
"Apa hubunganmu dengan Intan sebenarnya Kafa?" Ummi kembali menanyakan hal yang belum di jawab oleh Kafa.
"Kafa sudah bilang sejak tadi jika Kafa masih belum siap untuk menjawabnya sekarang Ummi," jawab Kafa.
"Jawab saja! Ummi sudah menemui Intan dan dia mengatakan datang ke sini dengan tujuan meminta restuku, apa maksud dari semua ini Kafa? jelaskan!" Ummi mulai meninggikan satu oktaf nada bicaranya, amarah yang tak pernah di lihat oleh Kafa sebelumnya kini membuat diri Kafa bergetar. Sejak kecil Ummi tidak pernah berkata dengan nada tinggi pada Kafa, dia selalu lembut dalam segala hal, termasuk menasehati ataupun memarahinya, tapi kali ini ekspresi wajah Ummi dan nada bicaranya terlihat jauh berbeda dari biasanya.
Kafa menghirup udara sebanyak mungkin kemudian menghembuskannya perlahan mencoba meyakinkan diri agar dia bisa menjelaskan segalanya.
"Intan itu kekasih Kafa di kota Ummi, maaf jika hal ini membuatmu kecewa, tapi Kafa tidak pernah melakukan sesuatu yang melanggar aturan dengannya Ummi, bahkan memegang tangannya saja Kafa tidak pernah," jujur Kafa.
"Bagaimana kamu bisa membuktikannya pada Ummi, Kafa? gadis itu sampai rela menyusulmu ke sini, itu artinya dia begitu mencintaimu, apa Ummi bisa percaya begitu saja setelah apa yang terjadi?" Ummi mengungkapkan segala keraguan juga kekecewaan yang ada dalam hatinya.
"Ummi bisa memegang kata-kata Kafa, karena Kafa tidak berbohong," Kafa yang tak bisa memberi bukti hanya bisa berkata.
"Bagaimana dengan rencana perjodohan yang telah Ummi dan Abah rencanakan? betapa malunya Ummi jika gadis itu tahu perjodohan kalian batal hanya karena kamu telah memiliki kekasih," wajah Ummi yang tasi terlihat begitu emosi kini berubah menjadi sendu dan perlahan air mata menetes di pelupuk matanya.
"Aku akan memikirkan jalan keluar terbaik untuk itu Ummi, jadi Ummi tidak perlu khawatir akan hal itu!" ucap Kafa mencoba menenangkan sang Ummi.
"Ummi kecewa padamu, Kafa," seru Ummi kemudian berdiri melenggang pergi meninggalkan Kafa yang masih setia duduk di tempatnya.
Melihat sikap Ummi sukses membuat Kafa semakin dilema dan merasa bersalah, saat ini hatinya terasa seperti tersayat benda tajam, luka tak berdarah tapi sangat menyakitkan.
"Maaf, Ummi," lirih Kafa sambil menundukkan kepala.
~
"Salma, kita udahan yuk main airnya, capek," keluh Tari, dia merasa sudah lelah membersihkan kamar mandi, lebih tepatnya bermain air di kamar mandi.
"Kamu bener Tari, capek juga ya, padahal dari tadi kita cuma main-main," sahut Salma.
"Sudah matiin krannya! kita balik ke asrama aja." Ajak Tari.
Salma hanya mengikuti apa yang Tari katakan, dia melangkah keluar dari kamar mandi menuju asrama. Sungguh hari yang cukup melelahkan bagi keduanya, bertemu dengan Kafa bukanlah hal yang membuat keduanya beruntung, tapi malah membuat keduanya semakin apes.
__ADS_1
"Mbak Tari, Mbak Salma, kalian ke mana saja?" tanya Ratna.
"Eh Mbak Ratna, kami habis nyelesaiin hukuman dari Mas Kafa, memangnya ada apa ya Mbak?" sahut Tari.
"Kalian di panggil Ummi tadi," jawab Ratna.
"Astaghfirullah, kenapa gak selesai-selesai sih? baru aja mau tidur udah ada yang manggil lagi," keluh Tati dengan ekspresi wajah memelas.
"Sabar Tari, semua pasti akan indah pada akhirnya," Salma mengusap punggung Tari mencoba menguatkan hatinya.
