
Jarum jam terus berjalan hingga kini tiba saatnya Salma dan Tari kembali ke penjara suci, tempat di mana mereka bisa mendapatkan ketenangan juga ketentraman yang selama ini sempat menjauh darinya.
"Gak kerasa ya, udah waktunya balik aja," seru Tari saat keduanya sudah ada di pesantren.
"Kamu bener juga Tari, tapi setelah jalan-jalan tadi aku bener-bener ngerasa. seneng banget, akhirnya kita bisa melepas penat dan sekarang kita bisa mulai beraktifitas dengan penuh semangat lagi." Sahut Salma.
Keduanya berjalan masuk ke dalam pesantren menuju asrama dan mulai mengikuti kegiatan yang ada di pesantren, hal itu jauh berbeda dengan Kafa yang kini duduk di ruang keluarga bersama Ummi dan sang Abah yang baru saja pulang dari luar kota.
"Bagaimana kabarmu, Nak?" tanya Abah dengan nada lembut penuh kasih sayang, meski Kafa berubah menjadi pribadi yang buruk, tak sekalipun Abah dan Ummi membentak atau memusuhi Kafa, keduanya lebih memilih menasehati dan terus mendo'akan sang putera, karena Kafa bukanlah pribadi yang bisa di perlakukan keras, semakin keras Abah dan Ummi bertindak maka semakin keras pula Kafa memberontak.
"Alhamdulillah baik, Abah," jawab Kafa.
"Kafa, sebenarnya Abah dan Ummi punya permintaan untukmu, apa kamu mau mengabulkan permintaan kami yang sudah tua renta ini?" tanya Abah dengan kalimat yang terdengar penuh kehati-hatian.
"Permintaan apa Abah?" sahut Kafa yang kembali bertanya karena tak mengerti dengan permintaan yang akan Abah dan Ummi katakan.
"Abi dan Ummi sudah tua Kafa, umur seseorang tak pernah ada yang tahu, selagi kami masih sehat, apa kamu mau jika kami menjodohkanmu?" kali ini Ummi yang menjawab pertanyaan Kafa, sedang Abi hanya memasang wajah penuh harap agar Kafa bersedia menerima permintaannya.
Kafa terdiam tak bersuara juga tak bergerak setelah mendengar permintaan kedua orang tuanya, bukan maksud Kafa ingin langsung menolak, dia sedang bertanya pada hati kecil yang masih sama seperti dulu, meski kini sikap dan perbuatannya jauh berbeda.
"Kamu bisa memikirkannya dulu, kami tidak akan memaksamu menjawab sekarang, tapi besar harapan kami agar kamu mau menerima permintaan kami yang mungkin akan jadi permintaan terakhir," sambung Ummi yang sukses membuat Kafa mendongak menatap lekat ke arah Ummi.
"Biarkan aku memikirkannya dulu, Permisi." Pamit Kafa tanpa memberi jawaban apapun dia pamit berdiri melenggang pergi meninggalkan Ummi dan Abah yang kini masih setia duduk di posisinya.
Kafa terus berjalan masuk ke dalam kamar, dia terus berfikir jika keputusannya untuk pulang kali ini adalah keputusan yang salah, harusnya dia tidak pulang dan tetap berada di rumahnya.
"Sial, kenapa Abah dan Ummi bisa sampai kefikiran mau jodoh-jodohin segala sih," keluh Kafa sesaat setelah sampai di dalam kamar.
__ADS_1
Kafa yang kini jengkel langsung meloncat ke atas kasur merebahkan diri menikmati setiap rasa yang berkecambuk dalam dirinya, ingatan Kafa mulai berkeliaran menuju masa lalu yang cukup menyakitkan, membuka sebuah luka yang telah lama Kafa coba hilangkan, jujur saja saat ini Kafa masih belum ada niat untuk kembali menjalin hubungan serius, apalagi pernikahan setelah dulu pernah menelan pil pahit kekecewaan.
Cukup lama Kafa menatap langit-langit kamar membayangkan masa lalu yang cukup pahit, hingga perlahan mata Kafa terasa berat dan mulai tertidur, pergi berkelana menuju alam mimpi yang penuh fatamorgana.
