
Malam penuh drama telah berlalu, awalnya Tari yang selalu tak bisa tidur karena kondisi di dalam kamar kini memutuskan untuk tidur di Aula depan asrama bersama santri yang lain, begitu pula dengan Salma yang di ajak ikut serta bersama dengannya.
Menurut Tari tidur di Aula depan asrama jauh lebih enak dari pada tidur di kamar dengan keadaan desak-desak'an, di Aula dia bisa mendapat tempat yang lebih luas dengan pemandangan dan suasana yang berbeda. Semilir angin yang berhembus juga teman baru yang berasal dari kamar yang berbeda memberikan sensasi sendiri bagi Tari dan Salma.
Hari terus berlalu, kini tibalah saatnya di mana Salma harus memberi jawaban pada Ummi atas apa yang telah dia janjikan.
"Ummi," lirih Salma.
Saat ini Salma sedang berada di ruang keluarga setelah membantu Ummi membereskan baju yang barus selesai di setrika.
"Iya, Nak, ada apa?" sahut Ummi.
Salma sejenak terdiam mencoba meyakinkan diri jika keputusan yang telah dia ambil adalah keputusan terbaik yang memang harus dia ambil.
"Tentang permintaan Ummi, aku menerimanya, dan aku bersedia di jodohkan dengan putera Ummi, tapi~" Salma tak melanjutkan ucapannya sedang ummi sudah kegirangan mendengar jawaban Salma.
"Alhamdulillah, akhirnya kamu mau juga, Nak," seru Ummi sambil memeluk Salma dengan ekspresi wajah bahagia, akhirnya setelah seminggu dia menunggu Salma memberikan jawaban kini akhirnya dia mau menerima perjodohan yang telah Ummi rancang bersama Abah.
"Apa Salma boleh meminta syarat Ummi?" tanya Salma dengan ekspresi penuh keraguan yang terpancar jelas di wajahnya.
__ADS_1
"Syarat? kamu mau minta syarat apa, Nak? katakan saja!" jawab Ummi.
"Aku masih ingin belajar Ummi, setidaknya beri Salma waktu dua bulan untuk menyelesaikan pelajaran yang Ghozi berikan dan berikan Salma kesempatan untuk mengajar di TPQ meski hanya sehari sebagai pengalaman hidupku, Ummi," Salma mengutarakan apa yang menjadi keinginannya, dia tak meminta sesuatu yang berlebihan hanya hal sederhana yang dia fikir Ummi pasti bisa mengabulkannya.
Sejenak Ummi mulai berfikir hingga muncullah ide untuk mendekatkan Kafa dan Salma terlebih dahulu sebelum menikahkan keduanya. Sebuah ide cemerlang sedang berputar di otak Ummi, dia yakin ide ini akan berhasil.
"Baiklah, Ummi menyetujui syarat yang kamu minta, Ummi akan menikahkan kamu dengan putera Ummi dua bulan kedepan, asal kamu tidak berubah fikiran setelah dua bulan ini." Jawab Ummi yang sedikit khawatir jika Salma akan membatalkan perjodohannya setelah dua bulan waktu yang dia minta.
"Ummi, Salma bukan orang yang mudah ingkar janji, jadi Ummi tenang saja, Salma akan tepati ucapan Salma," Salma mencoba meyakinkan Ummi dengan apa yang telah dia ucapkan.
Ummi tersenyum kemudian kembali memeluk Salma penuh rasa sayang, besar harapan Ummi pada Salma agar dia bisa merubah Kafa dan membawanya kembali pulang, meski Ummi tahu jika harapannya itu pasti membutuhkan waktu yang mungkin cukup lama, tapi setidaknya dia tahu jika Salma bukan gadis lemah, Salma gadis kuat dan penuh kesabaran Ummi yakin jika Salma bisa merubah Kafa secara perlahan.
"Terima kasih, Nak," ucap Ummi.
"Kamu salah Salma, jika saja sopir Ummi tidak menabrak Ibumu, kamu pasti maaih bisa merasakan kasih sayangnya saat ini," Ummi menundukkan kepala, air matanya mulai menetes membayangkan kejadian yang telah berlalu, seandainya saja jika sopirnya tak menabrak Ibu Salma.
