Cahaya Cinta Salma

Cahaya Cinta Salma
Oleh-oleh Untuk Tari dan Ummi


__ADS_3

"Mas," seru Salma dengan ekspresi wajah memelas yang terlihat di wajahnya.


"Aku hanya bercanda, beristirahatlah! nanti akan aku bangunkan kalau sudah waktunya tiba," ujar Kafa berdiri berjalan meninggalkan Salma yang masih setia berbaring mengistirahatkan diri memulihkan tenaga yang sempat terkuras karena bergulat dengan Kafa.


Salma tersenyum menanggapi ucapan Kafa kemudian memejamkan mata, berniat beristirahat sebentar sebelum kembali melakukan aktifitasnya.


Di pesantren ....


Ghozi memutar otak memberi perintah pada anak buahnya untuk mencari jati diri Tari, untung saja Ghozi pernah mengantarkan Salma dan Tari dulu, jadi Ghozi bisa memberi sedikit informasi untuk mempermudah orang suruhannya mencari tahu asal usul Tari.


Malam berlalu berganti pagi, Ghozi terlihat bersiap-siap untuk kembali ke pesantren membantu Umik mengoreksi lembar soal milik santri dan membantu menjadi pengawas di beberapa kelas yang kosong tidak ada ustadnya.


"Apa kamu akan kembali sekarang Ghozi?" tanya Umik saat melihat Ghozi mengemas beberapa barang yang ingin dia bawa kembali ke pesantren.


"Mungkin agak siangan Umik, Ghozi masih ada janji dengan Ustad Ridwan," jawab Ghozi.


Ustad Ridwan adalah Ustad kepercayaan Umik dan Ghozi, dia mengabdi ke pesantren sejak dulu sebelum Abi Ghozi meninggal dunia, selain di percaya Ustad Ridwan juga menjadi pengajar yang paling tepat waktu dan berdedikasi tinggi.


"Ada apa dengan Ustad Ridwan?" tanya Umik.


"Ustad Ridwan mau membicarakan soal pembangunan asrama baru di pondok putri, kata beliau jumlah santri putri sudah semakin banyak dan butuh kamar baru agar jumlah di setiap kamar tidak terlalu banyak," Ghozi menjelaskan apa yang akan dia bicarakan dengan Ustad Ridwan.


"Santri putri di pesantren kita memang bertambah Ghozi, mereka memang butuh kamar baru agar tidak terlalu berdesak-desakan," tutur Umik.


"Bagaimana kalau kamarnya kita buat di atas, kita buat dua lantai," usul Ghozi.


"Boleh juga, lagi pula mereka sudah besar, Umik yakin mereka sudah mengerti dan tidak akan ada yang bermain di tangga," Umik menyetujui apa yang Ghozi usulkan.


"Nanti aku akan bicarakan semuanya dengan Ustad Ridwan," ucap Ghozi.


"Ya sudah, sekarang kita sarapan dulu. Bahas Ustad Ridwannya nanti saja," ajak Umik yang sudah menyiapkan makanan khusus untuk Ghozi.


"Kali ini siapa yang masak, Umik?" tanya Ghozi, meski dia tahu dengan pasti jika yang masak saat ini pasti Umik, dia tetap bertanya demi meyakinkan hatinya.


"Tentu saja Umik yang memasaknya, Umik tidak akan mekewatkan momen langkah iji, jarang-jarang kamu pulang seperti sekarang, jadi Umik ingin memberikan yang terbaik untukmu sebelum kamu kembali ke pesantren dan meninggalkan Umik sendiri di sini," ujar Umik yang terlihat begitu senang atas kedatangan Gozi yang kini duduk di kursi meja makan.


"Bersabarlah Umik! jika waktunya tiba, puteramu ini akan kembali dan menemanimu nanti jika waktunya sudah tiba," ujar Ghozi yang tersenyum manis ke arah Umik.


"Umik akan menanti hari itu, Nak, semoga saja jodohmu datang jauh lebih cepat agar Umik bisa cepat punya teman di sini," Umik terus saja mengatakan harapannya, dia ingin Ghozi tahu jika dirinya selalu menunggu dan berharap agar Ghozi busa segera pulang dengan membawa seorang gadis yang akan menjadi menantu Umik.


