
Salma terdiam setelah mendengar pengakuan cinta dari Kafa, ada banyak hal yang dia rasakan, rasa yang tidak bisa dia lukiskan, ada bahagia, ada bimbang, ada pula sedih, semua
menjadi satu, perasaan yang tidak bisa mereka lukiskan dengan kata-kata ataupun kalimat.
"Neng Salma, maaf, aku terlambat," sela Ghozi yang tiba-tiba datang.
'Kenapa Ghozi malah datang? aku belum mengabarinya dan aku juga belum memberi perintah agar dia datang,' batin Kafa sedikit jengkel karena kedatangan Ghozi yang tiba-tiba.
"Tidak apa -apa, ayo duduklah!" jawab Salma dengan ramah.
"Terima kasih," Ghozi tersenyum membalas ucapan Salma.
"Loh, Mas Kafa sejak kapan ada di sini?" tanya Ghozi mencoba berbasa basi tentang kebéradaannya.
"Aku baru aja dateng dan kebetulan lihat Salma sendirian, makanya aku menemaninya di sini."Jawab Kafa berpura-pura.
Ghozi hanya tersenyum tipis mendengar jawaban Kafa, tapi melihat ekspresi Kafa membuat Ghozi penasaran dengan apa yang terjadi, pasalnya saat ini Kafa terlihat seperti orang yang sedang menahan emosi.
"Apa Neng Salma sudah memesankan aku makanan?" tanya Ghozi.
"Aku sudah memesannya, tapi entah kenapa pesanannya belum datang juga," jawab Salma.
"Tunggu di sini! aku akan melihat kenapa pesananmu belum datang? apa Mas Kafa mau pesan juga?" tawar Ghozi.
"Pesankan satu untukku!" titah Kafa.
"Baiklah, aku akan memesankannya untuk kalian." Ghozi berjalan mendekat ke arah penjual.
'Pantas saja pesanan Neng Salma belum datang, pembeli lain pada ngantri di sini,' batin Ghozi saat melihat begitu banyak orang berada tepat di depan sang penjual.
Jika Ghozi ikut mengantri untuk mendapatkan pesanannya maka berbeda dengan Salma dan Kafa yang saat ini malah terlihat canggung, keduanya tak ada yang mengeluarkan kata-kata, keduanya terdiam tanpa bahasa hingga Ghozi datang dengan satu nampan penuh makanan, ketiganya makan dengan tenang sampai tandas tak tersisa.
__ADS_1
Sejak pengakuan cinta Kafa kemarin keduanya masih saja canggung, Salma lebih memilih menghindar dan meminimalisir pertemuan dengan Salma, begitu pula dengan Kafa yang melihat sikap Salma memilih untuk ikut diam meski sebenarnya dia ingin menyapa dan mendekatkan diri, tapi Kafa lebih memilih menjauh dan mencari waktu yang tepat untuk melakukannya.
Malam indah penuh bintang yang di sinari sang rembulan kini perlahan menghilang tergeser Matahari yang perlahan mulai naik ke peraduan, Salma dan Kafa kini sedang menikmati setiap ketenangan yang terasa dalam sujud keduanya, sujud yang di penuhi rasa syukur juga harapan yang terbesit dalam benak keduanya.
"Mas," lirih Salma yang langsung di respon oleh Kafa.
Suara indah milik Salma yang sudah di tunggu Kafa sejak kemarin kini terdengar merdu di telinga.
"Iya, ada apa?" sahut Kafa langsung mengubah posisi duduknya. Kafa duduk menghadap ke arah Salma dan kini keduanya saling berhadapan.
"Sejak kemarin aku sudah berfikir dan aku memutuskan untukmembantu Mas Kafa menyelesaikan masalah yang saat ini sedang Mas hadapi," jawab Salma.
"Terima kasih Salma, aku bahagia mendengar ucapanmu, aku yakin setelah ini pasti akan jauh lebih mudah," ucap Kafa yang langsung memeluk Salma dengan erat.
"Mas, bisa di lepas tidak? aku sesak kalau Mas meluk aku terlalu kencang," lirih Salma tanpa ada niat menolak pelukan dari Kafa.
"Maaf, aku terlaku senang jadi memelukmu terlalu keras," sahut Kafa.
