Cahaya Cinta Salma

Cahaya Cinta Salma
Peringatan Kafa


__ADS_3

"Salam!" panggil Kafa yangs sudah tidak tahan berada di dalam ruangan yang sama dengan Khizkil.


"Iya, Mas Kafa," sahut Salma mengangkatbkepala dan mengalihkan pandangannya ke arah Kafa.


"Ayo pergi!" ajak Kafa.


"Loh, Kakak mau ke mana?" tanya Alif yang merasa aneh dengan sikap yang di tunjukkan oleh Kafa.


"Alif, Kakak harus segera menemui Ummi, Kakak sudah terlalu lama di sini," jawab Kafa.


"Aku masih kangen sama Kakak, apa tidak sebaiknya nanti saja perginya?" ujar Alif yang merasa keberatan dengan kepergian Kafa yang tiba-tiba.


"Sudahlah Aluf, kita biarkan saja mereka pergi, bukankah kita masih busa main ke pesantren Kak Kafa jika kamu merasa masih merindukannya dan ingin menikmati masakan lezat Kak Salma," ucapan Khizkil memang selalu memancing emosi Kafa, terlihat jelas jika saat ini Kafa sedang menahan emosinya, bagaimana tidak emosi jika Khizkil malah terlihat sengaja mematik emosi Kafa.


"Wah Kak Khizkil benar juga, Kak Kafa boleh pergi tapi aku akan ke pesantren Kakka untuk meminta Kak Salma memasak makanan enak untukku." Ujar Alif.


Sebenarnya Kafa senang jika Alif mau bermain ke tempatnya, tapi kali ini Kafa kurang menyukai hal itu karena Alif akan pergi bersama dengan Khizkil yang kurang di sukai oleh Kafa.

__ADS_1


"Kakak pergi dulu Alif." Pamit Kafa tanpa menjawab atau membalas perkataan Alif.


"Ishhh Kak Kafa kenapa jadi bersikap cuek gitu sih?" keluh Alif yang melihat perubahan sikap Kafa padanya.


"Mungkin Kak Kafanya capek, dia buru-buru pulang agar bisa cepat istirahat." Ujar Khizkil mencoba menenangkan adiknya.


Meski Khizkil tidak bisa menerima kehadiran Umik Wardah, tapi dia tetap menyayangi Alif sebagai adiknya, bagaimanapun keadaannya dan keluar dari rahim siapa Alif bukanlah hal yang bisa di buat alasan untuk membencinya, Alif masih terlalu kecil untuk mengerti dengan apa yang terjadi, yang dia tahu saat ini Abi adalah Ayahnya, Umik adalah Ibunya dan Khizkil adalah Kakaknya, dia masih tidak mengerti jika dirinya dan Khizkil bukan anak yang terlahir dari rahim yang sama.


"Kak Izki, Ayo coba camilannya, rasanya enak banget Kak," Alif menawarkan camilan yang di buat oleh Salma pada Khizkil yang sejak tadi memang snagat penasaran dengan rasa makanan yang di buat oleh Salma.


Satu bola-bola tahu rambutan masuk ke dalam mulut Khizkil, dan benar saja rasa makananya begitu enak dan Khizkil tak bisa memungkiri rasa makanan yang baru saja masuk ke rongga-rongga mulutnya.


"Kak Salma memang pandai membuat camilan, dan aku sangat penasaran bagaimana rasa masakan Kak Salma yang lain," ujar Alif.


Khizkil terdiam mematung setelah merasakan betapa lezatnya masakan Salma, sungguh Kafa sangat beruntung bisa memiliki calon seperti Salma, dia paket lengkap yang di ciptakan tuhan dan Khizkil yakin jika gadis seperti Salma hanya ada beberapa saja di dunia ini.


"Kak Khizkil! apa kamu mendengar ucapanku?" tanya Alif yang merasa Khizkil justru melamun tidak mendengarkan apa yang di ucapkannya.

__ADS_1


"Iya, Kakak dengar, lain waktu kita akan datang ke pesantren Kak Kafa untuk kembali merasakan masakan Kak Salma," sahut Khizkil asal, meski sebenarnya dia tidak mendengar apa yang di katakan oleh Alif tapi dia masih bisa mengarang untuk menjawab apa yang di pertanyakan oleh Alif.


