Cahaya Cinta Salma

Cahaya Cinta Salma
Keterkejutan Umik


__ADS_3

"Umik kenapa di sini? kenapa tidak langsung masuk saja?" ujar Ummi sesaat setelah sampai di teras rumah dan melihat Umik terdiam mematung di depan pintu.


"Tidak apa-apa Ummi, akan sangat tidak sopan jika aku langsung masuk ke dalam rumah," ungkap Umik yang di tanggapi senyuman.


"Jangan beranggapan seperti itu! Umik sudah seperti saudaraku sendiri, jadi jangan pernah merasa sungkan ataupun segan untuk datang kemari." Ummi menyahutipernyataan Umik.


"Oh ya Ummi, ini ada kue dan beberapa makanan lain, Ummi bisa memakan atau menyimpannya dulu," Umik memberikan satu pernah yang Ummi tahu dengan pasti bahwa isinya kue.


"Kenapa mesti repot-repot seperti ini? seharusnya Umik tidak usah membawa seperti ini," ujar Ummi seraya mengambil satu pernah yang tadi di sodorkan padanya.


"Ummi, Umik, Ghozi permisi dulu. Masih ada beberapa pekerjaan yang harus Ghozi kerjakan," pamit Ghozi melangkah pergi kembali ke dalam kamar meninggalkan Ummi dan Umik yang kini sedang berdiri di depan pintu.


"Baiklah, Ummi dan Umik masuk ke dalam dulu." Pamit Umi melangkah masuk ke dalam rumah bersama Umi dengan langkah ringan dan penuh kebahagiaan.


Umik sejenak terdiam menatap sekilas ke arah Tari yang sedang sibuk menumis sayur di depan kompor. Sedang Ummi yang mengerti jika saat ini Umik sedang memperhatikan Tari mencoba mencairkan suasana, agar suasana tegang yang mulai terasa kembali mencair.


"Umik,!" panggil Ummi mencoba mengalihkan pandangannya.


"Iya, Ummi, ada apa?" sahut Umik yang langsung mengalihkan pandangannya dari Tari menuju Ummi yang sedang sibuk membungkus ikan tongkol dengan daun pisang.


"Bagaimana kalau kita bungkus ikan ini bersama-sama?" usul Ummi.


Sedang tari yang sedari tadi fokus menumis sayur menoleh ke arah Umik saat Ummi memanggilnya, melihat kedatangan Umi, tari langsung mematikan kompor dan berjalan mendekat ke arah bumi Seraya meraih tangannya dan mencium punggung tangannya.


"kamu sedang memasak apa?" tanya Umik.

__ADS_1


"Saya sedang memasak sayur kangkung, Umik, " Jawab Tari.


"Lanjutkan memasakmu!" titah Umik saat melihat Tati hanya berdiri tanpa bergerak.


"Baik, Umik," jawab Tari melangkah kembali menuju depan kompor melanjutkan menumis kangkung yang masih setengah matang.


Tari memang kerasa nervous karena ada Umik Ghozi di ruangan itu, tapi sekuat tenaga Tati berusaha bersikap biasa saja dan sesopsn mungkin di hadapan Umik Ghozi, sedang Ummi dan Umik kembali hanyut ke dalam cerita masa lalu di mana keduanya masih muda.


"Assalamu'alaikum," sapa Salma sesaat setelah dia masuk ke dalam dapur.


"Waalaikum salam," Halo semua orang yang ada di dalam dapur titik Salma datang di saat yang tepat di di mana hampir semua masakan sudah matang dan tinggal dihidangkan.


"Maaf Umi Salma telat," ujar Salma sesaat setelah dia berada di samping Umi yang tengah membawa satu piring penuh pepes ikan tongkol di tangannya.


"Sudah tidak apa-apa, Kapan kamu pulang?" sahut Ummi Seraya melempar senyum manis ke arah Salma yang kini menatap aneh dengan kehadiran Umik Ghozi yang ada di hadapannya itu.


"Salma baru saja datang Ummi," jawab Salma.


