
"Tidak apa-apa Ummi, memangnya Tari terlihat seperti apa?" jawab Tari.
"Kamu terlihat cemberut, apa ada sesuatu yang menyakiti hatimu?" Ummi kembali bertanya.
"Sebenarnya bukan karena ada yang menyakitiku Ummi, aku hanya merasa iri saja melihat kedua pasangan yang saat ini sedang makan bersamaku, melihat Ummi dan Salma aku jadi merasa kalau cuma aku yang gak punya pasangan," jujur Salma.
"Astaghfirullah, maaf Tari, aku benar-benar tidak bermaksud seperti itu," sahut Salma yang sejak tadi hanya diam memperhatikan interaksi Ummi dan Tari kini mulai berkomentar.
"Ahh sudahlah, jangan terlalu memperdulikan keadaanku, aku baik-baik aja kok," Tari merasa tak enak hati jika hanya karena dirinya suasana makan yang penuh keharmonisan tapi menyayat hati itu berubah jadi canggung.
"Bener juga, bagaimana kalau Tari Ummi jodohkan dengan Ghozi saja?" usul Ummi yang cukup membuat Tari terkejut.
"Ukhuk, ukhuk," spontan Tari langsung batuk setelah mendengar ucapan Ummi.
"Minum dulu!" dengan sigap Salma menyodorkan segelas air yang ada di hadapannya ke hadapan Tari dan langsung di minum oleh Tari.
"Terima kasih," ucap Tari setelah menghabiskan segelas air yang di berikan oleh Salma.
Siapa yang tidak terkejut jika tiba-tiba ada seseorang yang cukup di segani dan di patuhi akan menjodohkanmu dengan orang yang selama ini kamu sukai, sungguh ucapan Ummi seperti boom waktu yang mengejutkan Tari, bukan Tari tidak suka dia malah sangat berharap jika apa yang di katakan Ummi akan menjadi kenyataan, tapi semua itu akan mustahil jika Tari mengingat status dirinya dan Ghozi sangat berbeda, mungkin Ummi memang bukan orang yang membedakan status orang lain, tapi bagaimana dengan orang tua Ghozi, Tari khawatir jika kedua orang tua Ghozi berbeda dengan Ummi.
"Iya, lain kali hati-hati," sahut Salmadenugan senyum manis yang terlihat menngembang di wajahnya.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Ummi.
"Tidak apa-apa Ummi," jawab Tari.
Pembicaraan perjodohan Tari dan Ghozi berhenti sampai di sini, tak ada lagi yang berbicara atau memulai pembucaraan, hanya denting sendok dan garbu yang beradu terdengar nyaring di sana.
Tok ... tok ... tok ....
__ADS_1
"Ummi," panggil Salma dengan nada suara lirih, dia bertujuan agar tidak mengganggu sang Ummi atau Abah yang mungkin sedang berada di mana.
'Ceklek'
"Masuklah, Nak!" sahut Ummi sambil membuka lebar pintu kamar mempersilahkan Salma masuk ke dalam kamar.
Salma langsung masuk ke dalam kamar Ummi sesuai dengan apa yang Ummi minta.
"Ummi meminta Salma ke sini ada apa? apa ada masalah Ummi?" Salma yang sejak tadi penasaran dengan permintaan Ummi langsung bertanya tanpa bisa menahannya lagi.
"Duduklah dulu!" Ummi merangkul pundak Salma dan menuntunnya untuk duduk di sebuah sofa yang ada di pojok ruangan.
Salma hanya bisa mengikuti setiap langkah Ummi tanpa bisa melawan atau memaksa bertanya lagi, yang Salma tahi saat ini dia hanya bisa mengikuti apapun yang Ummi perintahkan.
Setelah meminta Salma duduk di sofa kini Ummi berjalan mendekat ke arah lemari mengambil sebuah kotak yang terlihat seperti hadiah karena kotak itu terbungkus rapi dengan kertas kado.
"Ini hadiah pernikahan dari Ummi untukmu, dan tunggu sebentar!" Ummi kembali berdiri setelah memberikan kotak hadiah kepada Salma, beliau kembali mengambil sesuatu yang terbungkus rapi dengan kain berwarna hijau muda bermotif bunga-bunga.
"Ini apa Ummi?" tanya Salma heran.
"Bukalah!" Ummi yang sejak pertama kali mendengar permintaan Kafa untuk kembali ke kota sangat ingin memberikan dua benda yang saat ini ada di tangan Salma sang menantu, bagi Ummi tak ada yang jauh lebih membahagiakan selain Salma menjadi menantunya, maka dari itu Ummi menginginkan yang terbaik untuk Salma.
"Kalung Ummu? apa benar ini untuk Salma?" Salma begitu takjub melihat kalung yang kini ada di hadapannya, meski dia tidak pernah memiliki kalung mahal setidaknya dia tahu mana barang mahal dan mana barang imitasi, sebuah kalung emas putih bertahtakan berlian kini ada di depan mata Salma.