Apa yang terjadi di dalam kamar sangat jauh berbeda dengan apa yang terjadi di ruang tamu, saat ini Salma dan Kafa sedang duduk berhadapan di sofa yang terdapat di ruang tamu setelah keduanya pergi dari kamar Alif.


"Saat ini kamu pasti merasa sangat senang," ucap Kafa yang sukses membuat Salma bingung, pasalnya Kafa langsung mengatakan hal itu tanpa memberitahukan penyebab yang membuat Salma merasa begitu senang.


"Senang kenapa Mas Kafa?" tanya Salma dengan ekspresi penuh rasa penasaran.


"Kamu pasti senang karena sudah bisa memikat hati Khizkil yang keras kepala itu," jelas Kafa.


Penjelasan Kafa membuat mata Salma membulat sempurna karena terkejut, bagaimana tidak, saat ini Salma tidak merasa melakukan apapun yang bisa membuat seorang laki-laki terpikat olehnya, Salma sama sekali tidak memakai riasan di wajahnya, tadi dia hanya memakai bedak dan lipglos yang tak berwarna di bibirnya yang memang sudah merah dari lahir, Salma bahkan hanya memakai sedikut parfum dan deodorant hanya untuk menjaga agar tubuhnya tidak menimbulkan bau menyengat, Salma juga tidak merasa tebar pesona, sejak tadi dia bahkan diam menunduk karena takut apda Kafa.


"Memikat hati bagaimana maksudnya Mas Kafa? aku tidak merasa sednag memikat hati siapapun, dan aku tidak merasa menebar pesona agar ada orang yang terpikat terhadapku," sahut Salma yang merasa aneh dengan apa yang di katakan oleh Kafa.


"Kamu memang tidak menebar pesona ataupun sedang berusaha memikat seseorang, tapi apa yang kamu lakuakan di taman bunga tadi berhasil memikat hati seorang laki-laki, harusnya kamu berfikir terlebih dahulu sebelum bertindak ataupun melakukan sesuatu! fikirkan sebab dan akibat yang akan kamu dapatkan jika kamu melakukan sesuatu, ingatlah Salma sekarang kamu sudah terikat denganku! dan kamu tidak bisa bertindak sesuka hatimu lagi! ada aku yang juga akan menerima akibat dari apa yang kamu lakukan, terlebih lagi ada kedua orang tua dan nama baik pesantren yang akan ikut tercoreng jika kamu melakukan hal yang buruk, INGAT ITU!!" Kafa kembali mengingatkan Kafa tentang statusnya, sungguh saat ini Salma merasa snagat bingung dengan sikap kafa yang benar-benar tidak bisa di tebak.


Kafa kadang begitu keras mengingatkan dan mengatakan jika Salma adalah calon istrinya sedangkan sikap Kafa saat di pesantren sungguh snagat berbeda, Kafa seolah kurang menyukai bahkan dia menyuruh Salma dan Ghozi meminta Ummi untuk membatalkan perjodohan yang sudah di rencanakan.

__ADS_1


"Aku akan selalu mengingatnya Mas Kafa," ucap Salma mencoba meyakinkan Kafa, meski sebenarnya Salma masih merasa bingung dengan sikap Kafa tapi dia tetap tidak bisa menolak ataupun membantah apa yang Kafa katakan, dia hanya bisa menurut karena apa yang di katakan Kafa memang benar adanya, inilah resiko yang harus di tanggung oleh Salma dkarena dia menerima perjodohan yang di atur oleh Ummi dan Salma harus bisa menerima apapun yang terjadi selanjutnya dengan penuh kesabaran.


"Bagus, jangan pernah lupakan apa yang aku katakan! dan jangan pernah mendekat apa lagi berduaan dengan Izki!" Kafa memberi peringatan keras pada Salma yang hanya bisa mengangguk tanpa kata dan tanpa daya, Salma tak lagi bisa melawan kata-kata Kafa, dia hanya bisa diam dan menerima segalanya.


__ADS_2