"Sudahlah, lebih baik kita langsung berangkat temui Ummi saja, siapa tahu kita dapat makanan gratis di sana, kan lumayan buat ganjel perut yang lagi laper," ujar Tari menarik tangan Salma keluar dari kamar menuju rumah Ummi.
"Mbak Ratna terima kasih sudah di kasih tahu," ujar Salma dengan nada suara sedikit meninggi karena Tari sudah menariknya cukup jauh. Sedang Ratna yang melihat hanya tersenyum sambil mengangguk menanggapinya.
Keduanya melangkah menuju rumah Ummi. "Assalamualaikum," ucap Salma.
"Waalaikum salam," sahut Mila.
"Ummi ada di ruang keluarga, masuklah!" jawab Mila dengan senyum yang mengembang.
"Ummi memanggil kami?" tanya Salma saat ada di tuang keluarga.
"Iya, tadi Ummi berencana mengajak kalian ke pasar untuk belanja, tapi sekarang tidak jadi, kalian bisa ke asrama lagi. Tapi nanti sore bantu Ummi memasak ya," jawab Ummi.
"Baik, Ummi," jawab Salma.
"Kalau begitu kami pamit balik ke asrama dulu Ummi, assalamualaikum," kali ini Tari yang berpamitan.
"Waalaikum salam," sahut Ummi.
Salma dan Tari kembali berjalan menuju asrama setelah menemui Ummi, keduanya tampak heran melihat raut wajah Ummi yang tidak secerah biasanya, ada gurat kesedihan bercampur kecewa terpancar di wajah Ummi.
"Tari, apa kamu lihat ekspresi Ummi tadi?" Salma membuka percakapan.
__ADS_1
"Iya, aku tadi w, Ummi terlihat begitu sedih dan kecewa, kira-kira kenapa ya?" sahut Tari yang sependapat dengan Salma.
"Entahlah, aku sendiri juga tidak tahu kenapa, kita do'akan saja semoga semua baik-baik saja" Salma yang tak ingin terlalu kepo dengan kehidupan Ummi memilih untuk mendo'akan yang terbaik untuk Ummi dari pada mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Amin," sahut Tari mengamini do'a Salma.
"Aku ngantuk mau tidur dulu, nanti kalau udah waktunya sholat bangunin aku ya!" pinta Tari sambil menata tempat untuknya tidur.
"Iya, nanti aku bangunin kalau aku juga bangun," jawab Salma yang juga ikut mengambil perlengkapan untuk tidur.
"Au ah, terserah, gak di bangunin juga gak apa-apa," cicit Tari kemudian menata bantal dan mulai merangkai mimpi.
Siang berlalu berganti sore yang terlihat begitu cerah, matahari masih tampak bersinar terang menimbulkan hawa yang cukup panas.
"Assalamualaikum," ucap Salma dan Tari hampir bersamaan.
"Waalaikum salam," Sahut Ummi yang kini membuka pintu belakang yang menjurus ke dapur dengan lebar.
"Masuklah! Ummi sedang menyiapkan bahan untuk memasak, ayo bantu Ummi!" ajak Ummi yang langsung di ikuti keduanya.
Salma dan Tari mengikuti ajakan Ummi, keduanya berjalan mendekat dan membantu Ummi memasak. Apa yang di lakukan keduanya berbeda dengan. Intan yang mulai merasa lapar juga haus.
"Aku lapar, haus pula," lirih Intan, sejak Intan masuk ke dalam kamar. Dia sama sekali tak melihat Kafa datang ataupun lewat, tanpa banyak berfikir lagi Intan memakai hijab blus yang di berikan Ummi dan berjalan keluar dari kamar menuju rumah Ummi.
"Assalamualaikum, Ummi!" panggil Intan dengan nada lembut.
"Ummi!" nada suara Intan naiksatu oktaf berusaha mencari seseorang di dalam rumah.
"Siapa? masuklah Ummi di dapur," sahut Ummi yang samar-samar mendengar namanya di panggil.
"Ummi sedang apa?" tanya Intan saat sudah sampai di dapur.
Kedatangan Intan membuat Tari dan Salma bingung, pasalnya selama ini mereka tak pernah melihat Intan sebelumnya, saat ini pertama kalinya mereka melihat Intan, jadi wajar jika keduanya saling pandang dengan tatapan heran yang terlihat jelas di wajah mereka.
__ADS_1