"Iya, hadiah itu khusus untukmu, Ummi membelinya saat dulu kamu bertunangan dan akan menikah dengan Kafa, dengan kalung ini Ummi berharap kamu selalu mengingat Ummi di manapun kamu berada, sini Ummi pakaikan!" pinta Ummi yang kini memakaikan kalung itu di leher Salma.
"Kamu harus selalu ingat jika Ummi menyayangimu seperti Ummi menyayangi puteriku sendiri, jadi apapun yang terjadi di masa depan kamu jangan pernah pergi atau berfikir ingin meninggalkan Kafa, tetaplah bersamanya, Ummi minta padamu agar kamu terus bersabar menghadapi sikap Kafa dan menerima semua kekurangan ataupun kelebihannya, Ummi hanya peecaya padamu Salma, Ummi dan Abah yakin kesabaranmu busa membuat Kafa kembali seperti dulu," Ummi mengatakan semua yang ada dalam hatinya tanpa ada yang di pendam.
Salma langsung terdiam setelah mendengar isi hati Ummi yang cukup membuatnya terkejut, jujur saja, sampai saat ini hubungan Salma dan Kafa masih belum bisa di anggap normal sebagai suami istri, tapi melihat wajah Ummi yang begitu memelas membuat hati Salma tergerak untuk mengiyakan apa yang Ummi minta.
__ADS_1
"Dan ini apa Ummi?" tanya Salma lebih memilih mengalihkan pembicaraan dari pada menyanggupi permintaan Ummi yang Salma sendiri belum yakin akan sanggup memenuhinya atau tidak.
"Buka saja!" titah Ummi yang langsung di turuti Salma.
"Ponsel? untuk apa Ummi?" kali ini Salma jauh lebih terkejut dwngan ponsel yang di berikan oleh Ummi.
"Sebentar lagi kamu akan pergi ke kota bersama putera Ummi, sebelumnya Ummi meminta seseorang untuk selalu mengawasi setiap hal yang Kafa lakukan di sana dan melaporkan pada Ummi, tapi sekarang sudah ada kamu, jadi Ummi berfikir untuk memindahkan tugasnya mengawasi Kafa kepadamu, jadi gunakan ponsel ini sebaik mungkin! apapun yang terjadi nanti kamu bisa melaporkannya pada Ummi," jelas Ummi.
"Dan satu lahi Salma, kamu harus menjadi pribadi yang tangguh untuk mengarungi bahtera rumah tangga bersama putera Ummi, karena setelah ini kita tidak tahu apa yang akan terjadi dan selalu berhati-hatilah pada orang yang baru kamu kenal di sana!" pesan Ummi.
"Baik, Ummi," jawab Salma.
"Apa kamu bisa mengoperasikan ponsel ini?" pertanyaan yang cukup menohok terlontar dari mulut Ummi.
"Insya allah bisa Ummi," jawab Salma, dia memang tidak pernah punya ponsel semahal dan sebagus pinsel pemberian Ummi saat ini, tapi setidaknya Salma masih bisa menggunakannya.
"Di dalam ponsel sudah ada nomor Ummi dan nomor-nomor penting lainnya termasuk nomor Kafa dan Ghozi, kamu bisa menghubungi mereka atau Ummi kapanpun kamu mau dan kamu butuhkan, ingat, Nak! berhati-hatilah pada orang yang baru kamu kenal," Ummi kembali mengingatkan Salma agar terus waspada mengingat ucapan Kafa yang mengatakan jika dirinya ingin menyelesaikan sesuatu yang tidak di ketahui dengan pasti apa itu.
"Terima kasih untuk semuanya Ummi, Salam akan selalu mengingat apapun yang Ummi katakan tadi, dan terima kasih karena sudah menyayangi Salma seperti Ummi menyayangi puteri Ummi sendiri, Salma sayang Ummi," ucap Salma yang terbawa oleh suasana.
"Ummi akan selalu menyayangimu Nak, jaga diri baik-baik! Ummi titip Kafa, tolong bawa dia kembali ke sini, ke pesantren jika nanti waktunya sudah tiba," Ummi memeluk Salma dengan penuh kasih sayang dan linangan air mata, keduanya memang terlihat tidak seperti mertua dan menantu tapi seperti seorang puteri dan orang tuanya, sungguh Salma sangat bersyukur bisa memiliki mertua seperti Ummi begitu pula sebaliknya.
"Khem," deheman khas milik seorang laki-laki terdengar membuat pelukan kedua wanita yang sedang melimpahkan kasih sayang kini terpisah.
"Kafa," lirih Ummi mengalihkan pandangannya ke arah Kafa yang berdiri tepat di samping keduanya.
"Ummi dan Salma ngapain di sini? peluk-pelukan kok gak ngajak Kafa?" tanya Kafa menatap sendu ke arah keduanya.
"Ummi hanya ingin mengucapkan kata perpisahan pada Salma, dan memintanya berhati-hati selama berada di sana," jelas Ummi.
__ADS_1
"Salma pergi bersama Kafa, Ummi, jangan khawatir!" sahut Kafa.
Tadi Kafa berjalan melintasi kamar Ummi yang terbuka, tak biasanya Ummi membuka lebar pintu kamarnya, karena itulah dia kini berada di dalam kamar Ummi.