Cahaya Cinta Salma

Cahaya Cinta Salma
Bertemu Keponakan Ummi


__ADS_3

"Jaga ucapanmu Izki!" hardik Kafa yang mulai terpancing emosi mendengar ucapan Izki yang terdengar begitu membakar hatinya, Kafa memang belum mencintai Salma sepenuhnya, tapi dia sangat tidak suka jika apa yang telah menjadi miliknya di rebut ataupun di sukai orang lain, miliknya hanya untuk nya.


"Jika saja aku yang lebih dulu bertemu denganmu, maka bisa aku pastikan jika saat ini kau akan jadi milikku Salma, ingatlah jika kamu masih punya aku di dunia ini, jika suatu saat si mulut pedas ini menyakitimu maka aku siap kau jadikan tempat pelarianmu, aku akan selalu menerimamu apapun keadaanmu nanti, ingat pintu rumah dan hatiku selalu terbuka untukmu Salma," pesan Izki kemudian melenggang pergi meninggalkan Salma dan Kafa yang masih setia berdiri di tempatnya.


Kafa menatap tajam ke arah Izki yang justru terlihat cuek dan santai menanggapinya, dia malah pergi dengan santai seolah tak punya masalah apapun, sedang Salma masih setia menunduk, tangannya sedikit gemetar menahan rasa takut setelah melihat mata Kafa yang terlihat memerah karena amarah.


"Apa kamu sudah melakukan hal yang pantas di lakukan oleh seorang gadis yang akan menikah?" tanya Kafa pada Salma yang terus saja menunduk.


"Maaf," hanya kata maaf yang mampu Salma ucapkan saat ini, bagaimana juga dirinya memang salah.


"Apa hanya kata itu yang bisa kamu katakan setelah apa yang telah kamu perbuat?" sahut Kafa.


"Aku memang salah, maafkan aku," Salma tak menemukan kata lain selain meminta maaf pada Kafa dan mengakui kesalahannya.


"Ingat! saat ini bukan cuma nama baikmu yang harus kau jaga. nama baik Ummi dan Abah, juga nama baikku harus kau jaga juga, sekarang kau tak hanya sendiri tapi ada aku dan keluargaku yang ikut serta bersamamu, jadi jila kamu melakukan kesalahan.maka bukan cuma kamu yang terkena imbasnya tapi aku dan kedua orang tuaku juga akan merasakan akibatnya." Kafa mengingatkan Salma agar dia berhati-hati dan tak melakukan kesalahan apapun selama menjadi calon istrinya.


"Baiklah, aku akan mengingat semua yang kau katakan, maaf untuk kejadian yang tadi, aku tidak akan melakukan kesalahan seperti itu lagi." Janji Salma ucapkan agar Kafa tak lagi memarahi ataupun menceramahinya.


"Bagus," sahut Kafa.


"Sekarang ikut aku!" sambung Kafa seraya memberi perintah pada Salma.


Mendengar perintah dari Kafa, Salma langsung berjalan mengikuti langkah Kafa dari belakang dengan kepala yang masih menunduk.


"Jangan menunduk dan jangan berjalan di belakangku! aku bukan majikanmu," hardik Kafa yang masih terdengar marah dalam setiap intonasi kata yang keluar dari mulut Kafa.

__ADS_1


Salma hanya mengikuti apa yang di perintahkan oleh Kafa tanpa membantah ataupun melawannya, bagi Salma saat ini hanya satu menurut lebih baik dari pada terus melawan.


Kafa berjalan menuju mobil dan mengambil satu bingkisan hadiah yang cukup besar di dalam bagasi, Salma sudah mengira jika bingkisan itu pasti bingkisan yang di ceritakan Ummi tadi waktu Salma baru datang, bingkisan itu pasti untuk keponakan Ummi.


"Bawa ini!" Kafa kembali memberi perintah seraya menyodorkan satu bingkisan cukup besar ke arah Salma agar dia membawanya.


"Iya," jawab Salma seraya mengambil bingkisan yang di sodorkan oleh Kafa dan membawanya sesuai dengan apa yang di perintahkan olehnya.


Keduanya berjalan beriringan kembali masuk ke dalam pesantren tapi kali ini Kafa tak mengajak Salma ke halaman pesantren, dia malah mengajak Kafa masuk ke dalam rumah Umik Wardah.


