
Siang kini telah berganti, setelah mengantar Intan pulang kini Kafa telah sampai di rumahnya dengan menenteng beberapa onderdil yang akan dia pasang di sepeda motor yang akan dia gunakan untuk bertanding nanti malam.
"Semoga saja aku bisa memenangkan balap nanti malam," lirih Kafa sambil menemani sang montir yang membenahi motor yang akan di pakai oleh Kafa nanti malam.
"Loe tenang aja brow! motor ini udah gue setting sebaik mungkin, entar malem Loe pasti bakal menang," ujar Sang Montir.
"Semoga saja," sahut Kafa.
Malam yang di tunggu telah tiba, kini Kafa sudah bersiap di atas motor balap yang biasa di gunakan.
"Aden, ini sudah malam, Aden mau ke mana?" tanya Bik Sumik berjalan mendekat ke arah Kafa yang terlihat sudah siap berangkat.
"Biasa Bik, mau tanding di tempat biasa." Jawab Kafa.
"Astaghfirullah, Den, apa tidak lebih baik Aden tidur saja dari pada ikut pertandingan gak jelas seperti itu?" tanya Bik Sumik dengan ekspresi khawatir yang terpancar jelas di wajahnya.
"Aku pergi dulu Bik." Tanpa menjawab ucapan sang Bibik Kafa langsung menjalankan motornya keluar dari halaman rumah menuju tempat balapan.
Motor melaju dengan kecepatan sedang menuju rumah Intan, seperti biasa Kafa akan menyusul Intan terlebih dahulu sebelum pergi ke arena balap.
"Tumben telat Honey?" tanya Intan yang ternyata sudah siap menunggu Kafa di teras rumahnya.
Kafa menatap datar ke arah Intan yang kini sedang memakai celana hotpain dan baju yang tadi siang di belikan oleh Kafa.
__ADS_1
"Pakai!" titah Kafa sembari menyodorkan jaket kulit yang tadi di pakainya.
"Untuk apa Honey?" tanya Intan yang merasa heran dengan jaket kulit yang di sodorkan ke arahnya.
"Pakai saja sebelum kamu masuk angin!" Kafa kembali memberi perintah, kali ini dia mengatakannya dengan alasan yang membuat Intan diam seribu bahasa tanpa bisa mendebat ataupun menolaknya.
"Ayo kita jalan Honey!" seru Intan setelah meĺihat Kafa datang dengan sepeda motor kesayangannya.
Tanpa membalas perkataan Intan Kafa melajukan motornya dengan kecepatan sedang menuju arena balap yang biasa dia dan teman-temannya gunakan.
"Wah bintang kita udah dateng, gimana bro? apa loe udah siap?" sambut Salman saat melihat Kafa datang bersama sang sepupu Intan.
"Siap, Loe tenang aja!" jawab Kafa santai.
Ikut balap liar memberi sensasi tersendiri bagi Kafa, dia bisa sejenak melupakan semua masalah dan rasa sakit yang pernah hinggap di hatinya, menikmati terpaan angin yang menerpa wajah memberikan ketenangan dalam jiwanya.
Di sisi lain seorang pemuda selalu setia mengawasi jalan yang di gunakan untuk arena balap agar tak di lewati orang, dia sedang duduk di tepi jalan sambil menatap keadaan sekitar. Dia akan memberitahukan keadaan jalan yang akan di lewati tengah di pergunakan oleh para pembalap liar, tak jarang juga dia harus mengeluarkan uang untuk menyogok pengendara lain agar mencari jalan lain demi keselamatannya dan Kafa.
"Sampai kapan Den Kafa bersikap seperti ini?" lirih laki-laki itu tmyang ternyata Fikri, iya Fikri selalu mendapat tugas mengawasi Kafa setiap saat dan melaporkannya pada Ummi.
