
"Gak apa-apa, cuma pengen tahu aja," Salma mengatakan apa yang dia rasakan.
"Kamu fikir saja sendiri siapa pemilik restauran ini!" sekali lagi Kafa memberikan jawaban yang begitu menjengkelkan bagi Salma, tapi Salma yang merasa sudah terbiasa kini tidak peduli dengan apa yang di ucapkan oleh Kafa.
"Istirahatlah! aku mau pergi sebentar, jangan ke mana-mana sebelum aku kembali!" titah Kafa.
"Iya," jawab Salma dengan ekspresi wajah malas yang tergambar jelas di wajahnya.
Kafa melangkah pergi meninggalkan Salma yang kini duduk sendiri tanpa ada yang menemani, meski sebenarnya dia takut tapi Salma berusaha menguatkan diri agar dia tidak takut dengan apapun.
'Mas Kafa mau ke mana ya? apa dia mau pergi meninggalkanku? terus kalau aku di tinggal bagaimana caranya aku kembali?' batin Salma mulai di penuhi pertanyaan yang tidak tahu kebenarannya.
Tadi Salma merasa sudah terbiasa dengan sikap Kafa, tapi setelah Kafa menutup pintu baru dia memikirkan hal buruk yang akan terjadi. Cukup lama Kafa tidak kembali hingga pintu di ruangan itu terbuka tapi yang membukanya kali ini bukan Kafa melainkan Ghozi.
"Ghozi, Mas Kafa ke mana? kenapa kamu yang datang?" tanya Salma dengan ekspresi heran.
"Mas Kafa ada urusan mendadak, jadi dia memintaku untuk mengantarmu ke rumahnya di kota." Jawab Ghozi.
"Kenapa dia tidak pamit padaku?" lirih Salma yang masih bisa di dengar oleh Salma.
"Sudahlah, jangan di fikirkan! kamu harus tetap berfikir positif tentang Mas Kafa, karena apa yang dia lakukan pasti yang terbaik untukmu," ujar Ghozi.
'Kenapa aku jadi semakin bingung dan penasaran dengan semua yang telah terjadi?'
"Sudah aku bilang jangan terlalu banyak berfikir Salma!" tegur Ghozi yang kembali melihat Salma termenung seperti seseorang yang sedang berfikir.
"Aku masih bingung Ghozi, Mas Kafa pergi ke mana? kenapa dia pergi begitu saja, kenapa gak bilang dulu padaku?" Salma yang sudah bertemanbaik dengan Ghozi sebelumnya terlihat tidak ragu untuk mengungkapkan apa yang dia rasakan.
"Dia terburu-buru tadi, jadi tidak sempat untuk berpamitan," jawab Ghozi enteng tanpa ada beban.
"Kamu mau tetap di sini atau segera berangkat melanjutkan perjalanan?" sambung Ghozi, sebenarnya Ghozi merasa kasihandan juga khawatir pada Salma setelah mendengar semua yang telah terjadi dari Kafa, Salma harus ikut terseret dalam masalah yang sebenarnya Salma sendiri tidak seharusnya ikut di sana.
"Lah kenapa sekarang justru kamu yang diam Ghozi? ayo berangkat!" Salma jadi semakin heran lagi melihat Ghozi terdiam.
__ADS_1
"Ayo!" sahut Ghozi berjalan keluar dari restauran kemudian membukakan pintu untuk Salma.
"Kenapa aku harus duduk di belakang? kenapa tidak di depan saja?" tanya Salma
"Sekarang kamu sudah menjadi istri Mas Kafayang notabennya putera guruku, jadi aku harus jauh lebih menghormatimu lagi," jawab Ghozi.
"Tapi kita masih bisa jadi teman kan?" dengan nada ragu Salma mengatakannya.
"Tentu saja, kita masih teman tapi aku harus lebih sopan pada temanku yang satu ini, sekarang aku akan berprofesi sebagai supirmu, masuklah!" ujar Kafa yang cukup membuat Salma yang bingung sedikit terhibur.
Salma langsung masuk ke dalam mobil menempatkan diri di tempat duduk yang menurutnya jauh lebih nyaman dari sebelumnya.
Ghozi terlihat begitu tenang saat menyupir dan suasana dalam mobil juga tidak terasa kaku karena saat ini Ghozi menyalakan musik yang terdengar merdu untuk do dengar.
"Apa kau suka lagunya? atau perlu aku ganti?" tawar Ghozi.
"Tidak usah di ganti! aku cukup menyukai lagu ini," jawab Salma yang melarang Ghozi untuk mematikan lagunya karena lagu yang sedang di putar oleh Ghozi termasuk lagu kesukaan Salma juga.