"Amin, do'akan saja Umik," hanya do'a yang bisa Umik minta, tidak ada hal lain lagi, satu-satunya hal yang paling bisa membuat air mata Ghozi keluar adalah keluhan Umik, rasa sepi yang selalu dia ucapkan membuat hati Ghozi teriris, tapi Ghozi harus tetap kembali ke pesantren demi amanah dari sang ayah, dia tidak bisa kembali pulang sebelum mendapat jodoh sesuai dengan wasiat sang ayah.


Sarapan pagi yang penuh dengan kepiluan telah berlalu, kini tiba saatnya Ghozi menemui Ustad Ridwan membicarakan kemajuan pesantren, kemudian kembali ke pesantren.


" Umik, Ghozi pamit dulu. Waktunya sudah mepet, Ghozi langsung pulang Ummi," pamit Ghozi seraya mencium punggung tangan sang Umik dengan kedua tangannya.


"Hati-hati di jalan, Nak! Umik akan selalu menunggu kehadiranmu di sini." Pesan Umik sebelum Ghozi benar-benar pergi meninggalkan Umik dan pesantren yang akan menjadi milik Ghozi setelah dia menikah nanti.

__ADS_1


"Iya, Umik, assalamualaikum," sahut Ghozi melangkah pergi meninggalkan Umik.


Perpisahan yang selalu terlihat dramatis setiap kali Ghozi akan kembali ke pesantren, linangan air mata Umik mengiringi kepergiannya, meski Umik tak menunjukkannya tapi Ghozi tetap bisa merasakan kepedihan yang Umik rasakan.


"Bersabarlah Umik! Ghozi janji setelah ini Ghozi akan kembali dengan seorang gadis yang akan menjadi menantumu dan Ghozi tidak akan meninggalkan Umik sendirian lagi di sini," gumam Ghozi sambil terus memperhatikan jalan menyetir mobilnya menyusuri jalanan yang terlihat lenggang.


Perjalanan kali ini terasa begitu menyenangkan, hati Ghzoi terasa sangat senang dan lega setelah mendengar jawaban sang umik yang merestui keinginan Ghozi, sekarang tinggal Ghozi lakukan langkah selanjutnya, di tengah perjalanan Ghozi melihat sebuah tokoh kue yang terlihat cukup ramai karena di sana juga terdapat kursi dan meja bagi pelanggan yang ingin memakan kue itu di tempatnya, melihat hal itu Ghozi langsung teringat Tari yang ada di pesantren, mungkin dia akan senang jika Ghozi membelikan kue yang ada di hadapan Ghozi saat ini.


Dengan langkah ringan penuh keyakinan, Ghozi berjalan masuk ke dalam tokoh roti untuk membeli beberapa buah, dia akan memberikannya pada Umik dan Tari di pesantren, cukup lama Ghozi memilih roti mana yang akan dia beli hingga pilihannya jatuh pada brownis coklat bertabur keju yang terlihat begitu menggoda lidah dan mata siapapun yang melihatnya.


"Dua brownis dengan toping keju ya Mbak, toong di bungkus terpisah!" ujar Ghozi yang baru memesan apa yang dia inginkan.


"Baik, Tuan, silahkan tunggu sebentar!" ujar pelayan yang ada di sana dengan senyum yang mengembang di wasjhnya.


"Tolong bungkus dengan cepat, waktuku sangat mepet," pesan Ghozi.


Ghozi memang tidak memiliki banyak waktu saat ini, "Baik, Tuan," jawab pelayan itu berjalan mendekat ke arah di mana kue yang tersimpan cantik di dalam etalase untuk mengambil salah satunya.


"Tuan Ghozi! ini pesanannya," panggil seorang pelayan yang tadi melayani pesanan Ghozi.


"Terima kasih, silahkan datang kembali," sapa seorang laki-laki yang terlihat menjadi pegawai di sana setelah Ghozi membayar kue pesanannya dan berniat pergi meninggalkan tokoh kue yang sempat menggoda Ghozi untuk datang.


Ghozi kembali melanjutkan perjalanannya menuju pesantren mengendarai mobil dengan kecepatan yang cukup tinggi mengingat jika saat ini Ghozi adajadwal kelas yang harus di isi oleh beliau.


