Cahaya Cinta Salma

Cahaya Cinta Salma
Menunggu kepastian Kafa


__ADS_3

"Sadis, istri sendiri mau di makan," ujar Salma sambil menundukkan kepala dengan bibir yang mulai maju lima senti yang berarti Salma mulai ngambek, sedang Kafa justru tak peduli dengan apa yang di lakukan Salma, dia justru menikmati makanan yang sudah tertata rapi di atas meja.


Makan berdua yang tak sesuai harapan Kafa kini sudah berlalu, Kafa yang awalnya ingin menikmati makan berdua dengan keromantisan ternyata di warnai dengan kecemburuan yang di rasakan Kafa karena Salma yang memandang laki-laki lain, meskipun sebenarnya kesalahan yang terjadi bukan salah Salma sepenuhnya, tetap saja Salma melakukan kesalahan yang membuat Kafa jengkel.


Mobil kembali melaju kembalu pulang ke rumah, dan Kafa yang sejak tadi merasa jengkel tak lagi mengajak Salma berbicara, dia hanya diam tanpa kata, meskipun Kafa duduk di sebelah Salma, tapi mulutnya tak lagi mengeluarkan suara, Kafa duduk di samping Salma dengan tenang kemudian memejamkan mata menikmati setiap rasa yang tengah bergejolak, semuanya terasa hening tak ada yang berbicara hingga mobil sampai di pekarangan rumah.


"Mas, sudah sampai," Salma mencoba membangunkan Kafa yang masih tertidur pulas.


Kafa yang awalnya hanya berniat memejamkan mata menikmati apa yang terjadi ternyata tertidur dengan pulasnya, dan mulai merasakan sesuatu mengusik tidurnya.


"Eummm, hooaam," Kafa menguap selebar-lebarnya mencoba menghilangkan rasa kantuk yang masih terasa.


Tak ada kata yang terucap, Kafa langsung berjalan keluar dari mobil masuk ke dalam rumah menuju kamar dan langsung beristirahat, entah mengapa Kafa merasa bingung dengan apa yang di rasakannya, bagaimana bisa dia merasa begitu jengkel hanya karena Salma melihat laki-laki lain, Kafa begitu bingung dengan dirinya, dulu dia memang pernah mencintai seseorang, tapi rasa cintanya tak sedalam dan sebesar sekarang.


"Mas Kafa kenapa lagi Salma?" tanya Ghozi yang mengerti jika saat ini Kafa sedang marah dan menahan emosi yang terlihat di wajahnya.


"Biasa Ghozi, ada sesuatu yang tidak sesuai dengan ekspektasinya, jadi gitu," jawab Salma yang kini terlihat sudah bisa menguasai diri agar tak terbawa perasaan seperti Salma.


"Kamu yang sabar aja, dia emang gitu, orangnya sulit di tebak," Ghozi yang mengerti dengan sifat Kafa hanya bisa membesarkan hatinya tanpa bisa membantu apapun karena Kafa akan semakin marah jika dia tahu Salma meminta bantuan ataupun menceritakan masalahnya pada orang lain termasuk Ghozi.

__ADS_1


"Terima kasih Ghozi," ujar Salma dengan senyum manis yang membuat siapapun akan terpikat karenanya.


"Jangan tersenyum seperti itu pada laki-laki lain termasuk diriku jika ada Mas Kafa di sampingmu! aku hanya mengingatkan agar kamu tidak terus-terusan mendapat perlakuan kurang baik dari Mas Kafa," pesan Ghozi sebelum akhirnya dia pergi meninggalkan Salma yang kinu mulai mengerti dnegan sifat Kafa yang benar-benar super duper pencemburu itu.


Salma tak lagi bisa menjawab pesan dari Ghozi, dia hanya menerima dan mengingat-ingat pesan itu agar Salma bisa menjalani rumah tangga dengan tenang dan aman bersama Kafa yang susah di tebak.


"Mbok, aku mau langsung istirahat. Barang-barangku tolong di simpan dulu, biar nanti aku yang mengambilnya," pesan Kafa sebelum dia ikut menyusul Kafa yang lebih dulu masuk ke dalam kamar.


