
'Tari,' batin Ghozi menatap lekat ke arah wajah Tari yang berdiri tegak di hadapannya, bagaimana bisa Tari terlihat secantik ini sekarang, padahal Ghozi yakin jika saat ini Tari tidak memakai make up apapun, wajahnya polos sepolos orangnya.
Tari yang juga terkejut diam mematung menatap Ghozi penuh rasa rindu, meski cintanya tak terbalas dan terpendam, tapi hal itu tidak menyurutkan hati Tari untyk tetap mencintai Ghozi dengan sepenuh hati, cinta tulus tanpa mengharap balasan, sudah cukup lama Tari menunggu Ghozi kembali, dengan sebuah harapan yaitu kata terakhir Ghozi sebelum pergi, meski Tari tidak begitu yakin tentang perasaan Ghozi yang mungkin saja berubah saat berada di kota, tapi hati Tari tetap memilih untuk menunggunya meski dia menunggu tanpa kepastian.
"Ummi memanggilmu, beliau menunggumu di ruang makan," ucap Tari dengan ekspresi yang di buat sebiasa mungkin.
Tari yang merasa sudah tudak mampu menahan perasaannya langsung berbalik arah bermaksud meninggalkan Ghozi yang terlihat masih berdiri di ambang pintu.
"Tunggu!" cegah Ghozi.
Tari yang mendengar namanya di panggil langsung menghentikan langkahnya menoleh ke arah belakang melihat ke arah Ghozi yang terlihat masih menatapnya dengan lekat.
"Ada apa?" tanya Tari setelah berbalik badan.
"Bagaimana kabarmu?" hal pertama yang sejak tadi ingin di ungkapkan oleh Ghozi, cukup lama dia pergi meninggalkan pesantren dan Tari yang mulai mengisi hatinya.
"Alhamdulillah, baik," jawab Tari dengan senyum yang terlihat mengembang di wajahnya.
"Kabarmu bagaimana?" Tari balik bertanya.
"Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja," jawab Ghozi.
"Mbak Tari!!" teriak Sasa yang terbangun tapi tidak melihat Tari di sampingnya.
"Sasa," sahut Tari sambil merentangkan tangan memeluk Sasa yang terlihat takut.
"Ada apa, Sayang?" tanya Tari.
"Aku takut, Mbak Tari ke mana saja?" jawab Sasa dengan polosnya dia memeluk erat tubuh Tari yang berdiri di sampingnya.
__ADS_1
"Sudah jangan takut, Mbak Tari tadi cuma pergi sebentar," jawab Tari mencoba menenangkan Sasa yang terlihat masih takut.
"Jangan pergi-pergi seperti tadi Mbak! Sasa takut sendirian," rengek Sasa yang terlihat begitu manja pada Tari.
"Iya, nanti Mbak usahain gak pergi-pergi sepertitadi," jawab Tari.
Sejenak suasana hening, Sasa yang masih asyik memeluk Tari dan Ghozi yang tertegun melihat kedekatan Sasa dan Tari membuat suasana hening tak bersuara.
"Dia siapa, Mbak?" tanya Sasa menatap heran ke arah Ghozi yang sedang berdiri di tengah pintu.
"Oh, ini, dia Mas Ghozi, santri sekaligus putera angkat Ummi," jawab Tari dengan senyum yang mengembang di wajahnya.
"Mas Ghozi sedang apa di sini?" Sasa kembali bertanya, ini pertama kalinya Sasa melihat Ghozi di pesantren, karena itulah Sasa merasa sangat heran dan bingung dengan Kehadiran Ghozi.
"Dia siapa Tari?" tanya Ghozi merasa asing dengan gadis kecil yang kini berdiri di hadapannya itu.
"Astaga, aku sampai lupa, kalian kan belum kenal sebelumnya," ujar Tari yang baru saja sadar jika Sasa dan Ghozi belum saling mengenal.
"Perkenalkan, ini Mas Ghozi, dan Ghozi perkenalkan ini Sasa santri baru yang memiliki umur paling kecil di antara semua santri," sambung Tari memperkenalkan keduanya dengan harapan Sasa akan akrab dengan Ghozi.
Sasa dan Ghozi sama-sama diam, tak ada yang merespon perkenalan yang baru saja di ucapkan oleh Tari.
"Kenapa kalian diam saja?" tanya Tari yang heran melihat reaksi Ghozi dan Sasa, keduanya begitu kompak tidak merespon apa yang baru saja di lakukan oleh Tari.
"Aku lapar, aku pergi dulu." Pamit Ghozi melangkah menjauh meninggalkan Tari dan Sasa yang kini saling pandang, merasa heran dengan apa yang di lakukan oleh Ghozi.