"Apa ini menantu Ummi?" tanya Umik sambil tersenyum ramah ke arah Salma.


"Iya, dia Salma, membantuku yang paling baik," jawab Ummi yang cukup membuat Salma malu karena pujian yang baru saja di lontarkan padanya.


"Aku dengar menantu Ummi berasal dari keluarga biasa bukan puteri seorang Kiyai, apa yang aku dengar itu benar Ummi?" Umik Ghozi terlihat mencoba mengorek informasi tentang Salma, di luar pesantren berita tentang siapa menantu Ummi memang masih simpang siur, tak ada yang tahu dengan pasti berasal dari mana sebenarnya menantu Ummi itu.


"Iya, dan aku bersyukur mendapatkan menantu sebaik Salma, Umik," jawab Ummi penuh rasa bangga dia memperkenalkan Salma pada Umik Ghozi yang Ummi tahu dengan pasti jika Umik Ghozi masih membedakan seseorang dari keturunannya.

__ADS_1


"Dia terlihat sangat cantik dan Baik," ujar Umik.


"Tentu saja, Umik, jika Salma tidak Baik, mana mungkin aku mau memaksa puteraku untuk menikah dengannya," jelas Ummi seolah menegaskan jika Salma memang gadis yang baik.


"Dan Umik harus tahu jika Tari adalah sahabat sekaligus saudara Salma, dia datang ke sini secara bersamaan, dan aku tahu dengan pasti sifat keduanya," sambung Ummi seolah memberitahukan jika Tari bukan gadis yang memiliki kepribadian buruk meski dia berasal dari keluarga yang broken home.


"Aku selalu percaya dengan apa yang Ummi katakan," sahut Umik.


Salma mulai membantu yang lain untuk menata semua makanan yang sudah matang ke atas meja makan, kemudian berpamitan untuk mandi dan bersiap sarapan sekalian memanggil Kafa untuk ikut sarapan bersama pagi ini.


"Tari!" panggil Ummi saat melihat Tari sudah selesai dan hendak berpamitan untuk pergi dari dapur.


"Iya, Ummi," jawab Tari melangkah mendekat ke arah Ummi yang ada di hadapannya.


"Setelah kamu bersiap, kembalilah kemari untuk sarapan seperti biasanya!" titah Ummi.


"Baik, Ummi," jawab Tari dengan nada lembut dan sikap sopan yang selalu melekat dalam dirinya.


Salma dan Tari keluar dari dapur menuju tempat mereka masing-masing. Membersihkan diri dan bersiap untuk makan bersama.


"Ternyata pilihan anakku tidak buruk juga, dia terlihat begitu manis dan anggun dengan wajah yang cukup cantik, enak di pandang dan suaranya juga lembut menyejukkan hati, apa lagi sikapnya yang sopan, dia memang baik meskipun bukan berasal dari keluarga Kiyai," gumam Umik sesaat setelah dia sampai di kamar tamu dan hendak bersiap, setelah memasak tadi, kini Umik berpamitan untuk mandi dan berganti baju, sejak dulu Umik memang tidak bisa langsung makan setelah memasak, dia yang memang tidak suka hal kotor atau sesuatu yang memiliki bau yang menyengat kini mulai membersihkan diri di kamar tamu yang memang di sediakan oleh Ummi.


Lima belas menit waktu yang di butuhkan untuk Salma dan yang lain bersiap dan berkumpul di ruang makan, semuanya sudah berkumpul dan duduk rapi di tempat masing-masing hingga Tari datang dengan anak kecil yang selalu menempel padanya, siapa lagi anak itu jika bukan Sasa, saingan berat Ghozi di pesantren.


" Assalamualaikum," ujar Tari sesaat setelah dia masuk ke dalam ruang tamu.

__ADS_1


Suara Tari mengalihkan pandangan semua orang, tak terkecuali Umik yang menatapnya intens dengan dahi mengkerut karena saat ini Tari berdiri tak jauh darinya dengan anak kecil yang memegang jemarinya erat, seperti seorang anak yang tak ingin lepas dari Ibunya.


__ADS_2