"Ummi, jodoh dan kematian adalah takdir yang tak bisa di ubah, keduanya sudah tertulis di lauhul mahfud jauh sebelum kita di lahirkan, Salma sudah ikhlas Ummi, karena semua yang terjadi sudah garis takdir, sekalipun Salma marah atau tak ikhlas semua itu tidak akan bisa mengembalikan Ibu ke dunia, takdir manusia tidak bisa di tolak Ummi, meski bukan sopir Ummi yang menabrak Ibu Salma tapi jika takdir Ibu Salma sampai di sini Salma yakin akan ada kejadian lain yang akan membuatnya pergi dariku Ummi." Salma mengatakan semua hal yang dia rasakan agar Ummi tak lagi merasa bersalah, dia terlihat begitu tegar dan ikhlas menjalani segalanya.
"Alhamdulillah, Ummi semakin yakin jika Ummi tidak salah memilihmu sebagai calon menantu, semoga. allah melancarkan rencana kuta dan mentakdirkanmu untuk puteraku, Nak," ungkap Ummi, dan Salma hanya tersenyum menanggapi ungkapan hati Ummi.
__ADS_1
Akhirnya Salma menerima permintaan Ummi untuk menjodohkannya dengan Kafa, tanpa keduanya ketahui ada sepasang mata dan telinga yang sejak tadi melihat juga mendengar obrolan mereka.
"Kenapa Salma tidak memberitahuku soal ini?" lirih orang yang sejak tadi mengintip di balik selambu dapur kemudian dia melenggang pergi meninggalkan Salma dengan hati yang cukup kecewa.
Sedang Salma yang merasa lega karena sudah mengatakan apa yang harus dia katakan kini kembali ke asrama.
"Salma!" panggil Tari saat melihat Salma baru datang dan berjalan menuju kamar.
"Eh Tari, kamu sedang apa di sini?" tanya Salma heran melihat Tari duduk di kursi kayu yang berada di depan dapur.
"Harusnya aku yang tanya, kenapa kamu gak cerita sama aku? apa kamu sudah gak nganggap aku sahabat lagi, atau kamu merasa jika berteman denganku bukanlah level kamu karena sebentar lagi kamu mau jadi menantu pemilik pesantren ini dan menjadi orang kaya," sarkas Tari dengan wajah sedikit emosi.
"Tunggu, tunggu! maksud kamu apa Tari? aku gak ngerti, lebih baik kita bicarakan dulu masalah ini, ayo ikut aku!" Salma yang merasa belum mengerti dengan pertanyaan Tari langsung menarik tangannya dan mengajak Tari untuk ikut dengannya ke tempat yang jauh lebih baik untuk berbicara berdua.
"Sekarang katakan dengan jelas, kenapa kamu tiba-tiba marah seperti ini?" titah Salma setelah keduanya sampai di halaman belakang dan duduk di kursi yang ada di sana.
"Aku tadi mendengar kamu mau menikah dengan putera Ummi, kenapa kamu gak cerita sama aku Salma?" Tari mengatakan penyebab dirinya jengkel.
"Bukan aku tidak mau cerita Tari, hanya saja aku sedang bingung dan berusaha mencari jawaban yang tepar untuk permintaan Ummi itu, sampai-sampai aku lupa untuk cerita ke kamu," jujur Salma.
__ADS_1
"Percayalah Tari! aku tidak pernah bermaksud menyembunyikan semua ini darimu, dan aku tak pernah berniat buruk padamu," ucap Salma berharap Tari mau mengerti dengan keadaannya.
Tari hanya diam tanpa menjawab ucapan Salma, jika boleh jujur dia sangat kecewa dengan apa yang sudah Salma lakukan, tapi mau bagaimanapun Tari juga tidak punya hak untuk memaksa Salma bercerita padanya, bagaimanapun Salma masih memiliki hak untuk merahasiakan apa yang ingin dia rahasiakan.