"Dia aneh, aku tidak suka pada orang itu Mbak Tari," ungkap Sasa dengan ekpresi wajah tidak sukanya dia berucap membuat siapapun pasti ingin tertawa dan mencubit pipinya saat ini.
"Hus, tidak boleh bilang seperti itu! Mas Ghozi itu orangnya baik Sasa, jadi jangan menilai orajg seoerti itu sebelum Sasa benar-benar mengenalnya!" Tari yang tidak ingin melihat Ghozi dan Sasa saling membenci verusaha memberi pengertian pada Sasa agar dia tidak membenci Ghozi sebelum mengenalnya.
__ADS_1
"Aku tidak perduli, yang aku tahu saat ini aku tidak menyukai orang itu Mbak Tari," ujar Sasa yang merasa tidak menyukai Ghozi.
"Tidak boleh berkata seperti itu Sasa! Mas Ghozi itu orangnya baik, kamu saja yang belum mengenalnya," ujar Tari mencoba memberi pengertian pada Sasa yang masih kecil.
"Aku tidak suka sama Mas Ghozi, dia terlihat menyukai Mbak Tari, dan aku tidak mau Mbak Tari di ambil sama dia, Mbak Tari hanya untukku dan Daddy, TITIK," Sasa mengungkapkan alasan dirinya yang tidak menyukai Ghozi sejak pertama kali dia bertemu.
"Tidak boleh bicara seperti itu Sasa! Takdir itu Allah yang punya dan manusia tidak akan pernah bisa mengubahnya," Tari kembali mencoba mengingatkan Sasa tentang apa yang baru saja dia katakan, bagaimanapun keadaannya Tari memang menyukai Ghozi, bukan Daddy Sasa.
"Kalau begitu aku akan meminta sama Allah biar Tari menjadi milikku dan Daddy," celetuk Sasa seenaknya sendiri, Sasa yang masih kecil belum mengerti dengan perasaan yang di miliki oleh Tari.
'Jangan kabulkan do'a Sasa ya Allah, aku mencintai Ghozi bukan Daddy nya,' batin Tari yang berkata tak selaras dengan bibirnya.
"Sudah, jangan ribut masalah itu, lebih baik kita ikut bergabung bersama Ummi di ruang makan." Ajak Tari dengan senyum yang dia tunjukkan sebaik mungkin meski hatinya tak selaras dengan apa yang dia tunjukkan.
Sasa yang sejak awal memang selalu menurut pada Tari langsung berjalan menuju dapur sambil memegang tangan Tari posesif, Sasa terlihat tidak rela dengan apa yang dia sangka, dia tak mau Tari bersama dengan Ghozi, padahal Tari dan Ghozi baru saja bertemu, tapi Sasa yang masih kecil sudah merasakan tanda bahaya.
"Sasa kok ikut bangun?" sambut Ummi yang melihat Sasa datang dengan Tari di sampingnya.
"Sasa harus bangun, jika Sasa tidur terus, Sasa takut Mas Ghozi mengambil Mbak Tari dariku," jawsb Sasa polos.
Apa yang di katakan Sasa cukup membuat Ummi terkejut, dia langsung menoleh ke arah Ghpzi dan Tari secara bergantian, terselip rasa curiga terhadap Ghozi dan Tari yang kini mulai tumbuh dalam hati Ummi, apa yang sebenarnya terjadi tadi? hingga Sasa yang baru melihat Ghozi langsung membencinya.
"Sasa mau makan atau cuma mau nemenin Ummi dan Mbak Tari di sini?" sela Tari yang mengerti jika saat ini Ummi sedang menatap curiga ke arah dirinya dan Ghozi.
"Sasa mau makan itu, tapi Mbak Tari yang harus menyuapiku," jawab Sasa sambil menunjuk ke arah menu makanan yang di buat oleh Ummi dan Tari tadi.
"Baiklah, Mbak Tari akan menyuapimu. Tapi Sasa makan yang banyak ya," sahut Tari yang langsung mengambilkab makanan untuk Sasa.
"Aku akan makan yang banyak biar cepat besar dan bisa melindungi Mbak Tari dari dia," jawab Sasa sambil menjulurkan lidah bermaksud menantang Ghozi yang justru mengerutkan dahi bingung dengan sikap bocil di hadapannya itu.
__ADS_1
'Dia anak siapa sih? sejak tadi bikin emosi saja,' batin Ghozi yang bingung bercampur penasaran dengan Sasa yang sebelumnya tidak dia kenal.