"Assalamualaikum Ummi," ucap Ghozi sesaat setelah sampai di pèsantren.


Kini Ghozi sudah berdiri di depan pintu rumah Umik dengan dua buah kantong plastik berisi kue yang tadi dia beli.


"Ghozi mau langsung ke kelas saja Ummi. Oh ya ini oleh-oleh buat Ummi." Ghozi memberikan satu kantong plastik yang ada di tangannya sedangkan satunya lagi sudah lebih dulu di simpan di kamarnya.


"Apa ini Ghozi?" tanya Ummi merasa aneh dengan Ghozi yang membawakan sesuatu untuk Ummi, biasanya Ghozi tidak pernah membawakan apapun kecuali makanan dari sang Umik yang khusus di buatkan untuk Ummi.


"Itu kue brownis Ummi," jawab Ghozi sambil memberi kode agar Ummi membukanya.


"Wah tahu saja kalau Ummi suka kue brownis, terima kasih ya Ghozi," ujar Ummi yang di tanggapi dengan sebuah senyuman dan anggukan dari Ghozi.


"Kalau begitu Ghozi pamit dulu Ummi, assalamualaikum," pamit Ghozi melangkah pergi meninggalkan Ummi yang terlihat masih berdiri di depan pintu dengan satu kantong plastik berisi kue di dalamnya.


"Waalaikum salam," sahut Ummi.


Ghozi melangkah menuju kelas yang sudah di jadwalkan akan di isi oleh Ghozi hari ini, Ustad yang biasanya masuk ke kelas itu sedang sakit, alhasil Ghozi harus mengisinya menggantikan posisi sang Ustad yang tidak bisa datang.


Tari yang kini sudah menjadi Ustadzah juga ikut membantu Ummi menjaga para santri yang sedang mengerjakan ujian, seperti hari ini dia bertugas menjaga di kelas dua sedang Ghozi mendapat tugas berjaga di kelas tiga, keduanua sama-sama berbakti pada Ummi dan pesantren, loyalitas yanh jarang sekali di berikan oleh seorang santri.


Ujian berjalan dengan lancar, santri di tempat Tari dan Ghozi jaga ternyata sangat jujur, mereka tidak ada yang mencontek ataupun bekerja sama, mereka mengisi setiap soal dengan jawaban yang mereka karang sendiri, hal ini memudahkan Ghozi dan Tari saat menjaganya, hingga jam mengerjakan soal ujian habis, artinya Tari dan Ghozi sudah bisa pergi meninggalkan kelas.


"Tari!" panggil Ghozi saat melihat Tari keluar dari kelas sebelah dengan setumpuk kertas putih yang ada di tanagnnya.

__ADS_1


"Iya, ada apa Ghozi?" sahut Tari menghentikan langkahnya menoleh ke arah Ghozi yang sedang berjalan mendekat ke arahnya dengan setumpuk lembar putih yang sama dengan Tari.


"Setelah semua tugasmu selesai, temui aku di gubuk belakang pesantren ada yang ingin aku berikan padamu," ujar Ghozi.


"Memangnya Kamu mau membelikan apa?" tanya Tari mengerutkan dahi bingung dengan apa yang di katakan oleh Ghozi.


"Datanglah! nanti kamu akan tahu apa yang akan aku berikan," jawab Ghozi melangkah meninggalkan Tari yang terlihat berdiri mematung di tempatnya.


'Astaga gak jelas banget sih Ghozi ini, mana aku di php terus, emang enak apa di gantungin, lama-lama aku tinggal juga tuh orang, mumpung Oppa korea yang biasanya amu suka sedang jomblo,' batin Tari yang masih setia menatap ke arah Ghozi yang semakin lama terlihat menghilang di balim tembok.


"Au ah, lebih baik aku balik ke kamar dulu." Gumam Tari menyingkirkan segala rasa penasaran yang tumbuh dalam benaknya untuk kembali ke kamar mengoreksi setiap lembar ujian yang sudah di kerjakan oleh muridnya.