Drrrtt ... dddrrrttt ... dddrrrttt ....
Getar ponsel yang ada di saku baju Kafa mengusik ketenangan sang empu yang sedang menikmati dunia mimpi penuh keindahan dan kenyamanan.
"Emmmm," Kafa bergumam sambil menggeliat pelan merasakan getaran dari saku bajunya.
"Siapa sih? ganggu aja," keluh Kafa dengan mata yang masih tertutup dan terasa masih lengket seperti ada lem yang menempel di sana.
"Hmm, siapa?" tanya Kafa dengan nada malas dan mata yang masih tertutup, meski begitu Kafa masih mengangkat telfon dan menyahuti orang yang sudah menelfonnya.
"Ini aku Sayang, apa kamu gak save nomerku?" jawab sang penelfon dengan nada jengkel.
"Maaf, aku tadi tidur dan gak lihat siapa yang telfon, ada apa?" ujar Kafa tanpa mengubah posisinya.
"Kamu tanya ada apa? honey aku ada di rumahmu tapi kamu gak ada, kamu ke mana?" tanya Intan dengan nada yang masih terdengar jengkel.
"Aku pulang kampung," jawab Kafa enteng.
"Apa? pulang kampung, kenapa tidak bilang padaku?" sahut Intan.
"Gak sempet, kemarin pulangnya dadakan," Kafa kembali menjawab pertanyaan Intan dengan nada ringan seringan kapas.
"Honey, harusnya kamu bilang ke aku, kenapa main pergi aja?" sungut Intan.
__ADS_1
"Kan aku sudah bilang, kemarin aku pulangnya dadakan, apa masih kurang jelas?" Kafa kembalu menjelaskan alasan dia tidak memberitahu Intan tentang kepulangannya ke kampung.
"Kamu masih bisa chat aku Honey," Intan yang masih jengkel karena merasa terabaikan terus berbicara.
"Kamu mau terus bahas kepulanganku atau bahas yang lain? kalau masih tetap bahas kepulanganku akan ku matikan sambungannya." Ancam Kafa yang sudah merasa jengah dengan suara Intan yang terus membahas kepulangannya.
"Okey, aku gak akan bahas kepulanganmu, tapi apa aku boleh menyusulmu ke sana?" tanya Intan.
"Tidak perlu, lagi pula kamu gak bakal suka di sini, jadi percuma," jawab Kafa melarang Intan untuk datang ke pesantren, karena jika itu terjadi maka akan ada kehebohan yang terjadi di pesantren mengingat cara Intan berpakaian.
"Kata siapa aku gak suka? lagi pula kita belum mencobanya, aku sama sekali belum ke sana," ujar Intan masih berusaha keras membujuk Kafa agar dia setuju jika Intan datang ke kampungnya.
"Kalau aku bilang tidak, itu artinya tidak, jangan memaksa!" seru Kafa yang terdengar tegas tak terbantahkan.
"Baiklah, aku gak bakal ke sana, tapi kamu harus janji satu hal padaku," ujar Intan.
"Janji apa?" tanya Kafa mulai jengah dengan percakapan yang terjadi.
"Kamu harus janji jika kamu tidak akan berpaling menyukai gadis lain di sana, dan cepat pulang!" jawab Intan.
"hmm," jawab Kafa singkat.
"Kok hmm sih Honey?" sahut Intan merasa tak puas dengan jawaban Kafa yang begitu singkat dan menggantung.
"Aku ngantuk, bisakah kita sambung nanti lagi?" ucap Kafa yang merasa malas untuk terus berbincang dengan Intan.
"Baiklah, aku tutup telfonnya, selamat istirahat Honey mimpi indah," pesan Intan sebelum akhirnya panggilan telfonpun di tutup, sedang Kafa sama sekali tak menyahuti pesan Intan, dengan malas dia melempar ponsel yang tadi menempel di telinganya ke arah samping tempatnya tidur, kemudian kembali memejamkan mata mencoba melanjutkan mimpi yang sempat tertunda gara-gara telfon dari Intan.
__ADS_1