Cahaya Cinta Salma

Cahaya Cinta Salma
Perhatian Ummi


__ADS_3

"Kafa!" Ummi kembali memanggil Kafa, kali ini Ummi memanggilnya dengan intonasi lebih tinggi karena suara Ummi sudah naik satu oktaf dari biasanya.


"Astaghfirullah, iya Ummi, ini Kafa mau jalan," sahut Kafa seraya berjalan dengan langkah lebih lebar agar bisa segera menyusul Ummi yang sudah ada di depannya dengan jarak cukup jauh.


"Assalamualaikum," ucap Ummi sesaat setelah membuka pintu dan masuk ke dalam kamar di mana Salma di rawat.


"Waalaikum salam," sahut Salma dan Tari hampir bersamaan.


"Ummi," panggil Salma dengan senyum penuh kebahagiaan yang terpancar jelas di wajahnya membuat siapapun senang memandang.


"Bagaimana keadaanmu, Nak?" Ummi langsung berjalan mendekat dan berdiri tepat di samping tempat tidur Salma kemudian memegang dahi dan menggenggam telapak tangan Salma, Ummi ingin memastikan jika Salma memang baik-baik saja, jika Salma merasa begitu bahagia mendapat perhatian Ummi seperti perhatian ibunya sendiri maka lain halnya dengan Kafa yang merasa malas melihat keakraban kedua wanita yang akan menemaninya sampai akhir nanti.


'Ummi selalu saja begitu, apa dia tidak kapok bersikap terlalu baik sama calon istriku,' batik Kafa terus bertanya sedang kepalanya hanya menggeleng pelan melihat Salma dan Ummi yang terlihat seperti seorang Ibu yang memperlakukan anak kandungnya.


Dulu Ummi juga begitu baik pada Bella, dia bersikap begitu perhatian memperlakukan Bella seperti putri kandungnya sendiri, bukannya mendapat balasan dengan sikap yang baik pula Ummi malah harus menelan kekecewaan karena Bella berkhianat dengan segala rencana busuknya.


"Alhamdulillah, aku sudah lebih baik sekarang, terima kasih Ummi sudah mau merawatku di sini, Salma tidak tahu harus bagaimana kalau Ummi dan juga kamu Tari, aku tidak tahu kalau kalian tidak ada di sini bagaimana dengan nasibku," ujar Salma dengan wajah penuh kesedihan.


"Sudah jangan sedih-sedihan seperti itu! lebih baik sekarang kita makan saja, Ummi masak ayam bakar enak untuk kalian," ujar Ummi sambil mengeluarkan kotak bekal yang dia bawa ke hadapan Salma dan Tari.


"Sarapan untukku mana Ummi?" kali ini suara Kafa yang duduk di atas kasur khusus untuk penunggu pasien terdengar mengalihkan perhatian ketiga wanita yang sedang sibuk menata makanan untuk mereka makan.


"Tenang saja, Ummi sudah membuatkan ayam bakar untukmu juga," jawab Ummi berjalan ke arah Kafa sambil membawa satu bungkus nasi yang ada di dalam plastik.


"Aku kira Ummi sudah lupa kalau masih ada Kafa di sini," sinis Kafa yang merasa jengkel dengan apa yang di lakukan sang Ummi.

__ADS_1


"Kamu tetap putera kesayangan Ummi, meskipun sekarang sudah ada Salma yang menjadi puteri Ummi, tapi tetap Kafa yang nomor satu di hati Ummi," ujar Ummi sambil mengusap lembut kepala Kafa.


Apa yang di lakukan oleh Ummi sukses membuat Salma dan Tari yang melihat begitu syok, pasalnya ini pertama kalinya mereka melihat sikap manja dan memanjakannya Ummi juga Kafa, selama ini Kafa selalu terlihat kejam dengan ucapan yang selalu pedas dan mata yang terlihat tajam. Tapi kali ini Kafa benar-benar berbeda, dia terlihat seperti anak kucing yang begitu bahagia setelah di beri makan dan di usap lembut kepalanya.


"Hah?" lirih Salma dan Tari hampir bersamaan, keduanya saling pandang dengan pandangan penuh keheranan, dan terselip senyum tipis di wajah keduanya, senyuman yang menandakan jika apa yang mereka lihat adalah hal yang begitu lucu.