Jika Kafa sedang melajukan motornya membelah jalanan sepi nan lurus untuk mendapatkan sebuah kemenangan. Maka berbeda dengan Ummi yang kini duduk termenung di ruang keluarga setelah melaksanakan sholat malam yang rutin dia lakukan.
Sejak Fikri menelfon dan memberi kabar jika Kafa akan melakukan pertandingan motor Ummi langsung melakukan sholat malam. Menengadahkan tangan berdo'a agar sang putera selamat dan baik-baik saja di sana, di tempat yang jauh darinya berada.
__ADS_1
Bulir-bulir bening air mata terus menetes di pipi seiring do'a tulus sang Ummi terucap, bait demi bait indah mengalun dari bibirnya, hati Ummi tak pernah berhenti berharap dan berdo'a agar Kafa bisa segera sadar dari apa yang telah dia lakukan.
"Ummi! apa kamu masih saja menangisinya?" tanya Abah yang terbangun setelah mendengar rintihan suara Ummi yang di barengi tangisan.
"Bagaimanapun juga dia putera kita Abah," jawab Ummi tanpa mengubah posisinya.
Abah yang mendengar jawaban Ummi hanya bisa menghembuskan nafas kasar, bagaimanapun juga dia tetap manusia, rasa kecewa yang di rasakan Abah membuatnya sedikit ikhlas melepas sang Putera dan menganggapnya sudah tiada, tapi rintihan dan tangisan Ummi hampir setiap malam membuat Abah sedikit goyah.
"Kamu harus sabar, ini ujian untuk kita," ujar Abah mencoba membesarkan hati Ummi yang terlihat gundah.
"Sampai kapan putera kita akan seperti ini Abah?" sahut Ummi.
"Abah sendiri juga tidak tahu, hanya allah yang bisa menjawab pertanyaanmu itu, karena hanya takdir baik darinyalah yang bisa mengubah semuanya," jawab Abah.
"Ummi rindu Kafa yang dulu Abah, seandainya waktu itu kita mengikuti apa yang jadi keinginannya, semua ini pasti tidak akan terjadi," ujar Ummi.
"Jika waktu itu kita menurutinya, mungkin keadaan Kafa akan jauh lebih parah dari sekarang, ingatlah Ummi seorang wanita bisa merubah apapun termasuk karakter seorang pria yang berada di sisinya," tutur Abah.
Dwngan jelas Ummi tahu jika Kafa memang brutal, tapi kebrutalan yang Kafa lakukan masih memiliki batas, dia masih menaati apa yang telah dia pelajari di pesantren, dia masih menjaga maana yang halal dan mana yang haram dan hal itu membuat Ummi sedikit tenang meski Kafa kini tak lagi berada di sisinya.
"Abah punya ide untuk memberikan dia pelajaran, dan mencoba merubahnya jadi lebih baik," ungkap Abah.
"Ide apa Abah?" sahut Umi yang langsung berdiri melepas mukenah yang dia pakai dan menyimpannya di tempat semula kemudian berjalan mendekat ke arah Abah duduk tepat di sampingnya.
__ADS_1
"Bagaimana kalau kita cabut seluruh fasilitas yang kita kasih sekarang, kita biarkan dia hidup dengan uang dia sendiri Abah yakin dia pasti akan kembali ke pesantren ini setelahnya," Abah memberitahukan Ide yang muncul di kepalanya.
"Kafa tidak akan kembali Abah, jika kita menghentikan semua fasilitas yang selama ini kita kasih, besar kemungkinan Kafa akan semakin brutal, dia akan memakai uang hasil balap liar atau bahkan dia bisa melakukan hal-hal yang lebih parah dari itu, selama ini Kafa hanya mengandalkan uang dari kita, dia tak pernah bekerja keras untuk mendapatkannya, meskipun dia sering membantu Abah di tokoh ataupun di sawah tapi dia belum pernah bekerja pada orang lain sebelumnya, Ummi tidak yakin dengan ide itu," Ummi mengatakan apa yang ada di fikirannya.