"Kalau gitu kita sama," sahut Ghozi yang membuat Salma tersenyum, Ghozi dan Kafa mereka berdua berbeda bagi Salma, bagaikan bumi dan langit.
"Apa kamu mengatakan sesuatu Salma?" tanya Ghoziyang merasa jika Salma mengatakan sesuatu.
"Tidak, aku tidak mengatakan apapun," Salma terpaksa mengelak dan berbohong karena sangat tidak mungkin untuk dia mengatakan yang sebenarnya pada Ghozi.
"Oh ya, di jok belakang kursi yang kamu tempati ada beberapa makanan dan minuman yang bisa kamu nikmati, makan saja!" ucap Ghozi.
"Wah terima kasih Ghozi," ujar Salma dengan senyum yang mereka saat menoleh ke belakangdan melihat satu kantong penuh makanan yang dia yakini berasal dari tokoh yang terkenal dengan harganya yang cukup mahal.
"Sama-sama," sahutGhozi ramah.
Salma memang mengucapkan rasa terima kasihnya pada Ghozi, tapi dia tidak langsung memakan apa yang sudah di siapkan oleh Ghozi karena saat ini dirinya merasa masih kenyang setelah makan di restauran tadi.
"Oh, ya kenapa kamu bisa ada di sini Ghozi? bukankah kemarin kamu berpamitan untuk pulang?" tanya Salma.
__ADS_1
"Aku memang izin pulang dan menemui Umik di rumah, tapi Mas Kafa menelfonku dan memintaku ikut juga bersamanya menjaga istri kecil miliknya," jelas Ghozi.
"Astaga Mas Kafa memang punya hobi untuk merepotkan orang lain," spontan Salma.
"Tidak apa-apa, lagi pula aku senang kok bisa mengantarmu," sahut Kafa yang membuat Salma tersenyum.
Perjalanan kini terasa jauh lebih menyenangkan dan jauh terasa lebih santai dari sebelumnya, Ghozi yang ramah dan tidak kaku bisa membuat suasana mobil jaub lebih baik dari sebelumnya, Salma dan Ghozi banyak mengobrol hingga akhirnyaSalma tertidur di jok bagian belakang mobil saking nyamannya dia di antar oleh Ghozi.
"Salma, kita sudah sampai," Ghozi memberitahu Salma saat mobil yang dia bawa sudah sampai di halaman rumah Kafa di kota, bukannya mendapatkan jawaban Ghozi malah tak mendengar apapun, dia memutuskan untuk mengecek dan menoleh ke belakang, dan ternyata Salma sedang nyenyak dalam mimpinya.
"Astaghfirullah, ternyata dia tertidur," lirih Ghozi.
Tanpa banyak bicara Ghozi langsung membuka seluruh kaca mobil kemudian turun dari sana dan segera mencari keberadaan Kafa yang di yakini Ghozi dia pasti sudah ada di dalam rumah.
"Assalamualaikum," ucap Ghozi saat sudah sampai di depan pintu rumah Kafa.
"Waalaikum salam," jawab Kafa yangs swjak tadi memang sudah menunggu Ghozi pulang.
"Mana Salma?" tanya Kafa dengan ekspresi khawatir saat dia melihat Salma tidak ada di depan pintu.
"Dia tidur di mobil," jawab Ghozi.
Tanpa banyak berkata lagi Kafa langsung berjalan melewati Ghozi menuju mobil yang sudah terparkir cantik di halaman kemudian membuka pintu dan menggendong Salma uang sedang terlelap dalam mimpinya.
'Kenapa dia bisa tidur saat di antar Ghozi, kalau di antar aku dia malah terlihat tegang,' batin Kafa sambil terus menggendong Salma dan membawanya masuk ke dalam rumah.
"Lah mau di bawa ke mana tu anak orang?" celetuk Ghozi saat melihat Kafa menggendong Salma melewati dirinya yang sedang duduk santai di kursi ruang tamu.
"Ke kamar, ngapain kamu nanya? suka-suka aku mau ku bawa ke mana?" sewot Kafa.
Entah mengapa hati Kafa sedikit jengkel saat mendengar Salma tertidur di mobil saat Ghozi yang mengantarkannya sedang tadi Salma terlihat begitu tegang saat bersama dengan Kafa.
"Buahahahaha ... nanya gitu aja dia sewot, cemburu ya bos," sahut Ghozi dengan nada suara yang cukup keras hingga terdengar di telinga Kafa.
__ADS_1
"Bodoh amat," sahut Kafa cuek, dia semakin mempercepat langkahnya menuju kamar yang biasa di tempati Kafa jika. dia ada di rumah itu, padahal untuk menuju ke kamar Kafa membutuhkan tenaga yang ekstra karena berada di lantai atas, tapi Kafa sama sekali tidak merasa lelah atau keberatan, dia malah terlihat biasa saja.