi tersenyum sambil mengacungkan jari jempolnya yang berarti Ghozi mendukung ucapan Salma barusan.


"Sudahlah , lebih baik kamu siap-siap juga, sebentar lagi sudah adzan maghrib kita sholat bareng-bareng," Salma memilih mengingatkan Ghozi dari pada memaksanya untuk bercerita.

__ADS_1


"Baiklah, aku pergi dulu." Pamit Ghozi yang kini ikut melangkah pergi menuju kamar untuk bersiap-siap sedang Salma berjalan menuju mushollah yang cukup luas di rumah itu, duduk bersantai bedzikir sambil menikmati udara sejuk yang terasa begitu menenangkan jiwa.


__ADS_2