"Aku kira kamu akan marah karena aku peluk," tutur Kafa.
"Untuk apa aku marah? Mas sudah sah menjadi suamiku, jadi sudah hak Mas kalau mau meluk Salma," jawaban yang sungguh membuat Kafa senang mendengarnya.
"Kalau begitu aku boleh meluk lagi?" tanya Kafa penuh harap.
Salma hanya mengangguk malu sambil menunduk menutupi wajahnya yang sudah memerah seperti buah tomat.
Melihat ekspresi Salma membuat Kafa bersemangat untuk memeluk Salma lagi, bagaimanapu memeluk istri sendiri terasa begitu menyenangkan tanpa beban.
"Aku menyayangimu istriku," bisik Kafa tepat di telinga Salma.
"Baiklah, season peluk-pelukannya di hentikan dulu! lebih baik sekarang kita fikirkan bagaimana cara menghadapi Intan ke depannya?" Salma perlahan melepas pelukan Kafa yang tadinyamemang terasa hangat dan nyaman, dia tak ingin terus berada dalam masalah yang mungkin saja bisa menimbulkan keretakan dalam rumah tangganya.
__ADS_1
"Untuk sementara waktu kita harus ikuti dulu apa yang di inginkan Intan, setelah itu baru kita fikirkan hal lainnya," ujar Kafa yang sebenarnya sedikit membuat hati Salma kecewa, hanya saja Salma tidak ingin terlalu memaksa Kafa karena dia tahu Kafa pasti memikirkan akibat yang akan terjadi di setiap tindakannya.
"Aku akan ikuti apapun yang Mas Kafa katakan nanti," sahut Salmaseolah mendukung apapun keputusan Kafa.
"Aku bersyukur punya istri yang pengertian sepertimu, untuk saat ini kamu harus tetap diam! jangan beri tahu Intan siapa dirimu sebenarnya! biarkan dia berasumsi sendiri siapa kamu yang penting kamu jangan bilang apapun," pesan Kafa yang di angguki oleh Salma.
"Baiklah, aku akan melakukan apa yang Mas Kafa katakan," sahut Salma.
"Aku keluar dulu ya, aku mau bantu Mbok Sumik masak di dapur," pamit Salma berdiri berniat meninggalkan Kafa yang masih setia duduk di tempatnya.
"Aku pengen makan jamur crispy, apa kamu bisa membuatkannya untukku?" tanya Kafa sebelum Salma keluar dari kamar, Salma dan Kafa memang memutuskan untuk sholat berjamaah di dalam kamar karena mempersingkat waktu karena semalam mereka bangun sedikit lebih lambat.
"Kalau cuma jamur crispy aku pasti bisa, lebih baik sekarang Mas Kafa tunggu saja di sini biar aku buatkan jamur crispynya." Jawab Salma yang memang sudah pandai memasak.
"Bagus, tapi sebelum masak buatkan aku kopi terlebih dahulu!" Kafa kembali meminta Salma untuk membuatkannya sesuatu.
"Mas Kafa tunggu saja di sini! aku akan buatkan." Ujar Salma melenggang pergi keluar dari dalam kamarnya.
"Terima kasih, Sayang," ucap Kafa sebelum Salma benar-benar pergi meninggalkannya.
"Hm," sahut Salma singkat tapi sedetik kemudian dia baru sadar dengan panggilan Sayang yang di berikan oleh Kafa.
"Tunggu! Mas Kafa tadi manggil aku apa?" tanya Salma saat dia sadar.
"Tadi siaran live, jadi tidak ada siaran ulang," jawab Kafa acuh.
"Kalau live aku minta link yout***benya biar bisa lihat dan dengar sekali lagi," Salma tak mau kalah dengan jawaban Kafa.
"Tidak ada, sudah cepat buatkan aku kopi!" Kafa lebih memilih menyuruh Salma segera membutkannya kopi dari pada harus menjawab pertanyaan Salma.
Salma hanya bisa diam dan mengikuti apa yang Kafa perintahkan tanpa bisa menjawabnya, dia melangkah keluar dari kamar menuju dapur untuk membuatkan kopi dan membantu Mbok Sumik memasak.
__ADS_1