"Mbak Tari!!!" suara melengking yang selalu mengusik ketenangan Tari di pesantren kembalu terdengar begitu mengusik telinga, Tari yang baru berjalan beberapa langkah masuk ke are pondok putri sudah di sambut oleh teriakan Sasa yang sudah sejak tadi menunggu.


"Ada apa Sasa?" Tanya Tari yang kini mengusap lembut kepala Sasa yang tertutup dengan kerudung putih yang terlihat mempercantik Sasa yang memang sudah cantik dari lahir dengan atau tanpa kerudung.


"Mbak Tari ke mana saja? sejak tadi Sasa nyariin," tanya Sasa dengan nada manja yang terdengar di telinga Tari.


Sejak kedatangan Ghozi, Sasa semakin manja dan tidak mau lepas dari Tari, meski sebenarnya terselip rasa khawatir dalam diri Tari, dia tetap merawat Sasa yang memang hanya bersedia di rawat olehnya.


"Mbak enggak ke mana-mana Sa, tadi Mbak Tari sedang menjadi pengawas ujian di kelas dua, Sasa kenapa nyariin Mbak?" tanya Tari saat melihat Sasa masih menempel di kakinya dengan wajah menengadah melihat Tari yang jauh lebih tinggi darinya.


"Pantas saja aku cari ke mana-mana Mbak Tarinya enggak ada," ucap Sasa dengan wajah polosnya.


"Kamu mau apa cari Mbak Tari?" tanya Ghozi merasa aneh dengan sikap Sasa yang sering berubah seiring berjalannya wsktu.


"Aku pengen belajar di temenin Mbak Tari," jawab Sasa sambil tersenyum melihat ke arah Tari berharap dia mau menemanunya belajarcm.


"Mbak masih sibuk Sasa, lihatlah apa yang ada di tangan Mbak Tari!" titah Tari.


Saat ini Tari memang harus segera menyelesaikan lembar kerja santri ynag menumpuk di tangan Tari.


"Kalau begitu kita belajar bersama bagimana?" usul Sasa yang tak mau kalah, intinya dia harus belajar bersama Mbak Tari saat ino jugam


""Baiklah, kita akan belajar bersama, tapi Sasa tidak boleh ganggu pekerjaan Mbak Tari, apa Sasa sanggup?" Tari memilih membuat perjanjian dengan Sasa sebelum dia menjadi pengganggu yang akan mengganggu pekerjaannya.


"Sasa janji tidak akan mengganggu Mbak tari, kecuali jika Sasa benar-benar butuh bantuan Mbak Tari, bagaimana? apa Mbak Tari mau?" Sasa terdengar jauh lebih pintar dari dugaan Salma.


"Baiklah, ayo belajar!" Tari yang awalnya berniat untuk mengoreksi lembar ujian yang dis bawa di tangannya saat ini.


Sasa dan Tari terlihat begitu akrab seperti anak dan Ibu yang sedang belajar bersama, sungguh pemandangan menyejukkan mata, hingga Tari mengingat jika dia masihada janji dengan Ghozi di halaman belakang.


"Sasa, Mbak Tari tinggal dulu tidak apa-apa?" tanya Tari yang todak bisa meninggalkan Sasa yang saat ini sedang serius menatap buku yang menutupi wajahnya saat ini.


"Mbak Tari mau ke mana?" tanya Sasa yang terlihat penasaran dengan Tari yang tiba-tiba berpamitan untuk pergi.


"Ada urusan yang harus Mbak selesaikan Sasa, nanti Mbak akan kembali ke sini menemui Sasa," jawab tari, tapi dia tidak menjelaskan ke mana dia akan pergi, karena jika Sasa tahu kalau dia akan menemui Ghozi, Tari yakin Sasa akan merengek dan tidak akan mau di tinggal.

__ADS_1


"Baiklah, Mbak hati-hati! Sasa tunggu di kamar ya." Jawab Sasa.


Sungguh saat ini Tari merasa seperti memiliki seorang anak yang enggan berpisah dengannya, meski raga Tari terkadang merasa lelah menuruti apa yang Sasa mau, tapi hati Tari tak bisa berbohong, dia tetap merasa kasihan pada Sasa yang pada akhirnya membuat Tari menuruti apapun yang Sasa mau.


__ADS_2