"Baik, Neng Salma," jawab Mbok Sumik yang langsung membawa semua barang bawaan Salma ke dalam kamarnya agar dirinya tidak bingung jika Salma memintanya nanti.


Di sisi lain ....


"Intan!" panggil laki-laki itu.


"Alex, ngapain Loe ke sini?" sinis Intan dwngan ekspresi malas Intan menyahuti panggilan laki-laki yang pernah menjadi laki-laki nomer satu di hati Intan.


"Gue punya sesuatu yang harus Loe tahu dan Loe lihat! Kafa yang Loe banggain itu ternyata tak sebaik yang Loe kira," jawab Alex dengan penuh percaya diri dan terlihat jelas di wajahnya jika saat ini Alex begitu bahagia juga puas atas apa yang akan dia tunjukkan.


"Maksud Loe apa? jangan ngada-ngada! dia bukan Loe Alex," sahit Intan yang tak percaya dengan apa yang di katakan oleh Alex sang mantan yang sebenarnya masih ngarep, dulu mereka putus karena Intan yang salah paham mengira Alex selingkuh, padahal Alex tak pernah selingkuh, meskipun dia anak jalanan tapi pantang bagi Alex untuk selingkuh apa lagi mendua, Intan hanya salah faham saja.

__ADS_1


"Lihat ini!" Alex menunjukkan satu foto di mana ada Salma dan Kafa yang terlihat mesra di tepi pantai.


Alex terlihat begitu percaya diri, dia berfikir jika Intan akan murka dan langsung memutuskan hubungan dengan Kafa, sama seperti apa yang di lakukan Intan padanya dulu.


"Oh," satu kata yang keluar dari mulut Intan cukup membuat Alex terkejut, bagaimana mungkin Intan terlihat biasa saja saat melihat foto Kafa dengan gadis lain sedang bermesraan.


"Kok Oh?" gumam Alex yang terlihat begitu kecewa karena Intan tidak marah, dia justru terlihat biasa saja.


"Terus aku harus bilang apa Alex?" tanya Intan yang kini menatap aneh ke arah Alex yang masih setia berdiri di sampingnya.


Alex terdiam, dia tidak bisa berkata-kata, melihat ekspresi Intan yang tak terpengaruh sedikitpun membuat Alex bingung sekaligus jengkel, dari awal Alex datang. Dia sudah tak sabar ingin melihat amarah yang dulu pernah dia luapkan padanya, tapi apa yang di harapkan Alex sama sekali tak terjadi.


"Sudahlah, jangan terkejut seperti itu! aku tahu siapa gadis yang ada dalam foto itu, dia Salma, saudara dekat Kafa," ujar Intan seolah menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi dan mencoba menjawab seluruh keraguan yang terlihat jelas di wajah Alex.


"Kamu yakin dia saudaranya?" Alex kembali meyakinkan Intan tentang apa yang di katakannya, sebelum datang kembali Alex sempat mencari tahu jati diri Kafa yang sebenarnya, Alex sampai rela menjadi santri demi menyakinkan dirinya siapa Kafa sebelumnya, meskipun dia hanya seminggu di pesantren kemudian pergi setelah dia mendapatkan apa yang dia perlukan.


"Tentu saja aku yakin," jawab Intan mencoba menutupi keraguan yang kini mulai menyelinap dalam hati Intan.


"Temui aku dan kembalilah padaku kapanpun kamu mau, ingat Intan! perasaanku masih sama seperti dulu, saat kita baru pertama kali bertemu," pesan Alex yang langsung pergi tanpa menjelaskan apapun pada Intan, bagi Alex percuma saja dirinya menjelaskan panjang lebar jika Intan masih bersikeras terus membela Kafa yang Alex yakini masih menguasai hati Intan.

__ADS_1


Intan terdiam menatap langit yang terlihat cerah, benar saja, rasa ragu terus menyelinap memaksa masuk ke dalam hati Intan yang kini masih setia menunggu kepastian dari Kafa.


__ADS_2