"Mas Kafa!" panggil seorang laki-laki yang terlihat seperti santri yang ada di sana.


"Salman," sahut Kafa.


"Bagaimana kabarnya Mas Kafa?" tanya Laki-laki yang baru saja di panggil Salman oleh Kafa.


"Alhamdulillah, baik Mas Kafa, ngomong-ngomong dia siapa?" Salman bertanya seraya menunjuk ke arah Salma.


"Dia Salma calon istriku," jawab Kafa dengan tegas.


"Hay Neng Salma, kenalkan saya Salman teman sekaligus santri Mas Kafa," Salman memperkenalkan diri.


"Salma," sahut Salma dengan senyum yang terlihat begitu ramah dan cantik.


"Salman, aku pergi dulu. Kasihan Alif sudah menunggu sejak tadi," pamit Kafa yang tak ingin terlalu lama mengobrol dengan Salman.

__ADS_1


"Baiklah, aku juga mau menyelesaikan tugas dari Umik dulu." Salman juga berpamitan melenggang pergi meninggalkan Kafa dan Salma yang masihberdiri dan belum beranjak dari tempatnya.


Salma dan Kafa berjalan beriringan menuju sebuah kamar yang terlihat begitu besar dan mewah, meskipun belum masuk ke dalam kamar tapi pintu menuju kamar itu sudah menunjukkan tanda-tamda betapa mewahnya kamar yang ada di hadapan Salma saat ini.


"Aku peringatkan padamu, kejadian tadi jangan sampai terulang kembali! jika ada Khizkil kamu harus menghindarinya!" Kafa kembali memberi peringatan pada Salma sebelum masuk ke dalam kamar dia menoleh ke arah Salma dan mengingatkannya.


"Baik, Mas Kafa," jawab Salma sambil menunduk karena dia tidak berani menatap wajah dan mata Kafa yang pasti terlihat jauh lebih menyeramkan dari biasanya.


"Bagus, sekarang angkat wajahmu dan tunjukkan senyum terbaikmu pada Alif!" titah Kafa kemudian.


"Baik, Mas Kafa," Salma hanya bisa mengikuti apa yang Kafa perintah tanpa bisa melawannya, Salma berusaha tersenyum dan menunjukkan senyum sebaik mungkin agar Kafa tidak memprotes atau memarahinya lagi.


"Assalamualaikum, Alif," ucap Kafa dengan senyum yang terlihat tulus dan ramah, sungguh ini pertama kalinya Salna melihat Kafa tersenyum begitu tulus di hadapannya, meski senyum itu bukan di tujukan untuknya, tapi Salma cukup senang melihatnya.


"Kak Kafa!" seru seorang bocah yang begitu tampan nan mempesona meski umurnya terlihat masih sangat muda tapi dia terlihat begitu tampan dan mempesona.


"Assalamualaikum, Alif," Salma yang berjalan di belakang Kafa kini mulai menyapa dengan senyum yang di buat semanis mungkin agar sang bocah bisa menerima kehadirannya, meskipun hati Salma masih sakit juga takut pada Kafa, tapi Salma masih mampu menunjukkan senyum terbaik yang dia punya.


"Waalaikum salam, Kak Kafa, dia siapa?" tanya Alif seraya menatap heran ke arah Salma yang baru saja masuk ke dalam rumah.


"Kenalkan dia Salma, calon istri Kakak yang otomatis akan menjadi Kakakmu juga," jawab Kafa seraya memberi isyarat pada Salma untuk mendekat dan memperkenalkan diri, untungnya Salma mengerti dengan isyarat yang di berikan oleh Kafa.


"Hay Alif, perkenalkan, namaku Salma dan ini hadiah untukmu." Salma memberikan satu kotak yang cukup besar ke arah Alif.


"Apa ini sogokan?" tanya Alif yang sukses membuat Salma bingung dengan pertanyaan yang di ajukan oleh Alif.

__ADS_1


"Sogokan bagaimana maksudnya Alif?" tanya Salma dengan ekspresi pemuh rasa penasaran menatap ke arah bocah kecil yang terlihat sangat mirip dengan Kafa, bukan wajahnya yang mirip tapi cara bicara Alif yang sangat mirip dengan Kafa.


__ADS_2