"Khem," Kafa berdehem setelah menyadari jika saat ini masih ada Salma dan Tari di ruangan itu.


"Terima kasih, Ummi," ujar Kafa kemudian berdiri berjalan keluar dari kamar menghindar dari Salma dan Tari.


"Kalian kenapa senyum-senyum begitu?" tanya Ummi sambil menatap heran ke arah Salma dan Tari yang kini cengengesan saat melihat Kafa sudah menghilang di balik pintu.


"Kira-kira dosa enggak ya kalau aku ketawa sekarang?" tanya Tari sambil menatap mata Salma yang kini tersenyum, bukan senyuman tapi lebih tepatnya Salma sedang menahan tawa yang tidak mungkin di tunjukkannya sekarang.


"Tidak ada apa-apa Ummi," jawab Salma setelah dia bisa mengendalikan tawa yang sejak tadi memberontak ingin keluar.


"Kalau begitu ayo makan!" Ummi yang mendengar jawaban Salma lebih memilih mengajaknya makan dari pada terus bertanya dan memaksa Salma juga Tari untuk menjawab pertanyaannya dengan detail dan jujur.


Ketiganya makan bersama dengan penuh hikmat, meski berada di rumah sakit tapi mereka makan dengan penuh kenikmatan karena kamar yang di tempati Salma begitu nyaman meski ada sedikit bau rumah sakit yang tercium tapi tidak begitu mempengaruhi kenikmatan mereka yang makan bersama.


"Ummi!" Kafa kembali memanggil Ummi setelah dia menghabiskan makanannya dan melihat sang Ummi dan yang lain sudah selesai makan.


"Iya, ada apa Kafa?" sahut Ummi mengalihkan perhatiannya yang sejak tadi tertuju pada Salma dan Tari.


"Kafa ingin bicara sama Ummi, apa Ummi bisa keluar dan kita bicara berdua saja?" jawab Kafa sambil kembali bertanya.

__ADS_1


"Kamu tunggu Ummi di luar, sebentar lagi Ummi pasti nyusul ke sana." Jawab Ummi dan Kafa hanya mengangguk menanggapi ucapan Ummi sebagai tanda jika dia sudah mengerti.


"Salma, Tari, Ummi tinggal sebentar ya, apa ada sesuatu yang kalian inginkan? biar nanti Ummi belikan." Tawar Ummi sebelum dia pergi.


"Tidak, Ummi, kami sudah kenyang," jawabSalma.


"Salma benar Ummi, lagi pula di dalam kulkas masih ada banyak makanan dan buah, kami tidak ingin apapun saat ini," sahut Tari yang ikut menjawab tawaran Ummi.


"Baiklah, kalau begitu Ummi pergi dulu. Assalamualaikum," pamit Ummi kemudian melenggang pergi meninggalkan Salma dan Tari yang tersenyum dan mengangguk menanggapi ucapan Ummi.


"Waalaikum salam," sahut keduanya hampir bersamaan sambil mengangguk dan tersenyum.


Ummi berjalan keluar dari kamar mencari keberadaan Kafa yang ternyata sudah duduk di tempat duduk yang ada si luar ruangan Salma.


"Kamu mau bicara apa, Nak?" tanya Ummi berjalan mendekat ke arah Kafa.


"Duduklah Ummi!" pinta Kafa seraya menepuk kursi yang ada di sampungnya.


Mendengar permintaan sang putera Ummi langsung duduk tepat di samping Kafa kemudian menatap mata sang putera. Terlihat jelas ekspresi penuh gelisah yang tergambar di wajah Kafa.


"Ummi, Kafa mau minta izin untuk kembali ke kota, apa Ummi mengizinkannya?" tanya Kafa.


Setelah pertemuannya dengan Intan dan segala masalah yang di timbulkan oleh Intan cukup memberikan pelajaran berharga untuk Kafa agar dia tidak pergi begitu saja tanpa izin dari sang Ummi, dengan izin dan ridho Ummi, Kafa berharap masalahnya bisa cepat selesai.


"Ummi akan memberi izin asal kamu menikah dulu sebelum kembali ke kota!"

__ADS_1


__ADS_2